NovelToon NovelToon
Bukan Aku Yang Jahat Mas

Bukan Aku Yang Jahat Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Setiap hari aku difitnah mertuaku.

_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_

Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.

_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_

Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.

_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_

Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.

Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.

Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?


Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌

Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 Mengutarakan niat

Beberapa hari sudah berlalu semenjak Ilham mengutarakan niatnya didepan ustadzah Munah dan kedua kakanya.Setiap malam bahkan Ilham sisan untuk memejamkan mata.Wajah Alya yang tertunduk malu dan teduh terus menari-nari dipeupuk mata.

" Mba Alya,rasanya saya sudah tidak sabar ingin menyampaikan niat baik saya kepada mba." Gumam Ilham seorang diri dan malam itu dia masih belum bisa tidur dengan baik.Malam berlaku begitu lama untuk seseorang yang sedang jatuh cinta dan menunggu pagi tiba.

Mentari pagi mulai memancarkan sinarnya daun-daun mangga yang berwarna hijau muda itu semakin terlihat indah saat diterpa cahaya matahari.

" Heeeem,segernya udara pagi ini ya mba?" ucap Ilham pada Mbah Zahra yang duduk disampingnya sembari menikmati secangkir teh.

Angin berhembus dengan lembut,suara burung yang bersahutan semakin memperindah pagi itu.

" Ham,tuh Alya sendrian.Samperin gih,kamu belum mengatakan apapun kan sama dia?" goda mba Zahra.

" Apa tidak mengganggunya,ini masih pagi." jawab Ilham.

Alya sedang duduk diteras rumahnya mengawasi Nisa dan Raffi yang sedang bermain kejar-kejaran bersama Kinan dan kiano.

" Gak papa,kamu harus cepet loh ham!"

Mendapat dukungan dari kknya Ilham lantas berdiri dan merapikan sedikit bajunya.

" Ham,mbamu benar.Ayo ibu temani kalau begitu."

Ilham semakin mantap apa lagi saat ibunya memberikan kotak kecil berwarna biru yang sudah disiapkan untuk Alya.

Mereka berjalan melewati setapak ditengah kebun dengan langkah yang tegap dan penuh dengan keseriusan, meksipun jantung Ilham semakin dag dig dug tidak menentu.Saat langkahnya semakin dekat ustadzah muna membisikkan sesuatu ditelinga Ilham sesuatu yang membuat Ilham menjadi tenang dan seolah mendapatkan dorongan energi dari ibunya.

" Atur nafas ham,kamu laki-laki yang sudah dewasa ibu yakin kamu bisa nak.Katakan dengan baik dan bahasa yang santun ibu yakin nak alya tidak akan menolak kamu."

Ilham meraih tangan ibunya seolah mengatakan terimakasih Bu,saya pasti bisa.

Alya yang melihat Ilham dan Ustadzah Munah datang langsung berdiri dengan gugup dan merapikan kerudungnya.

"Assalamualaikum bu,mas!" sapa Alya dengan senyum ramah.

"Waalaikumsalam nak" jawab ustadzah Munah dengan senyum yang hangat.

Sementara ilham menjawab salam Alya dengan suara yang agak bergetar karena menahan gugup.

"Waalaikumsalam mbak."

Ustadzah Munah lalu memberi isyarat kepada anak-anak yang sedang bermain.

"Nisa, Raffi, Kinan, Kiano, ayo sini nak.Sayang,kalian main dirumah besar dulu ya sama ibu Zahra.Nenek,ibu dan on ilham mau bicara dulu.Gapapa kan sayang?'

Anak-anak itu pun berlari dengan riang menuju rumah besar, meninggalkan teras rumah kecil itu hanya untuk Alya, Ilham, dan Ustadzah Munah yang duduk agak jauh di bale bambu, memberi ruang privasi tapi tetap menjaga agar mereka tidak berduaan dan akan menimbulkan fitnah kedepannya.

Teras itu mendadak menjadi hening dan hanya terdengar suara angin dan dedaunan yang bergoyang diterpa angin.

Ilham duduk di kursi bambu di depan Alya dengan jarak yang sangat terjaga, hampir satu setengah meter. Ia menundukkan pandangannya, tidak berani menatap langsung wajah Alya yang sedang menunduk malu dengan tangan yang gemetar memegang jahitan.

Setelah menarik napas panjang beberapa kali, Ilham akhirnya memberanikan diri untuk mengutarakan niatnya ke Alya secara langsung, dengan kalimat yang sudah ia rangkai dan dihafalkan setiap malam.

"Mba Alya, ucap Ilham dengan suara yang pelan tapi sangat jelas dan mantap.

Alya mengangkat wajahnya sedikit.

"Iya, Mas Ilham."

Ilham menatap Alya dengan tatapan yang penuh dengan ketulusan, tapi tetap menjaga pandangannya agar tidak berlebihan.

" Mbak sebelumnya saya minta maaf jika saya lancang tapi rasanya saya sudah tidak bisa menahan diri saya untuk tidak mengatakan ini.Apa lagi setelah saya mendapatkan restu dan dukungan dari ibu dan kedua Kaka saya.

Alya terdiam, jantungnya berdegup sangat kencang, ia menggenggam ujung gamisnya dengan erat.

Ilham menarik nafas sabenetar dan kembali melanjutkan menyampaikan niatnya.

"Mungkin ini terlalu cepat buat mba,tapi tidak menurut saya.Beberapa bulan mengenal mba saya jujur kagum sejak pertama kali bertemu.Sifat mba Alya, kepribadian mba dan keteguhan hati mba dalam menjalani ujian yang Allah berikan membuat hati saya tersentuh.Apa lagi saat melihat keseharian mba yang sederhana,mba begitu sabar merawat kedua anak mba tanpa sosok seorang ayah,mba bisa mengemban tugas itu dengan baik menjadi ibu sekaligus ayah untuk Nisa dan Raffi dan yang lebih membuat saya kagum mba berbesar hati datang ke pernikahan mantan suami mba tanpa membawa amarah dan dendam.Mba begitu ikhlas dan bersikap dewasa.Mba Alya saya benar-benar menganggumi mba alya."

Ilham berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang memburu karena gugup.

"Mbak Alya, saya, Ilham bin Haji Mahmud, dengan niat yang tulus karena Allah, dengan restu dari Ibu saya Ustadzah Munah, dan dengan disaksikan Allah di teras rumah ini.Saya ingin mengutarakan niat baik saya kepada Mbak.

Alya menunduk semakin dalam, air matanya mulai menetes pelan membasahi pipinya.

"Mbak Alya maukah memberikan kesempatan kepada saya untuk menjadi pendamping hidup Mbak? Maukah Mbak Alya menerima lamaran saya untuk menjadi istri saya yang sah secara agama dan secara hukum negara? Saya berjanji, saya akan menjaga Mbak dan saya juga akan menyayangi Nisa dan Raffi seperti anak kandung saya sendiri.Saya akan membahagiakan Mbak dengan cara yang diridhoi Allah. Saya tidak menjanjikan harta yang berlimpah,tapi insyaallah saya janji akan setia, saya memberikan kasih sayang yang tulus dan saya akan bertanggung jawab seumur hidup saya."

Setiap kata yang keluar dari mulut Ilham terdengar sangat santun, Ilham sangat berhati-hati dalam menyampaikannya.Tidak ada rayuan gombal, tidak ada janji manis yang berlebihan, yang ada hanya ketulusan, kesungguhan, dan niat untuk beribadah.

Alya yang mendengar meneteskan air mata,kali ini lebih banyak namun bukan karena sedih, tapi karena terharu yang luar biasa. Baru pertama kali dalam hidupnya ada seorang laki-laki yang mengutarakan niatnya dengan cara yang begitu terhormat, begitu menjaga, dan begitu tulus kepadanya.

Setelah Ilham selesai, Ilham membuka kotak kecil berwarna biru yang ia bawa dari tadi. Di dalam kotak itu bukan cincin berlian mahal, tapi sebuah cincin perak sederhana yang indah dan sebuah buku Al-Quran kecil terjemahan.

"Mbak Alya ini bukan mahar ,ini hanya hadiah kecil tanda keseriusan saya. Jika Mbak menerima niat baik saya,saya akan datang bersama keluarga besar saya ke rumah orang tua Mbak untuk melamar Mbak secara resmi sesuai syariat Islam.

Alya mengusap air matanya dengan ujung kerudungnya, lalu ia menjawab dengan suara yang bergetar tapi sangat santun.

"Mas Ilham, terima kasih banyak atas niat baiknya. Jujur sayan sangat terharu dan saya tidak pernah menyangka akan ada laki-laki sebaik Mas Ilham yang mau menerima saya yang hanya seorang janda miskin dengan dua anak ini mas."

Ilham langsung menggeleng dengan cepat.

"Mbak Alya, jangan mengatakan hal seperti itu. Mbak memang seorang janda tapi mba adalah perempuan yang mulia.Nisa dan Raffi bukan beban, mereka adalah amanah dan jika saya menyayangi mereka dengan tulus Meraka akan menjadi ladang pahala buat saya mbak."

Alya tersenyum di balik air matanya.

"Mas Ilham, saya butuh waktu untuk bisa memberikan jawaban.Izinkan saya untuk melaksanakan sholat istikharah dulu malam ini.Saya ingin meminta petunjuk kepada Allah, seperti yang selalu saya lakukan setiap kali ingin mengambil keputusan besar dalam hidup.Sata juga ingin memastikan bahwa keputusan yang akan saya ambil ini diridhoi oleh Allah.

Ilham tersenyum dengan senyum yang sangat teduh dan mengangguk dengan penuh pengertian.

"Tentu mba alyaz tentu. Saya sangat menghargai itu. Silakan Mbak istikharah, saya akan menunggu dengan sabar jawaban dari mba.Berapa lama pun saya akan tunggu. Saya juga akan istikharah lagi malam ini. Semoga Allah memberikan petunjuk yang terbaik untuk kita berdua."

Ustadzah Munah yang duduk tidak jauh dari mereka mendengar percakapan mereka tanpa terasa air matanya juga menetes , ustadzah Munah terharu saat Ia melihat bagaimana anak bungsunya mengutarakan niatnya dengan cara yang begitu santun dan indah dan mendengarkan bagaimana Alya menjawabnya dengan cara yang begitu lembut dan penuh dengan keimanan.

Setelah percakapan itu, Ilham berpamitan dengan sopan.

"Mbak Alya, saya pamit dulu ya. Terima kasih sudah mau mendengarkan apa yang saya sampaikan.Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."jawab Alya dengan suara yang masih bergetar.

Ilham berjalan kembali menuju rumah besar dengan hati yang berbunga-bunga, meskipun jawaban belum ia dapatkan. Setidaknya, niatnya sudah ia utarakan secara langsung kepada perempuan yang ia kagumi.

Di teras rumah kecil itu, Alya masih duduk dengan kotak biru di pangkuannya, menatap cincin perak sederhana dan Al-Quran kecil itu dengan air mata yang terus menetes.

Malam itu ditempat yang berbeda namun dengan waktu yang sama dua orang yang sedang jatuh cinta dengan cara yang diridhoi Allah kembali melaksanakan sholat istikharah dengan penuh harapan, meminta petunjuk kepada Allah untuk keputusan besar yang akan mereka ambil untuk hidupnya.

Bersambung...

1
Atha Diyuta
iya mau balik tapi Alya udah nolak😄
Dewi kunti
sampai ak ngitung disini bilang man sampai 8x🤭
Atha Diyuta: 😅😅😅😅😅😅
total 3 replies
Dewi kunti
balik lagi Man🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
biasanya manggil cm man,sekarang tumben mas
Atha Diyuta: 😄😄😄😄😄😄😄
total 5 replies
Dewi kunti
mending ngekost man ,drpd hidup sama msk Lampir
Atha Diyuta: semoga Arman berkenan 😅
total 9 replies
Dewi kunti
ibu po mama iki🤭🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
lha bukannya nisa sudah paham ya mereka pergi dari rumah karena dimarahi nenek dan ayahnya,bahkan lihat ibunya yg ditampar
Atha Diyuta: yah anak kcil critanya cuman tau pergi dan akan kembali🤭🤭
total 1 replies
Dewi kunti
terlunta2 dijalanan 🤭
Dewi kunti
memperlihatkan kejulidannya mungkin
Atha Diyuta: Aduuh iya k typo lagi , trimakasih nanti direvisii 🙈🙈
total 1 replies
Dewi kunti
nama kamu hrsnya
Atha Diyuta: baik ka trimakasih nnti direvisi ☺️☺️
total 1 replies
Atha Diyuta
Asiap ka trimakasih sudah mampir
senjani jingga
semangat thor!, kalau berkenan mampir juga di novel baruku ya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!