Jessica yang masih umurnya 21 tahun terpaksa menikah karena sebuah perjodohan dengan seorang CEO tampan kaya raya, laki-laki itu bernama Reyhan Dhalvin Wijaya.
Bagaimana jadinya jika di umur 21 tahun Jessica sudah menjadi seorang istri. mampukah ia melewati semua hal yang terjadi dalam hidupnya? Dan rahasia apakah yang Jessica sembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fuji Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya
Jessica menggelengkan kepalanya, ia mencoba menghindari Reyhan. Tak hanya itu, Jessica juga memukul-mukul dada Reyhan agar menjauh darinya. Namun itu tak berdampak apapun, dengan sigap Reyhan menghentikan puk4lan Jessica dan mencengkram kedua tangan Jessica dan melanjutkan aksinya. Dan kini cium4n Reyhan susah turun lagi ke leher Jessica, ia membuat tanda lagi disana.
"Aku belum siap Mas. Tolong lepasin aku. Mas nggak ingat dengan perjanjian kita, Mas bakal nungguin sampai aku siap. Dan aku siapnya saat tadi aku lulus sekolah," ucap Jessica dengan sudah bercucuran air mata.
"Persentan dengan perjanjian itu, Mas gak peduli sayang." Setelah itu Reyhan membukam bibir Jessica agar berhenti berbicara. Saat ini tangannya sudah tidak bisa dikondisikan lagi, tangan yang tadi memegangi Jessica agar tidak berontak kini sudah mencoba melepaskan kancing piyama yang Jessica kenakan.
Reyhan terus mencium Jessica seraya mencoba melepaskan baju Jessica dan mengabaikan Jessica yang terus memberontak."Boleh ya sayang, aku udah gak tahan. Lagi kita juga sudah menikah, sudah halal melakukannya." Reyhan membujuk Jessica yang menangis. Okeh! Kali ini kesabarannya masih tersisa, jadi ia gunakan itu untuk membujuk Jessica agar dengan suka rela mau melakukan hubungan suami istri dengannya. Bagaimana pun sudah bukan dibawah umur, ia harus banyak-banyak bersabar meskipun bisa saja ia langsung menerobos, tapi itu tak Reyhan lakukan karena ia mencintai gadis yang berada di hadapannya itu. Tapi mungkin beberapa menit lagi sudah tidak bisa di panggil gadis.
"Tapi Mas udah janji bakal nunggu aku siap, dan nunggu aku lulus sekolah. Hiks..." Jessica semakin menangis.
"Mas gak bakal melakukan ini kalau kamu gak mau sayang, Mas juga pengen nempatin janji Mas. Tapi keadaan nya disini lain, Aku lagi dijebak. Tadi aku dipaksa diajak ke club sama sahabat-sahabat aku, walaupun aku terus menolak tapi mereka memaksa aku sayang. Akhirnya mau gak mau Mas pun ikut sama mereka, sampai disana Shalma dari teman sahabat aku memasukkan obat perangsang pada minuman aku. Setidaknya tolong jangan tolak aku kali ini. Mas bisa mati jika terus menahan ini sayang," ucap Reyhan yang sudah mulai frustasi. Matanya memerah, keringatnya bercucuran karena menahan gejolak besar dalam dirinya.
"Please...." Kali ini Reyhan mengatakannya tepat di telinga Jessica.
Jessica masih terus menangis didalam kungkungan Reyhan bahkan kini ia sesegukan. Melihat Jessica yang malah tambah semakin menangis, Reyhan menggeram frustasi dan menjambak rambutnya sendiri dengan kasar lalu meninggalkan Jessica sendiri yang masih menangis di ranjang.
Reyhan menutup kasar pintu kamar mandi. Ia menyalakan shower dan berdiri dibawahnya, ia memaklumi jika Jessica mungkin belum sepenuhnya mencintai dirinya pikir Reyhan. Tapi setidaknya Jessica tidak menolaknya karena Reyhan memiliki hak penuh atas dirinya. Kalau saja Reyhan tak memiliki rasa apapun dengan Jessica pasti sedari tadi Reyhan sudah mengabaikan segala penolakan Jessica dan melakukan apa yang sangat ingin ia lakukan.
Reyhan mengguyur tubuhnya dengan air dingin, ia mencoba meredam efek obat itu agar cepat hilang.
Sedangkan diluar sana Jessica khawatir dengan keadaan suaminya. Sebenarnya Jessica juga gak tega melihat Reyhan meminta dan memohon padanya. Apalagi dengan wajahnya yang sudah memerah dan berkeringat menahan gejolak pada dirinya. Jessica bimbang, antara hati dan pikirannya tidak sejalan. Hatinya pengen menuruti Reyhan dengan menjalankan tugasnya sebagai istri, tapi otaknya berpikir sebaliknya. Tapi ia juga teringat sebuah nasehat dari Bunda yang gak boleh nolak permintaan suami saat melakukan itu dan kalau menolak ia bakal dapat dosa.
Kata-kata Bunda Sarah berputar dikepala Jessica membuatnya semakin dilanda kegundahan. Ia sangat ingat dengan perjanjian mereka, tapi ini dalam keadaan genting. Bagaimana kalau Reyhan sampai kenapa-napa Karena terlalu lama menahannya.
Jessica menghapus air matanya kasar, dan merapikan pakaiannya yang hampir terbuka lalu bangkit dan berjalan menuju pintu kamar mandi. Sekian lama ia berdiri di depan pintu kamar mandi, ia tak berani mengetuk pintu itu. Namun rasa khawatirnya menguasai dirinya dan mengabaikan semua kemungkinan yang akan ia hadapi setelah ini.
Jessica perlahan mulai mengetuk pintu kamar mandi itu dengan pelan.
"Mas." Jessica bersuara.
"Mas Rey gak papa kan?" Tanya Jessica dengan menempelkan telinganya di pintu mencoba mendengar apa yang terjadi di dalam sana.
"Pergi sayang, Mas takut khilaf. Mas gak bakal maksa kamu!" Teriak Reyhan dari dalam sana. Keberadaan Jessica hanya akan menyakiti dirinya saja, dengan penolakan yang Jessica berikan.
Jessica kembali menangis lagi, meskipun ia sudah tegas menolaknya tetapi Reyhan masih ngomong dengan nada lembut dan masih memanggil dirinya 'sayang' Jessica semakin bersalah pada Reyhan, seharusnya dia tidak egois mementingkan dirinya sendiri dan mengabaikan Reyhan yang tersiksa karena menahan hasratnya.
"Mas keluar. Jangan buat aku khawatir, aku nggak mau Mas Rey kenapa-napa didalam sana."
"Kalau kamu khawatir dan peduli dengan Mas. Kamu gak mungkin membiarkan aku kesakitan menahan semua ini, pergi ya sayang mas mohon. Saat ini Mas lagi emosi, Mas gak mau bikin kamu sakit hati." Reyhan berkata dengan frustasi dari dalam sana tetapi masih dengan nada sangat lembut.
Jleb
Perkataan Reyhan barusan begitu menusuk hati Jessica. Semua yang dikatakan Reyhan benar adanya. Jika Jessica memang peduli dengan Reyhan pasti Jessica gak bakal menolaknya walaupun ia belum sepenuhnya mencintai Reyhan. Setidaknya Jessica kebaikan yang dilakukan Reyhan belakangan ini padanya dan perubahan Reyhan.
Jessica menelan ludahnya. Ia sudah memutuskan apa yang akan ia lakukan sekali lagi ia mengetuk pintu kamar mandi itu.
"Keluar Mas. A-aku udah siap kok, aku bakal melakukan apa yang Mas pengen." Akhirnya perkataan itu lolos dari mulut Jessica.
"Jangan bercanda sayang. Kamu mending pergi dulu sementara ini! Kalau Mas keluar nanti kamu gak bakal selamat."
"Gak Mas, aku nggak bercanda. Ayo Mas keluar, jangan sakiti diri Mas Rey sendiri."
Keputusan yang Jessica ambil ini cukup besar. Ia akan menyerahkan apa yang ia jaga selama ini untuk seseorang yang sudah menjadi suaminya, walaupun ia masih sekolah.
"Ayo Mas keluar." Bujuk Jessica sekali lagi.
Tak berselang lama pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Reyhan dengan pakaian basah kuyupnya yang membuat terlihat jelas badan kekar dan roti sobek milik suaminya itu.
"Kamu serius sayang?" Tanya Reyhan seraya menatap Jessica memastikan apa yang Jessica katakan itu tidak berbohong.
"Aku serius Mas," ucap Jessica dengan menundukkan kepalanya.
Reyhan menarik dagu Jessica agar Jessica menatap matanya. Ia ingin mencari kesungguhan dari dalam sana.
Setelah menatap mata Jessica cukup lama. Reyhan mengecup bibir Jessica sekilas lalu berpindah ke pipi, kening, dagu, kelopak mata, hidung. Semua bagian wajahnya tak luput dari sentuhan benda kenyal itu.
Setelah itu Reyhan kembali mencium bibir Jessica dengan penuh perasaan. Ia mencurahkan seluruh perasaannya yang ia rasakan selama ini dari cinta hingga nafsu yang membara.
Cukup lama Reyhan menciumnya, sekarang sedikit demi sedikit Jessica membalas apa yang Reyhan lakukan padanya. Seketika kamar itu dipenuhi decapan yang memabukkan.
Dengan pelan namun pasti, Reyhan menggiring tubuh Jessica agar mendekati ranjang. Saat sudah berada di dekat ranjang, Reyhan mendorong pelan tubuh Jessica hingga terbaring dikasur. Lalu dengan kasar ia melepaskan baju basah yang melekat pada dirinya. Setelah baju itu terlepas dan hanya menyisakan bawahan basah yang masih Reyhan kenakan. Pipi Jessica memerah merona saat ia melihat perut kotak-kotak Reyhan yang tak tertutupi apapun.
Malam itu adalah puncak dari segalanya, keduanya melalui malam yang panjang dengan lenguhan dan sedikit kesakitan yang memabukkan.