NovelToon NovelToon
Babu Yang Dicintai

Babu Yang Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara

Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.

“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”

Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.

Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Celin tetap berdiri di tempatnya, menatap Reja dengan wajah datar, meski tangannya tersembunyi di balik baju untuk menyembunyikan getarannya. "Gue cuma nggak mau lo jatuh sakit dan Papa curiga."

"BOHONG!" Reja melangkah maju, menerjang jarak di antara mereka hingga wajahnya hanya beberapa senti dari Celin.

Bau alkohol yang menyengat langsung menusuk indra penciuman Celin. "Lo lagi nyoba narik simpati gue, kan? Lo lagi nyoba ngerubah gue pelan-pelan biar lo dapet poin plus dari Papa?!"

Reja meremas kertas catatan yang ditulis Celin tadi, lalu melemparkannya tepat ke wajah gadis itu.

"Jangan pernah berlagak peduli sama gue, Celin! Gue nggak butuh sup sampah ini, gue nggak butuh obat dari lo! Yang gue butuh cuma lo diem dan jangan muncul di depan mata gue!"

Reja menendang salah satu serpihan gelas hingga terpental ke arah kaki Celin. Celin melihat serpihan itu, lalu kembali menatap mata Reja yang gelap.

"Lo boleh buang semuanya, Reja. Lo boleh pecahin semua gelas di rumah ini kalau itu bikin lo ngerasa lebih kuat. Tapi satu hal yang perlu lo tau... lo nggak bisa pecahin kenyataan kalau lo sebenarnya cuma cowok penakut yang lari ke botol tiap kali ngerasa tertekan sama ekspektasi Papa."

Mata Reja membelalak. Cengkeramannya di udara seolah ingin mencekik Celin lagi, namun kali ini Celin tidak mundur. Ia justru maju satu langkah, menantang maut.

"Lo mau tampar gue lagi? Silakan," tantang Celin lirih namun tajam. "Tapi setelah itu, bersihin lantai itu sendiri. Bi Ratna nggak masuk besok pagi, dan gue nggak akan bersihin sampah yang sengaja lo buat cuma buat nunjukin ego lo."

Reja tertegun. Ia tidak menyangka Celin yang tadi sore terlihat pasrah, kini kembali menunjukkan taringnya. Amarahnya memuncak hingga ia hampir saja melayangkan tangan, namun tiba-tiba kepalanya berdenyut hebat—efek alkohol yang mulai bereaksi dengan emosi yang meledak.

Reja mengerang, memegangi kepalanya, lalu memalingkan wajah. "Pergi lo dari sini sebelum gue bener-bener hancurin muka lo."

Celin berbalik tanpa kata, masuk ke kamarnya, dan mengunci pintu. Di luar, ia mendengar suara Reja yang mengumpat kasar dan suara botol yang kembali dibuka.

Usahanya malam ini memang gagal total secara fisik—tapi ia melihat sesuatu, Reja terganggu. Dan selama Reja merasa terganggu oleh kehadirannya, Celin tahu ia masih punya peluang untuk melakukan apa yang diminta Adrian, meskipun taruhannya adalah nyawanya sendiri.

Celin berbaring miring di atas kasur tipisnya, menatap dinding kamar bawah yang remang-remang. Suara teriakan Reja di luar perlahan meredup, berganti dengan keheningan pagi yang mencekam.

Di tengah denyut nyeri di lehernya, ingatan Celin terseret kembali ke beberapa bulan lalu—hari di mana dunianya runtuh sekaligus berubah selamanya.

Flashback on

Siang itu, di rumahnya yang pengap, Celin berdiri dengan napas memburu. Ia baru saja mendengar tawaran gila dari Adrian.

"Nggak, Yah! Celin nggak mau! Celin punya masa depan, Celin mau kuliah!" teriak Celin tegas.

Ia tidak peduli siapa pria kaya yang duduk di sofa ruang tamunya itu. Baginya, pernikahan ini adalah bentuk perbudakan.

Namun, reaksi ayahnya di luar dugaan. Pria yang sudah hancur karena hutang itu berdiri dengan mata gelap.

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Celin, lebih keras dari tamparan Reja tempo hari. Tubuh mungil Celin tersungkur hingga sudut bibirnya pecah.

"Jangan jadi anak durhaka Celin! Kamu mau lihat Ayah mati di tangan rentenir?!" bentak ayahnya tanpa belas kasihan. "Terima tawaran ini atau kamu bukan anak Ayah lagi!"

Di sudut ruangan, Adrian menyaksikan kejadian itu. Bukannya merasa ngeri, ia justru melihat sesuatu yang langka. Di tengah rasa sakit dan penghinaan dari ayahnya sendiri, Celin tidak menangis meraung.

Ia hanya mengusap darah di bibirnya, bangkit berdiri, dan menatap ayahnya dengan sorot mata yang sudah mati. Saat itulah Celin berkata pelan, "Oke. Celin setuju. Tapi anggap hutang Ayah lunas dan jangan pernah cari Celin lagi."

Adrian kemudian meminta waktu bicara berdua dengan Celin. Ia menjelaskan bagaimana ia bisa sampai ke rumah kumuh itu.

"Kamu mungkin bingung kenapa saya memilihmu, Celin," buka Adrian dengan nada menyesal setelah melihat kekerasan tadi.

"Nama kamu sudah lama ada di meja kerja saya. Saya adalah donatur utama di yayasan sekolahmu."

Adrian menceritakan bahwa ia sering memantau laporan siswa-siswi berprestasi. Ia tahu Celin adalah peraih nilai tertinggi, gadis pintar yang memenangkan banyak olimpiade, dan pemegang beasiswa penuh yang selalu bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah.

"Saya butuh genetik yang kuat untuk keluarga saya. Saya butuh kecerdasanmu, tapi lebih dari itu, saya butuh mentalmu," lanjut Adrian.

"Saya tahu ayahmu terlilit hutang karena salah satu anak buah saya melapor. Saya sengaja datang karena saya tidak mau permata seperti kamu hancur di tangan rentenir. Tapi saya juga egois... saya ingin kamu membawa kecerdasan dan ketangguhan itu ke dalam rumah saya, untuk mendampingi Reja yang hampir kehilangan masa depannya."

Adrian mengagumi bagaimana Celin tetap bisa meraih prestasi di tengah kekacauan hidup yang diciptakan ayahnya. Baginya, Celin adalah satu-satunya obat yang bisa menandingi racun di dalam diri Reja.

Flashback off

Celin menyentuh pipinya yang kini dingin di atas bantal. Rasa perih dari tamparan ayahnya dulu seolah masih membekas, sama perihnya dengan tamparan Reja tadi pagi.

Ia menyadari satu hal pahit. Sejak dulu, hidupnya hanyalah tentang dijual dari satu tangan ke tangan yang lain. Dulu ia dijual oleh ayahnya demi nyawa, kini ia di serahkan pada Reja demi sebuah harapan perubahan.

"Pintar dan berprestasi..." gumam Celin getir. "Apa gunanya semua itu kalau akhirnya gue cuma berakhir di kamar bawah ini, jadi pelampiasan marah orang lain?"

Namun, di tengah keputusasaannya, ia teringat kata-kata Adrian, Kamu adalah permata. Celin mengepalkan tangannya. Jika ia benar-benar sebuah permata yang ditemukan di tengah lumpur, maka ia tidak akan membiarkan Reja menghancurkannya.

Ia akan menggunakan kecerdasannya untuk bertahan, dan ketangguhannya untuk membuktikan bahwa meskipun ia dibeli, harga dirinya tidak pernah bisa dimiliki oleh siapa pun—bahkan oleh seorang Reja Bagaskara sekalipun.

Bersambung

1
Nelson Sihombing
semangat celin
araaself
lanjutttt
Alia Chans: siap kak🔥🔥
total 1 replies
Nelson Sihombing
cerita yang seru lagi nih....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!