Felicya adalah perempuan yang mempunya jiwa yang tenang. Ia memegang prinsip stoik; tidak semua hal harus dilawan, dan tidak semua luka harus dibalas.
Namun prinsip itu diuji ketika ia bertemu seorang laki-laki Machiavellian-cerdas, manipulatif, dan terbiasa memainkan manusia seperti bidak dalam permainan.
Di saat yang sama, Felicya harus berhadapan dengan perselingkuhan suaminya bersama seorang perempuan NPD.
Di antara kebohongan, manipulasi, dan permainan ego, Felicya perlahan menyadari bahwa membalas dengan elegan, bukan berarti jahat. karena mempertahankan boundariesnya dan tidak kehilangan jati dirinya, hanya perbuatan 2 orang yang mempunyai 2 sifat Dark Psichology.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Ayu Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Mimpi Seorang Anak Kecil
Pada pukul 04.05 pagi.
Udara dingin masuk ke dalam ruangan, dengan AC yang masih menyala, semakin terasa dingin di dalam ruangan. udara yang begitu dingin telah menusuk dikulit Felicya.
Perlahan-lahan Felicya terbangun dari tidurnya dan membuka matanya. lalu melirik ke arah ponselnya, melihat jam sudah waktu subuh.
"Sudah jam 4.05 alhamdulillah aku sudah bangun," gumanya. Felicya pun memakai kerudung panjangnya dan bergegas untuk pergi ke masjid.
Sebelum Felicya meninggalkan kamar, ia sempat menatap ibunya beberapa detik.
"Ibun, eneng ke masjid dulu, ya sebentar. Semoga bunda bisa istirahat dengan nyaman," gumamnya sambil tersenyum tipis dan mengecup kening ibunya pelan.
Sesampai di masjid Felicya menunggu waktu adzan subuh. Felicya menyendarkan punggung di tembok dengan meluruskan kakinya. Felicya merasa dirinya sedikit pusing. "Ini kepalaku kenapa pusing yah? apa karena aku gak makan yah kemarin?" gumamnya. lalu ia memijat pelipisnya pelan-pelan. Ia masih duduk sendiri di masjid mencoba membaringkan diri sambil menunggu orang-orang datang ke masjid. "Lebih baik aku tidur saja dulu sebentar adzan juga masih 6 menit lagi," gumamnya. Felicya yang matanya sudah terpejam lagi. Lalu Felicya memimpikan seorang anak kecil memanggilnya ibu.
"Ibu... ibu...," suara anak kecil memanggil dirinya.
"Kamu siapa? kenapa kamu panggil aku ibu?"
"Aku anak ibu, aku akan memeluk ibu di sana. Ibu sabar yah, jangan merasa sendiri, ada aku yang menjaga ibu," Suara anak kecil cowok itupun pergi meninggalkan Felicya yang berdiri di bawah pohon rindang.
"Jangan tinggalin aku nak," Racauan suara Felicya kencang. Akhirnya ia terbangun dari mimpinya.
"Astagfirullahaladzim. Kenapa aku memimpikan anak kecil, apakah nanti aku akan segera punya anak," gumamnya pelan.
Felicya mengatakannya. "Mungkin ini hanya sebuah mimpi untukku, kalaupun aku hamil. Bagaimana dengan diriku setelah tau suamiku kayak gitu sama wanita lain," gumamnya.
Felicya belum siap punya anak dengan ke adaan keluarganya yang mulai kacau, walau terlihat indah dimata lain. Namun, mereka merahasiakan apa saja yang sudah terjadi di rumah tangganya.
...----------------...
Kembali pada Galang yang sedang tidur. Ia bermimpi sedang di sebuah taman. Galang sedang duduk di taman sendiri. Datang seorang anak laki-laki menghampiri dirinya.
"Ayah..." panggil anak kecil itu.
"Iya nak, ini ayah." Galang memeluk anak kecil itu di dalam mimpinya.
"Ayah, aku sangat sayang sama ayah, aku juga sayang sama ibu. Ayah jangan sakiti ibu yah."
Galang di dalam mimpinya merasa sesak mendengar omongan dari anak kecil tersebut.
"Ayah gak akan ninggalin kalian. Ayah sayang sama kamu dan ibumu. Nak," ucap Galang dengan suara yang sedih di mimpinya.
"Ayah, aku ingin ajak ibu pergi sebentar. Kalau hanya ibu yang datang, jangan cari aku yah ayah," Anak kecil itu tersenyum manis dan menyentuh wajah Galang.
"Nak, jangan tinggalin ayah. Kamu tetap sama ayah dan ibu. Kamu harus tetap di sini yah.. Nak," ucap Galang dalam mimpinya.
Dan anak kecil itu meninggalkan Galang dengan menggenggam tangan Felicya. Mereka berdua menengok ke arah Galang dengan senyuman perpisahan. Galang memanggil mereka lagi.
Nak, kamu jangan tinggalin ayah jangan bawa ibumu, Nak. Tunggu ayah Nak," suara galang serak dan sedih. ia mengigau tidak karuan bahkan Galang menangis.
Galang menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri dengan air matanya yang berlinang. Galang merasa sesak, Galang masih mengigau.
"Jangan pergi, sakit sekali dadaku, jangan pergi," Suara Galang berteriak memanggil mereka
Akhirnya galang terbangun dari mimpinya
"Hah..." suara Galang terdengar engos-engosan seperti habis balap lari.
"Tadi aku mimpi anak kecil, aku mimpi Felicya di bawa pergi anak kecil itu. Semoga itu hanya sebuah mimpi saja," gumam Galang pelan.
Mereka berdua Felicya dan Galang bermimpi mempunyai anak. Pertanda apa untuk mereka sehingga mereka berdua memiliki mimpi yang sama.