NovelToon NovelToon
Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN

Namaku Kirana, 22 tahun.

Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.

Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.

"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"

Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.

Aku pikir hidupku sudah selesai.

Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.

Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:

"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."

Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?

Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: MANTAN DATANG MEREBUT

Pagi itu rumah bocor kami terasa berbeda. Hangat. Untuk pertama kalinya sejak aku tinggal di sana, aku tidak mencium bau kemenyan, tidak mendengar suara jangkrik yang terlalu berisik, dan tidak merasa diawasi dari kebun karet belakang.

Kutukan 76 tahun itu sudah putus. Arwah Mirah sudah bebas. Boneka santet Wiryo sudah jadi abu di bawah pohon beringin.

Aku bangun pagi dengan perasaan lega. Salsa masih tertidur pulas di sampingku, memeluk boneka kelincinya. Arga sudah bangun lebih dulu dan sedang membuatkan teh manis di dapur, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.

"Kir, bangun. Tehnya sudah jadi. Hari ini kamu tidak usah nyapu halaman. Biar aku saja," kata Arga dengan suara lembut sambil menyodorkan cangkir seng.

Aku tersenyum. Ini Arga yang baru. Arga yang hangat setelah kutukannya hilang.

Tapi kehangatan itu tidak bertahan lama.

Jam 8 pagi, saat kami bertiga sedang sarapan singkong goreng buatan Bu Minah di balai bambu depan rumah, terdengar suara motor RX King yang knalpotnya bobokan keras memecah kesunyian Desa Wonorejo.

Brummm... brummm... brummm!

Suara motor itu sangat aku kenal. Suara motor yang dulu sering menjemputku di kos-kosan kampus. Suara motor yang dulu aku anggap keren dan jantan. Sekarang suara itu membuat perutku mual dan jantungku berdebar ketakutan.

Motor itu berhenti tepat di depan pagar bambu rumah kami yang sudah miring. Debu jalanan beterbangan.

Seorang laki-laki muda berumur sekitar 23 tahun turun dari motor. Rambutnya gondrong dicat pirang, memakai jaket kulit hitam yang penuh debu, celana jeans robek, dan kacamata hitam. Wajahnya tampan, memang. Tapi wajah tampan yang sudah aku benci setengah mati.

Rendo. Adik kandung Arga. Ayah dari anak yang ada di dalam perutku.

"Assalamualaikum, Mas Arga yang soleh! Lama tidak bertemu!" sapa Rendo dengan nada mengejek sambil membuka kacamata hitamnya dan tersenyum sinis.

Arga yang sedang makan singkong langsung berdiri. Wajahnya yang tadinya hangat langsung berubah dingin dan keras seperti batu lagi.

"Rendo. Ngapain kamu di sini? Bukannya kamu kabur ke Kalimantan?" tanya Arga dengan suara berat menahan amarah.

Rendo tertawa keras. "Kabur? Siapa yang kabur? Aku cuma cari kerja, Mas. Cari uang buat tanggung jawab. Kan aku mau tanggung jawab sama Kirana. Mana Kirana? Eh, ada toh!"

Rendo melihat ke arahku yang sedang menggendong Salsa. Matanya menatap perutku yang masih rata.

"Kirana, sayang, gimana kabarmu? Hamilnya sudah berapa bulan? Kangen aku gak? Aku kangen kamu lho, Sayang," kata Rendo dengan nada genit dan merayu, berjalan mendekat ke arahku.

Aku mundur dua langkah, memeluk Salsa lebih erat. "Jangan dekat-dekat! Jangan panggil aku sayang!"

Arga langsung berdiri di depanku, menghalangi Rendo. Tubuh Arga yang tinggi dan berot karena kerja kebun terlihat jauh lebih besar dari tubuh Rendo yang kurus karena narkoba.

"Jaga mulutmu, Rendo! Dia sekarang istriku! Istri sahku! Secara siri! Jangan panggil sayang!" bentak Arga.

Rendo tertawa lagi, lebih keras. "Istri sah? Istri siri? Hahaha! Mas Arga, Mas Arga... kamu pikir kamu pahlawan ya? Nikahin bekas pacar adikmu sendiri yang sudah dihamili adikmu? Kamu pikir kamu hebat? Kamu cuma tukang cuci piring, Mas! Tukang tampung sampahku!"

Kata-kata sampah itu membuat darahku mendidih. Air mataku langsung keluar.

"Rendo! Jaga mulutmu! Anak di perut Kirana itu anakmu! Darah dagingmu! Kamu yang harus tanggung jawab!" bentak Arga, kali ini tangannya sudah mengepal.

"Tanggung jawab? Enak saja! Mana buktinya anak itu anakku? Kirana kan mahasiswi gaul, Mas. Siapa tahu anak itu anak dosennya? Atau anak ojek online langganannya? Jangan asal nuduh, Mas!" jawab Rendo dengan enteng, tanpa rasa bersalah sama sekali.

Itulah Rendo. Laki-laki yang menghamiliku dan kabur, sekarang kembali dan memfitnahku.

Aku tidak tahan lagi. Aku maju dari belakang Arga dengan air mata bercucuran.

"Rendo, kamu laki-laki tidak punya hati! Kamu yang janji mau nikahin aku! Kamu yang bilang mau bawa aku ke Kalimantan! Kamu yang bikin aku hamil! Sekarang kamu bilang anak ini bukan anakmu? Kamu lihat, Salsa saja jadi saksi! Salsa lihat kamu datang malam-malam mengintip!"

Rendo melihat Salsa yang ada di gendonganku. Salsa yang melihat Rendo langsung menangis ketakutan dan menyembunyikan wajahnya.

"Anak kecil kok jadi saksi? Lucu kamu, Kirana," ejek Rendo.

Arga sudah tidak tahan lagi. Dia mendorong dada Rendo dengan keras sampai Rendo terjatuh ke tanah becek.

"Pergi! Pergi dari sini, Rendo! Jangan pernah injakkan kakimu lagi di rumahku! Kamu bukan adikku lagi!" teriak Arga dengan suara menggelegar.

Rendo terjatuh, jaket kulitnya kotor lumpur. Dia bangun dengan wajah marah. Dari balik jaketnya, dia mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil yang berkilat.

"Mau gaya-gayaan jadi jagoan, Mas? Mentang-mentang kamu kakak, kamu bisa nikung pacar adikmu sendiri? Aku bunuh kamu, Mas! Aku bunuh kamu sama perempuan murahan itu!"

Rendo mengacungkan pisau ke arah Arga.

Aku menjerit histeris. "Jangan! Rendo jangan!"

Bu Minah yang mendengar keributan dari rumah sebelah langsung lari keluar sambil berteriak, "Tolong! Tolong! Ada yang berantem! Pak RT! Pak RT!"

Beberapa warga desa yang sedang lewat langsung berkumpul di depan pagar bambu, menonton drama keluarga Pak Karim yang terkenal itu.

Arga tidak takut dengan pisau lipat Rendo. Dengan gerakan cepat seperti yang biasa dia lakukan saat menangkap ular di kebun, Arga menepis tangan Rendo dan memelintirnya sampai pisau itu jatuh ke tanah. Rendo mengerang kesakitan.

"Argh! Mas Arga! Lepasin! Sakit!"

Arga membanting Rendo ke tanah lagi dan menginjak tangannya.

"Aku bilang pergi! Pergi! Kalau tidak, aku patahkan tanganmu!" bentak Arga dengan mata merah karena amarah yang sudah dipendam bertahun-tahun pada adik tirinya yang nakal itu.

Rendo yang kesakitan dan malu karena ditonton banyak orang, akhirnya menyerah. Dia mengambil pisaunya yang jatuh dan berjalan tertatih kembali ke motor RX King-nya.

Sebelum pergi, Rendo menatapku dengan tatapan penuh dendam dan kebencian.

"Kirana, kamu pikir kamu bisa hidup tenang sama Mas Arga? Kamu pikir Mas Arga bisa kasih kamu kebahagiaan? Mas Arga itu kutukan, Kir! Setiap perempuan yang dekat sama dia mati! Ibunya mati, istrinya mati! Kamu selanjutnya! Kamu akan mati seperti Mira! Tunggu saja! Aku akan kembali! Anak itu tetap anakku! Aku akan ambil anak itu!"

Setelah mengancam seperti itu, Rendo menggeber motor RX King-nya dengan keras dan pergi meninggalkan debu tebal, menghilang di tikungan jalan desa.

Aku terduduk lemas di balai bambu, menangis sesenggukan. Salsa memelukku dan ikut menangis karena ketakutan.

Arga berlutut di depanku, memelukku dan Salsa bersamaan.

"Maafkan aku, Kir. Aku tidak bisa jaga kamu. Adikku sendiri yang bikin masalah," bisik Arga dengan suara penuh rasa bersalah.

Aku menggeleng di dalam pelukannya. "Bukan salah Bapak, Pak. Salah Rendo. Salah saya yang bodoh percaya sama Rendo dulu."

Bu Minah dan warga yang menonton tadi mendekat dan mencoba menenangkan kami.

"Arga, Kirana, yang sabar ya. Rendo memang begitu anaknya. Dari kecil sudah nakal. Jangan dimasukkan hati," kata Bu Minah sambil mengelus punggungku.

Setelah warga bubar, Arga masuk ke dalam rumah dan mengambil kotak kayu peninggalan Mirah tadi malam. Dia menatap kotak itu lama.

"Kir, Rendo benar. Aku ini kutukan. Setiap perempuan dekat aku mati. Aku takut... aku takut kamu juga..."

Aku memegang tangan Arga yang kasar karena kerja kebun. "Tidak, Pak. Kutukan Wiryo sudah putus tadi malam. Kita sudah bakar bonekanya. Arwah Mirah sudah bebas. Kita tidak akan mati, Pak. Kita akan hidup bertiga, sama Salsa dan anak ini."

Aku mengelus perutku yang masih rata.

Arga menatap perutku, lalu menatap Salsa, lalu menatapku. Ada air mata di matanya.

"Janji ya, Kir. Kamu jangan tinggalin aku seperti Mira. Kamu harus hidup. Kamu harus lahirkan anak ini dengan selamat."

Aku mengangguk sambil tersenyum di antara air mata. "Janji, Pak. Saya janji akan hidup. Dan saya janji akan jadi ibu yang baik untuk Salsa dan untuk anak kita."

Sore itu, setelah kejadian Rendo datang merebut, Arga memutuskan untuk melaporkan Rendo ke Pak RT dan Pak Karim agar Rendo tidak datang lagi mengganggu.

Tapi di dalam hatiku, aku tahu. Rendo tidak akan menyerah begitu saja. Dia pasti akan kembali. Karena dia tidak hanya ingin aku, dia ingin anak yang ada di perutku. Anak yang dia anggap sebagai aib, tapi juga sebagai alat untuk memeras keluarga Pak Karim.

Perjuangan melawan kutukan sudah selesai. Sekarang perjuangan melawan mantan yang tidak bertanggung jawab baru dimulai.

Dan aku, Kirana, mahasiswi hamil yang dulu manja, sekarang harus kuat. Harus kuat menjadi istri siri petani karet dingin, ibu sambung untuk Salsa, ibu kandung untuk anak di perutku, dan mantan pacar yang harus melawan mantan yang datang merebut.

---

1
Hasan Basri
alur cerita gx jelas
Ve Love: wah dibagian mana ini, aku suka kritiknya 🙏
total 1 replies
evana gusani
baru mampir
Ve Love: makasih ya udah mau mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!