Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.
Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.
Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.
Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.
Sementara Utara tetap mengingatnya.
Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : BERUANG KECIL
Feng Yao tersenyum kecil sebelum menapakkan kakinya memasuki pondok. Ia kemudian mengambil posisi duduk di atas ranjang bambu yang merupakan hasil buatannya sendiri, lalu mengedarkan pandangan memandangi sekeliling ruangan.
"Sementara ini, tempat tinggalku yang baru," gumamnya pada sunyi.
Setelah memastikan segala sudut ruangan sudah terasa cukup nyaman, Feng Yao merebahkan tubuhnya yang letih. Perjalanan sepanjang hari ini memang menguras cukup banyak tenaga. Tak butuh waktu lama bagi kedua matanya untuk terpejam, membawanya ke dalam tidur yang tenang
Sementara itu di belahan hutan yang lain, Xiong Yan tengah berjalan bergegas menuju gua kediamannya. Langkah kakinya berayun jauh lebih cepat daripada biasanya. Ia sendiri tidak mengerti mengapa hatinya mendesak untuk segera sampai.
Namun, semakin jauh ia meninggalkan aliran air terjun, semakin jelas pula satu wajah yang terus membayangi benaknyawajah cantik siluman wanita yang baru saja ditemuinya tadi.
Xiong Yan mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Apa-apaan ini...?" bisiknya heran sambil mengusap dada yang mendadak berdebar di luar kendali.
Deg. Deg. Deg.
Bayangan senyum Feng Yao kembali melintas tanpa permisi. Xiong Yan menggelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha mengusir pikiran itu. "Berhenti memikirkannya."
Akan tetapi, semakin keras ia mencoba, semakin lekat pula ingatan tentang wajah tersebut menempel di kepalanya. Senyum kecilnya, tatapan polosnya, hingga aura spiritual aneh yang menyelimuti tubuh wanita itu.
Bahkan, suara lembut Feng Yao saat mengatakan bahwa pondok kecil itu akan menjadi rumahnya, masih terdengar jelas di telinga.
Xiong Yan menghela napas panjang, menghentikan langkahnya sejenak tepat di depan pintu gua. "Siluman aneh. Siapa dia sebenarnya ?"
Untuk pertama kalinya sejak ia diangkat menjadi pemimpin Klan Beruang Hitam, Xiong Yan menyadari ada satu hal yang jauh lebih sulit dihadapi ketimbang kepungan musuh tangguh, yaitu rasa penasaran yang enggan beranjak pergi.
Begitu melangkah masuk ke dalam gua, Xiong Yan langsung menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebesaran sembari memegangi kening. Seluruh tubuhnya mendadak terasa gerah, entah karena hawa malam yang sedang buruk atau karena sesuatu yang sama sekali enggan ia akui.
"Cepat ambilkan air!" teriaknya lantang hingga menggema memantul di dinding-dinding gua.
Mendengar perintah yang menggelegar, salah satu anak buahnya langsung berlari tunggang-langgang ke luar.
Tak berselang lama, siluman bawahan itu kembali dengan memboyong satu gentong besar berisi air bersih. Namun sebelum Xiong Yan sempat menyentuhnya, anak buah yang lain menyusul masuk sembari memeluk sebotol gentong arak.
"Tuan, yang ini juga sudah kami siapkan," lapornya tanggap.
Xiong Yan menatap kedua gentong di hadapannya dengan gurat kekesalan yang kentara. "Aku bilang air!"
"Air atau arak, Tuan?" tanya si anak buah memastikan dengan polosnya.
"...Air!" bentak Xiong Yan pendek.
Anak buahnya mengangguk cepat dengan tubuh gemetar. Namun, didorong rasa penasaran, ia memberanikan diri untuk bertanya lagi. "Tuan... apa perlu kami carikan siluman cantik untuk menemani Tuan malam ini?"
Xiong Yan langsung menegakkan kepalanya dengan mata melotot. "Tidak perlu!!"
Suaranya menggelegar dahsyat, membuat beberapa anak buah lain yang berjaga di luar gua seketika terlonjak kaget.
"Aku mau sendiri! Cepat pergi dari sini!" usir Xiong Yan mutlak.
"Baik, Tuan!" Anak buahnya segera berbalik dan kabur terbirit-birit menyelamatkan diri ke luar ruangan.
Pintu gua pun segera tertutup rapat. Ruangan kembali diselimuti keheningan yang pekat. Xiong Yan kembali bertopang dagu sambil memegangi keningnya yang berdenyut. Matanya lantas tertuju pada gentong air di depannya, dan sedetik kemudian, seraut wajah Feng Yao kembali menari-nari di pelupuk matanya.
"...Kenapa dia lagi?" Xiong Yan menggeram frustrasi.
Ia meraih gayung, menyendok air, lalu mengguyurkannya langsung ke wajah. "Sudah. Jangan pikirkan lagi."
Namun, baru saja air menetes turun dari dagunya, gumpalan bayangan Feng Yao justru kembali hadir dengan lebih nyata. Xiong Yan membeku di tempatnya.
"..."
Dengan gusar, ia menyendok air untuk kedua kalinya. Byur!
"Kenapa malah semakin jelas?!" umpatnya pada diri sendiri.
Keesokan paginya, Beifeng Yao tampak berjalan santai menyusuri jalan setapak di lereng pegunungan. Udara pagi berembus begitu sejuk, membawa kabut tipis yang masih menggantung manja di antara celah pepohonan purba.
Cahaya keemasan matahari perlahan mulai menembus rimbunnya dedaunan, menyinari langkah Feng Yao yang tengah menikmati kepakan sayap burung dan bunga-bunga spiritual yang tumbuh liar di sepanjang jalan.
Gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa puluh langkah di belakangnya, sesosok bayangan tengah mengintip dan membuntutinya dengan sangat hati-hati.
Xiong Yan melangkah tanpa suara, menyembunyikan hawa keberadaannya. Sejak semalam suntuk, pikirannya sama sekali tidak bisa tenang. Ia merasa harus mencari tahu siapa sebenarnya identitas siluman wanita itu.
Dan jalan satu-satunya untuk menuntaskan rasa penasaran tersebut adalah dengan mengajaknya berkenalan.
"Aku harus bisa berkenalan dengan siluman itu," tekad Xiong Yan dalam hati sambil mengepalkan tinjunya erat-erat. "Bagaimanapun caranya."
Ia merapat di balik batang pohon besar yang rimbun, memicingkan mata mengawasi Feng Yao yang masih asyik berjalan. "Tapi, kalau pakai cara biasa pasti terlalu mencolok dan mencurigakan."
Xiong Yan memutar otak, berpikir keras. Sejurus kemudian, sebuah ide cemerlang terlintas di kepalanya.
Tak lama setelah itu, di balik rimbunnya semak-semak yang tak jauh dari jalur setapak yang akan dilalui Feng Yao, tampak seekor anak beruang kecil sedang meringkuk pasrah. Bulunya hitam legam, tubuhnya mungil, dan tampilannya terlihat sangat menyedihkan.
Salah satu kaki belakangnya tampak terjerat oleh tali tambang pemburu siluman, lengkap dengan guratan luka kemerahan di sekitarnya. Anak beruang itu menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil sesekali meloloskan suara lenguhan lirih.
"Grr..."
Di balik aktingnya yang mengundang iba itu, Xiong Yan sebenarnya tengah mengerahkan seluruh tenaga dalam untuk mempertahankan wujud mini tersebut. Ini harus berhasil, batinnya . Ia melirik waspada melalui celah dedaunan ke arah jalan setapak. Kalau dia lewat dan melihatku, dia pasti tidak akan tega.
Benar saja, suara langkah kaki yang ringan terdengar semakin mendekat. Feng Yao muncul dari balik kelokan pohon. Namun, baru melangkah beberapa tindak, gerakannya mendadak terkunci. Sepasang matanya membelalak bulat.
"Eh?"
Pandangan Feng Yao jatuh pada semak-semak, menangkap sosok beruang kecil yang tengah gemetar. Tanpa pikir panjang, ia segera menghampiri dan berjongkok di hadapan makhluk tersebut. "Kenapa kau bisa ada di sini?"
Beruang kecil itu mendongakkan kepala perlahan, menatap Feng Yao dengan sepasang mata yang dibuat berkaca-kaca.
"Grr..."
Hati Feng Yao seketika melunak didera rasa iba. "Kakimu terluka?"
Anak beruang itu mengangguk kecil dengan gerakan patah-patah. Di dalam benaknya, Xiong Yan sudah bersorak puas. Rencananya sukses besar. Namun, secara nyata ia tetap menjaga ekspresi wajahnya sebal dan semelankolis mungkin.
Feng Yao merangkak mendekat dengan gerakan selembut mungkin agar tidak mengejutkan buruannya. "Jangan takut. Aku akan menolongmu."
Ia mulai memeriksa tali jerat yang melilit ketat kaki beruang kecil itu. "Kejam sekali... Siapa yang tega memasang perangkap sekasar ini di sini?"
Xiong Yan yang mendengarnya hanya bisa membisu dalam hati. ...Aku sendiri yang memasangnya. Tentu saja, pengakuan itu hanya akan tersimpan rapat di dalam dadanya.
Feng Yao kemudian menangkupkan tangan, mengalirkan segumpal energi spiritual murni ke telapak tangannya hingga memancarkan cahaya putih keperakan yang lembut. "Tenang ya. Sebentar lagi tidak akan sakit lagi."
Dengan ketelatenan tinggi, jemarinya mulai mengurai simpul jerat tersebut.
Xiong Yan mati-matian menahan diri agar tubuhnya tidak menegang atau bergerak refleks. Sentuhan hangat dari energi spiritual Feng Yao yang mengalir ke kulitnya ternyata memberikan sensasi nyaman yang luar biasa, membuat aliran darahnya berdesir aneh.
Energi spiritualnya... benar-benar murni dan tidak biasa, batin Xiong Yan yang diam-diam terus mengamati wajah gadis itu dari jarak yang amat dekat.
Jika semalam ia hanya bisa memandangnya dari kejauhan di bawah temaram rembulan, hari ini, ia bisa mengagumi paras elok itu secara langsung tanpa penghalang.
Begitu dekat, hingga Xiong Yan sempat terdistraksi dan melupakan peran sandiwaranya sebagai beruang tak berdaya.
Klik. Tali jerat berhasil dilepaskan sepenuhnya.
"Sudah terlepas," ucap Feng Yao lega. Ia lalu mengusap sisa bekas jeratan di kaki beruang itu dengan ibu jarinya secara lembut. "Lukanya tidak terlalu dalam, tapi kau tetap tidak boleh banyak bergerak dulu."
Beruang kecil itu menatapnya lurus. Feng Yao membalas tatapan itu dengan sebuah senyuman manis yang merekah indah.
"Sekarang sudah mendingan, kan?"
Anak beruang itu mengangguk pelan. "Grr."
Senyum di wajah Feng Yao kian melebar. "Syukurlah kalau begitu."
Tanpa diduga-duga, Feng Yao langsung menyurukkan kedua tangannya ke bawah perut beruang kecil itu dan mengangkat tubuh gempal Xiong Yan ke dalam dekapannya secara tiba-tiba.
Tubuh Xiong Yan seketika menegang kaku bagai batu. "..."
Apa yang sedang dilakukan wanita ini?! teriaknya histeris di dalam hati.
Feng Yao yang sama sekali buta akan kekacauan batin yang sedang melanda beruang di pelukannya, justru semakin mempererat dekapannya karena gemas.
"Kasihan sekali kau ini. Kalau aku meninggalkanmu sendirian di hutan dalam keadaan pincang begini, bagaimana kalau nanti ada siluman jahat lain yang datang mengganggumu?"
Xiong Yan memilih untuk tidak berkutik. Wujud beruangnya tetap dipaksa tenang dan pasrah, namun di balik dada berbulu itu, jantungnya sudah berdentum bertalu-talu layaknya genderang perang. Sial, kenapa jantungku berulah lagi?!
Feng Yao kemudian bangkit berdiri tegak sambil terus menggendong erat beruang hitam itu. "Sudah diputuskan. Aku akan membawamu pulang ke pondokku dulu."
Sepasang mata beruang Xiong Yan sedikit melebar terkejut. Pulang? Ke pondoknya?
Rencana awalnya murni hanya ingin mencari skenario agar bisa saling mengenal secara wajar.
Ia sama sekali tidak memprediksi bahwa ujung-ujungnya ia justru akan diboyong masuk ke dalam teritori pribadi siluman wanita ini dengan cara digendong seperti ini.
Langkah kaki Feng Yao mulai berayun mantap meninggalkan area hutan pelan-pelan, sementara Xiong Yan hanya bisa pasrah bersandar di pundak gadis itu dalam keheningan yang canggung.
Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah hidupnya, sang penguasa tertinggi Klan Beruang Hitam berdoa dengan amat khusyuk dalam hati: Semoga penyamaranku tidak meledak terlalu dini.
Beberapa hari pun berlalu dengan cepat tanpa hambatan berarti. Sepanjang waktu itu, Feng Yao dengan penuh ketelatenan merawat anak beruang yang ditemukannya di hutan.
Ia rajin menyuapinya makanan, membersihkan luka di kakinya setiap pagi dan sore, serta membiarkannya bebas berjemur di pelataran pondok bambunya.
Tanpa pernah disadari oleh Feng Yao, luka rekayasa di kaki beruang peliharaannya itu sebenarnya sudah lama sembuh total berkat kemampuan regenerasi silumannya yang tinggi.