NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Diceraikan

Istri Gendut Yang Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Dendam Kesumat / Cewek Gendut
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.

Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.

Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.

Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.

Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...

“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berubah

Rizal terpaku.

Ia belum pernah melihat Danti seperti ini. Danti yang ia kenal akan menunduk, minta maaf, lalu menangis sendirian di dapur. Danti yang ini berdiri di depannya seperti orang asing, dengan mata menyala dan suara yang menusuk.

Ada sesuatu yang berat di dadanya. Rasa bersalah? Atau sekadar ketidaknyamanan karena dipaksa melihat sesuatu yang selama ini ia hindari? Ia sendiri tak tahu. Yang ia tahu, harga dirinya terusik dan insting lama muncul... membela diri.

"Aku nggak bermaksud begitu, Dan," katanya akhirnya, nada suaranya lebih lemah tapi masih penuh pembelaan. "Aku cuma... aku cuma bercanda. Teman-temanku juga cuma bercanda. Kamu terlalu sensitif."

Danti menatapnya.

"Dan soal anak..." Rizal melanjutkan, suaranya mengeras lagi. "Aku pengen punya anak itu wajar! Semua suami pengen! Aku kerja siang malam, aku bayar semuanya, aku nggak pernah selingkuh, aku nggak pernah pukul kamu. Aku cuma minta satu hal! Salahku di mana?"

"Aku nggak pernah pukul kamu."

Kalimat itu, yang diucapkannya seolah medali kehormatan yang jatuh di antara mereka dengan bunyi paling pilu.

Danti memejamkan mata sesaat. Ketika ia membukanya kembali, tak ada lagi kemarahan di dalamnya. Hanya kelelahan yang begitu dalam, seperti sumur tanpa dasar.

Ia tak berkata apa-apa lagi.

Tanpa suara, ia berjalan ke sisi ranjang tempat Rizal biasa tidur, mengambil bantal dan guling lalu menghampiri suaminya dan menyodorkannya begitu saja ke dadanya.

"Apa-apaan ini?" tanya Rizal dengan dahi yang berkerut.

"Tidur di luar." jawab Danti.

"Dan..."

"Di sofa, Mas." Suaranya datar. "Malam ini, aku nggak mau lihat muka kamu."

"Ini kamarku juga!"

"Kalau begitu aku yang pindah ke sofa." Danti menatapnya tanpa berkedip. "Pilih."

Rizal menatap bantal di tangannya. Menatap Danti. Menatap bantal lagi. Rahangnya bergerak-gerak, tapi akhirnya, entah karena ego, entah karena rasa tak berdaya yang tak bisa ia akui, ia berbalik dan keluar dengan langkah menghentak.

Pintu kamar ditutup di belakangnya. Klik kecil kunci terdengar menyusul.

Di dalam, Danti bersandar pada pintu, perlahan tubuhnya merosot sampai duduk di lantai. Tangannya menutup wajah, bahunya berguncang tanpa suara. Tapi tangisnya kali ini berbeda. Bukan tangis yang dipendam, melainkan tangis yang melepaskan. Melepaskan semua beban yang selama ini selalu tertahan di dada. Tapi sekarang, malam ini, semuanya ia keluarkan... dan rasanya... sangat memuaskan.

Danti merasa selama ini semuanya sudah cukup. Tenaganya habis dikuras orang-orang egois yang tak punya perasaan, ibu mertuanya, adik iparnya, para tamu, dan lelaki yang ia sebut suami. Dan malam ini, untuk pertama kalinya, ia memilih menyelamatkan sisa tenaganya untuk dirinya sendiri.

 

Di ruang tamu, Rizal menjatuhkan diri di atas sofa dengan bantal terhimpit di dada.

Sofa itu keras dan dingin. Kipas angin di langit-langit berputar pelan, mengaduk udara yang terasa lebih berat dari biasanya. Dari celah pintu kamar, tak ada cahaya dan tak ada suara. Rumah yang biasa terasa hangat oleh aroma masakan Danti kini hanya berbau debu dan keheningan yang menusuk.

Ia menatap langit-langit, jemari mengetuk-ngetuk perut.

"Aku salah apa?"

Pikiran itu berputar-putar tanpa jawaban. Ia mengulang kejadian malam ini dari awal. Danti yang membuang obatnya. Danti yang berteriak. Danti yang mengusirnya. Semuanya terasa tak adil bagi dirinya. Ia yang bekerja paling keras setiap hari, ia yang pulang membawa uang, ia yang tak pernah selingkuh. Kenapa ia yang dihukum?

Dimana salahnya?

Ia lagi tak mengingat tangan yang mencengkeram pergelangan Danti di pesta. Tak mengingat piring kosong dan karung beras. Tak mengingat tawa yang ia ikut lepaskan ketika istrinya disebut drum bekas. Semua itu di kepalanya hanya ia anggap sebagai candaan, hanya hal sepele , hanya wajar, yang tak perlu diambil pusing.

Padahal tanpa ia sadari, dibalik semua itu... ada hati yang terluka, ada jiwa yang terkoyak dan ada kepedulian yang perlahan terkikis sedikit demi sedikit, hingga nyaris tak bersisa.

Rizal menghela napas keras dan memiringkan badan, memeluk bantal seperti anak kecil yang kehilangan arah.

Rumah tangganya terasa dingin. Ia merasakannya, meski ia tak bisa menjelaskan. Seperti ada sesuatu yang diam-diam padam, dan ia tak tahu sejak kapan.

Tapi alih-alih bertanya apa yang dia lakukan?

Pikirannya malah hanya sampai pada kalimat yang lebih nyaman dan tidak menyalahkannya.

Danti yang berubah.

Di antara bayang-bayang yang berputar, wajah seorang perempuan berbaju putih, rambut bergelombang, dan lekuk tubuh yang akrab sempat melintas, sekilas, seperti kilatan cahaya di kaca.

Rizal buru-buru memejamkan mata, dan membiarkan malam menelannya dalam gelap.

---

Keesokan harinya...

Suasana pagi masih sunyi seperti sebelumnya. Hanya saja, kali ini Danti sudah terlihat memasak di dapur. Harum aroma masakan Danti, membuat perut Rizal berbunyi keras.

Ia duduk di meja makan. "masak apa?" tanya Rizal, sudah bersiap dengan seragam kerjanya. Padahal, biasanya harus dibangunkan terlebih dahulu baru barulah pria itu membuka mata.

Tapi kali ini... berbeda.

"Sayur asem, sambal dan ikan asin!" jawab Danti tanpa menoleh.

Ketika semua masakan sudah selesai, Danti menatanya di meja makan.

Rizal gegas mengisi piring dan memakannya dengan lahap. Masakan Danti tidak pernah gagal. Selalu enak dan sangat cocok dengan lidahnya.

Hanya dalam sekejap isi piringnya sudah habis tak bersisa. "enak!" kata Rizal.

Danti tak merespon. Ia hanya diam, sambil fokus menata makanan di tempat bekal milik suaminya.

"Dan..." panggil Rizal, rasanya tak nyaman, melihat Danti yang diam tak bersuara. Padahal biasanya wanita itu selalu memiliki cerita yang ingin dia bagi.

"Apa?" balas Danti sangat wajah datar.

Kata-kata yang tadinya sudah ia susun untuk disampaikan, sekarang mendadak hilang di tenggorokan.

"Gak jadi!" ujar Rizal.

Danti mendengus, meletakkan kotak bekalnya di meja makan.

Rizal mengambilnya, lalu berdiri, siap untuk berangkat. "aku pergi dulu!"

"Hmm!" Danti masih tak ingin melihat wajah suaminya.

Tangan Rizal terulur, biasanya Dangi akan mencium punggung tangannya dengan takzim. Tapi kali ini...

"Kamu gak mau salim Dan?" tanya Rizal, yang biasanya selalu merasa repot dan kesal setiap kali sang istri melakukannya.

"Tanganku kotor Mas! nanti kamu jadi bau!" jawab Danti, mengembalikan kata-kata yang dulu pernah Rizal ucapkan untuknya.

Kesabaran Rizal terkikis habis. "kamu kenapa sih! masih marah gara-gara semalam? kekanakan sekali! sama sekali gak dewasa!" deru napas Rizal memburu. Ia marah. Kesal, melihat kelakuan istrinya.

"Cepat berangkat! nanti terlambat!" balas Danti. Sudah tidak lagi memiliki tenaga hanya sekedar untuk berdebat.

"Kamu berubah Danti!" tambah Rizal, lalu pergi dengan amarah yang membara. Tanpa menyadari, jika semua perubahan istrinya akibat ulahnya sendiri.

1
ryuka
bagus rizal semakin cepat kamu masuk kurang klo bgini 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
selamat Rizal sbntar lgii km bkal masuk k jurang kehancuran 😏
Muft Smoker
awalnya emnk manis ,, tp nanti juga akhirnya anda bakal ngerasa mana yg tulus ma hidup mu ,, mana yg cuma tulus ma uang mu zal ,, 😒😒😒
ryuka
nunggu kehancuran kalian sekeluarga aku tuuuhhh 🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
haduuuhh biasa nya yg gampang terpukau itu yg gampang di bodohi 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
orang salah emang selalu cari pembenaran 🫠🫠🫠🫠🫠🫠
Muft Smoker
ayoo dantii ,, semangat berjuang ,,
ryuka
semangat dantiiii 👍👍👍👍👍👍👍
ryuka
kamu mulai terlena rizal.. haduh haduh haduhh.. /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
gpp danti ,, biarkan si Rizal hancur sndrii dg selalu merasa bnar ,,
km tinggal fokus dg ap yg Skrang km kerjakan ,, meski rasa sakit mungkin ad ,, sbgai istri melihat suami sperti itu ,,
Muft Smoker
baru 1 hari atur uang belanja ,, km udh stress zal/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ryuka
naahhh mikir kamu sekarang.. haduuhh di bodohin kok mau aja sihhh
Muft Smoker
sbntar lgii jugaaa hancur dy ,, biarin aj ,,
ryuka
bodoh kamu bodoh rizal.. tunggu kehancuran kamu zal
Muft Smoker
gpp zal semakin km merasa bosan ma danti ,, semakin penyesalan dan kehancuran mendekat ke arah mu
ryuka
terlalu bodoh kamu rizal../Sweat//Sweat//Sweat//Sweat/
Muft Smoker
danti pun membalas ,, ' km banci mas ' 😒😒😒😒😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
ryuka
bagus danti.. keluarkan semua uneg2 mu biar rizal tau.. tinggal kita liat keputusan apa yang kita ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!