NovelToon NovelToon
THE PRIDE BETWEEN US

THE PRIDE BETWEEN US

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:166
Nilai: 5
Nama Author: Aravienne

Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.

Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.

Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Kertas itu dilipat tiga, diselipkan di celah bawah pintu ruang kerja, dan baru ditemukan Reyhan setelah semua orang pulang dan lampu dapur dipadamkan satu per satu.

Ia hampir menginjaknya. Cahaya dari lorong jatuh tepat di atas lipatan putih itu, seperti sesuatu yang sengaja diletakkan agar tidak terlewat. Reyhan menunduk, memungutnya, dan membacanya berdiri, masih dengan kunci mobil di tangan.

Tulisannya diketik rapi, tidak ada coretan, tidak ada salah ketik.

*Kepada Yth. Bapak Reyhan, Pemilik Waroeng Sederhana.*

*Kami, yang bertanda tangan di bawah ini, memohon keadilan dalam perlakuan di lingkungan kerja. Dalam beberapa minggu terakhir, kami merasa ada perlakuan khusus kepada salah satu karyawan, yang menimbulkan ketidaknyamanan dan menurunkan semangat kerja kami.*

*Kami tidak bermaksud menuduh siapa pun. Kami hanya ingin bekerja dengan tenang dan adil. Apabila situasi ini tidak diperbaiki, dengan berat hati kami akan mempertimbangkan untuk mengundurkan diri.*

*Hormat kami,*

Di bawahnya ada empat tanda tangan.

Reyhan membaca tiga yang pertama tanpa kesulitan. *Dimas. Rafi. Yoga.* Tanda tangan yang pertama ditulis tegas dan agak miring, yang kedua melingkar-lingkar dengan gaya berlebihan, dan yang ketiga kecil dan ragu-ragu, seperti ditulis orang yang tangannya gemetar.

Tanda tangan keempat hanya berupa coretan.

Bukan coretan acak. Itu garis yang disengaja, bergelombang dan cepat, seperti seseorang yang sengaja menulis dengan cara yang tidak bisa dikenali. Tidak ada huruf yang bisa dibaca. Tidak ada inisial. Hanya satu bentuk melengkung di ujungnya, yang bisa jadi huruf apa saja.

Reyhan berdiri diam cukup lama di depan pintu ruang kerjanya.

Ia tidak marah. Itu yang membuatnya heran. Ia sudah menyiapkan dirinya untuk marah, untuk bicara dengan dingin, untuk membela semua keputusannya. Tapi yang muncul justru sesuatu yang lebih sunyi, sebuah rasa sakit yang tidak punya wajah, seperti seseorang yang membuka laci tua dan menemukan sesuatu yang selama ini ia kira sudah ia buang.

*Perlakuan khusus.* Dua kata itu terasa seperti cermin yang ditodongkan ke wajahnya. Ia tahu apa yang mereka maksud. Ia tahu persis. Dan ia tidak bisa menyangkalnya.

Di luar, hujan Bandung yang tipis mulai turun lagi di atap seng. Dari kejauhan terdengar bunyi angkot terakhir melintas di jalan depan, dan lampu jalan yang berkedip di balik tirai tipis. Ia melipat kertas itu kembali pada lipatannya yang semula, dengan hati-hati yang tidak ia sadari, lalu masuk dan menyalakan lampu.

Empat tanda tangan. Tiga bisa ia baca. Satu tidak.

Dan ia tahu, tanpa perlu diberi tahu, bahwa orang yang menulis surat itu bukan salah satu dari tiga yang bertanda tangan jelas.

---

Rapat dadakan diadakan pagi berikutnya, sebelum warung dibuka.

Semua orang berdiri di ruang makan yang kursi-kursinya belum diturunkan, dengan cahaya matahari tipis menembus kaca depan dan jatuh di atas lantai yang masih basah bekas pel. Delapan orang, termasuk Reyhan sendiri, membentuk setengah lingkaran yang canggung. Teh Lilis meremas ujung celemeknya. Yoga menatap lantai seperti sedang berusaha menghafal polanya. Bayu berdiri bersandar di dinding dengan wajah tenang. Jaka melipat tangan di dada, tampak lelah.

Anindya berdiri paling ujung, dengan sarung tangan kuning yang masih tergantung di saku apronnya. Ia tidak menatap siapa pun. Di dadanya, dingin yang sangat ia kenal sudah menetap sejak pagi, dingin yang biasa datang sebelum sebuah pintu ditutup.

"Saya menerima surat tadi malam," kata Reyhan. Suaranya datar. "Ada empat tanda tangan di bawahnya."

Tidak ada yang bergerak.

"Saya tidak akan menyebut nama. Saya hanya ingin tahu, apa ada yang mau menjelaskan."

Hening. Detik-detik jam dinding terdengar terlalu keras.

"Saya."

Dimas melangkah satu langkah ke depan. Wajahnya pucat tapi matanya tegak, dan tangannya terkepal di sisi tubuh. Rafi, di sebelahnya, berusaha menyelinap sedikit ke belakang, dan Yoga menunduk makin dalam.

"Itu tanda tangan saya, Mas," lanjut Dimas. "Saya yang minta Rafi sama Yoga ikut."

"Kenapa?"

"Karena Mas pilih kasih."

Teh Lilis menarik napas tajam. Mbak Sari menutup mata sebentar.

"Saya nggak nuduh siapa-siapa," kata Dimas, suaranya mulai bergetar tapi tidak mundur. "Tapi Mas pasti tahu. Waktu ada yang sakit, Mas kasih libur dua hari gaji tetap. Waktu Rafi sakit, cuma dikasih masker. Waktu saya kasih sarung tangan, Mas bikin peraturan baru. Waktu ada yang lain ngasih, Mas diem."

"Dimas."

"Mas nganter pulang satu orang, searah katanya. Padahal arahnya beda." Dimas menelan ludah. "Aku nggak bilang itu salah, Mas. Aku cuma bilang itu nggak adil."

Hening yang jatuh setelah kalimat itu terasa seperti sesuatu yang berat tergeletak di tengah ruangan. Anindya menatap lantai. Pipinya panas, dan telapak tangannya basah oleh keringat dingin. Ia ingin menghilang, ingin menjelaskan, ingin berteriak bahwa ia tidak pernah meminta apa pun dari siapa pun. Tapi ia tahu persis bagaimana kalimat seperti itu akan terdengar di telinga orang yang sudah memutuskan untuk tidak percaya.

Ia pernah berdiri di tempat ini. Di ruangan lain, di depan orang-orang lain, dengan tuduhan lain. Dan yang ia pelajari adalah ini: yang paling menyakitkan bukan tuduhannya, melainkan diam orang-orang yang sebenarnya tahu kebenarannya.

"Mas."

Suara itu datang dari samping, tenang dan jernih. Bayu melangkah maju, tidak banyak, tapi cukup untuk membuat semua orang menoleh.

"Aku tanda tangan nggak, Mas?"

"Tidak."

"Mbak Sari?"

"Tidak," jawab Reyhan lagi.

"Mas Jaka? Teh Lilis?"

"Tidak."

"Berarti ada yang tanda tangan, tapi nggak mau namanya kebaca," kata Bayu pelan. "Itu yang perlu dicari, Mas. Bukan siapa yang kena omongan."

Dimas menatap Bayu dengan campuran marah dan bingung. "Maksud kamu apa?"

"Maksudku, kalau bener mau adil, jangan cuma nyalahin satu orang."

"Aku nggak nyalahin Anin!"

"Terus nyalahin siapa?"

"Mas Reyhan!"

"Terus kenapa yang kena Anin?"

Dimas membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.

Hening. Di sisi ruangan, Anindya akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya merah tapi tegak.

"Mas Reyhan."

Semua kepala menoleh. Reyhan menatapnya.

"Kalau saya yang jadi masalah, saya siap pergi."

"Nin!" seru Teh Lilis.

"Nggak apa-apa, Teh." Anindya tersenyum kecil, dengan senyum yang terlalu dewasa untuk wajahnya. "Saya cuma mau kerja. Saya nggak pernah minta diperlakukan khusus. Kalau keberadaan saya bikin orang nggak nyaman, saya ngerti."

Kata-kata itu keluar dengan tenang, tapi tangannya, yang tersembunyi di balik apron, gemetar tak terkendali. Ia sedang melakukan hal tersulit yang pernah ia lakukan: menawarkan kepergiannya sendiri sebelum seseorang mengusirnya. Itu satu-satunya cara ia tahu untuk menjaga harga diri.

"Anin." Suara Reyhan lebih rendah dari yang pernah ia dengar. "Tidak."

"Mas..."

"Tidak. Saya bilang tidak."

Hening kali ini bukan hening canggung. Itu hening orang-orang yang baru saja melihat sesuatu terbuka sedikit, sebuah celah di dinding yang selama ini mereka kira utuh. Di sudut ruangan, Mbak Sari menatap Reyhan dengan mata yang tidak bisa dibaca, dan sesuatu di wajahnya bergerak, pelan sekali, seperti permukaan air yang diganggu sesuatu dari bawah.

Reyhan menarik napas panjang. Ia menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Dimas yang marah dan malu. Rafi yang ketakutan. Yoga yang hampir menangis. Teh Lilis yang gelisah. Jaka yang tenang tapi lelah. Mbak Sari yang tidak menatap siapa pun. Bayu yang tidak berkedip. Dan Anindya, yang berdiri paling ujung dengan tangan terkepal di balik apronnya.

"Beri saya waktu," katanya akhirnya. "Sampai akhir minggu depan."

"Untuk apa, Mas?" tanya Dimas.

"Untuk memutuskan."

Tidak ada yang bertanya memutuskan apa. Semua orang di ruangan itu sudah tahu.

---

Setelah semua orang kembali ke dapur, Reyhan berdiri sendirian di ruang makan yang kosong.

Surat itu ada di sakunya. Ia mengeluarkannya, membukanya, dan menatap coretan keempat yang melengkung itu cukup lama. Ia mencoba membayangkan tulisan tangan siapa yang cukup mirip, kebiasaan siapa yang suka menyembunyikan identitas, siapa yang punya alasan untuk menulis kalimat seperti itu, dan siapa yang cukup tenang untuk mengetiknya tanpa satu pun salah ketik.

Tidak ada jawaban.

Yang ada hanya satu perhitungan yang mulai terbentuk di kepalanya, dingin dan tak bisa dihindari, seperti timbangan tua yang bergoyang sebelum akhirnya miring ke satu sisi.

Waroeng Sederhana. Delapan pegawai. Enam tahun kerja keras. Pinjaman yang baru saja lunas. Nama baik yang dijaga mati-matian. Warisan satu-satunya dari seorang ayah yang pernah hampir kehilangan segalanya karena sebuah kata yang tidak pernah bisa ditarik kembali.

Di seberang timbangan itu, hanya ada satu orang.

Dan pertanyaan yang paling tidak ingin ia jawab: apakah gengsinya cukup kuat untuk memilih warung ini, dan apakah ia cukup kuat untuk hidup dengan pilihan itu?

Di balik pintu dapur, Anindya berdiri diam dengan telapak tangan menempel ke dinding, mendengar langkah kaki Reyhan yang pelan-pelan menjauh. Ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama, jauh di dalam kepalanya, laki-laki itu sedang melakukan perhitungan yang akan mengubah segalanya.

Ia hanya tahu satu hal: ia sudah mulai bersiap untuk kehilangan.

Bukan karena ia pasrah. Tapi karena ia sudah terlalu sering kehilangan untuk tahu bahwa mempersiapkan diri sebelum jatuh adalah satu-satunya cara agar tidak hancur saat menyentuh tanah.

Bersambung ke Bab 14...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!