Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
makan malam
Adrian tidak langsung meninggalkan ruang kerjanya setelah membaca hasil pemeriksaan awal dari tim audit. Berkas yang memuat nama ibunya masih terbuka di atas meja, sementara pikirannya berusaha menyusun kembali potongan-potongan informasi yang sejak pagi terus berdatangan.
Helena Mahendra bukan perempuan yang ceroboh dalam mengambil keputusan. Selama bertahun-tahun, ibunya terlibat dalam berbagai urusan keluarga, termasuk hubungan bisnis yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya. Adrian menghormati pengalaman itu, tetapi penghormatan tidak berarti dia akan menutup mata ketika ada sesuatu yang berpotensi merugikan perusahaan.
Masalahnya, dokumen yang berada di hadapannya belum cukup untuk membuktikan bahwa Helena mengetahui seluruh rencana Alexander International.
Persetujuan akses bisa diberikan untuk berbagai alasan. Bisa jadi ibunya hanya mengizinkan pertukaran profil perusahaan untuk keperluan perkenalan bisnis. Bisa pula seseorang memanfaatkan persetujuan tersebut untuk mendapatkan informasi yang lebih luas.
Adrian tidak akan memilih salah satu kemungkinan sebelum mengetahui kebenarannya. Ketukan di pintu membuatnya mengangkat kepala.
"Masuk."
Dimas muncul dengan sebuah tablet di tangan.
"Pak, tim audit mengonfirmasi bahwa persetujuan akses tersebut memang tercatat menggunakan akun Ibu Helena. Namun, mereka belum menemukan bukti bahwa beliau mengirimkan data keuangan proyek Bali secara langsung."
Adrian menutup berkas di hadapannya."Apakah ada catatan mengenai dokumen yang dibuka setelah persetujuan itu?"
"Ada beberapa riwayat akses, tetapi sebagian berasal dari akun staf administrasi. Tim audit sedang mencocokkan waktu akses dengan jadwal kerja mereka."
"Pastikan pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh. Jangan sampai ada orang yang dituduh hanya karena namanya muncul di sistem."
"Baik, Pak."
Dimas tidak langsung pergi. Dia memperhatikan Adrian yang tampak lebih serius daripada biasanya.
"Apakah Bapak akan membicarakan hal ini dengan Ibu Helena?"
Adrian terdiam sejenak."Belum. Aku ingin mengetahui lebih banyak sebelum bertanya padanya."
"Kalau begitu, bagaimana dengan makan malam keluarga lusa?"
Tatapan Adrian beralih kepada kalender digital di layar komputernya. Undangan itu sudah diterima beberapa hari sebelumnya, tetapi semula dia menganggapnya sebagai pertemuan keluarga biasa. Kini, setelah mengetahui keterlibatan ibunya dalam perkenalan awal dengan Alexander International, makan malam tersebut terasa berbeda.
"Aku tetap akan datang bersama Naura," jawabnya. "Aku tidak ingin membatalkan acara keluarga hanya karena ada persoalan yang belum terbukti."
Dimas mengangguk."Apakah Nyonya Naura sudah mengetahui hasil pemeriksaan ini?"
"Belum."
Adrian meraih ponselnya, kemudian memandang layar selama beberapa saat sebelum memasukkannya kembali ke saku.
"Aku akan menjelaskan padanya malam ini."
Dimas memahami bahwa pembicaraan itu bukan sesuatu yang ingin dilakukan Adrian melalui telepon. Dia pun berpamitan dan meninggalkan ruangan, membiarkan atasannya menyelesaikan pekerjaannya sebelum pulang.
Namun, sebelum Adrian menutup komputer, sebuah pesan masuk dari ibunya. Jangan lupa datang tepat waktu. Ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan bersama keluarga.
Adrian membaca pesan tersebut dengan saksama.
Dia belum tahu apakah Helena sedang mempersiapkan pembicaraan bisnis, urusan keluarga, atau sesuatu yang berkaitan dengan Alexander International. Yang jelas, dia tidak akan datang ke sana hanya untuk mendengarkan penjelasan tanpa membawa pertanyaan.
Kali ini, dia ingin mendengar jawaban langsung dari ibunya.
---
Malam semakin larut ketika Adrian tiba di mansion.
Naura sedang berada di ruang keluarga bersama ibunya. Di atas meja terdapat beberapa majalah desain dan buku referensi yang dibawanya dari kantor. Meskipun sudah berada di rumah, dia masih menyempatkan diri memeriksa konsep proyek yang harus dipresentasikan kepada klien pada akhir pekan.
Naura bekerja di sebuah agensi desain, dan pekerjaan itu menjadi salah satu hal yang membuatnya tetap merasa memiliki kehidupan sendiri di tengah perubahan besar setelah menikah dengan Adrian.
Dia tidak ingin seluruh harinya hanya diisi oleh urusan mansion, keluarga Mahendra, atau orang-orang yang mencoba mengusik rumah tangganya.
Ketika mendengar langkah kaki Adrian, Naura menoleh."Mas baru pulang?"
Adrian mengangguk sambil melonggarkan dasinya."Ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan."
Naura menutup majalah di pangkuannya. "Makan malam sudah disiapkan. Mas bisa membersihkan diri dulu kalau mau."
Adrian memperhatikan meja yang dipenuhi buku dan lembar desain."Sayang, Kamu masih bekerja?"
"Sedikit lagi." Naura mengangkat salah satu lembar desain. "Klienku meminta perubahan konsep untuk area lobi. Mereka ingin suasananya lebih hangat, tetapi tetap terlihat modern. Jadi, aku harus memikirkan kombinasi warna dan pencahayaan yang tepat."
"Kamu bisa menyelesaikannya besok."
"Kalau semua pekerjaan ditunda sampai besok, nanti Mas juga yang mengeluh karena aku terlalu sibuk."
Adrian mengangkat sebelah alis."Mas pernah mengeluh?"
Naura menatapnya dengan senyum tipis. "Belum. Tapi wajah Mas kadang sudah menjawab lebih dulu."
Adrian tertawa kecil. Dia duduk di sebelah istrinya, kemudian mengambil salah satu lembar desain yang disodorkan Naura."Aku tidak mengerti banyak tentang desain interior, tetapi menurutku ini bagus."
Naura mendekat untuk menunjukkan bagian yang dimaksud. "Yang ini?"
"Ya. Warnanya tidak terlalu mencolok."
"Karena aku memang ingin membuat orang merasa nyaman saat pertama kali masuk ke ruangan."
Adrian mengangguk, meskipun perhatiannya kemudian beralih pada wajah Naura.
Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan sejak berada di kantor, tetapi melihat istrinya menikmati pembicaraan sederhana seperti ini membuatnya ingin menunda persoalan itu sedikit lebih lama.
Sayangnya, menunda bukan berarti menyelesaikan."Naura, ada sesuatu yang perlu Mas bicarakan."
Naura segera meletakkan lembar desainnya.
"Masalah perusahaan?"
Adrian mengangguk.
"Tim audit menemukan catatan persetujuan akses data perusahaan yang menggunakan akun ibuku. Persetujuan itu berkaitan dengan perkenalan awal antara Mahendra Group dan Alexander International."
Wajah Naura berubah serius."Apakah ibu memberikan data perusahaan pada mereka?"
"Kami belum tahu. Sejauh ini, yang ditemukan baru persetujuan akses dan beberapa riwayat pembukaan dokumen. Belum ada bukti bahwa ibuku mengirimkan data keuangan proyek Bali secara langsung."
Naura mencerna penjelasan itu sebelum menjawab."Jadi, Mas belum tahu apakah ibu terlibat dalam kebocoran informasi tersebut."
"Benar."
"Kalau begitu, Mas harus memeriksanya sampai jelas."
Adrian memandangnya, sedikit terkejut karena Naura tidak menunjukkan reaksi berlebihan.
"Kamu tidak ingin bertanya lebih jauh?"
"Aku punya banyak pertanyaan, tetapi aku tidak ingin mengubah dugaan menjadi tuduhan." Naura merapikan buku-buku di atas meja. "Kalau memang ada kesalahan, Mas harus mengetahuinya. Namun, kalau ternyata hanya persoalan administrasi, aku juga tidak mau seorang dipersalahkan tanpa alasan."
Adrian terdiam sejenak, lalu mengangguk. Itulah salah satu hal yang semakin dia hargai dari Naura. Wanita itu bisa bersikap tegas tanpa harus mengorbankan akal sehatnya.
"Ada satu hal lagi," lanjut Adrian. "Ibu mengundang kita makan malam keluarga lusa. Katanya, ada beberapa hal yang perlu dibicarakan."
Naura menyandarkan punggungnya ke sofa."Dia juga meneleponku kemarin dan mengingatkan tentang makan malam itu."
"Kenapa kamu tidak memberitahuku?"
"Aku menunggu Mas pulang. Aku tidak ingin membahas persoalan keluarga melalui telepon ketika Mas sedang bekerja."
Adrian mengangguk pelan. "Maaf karena Mas belum sempat membicarakannya."
Naura menatapnya beberapa saat.
"Mas Adrian, aku ingin Mas memahami sesuatu."
"Apa?"
"Aku memang masih belajar mengenal keluargamu. Ada banyak kebiasaan dan hubungan yang belum kupahami. Aku juga tahu bahwa sebagian orang mungkin belum sepenuhnya menerima pernikahan kita."
Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih lembut.
"Tapi aku tidak ingin Mas merasa harus memilih antara aku dan keluargamu hanya karena ada masalah. Aku ingin kita mencari kebenarannya bersama-sama."
Adrian menggenggam tangan Naura."Aku tidak akan meminta kamu menghadapi keluargaku sendirian. Dan aku juga tidak akan membiarkan siapa pun menggunakan nama keluarga untuk merendahkanmu."
Naura tersenyum kecil.
"Aku akan mengingat janji itu."
"Silakan. Kalau perlu, ingatkan aku setiap hari."
Naura terkekeh."Jangan menantangku. Aku bisa benar-benar melakukannya."
Adrian tersenyum, lalu menarik istrinya mendekat. Dia tidak ingin pembicaraan mereka berakhir dengan kecemasan. Karena itu, setelah beberapa saat, dia mengajak Naura makan malam.
Malam itu, mereka tidak membicarakan Clarissa lagi. Namun, sebelum tidur, Adrian sempat memeriksa ponselnya sekali lagi. Tidak ada pesan baru dari nomor misterius itu.
Keheningan tersebut justru membuatnya semakin waspada.
---
Dua hari kemudian, tepat menjelang pukul tujuh malam, mobil Adrian memasuki halaman kediaman keluarga Mahendra.
Naura duduk di samping suaminya dengan gaun sederhana berwarna biru tua. Dia memilih penampilan yang elegan tanpa berlebihan, sementara rambutnya ditata rapi dan sebuah tas kecil melengkapi penampilannya.
Adrian meliriknya ketika mobil berhenti di depan pintu utama.
"Kamu gugup?"
Naura menoleh. "Sedikit."
"Karena makan malamnya?"
"Karena aku tidak tahu apa yang akan dibicarakan malam ini."
Adrian meraih tangannya."Kita datang bersama, dan kita pulang bersama. Kamu tidak perlu memikirkan hal lain sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."
Naura menatapnya, kemudian mengangguk.
"Baiklah. Tapi kalau nanti ada yang bertanya tentang hal-hal pribadi yang tidak ingin kubicarakan, aku berhak menjawab sesuai keinginanku."
"Tentu."
"Termasuk kalau ada yang bertanya soal Clarissa."
Adrian tersenyum tipis."Terutama soal Clarissa."
Naura akhirnya tertawa kecil. Ketegangan yang sempat memenuhi dadanya berkurang, meskipun belum sepenuhnya hilang.
Mereka turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah. Helena sudah menunggu di ruang utama. Perempuan itu mengenakan kebaya modern berwarna krem dengan perhiasan sederhana. Begitu melihat putranya, dia tersenyum, lalu mengulurkan tangan untuk menyambut Naura.
"Kalian sudah datang."
Naura mencium tangan ibu mertuanya dengan sopan."Selamat malam, Tante."
Helena membalas senyumannya. "Selamat malam, Naura. Kamu terlihat cantik malam ini.""Terima kasih, Tante."
Sambutan itu terdengar hangat, tetapi Naura menangkap sesuatu yang berbeda dari cara Helena memandangnya. Ada kehati-hatian yang tidak biasa, seolah perempuan itu sedang menimbang kata-kata sebelum mengucapkannya.
Sebelum Naura sempat memikirkannya lebih jauh, seorang pria memasuki ruangan dari arah lorong.
Rendra Mahendra.
Dia mengenakan setelan abu-abu gelap dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ketika melihat Adrian dan Naura, dia tersenyum tipis.
"Adrian. Naura."
Adrian membalas sapaan itu secukupnya.
"Rendra."Naura menyapa dengan sopan. Dia pernah bertemu pria itu dalam beberapa acara keluarga, tetapi tidak pernah berbicara cukup lama untuk mengenalnya lebih dekat.
Rendra kemudian duduk di sofa yang berseberangan dengan mereka."Sepertinya semua orang sudah berkumpul," ujarnya sambil melirik jam tangan. "Kita bisa mulai makan malam."
Helena mengangguk. Namun, sebelum mereka bergerak menuju ruang makan, suara langkah lain terdengar dari arah pintu depan.
Seorang perempuan masuk dengan gaun hitam elegan dan tas tangan berwarna senada.
Clarissa Alexander.
Naura terdiam sesaat. Dia tidak menyangka akan bertemu Clarissa di rumah keluarga Adrian. Terlebih, setelah kejadian bingkisan beberapa hari sebelumnya, Naura mengira wanita itu akan menjaga jarak dari kehidupan pribadi mereka.
Clarissa tersenyum ketika melihatnya."Selamat malam, Nyonya Mahendra."
Naura membalas tatapannya dengan tenang.
"Selamat malam, Nona Alexander."
Adrian langsung menoleh kearah ibunya."Ibu, apa maksudnya ini?"
Helena tidak segera menjawab. Dia justru mempersilakan Clarissa masuk lebih jauh.
"Clarissa hadir malam ini sebagai perwakilan keluarga Alexander. Ada beberapa hal mengenai kerja sama bisnis yang perlu kita bicarakan."
Adrian menatap ibunya tanpa menyembunyikan ketidaksenangannya."Kalau pembahasannya mengenai kerja sama bisnis, seharusnya pertemuan ini dilakukan di kantor."
"Ada hal-hal yang lebih mudah dibicarakan dalam suasana keluarga," jawab Helena tenang.
"Kalau begitu, kita bisa membicarakannya setelah makan malam tanpa melibatkan urusan pribadi."
Clarissa menyela dengan senyum tipis."Saya tidak keberatan jika Pak Adrian ingin membicarakannya secara profesional. Saya datang atas undangan Ibu Helena, bukan untuk mengganggu rumah tangga Anda."
Naura memperhatikan wanita itu tanpa mengucapkan apa pun. Kalimat Clarissa terdengar sopan, tetapi dia tidak lupa bagaimana wanita itu sengaja mengirimkan album foto ke mansion untuk memancing kecemburuan.
Adrian tampaknya memiliki pemikiran yang sama.
"Kalau begitu, mari kita pastikan pembicaraan malam ini tetap profesional."
Helena mengembuskan napas pelan."Adrian, Ibu mengundang semua orang untuk membicarakan masa depan kerja sama kedua keluarga. Ibu berharap kamu bisa mendengarkan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan."
Adrian tidak menjawab. Dia hanya menggenggam tangan Naura sedikit lebih erat sebelum berjalan menuju ruang makan.
Naura mengikuti langkahnya, berusaha mempertahankan ketenangan meskipun dia menyadari bahwa kehadiran Clarissa bukanlah kebetulan biasa.Malam ini, seorang sengaja menempatkan mereka dalam satu ruangan. Naura ingin mengetahui alasannya.
---
Meja makan keluarga Mahendra telah ditata dengan rapi. Hidangan pembuka tersaji di tengah meja, sementara para pelayan bergerak dengan tenang mengisi gelas dan memastikan seluruh tamu mendapatkan makanan.
Pada awalnya, percakapan berlangsung biasa. Helena menanyakan kabar pekerjaan Adrian, Rendra membicarakan perkembangan beberapa investasi keluarga, dan Clarissa sesekali menambahkan informasi mengenai kegiatan Alexander International di Jakarta.
Naura lebih banyak mendengarkan sambil menikmati makanannya. Dia tidak ingin terburu-buru ikut membicarakan persoalan yang belum dipahaminya.
Namun, ketika hidangan utama disajikan, Helena meletakkan peralatan makannya."Ada satu hal yang ingin Ibu sampaikan sebelum kita melanjutkan pembicaraan bisnis."
Semua orang mengangkat wajah. Helena menatap Adrian terlebih dahulu sebelum mengalihkan pandangannya kepada Naura.
"Beberapa tahun lalu, keluarga Alexander dan keluarga Mahendra pernah membicarakan kemungkinan kerja sama yang lebih luas. Saat itu, hubungan bisnis kedua keluarga berjalan baik, dan kami berharap hubungan tersebut dapat terus berkembang."
Adrian meletakkan gelasnya."Ibu sudah menjelaskan hal itu sebelumnya. Apa yang ingin Ibu sampaikan sekarang?"
Helena menarik napas perlahan."Ibu ingin kalian memahami bahwa kerja sama ini bukan sesuatu yang baru muncul setelah Clarissa kembali ke Indonesia. Ada sejarah panjang yang perlu dipertimbangkan."
"Sejarah bisnis atau sejarah pribadi?" tanya Adrian.
Pertanyaan itu membuat suasana meja makan berubah.
Clarissa menundukkan wajahnya sejenak, sementara Rendra berhenti mengunyah. Helena menatap putranya dengan ekspresi yang lebih serius.
"Keduanya pernah berkaitan, tetapi Ibu tidak sedang meminta kamu mengubah keputusan mengenai pernikahanmu."
"Kalau begitu, kita tidak perlu membicarakan hubungan pribadi saya dengan Clarissa dalam pertemuan bisnis."
"Adrian," tegur Helena pelan.
"Saya hanya ingin memastikan batasannya jelas, Bu."
Naura menyentuh lengan Adrian dengan lembut. Bukan untuk menghentikannya berbicara, melainkan untuk mengingatkan bahwa mereka belum mengetahui seluruh maksud pertemuan tersebut.
Adrian melirik istrinya, lalu kembali menatap ibunya.
Helena akhirnya mengangguk."Baiklah. Kita bicarakan bisnisnya terlebih dahulu."
Rendra segera mengambil kesempatan itu untuk menjelaskan rencana kerja sama investasi di Bali. Dia memaparkan pembagian tanggung jawab, perkiraan kebutuhan dana, dan peluang pengembangan properti yang akan dikelola bersama.
Penjelasannya terdengar meyakinkan, tetapi Adrian beberapa kali mengajukan pertanyaan mengenai perubahan proyeksi keuntungan dan dasar perhitungan biaya operasional.
Rendra menjawab dengan hati-hati."Angka tersebut masih berupa perkiraan awal. Kami akan menyesuaikannya setelah tim melakukan evaluasi."
"Siapa yang memberikan data awal itu kepada tim Anda?" tanya Adrian.
Rendra terdiam sepersekian detik."Data tersebut berasal dari pembicaraan awal antara perwakilan kedua perusahaan."
"Pembicaraan yang mana?"
"Pertemuan sebelum proposal resmi disusun."
Adrian meletakkan garpunya."Setahu saya, dalam pertemuan awal itu, kita hanya membicarakan profil perusahaan dan kemungkinan kerja sama. Belum ada pembahasan mengenai angka keuntungan proyek Bali."
Rendra menatapnya."Mungkin ada informasi yang disampaikan setelah pertemuan tersebut."
"Mungkin," jawab Adrian. "Karena itulah saya ingin mengetahui siapa yang menyampaikannya."
Clarissa segera masuk ke dalam percakapan."Pak Adrian, saya rasa kita tidak perlu memperpanjang persoalan teknis malam ini. Tim kami bersedia memberikan penjelasan lengkap melalui jalur resmi."
"Saya setuju. Tim audit saya sedang memeriksa sumber data tersebut."
Senyum Clarissa sedikit memudar."Tim audit?"
"Ya. Ada beberapa ketidaksesuaian yang perlu diperiksa sebelum kerja sama ini dilanjutkan."
Rendra meletakkan gelasnya dengan lebih keras daripada yang diperlukan. "Apakah kamu sedang mencurigai pihak Alexander International?"
"Saya sedang memeriksa informasi yang beredar di perusahaan saya sendiri. Jika data tersebut memang berasal dari pihak Anda, tentu kita akan membicarakannya berdasarkan fakta."
Helena memandang Adrian dengan ekspresi yang sulit dibaca."Apakah pemeriksaan itu juga berkaitan dengan persetujuan akses yang Ibu berikan beberapa waktu lalu?"
Pertanyaan tersebut membuat Adrian terdiam. Dia tidak menyangka ibunya akan mengangkat persoalan itu di depan semua orang.
Naura yang duduk di samping Adrian langsung memahami bahwa inilah alasan sesungguhnya pertemuan malam itu terasa berbeda.
Adrian menatap ibunya dengan tenang."Ya, Bu. Tim audit menemukan persetujuan akses yang menggunakan akun Ibu. Saya ingin mengetahui dokumen apa saja yang dibuka setelah persetujuan itu diberikan."
Helena tidak segera menjawab. Untuk pertama kalinya sejak makan malam dimulai, perempuan itu terlihat kehilangan ketenangannya.
Clarissa menunduk, menyembunyikan ekspresi yang sulit dibaca. Sementara itu, Rendra memandang Helena seolah menunggu jawaban yang tidak ingin didengarnya.
"Akses itu diberikan untuk keperluan perkenalan bisnis," ujar Helena akhirnya. "Ibu tidak pernah bermaksud memberikan data rahasia perusahaan."
"Saya tidak mengatakan Ibu melakukannya."
"Tetapi kamu sedang memeriksa akun Ibu seolah-olah Ibu telah melakukan kesalahan."
"Saya memeriksa semua jalur akses yang berkaitan dengan data tersebut. Saya tidak bisa mengecualikan seorang hanya karena dia keluarga saya."
Helena terdiam.
Naura memandang ibu mertuanya dengan hati-hati. Dia tidak ingin menghakimi Helena, tetapi dia juga menyadari bahwa pertanyaan Adrian belum terjawab sepenuhnya.
"Bu," ujar Naura dengan suara lembut, "mungkin akan lebih mudah jika tim audit menjelaskan data apa saja yang mereka temukan. Dengan begitu, kita bisa mengetahui bagian mana yang perlu diperiksa tanpa saling menduga."
Helena menoleh kearahnya. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Kemudian Helena mengangguk pelan. "Kamu benar. Ibu juga ingin persoalan ini segera jelas."
Rendra tampak tidak nyaman mendengar jawaban tersebut. Dia menggeser duduknya, kemudian menatap Adrian. "Kalau memang itu yang kalian inginkan, saya akan meminta tim Alexander International menyiapkan semua catatan komunikasi yang berkaitan dengan perkenalan awal."
"Terima kasih," jawab Adrian. "Saya berharap semua pihak bersedia bekerja sama."
Clarissa tersenyum tipis, tetapi kali ini senyumnya tidak lagi menunjukkan kemenangan. Dia datang dengan keyakinan bahwa hubungan lama keluarganya akan memberinya keuntungan. Namun, dia tidak memperhitungkan bahwa Adrian akan memeriksa semua orang tanpa memandang kedekatan pribadi. Lebih buruk lagi, persoalan yang semula ingin dia gunakan untuk mendekati Adrian kini berkembang menjadi pemeriksaan yang bisa membahayakan kepentingan bisnisnya sendiri.
---
Makan malam berakhir tanpa pertengkaran terbuka, tetapi tidak seorang pun benar-benar meninggalkan meja dengan perasaan lega.
Setelah para pelayan membereskan hidangan, Helena meminta Adrian menemuinya di ruang keluarga. Naura hendak ikut, tetapi Adrian menatapnya sejenak.
"Kamu bisa menunggu sebentar di sini? Aku ingin mendengar penjelasan Ibu terlebih dulu."
Naura mengangguk."Tentu. Aku akan menunggu."
Adrian berjalan mengikuti ibunya ke ruang keluarga. Begitu mereka tiba, Helena meminta putranya duduk, sementara dirinya berdiri di dekat jendela."Ada sesuatu yang belum Ibu ceritakan padamu," ujar Helena.
Adrian menatapnya dengan serius."Tentang Alexander International?"
Helena menggeleng perlahan."Tentang Rendra."
Adrian tidak menyela.
"Ibu memang memberikan persetujuan akses awal untuk keperluan perkenalan bisnis. Tetapi setelah itu, Rendra beberapa kali meminta Ibu membantu mempercepat proses kerja sama. Dia mengatakan bahwa Alexander International memiliki peluang investasi yang sangat baik dan hubungan kedua keluarga akan semakin kuat jika proyek itu berhasil."
"Apakah Ibu memberikan akses tambahan?"
"Tidak secara langsung. Ibu meminta staf administrasi menyiapkan profil perusahaan dan beberapa informasi umum yang biasa diberikan dalam tahap penjajakan."
Adrian menyimak tanpa mengalihkan pandangan.
"Apakah Ibu mengetahui adanya pembahasan mengenai angka keuntungan proyek Bali sebelum proposal resmi disusun?"
Helena terdiam cukup lama. "Ibu pernah mendengar Rendra membicarakan peluang pengembangan properti di Bali. Tetapi Ibu tidak tahu dari mana dia memperoleh angka-angka yang disebutkannya."
"Kenapa Ibu tidak memberi tahu saya sebelumnya?"
"Karena saat itu Ibu menganggapnya sebagai pembicaraan bisnis biasa. Ibu tidak melihat alasan untuk mempermasalahkannya."
Adrian mengembuskan napas perlahan."Kalau begitu, saya perlu berbicara langsung dengan Rendra."
"Adrian, jangan terburu-buru menuduh sepupumu sendiri."
"Saya tidak akan menuduh siapa pun sebelum ada bukti. Tetapi saya juga tidak akan mengabaikan sesuatu yang berpotensi merugikan perusahaan."
Helena menatap putranya dengan ekspresi sedih.
"Ibu hanya tidak ingin keluarga ini terpecah karena persoalan bisnis."
Adrian terdiam sejenak sebelum menjawab."Saya juga tidak menginginkan itu, Bu. Namun, menjaga keluarga bukan berarti membiarkan masalah yang belum selesai terus disembunyikan."
Helena menundukkan kepala.Untuk pertama kalinya malam itu, dia tidak memiliki jawaban.
---
Ketika Adrian kembali ke ruang utama, Naura masih menunggunya. Clarissa sudah berpamitan, sedangkan Rendra tidak terlihat di ruang makan.
Naura berdiri saat Adrian mendekat."Bagaimana pembicaraanmu dengan Ibu?"
Adrian meraih tas kecil Naura, kemudian mengajaknya berjalan menuju pintu depan."Kita bicarakan di mobil."
Naura mengangguk dan tidak bertanya lebih jauh sampai mereka duduk di dalam kendaraan. Setelah mobil meninggalkan halaman kediaman keluarga Mahendra, Adrian menceritakan percakapannya dengan Helena. Dia menjelaskan bahwa ibunya memang memberikan persetujuan akses awal, tetapi belum ada bukti bahwa Helena sengaja membocorkan data rahasia.
Naura mendengarkan sampai selesai."Jadi, sekarang kamu harus mencari tahu bagaimana Rendra memperoleh informasi itu," simpulnya.
"Ya."
" kamu belum tahu apakah Clarissa juga terlibat?"
"Belum."
Naura memandang jalanan di luar jendela."Kalau begitu, jangan biarkan kejadian pagi itu membuatmu mengabaikan kemungkinan lain. Clarissa memang berusaha mengganggu hubungan kita, tetapi bukan berarti dia terlibat dalam setiap masalah yang muncul."
Adrian meliriknya."Kamu masih membelanya?"
"Aku tidak membelanya. Aku hanya tidak ingin kita salah menilai seorang karena sudah terlanjur tidak menyukainya."
Adrian mengangguk pelan."Kamu benar."
Naura tersenyum kecil, kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Adrian."Aku hanya ingin kita menyelesaikan masalah ini tanpa kehilangan kepercayaan satu sama lain."
Adrian merangkul bahunya."Kamu tidak perlu khawatir tentang itu."
"Aku akan tetap khawatir kalau kamu terus menyimpan semuanya sendirian."
Adrian tertawa kecil, lalu mencium puncak kepala istrinya."Baiklah. Mulai sekarang, aku akan berusaha lebih terbuka."
Naura mengangkat wajah dan menatapnya dengan senyum menggoda."Aku akan mengingat janji itu."
"Aku tahu."
Mereka kembali terdiam, menikmati perjalanan pulang di tengah lampu-lampu kota yang mulai menyala. Namun, di dalam saku jas Adrian, ponselnya bergetar. Sebuah pesan baru masuk dari nomor yang sama dengan pengirim pesan misterius sebelumnya.
Jika Anda ingin mengetahui alasan sebenarnya Helena menyetujui kerja sama itu, jangan hanya memeriksa Rendra. Tanyakan kepadanya tentang pertemuan yang berlangsung tiga hari sebelum Alexander International tiba di Jakarta.
Adrian membaca pesan itu tanpa mengubah ekspresi. Tiga hari sebelum Alexander International tiba di Jakarta. Dia berusaha mengingat jadwal ibunya pada waktu tersebut. Saat itu, Helena sempat bepergian ke luar kota untuk menghadiri sebuah acara keluarga. Setidaknya, itulah informasi yang dia terima.
Adrian mengunci layar ponselnya dan menatap ke depan. Sekarang, ada satu pertanyaan baru yang harus dijawabnya..Siapa yang ditemui Helena sebelum kerja sama itu dimulai? mengapa seseorang begitu berusaha memastikan bahwa dia mengetahui pertemuan tersebut?
Adrian menggenggam tangan Naura yang berada di pangkuannya. Dia belum mengetahui jawaban dari semua pertanyaan itu. Namun, satu hal sudah jelas: persoalan di Mahendra Group jauh lebih rumit daripada sekadar kedatangan seorang mantan kekasih. sebelum kebenaran terungkap, dia harus memastikan bahwa Naura tidak menjadi korban dari rahasia yang bahkan belum sepenuhnya dipahami oleh keluarganya sendiri.