Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.
Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.
akankah Bella menemukan sang Ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Ujang bergegas menemui Tuan Wang untuk mengambil pesanan kembang api dan petasan yang telah disiapkan. Bahan-bahan peledak ringan itu akan menjadi kunci utama untuk menciptakan distraksi dan kegemparan di luar rumah sakit
Sementara itu, di dalam kegelapan lorong saluran udara Rumah Sakit Jayakarta, Bella terus merayap maju. Ia membentangkan lembaran denah yang dibawanya, memusatkan pandangannya pada tulisan bertinta tebal: Laboratorium. Setelah memastikan jalur dan posisinya tepat, Bella menatap lurus ke depan lalu melanjutkan langkah merayapnya menyusuri lorong besi yang dingin.
Tepat di depan Bella, sebuah kisi-kisi ventilasi membentang. Jemari Bella bergerak tenang mencengkeram lubang ventilasi tersebut. Secara perlahan dan penuh presisi, ia membongkar serta melepas pintu ventilasi, lalu membawanya masuk ke dalam saluran udara dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara mendenting sedikit pun.
Bella mengintip keluar, mengedarkan pandangannya untuk memastikan situasi di bawah aman. Ia kemudian mengeluarkan kepalanya lebih dahulu melalui lubang ventilasi dengan posisi terbalik. Dengan gerakan tubuh yang fleksibel dan terukur, Bella menjulurkan kedua kakinya keluar, berputar di udara sambil menggantung sejenak, lalu mendarat tanpa suara di lantai.
Bella mendarat sempurna di ruangan yang gelap gulita. Ia merogoh saku pakaiannya, mengeluarkan kotak korek dan menyalakan sebatang korek api. Cahaya remang kemerahan menyeruak, menerangi wajahnya yang mengernyit kusut. Bella menoleh ke arah kanan.
Di sinilah Shiro melakukan eksperimen kejamnya. Di dalam sebuah tabung kaca tebal, tampak seekor kepala manusia dengan kondisi setengah otak terbuka yang terendam diawetkan dalam cairan kimia. Pemandangan mengerikan itu membuat Bella tersentak hebat. Refleks, jemarinya melepaskan batang korek api hingga jatuh dan padam, sementara tubuhnya mundur beberapa langkah dengan napas tertahan.
Dengan tangan gemetar, Bella kembali menyalakan sebatang korek api baru. Ia berjalan melangkah perlahan, menyusuri dan memperhatikan rak-rak tinggi yang berjejer di dalam laboratorium tersembunyi itu. Di sepanjang rak, berderet puluhan toples kaca berisi kepala-kepala manusia dengan tempurung kepala terbuka yang diawetkan. Toples-toples lainnya menampung beragam organ tubuh manusia yang mengerikan.
Mata Bella membelalak lebar, mulutnya menganga tak percaya menyaksikan kebiadaban di depannya. Ia membalikkan badan, lalu pandangannya tertuju pada rak bagian bawah. Di sana terpajang toples-toples berisi kepala laki-laki yang utuh, dua toples kaca berisi potongan otak manusia serta jasad bayi dalam cairan pengawet. Sementara di rak paling atas, bertengger toples berisi janin manusia berwujud sempurna yang masih terhubung dengan plasentanya.
Mata Bella seketika berkaca-kaca, tak sanggup membendung rasa mual yang membuncah.
Kepala Bella terangguk-angguk kecil dalam keputusasaan saat langkah kakinya bergeser mundur perlahan. Batang korek api di jemarinya terlepas, jatuh ke lantai, dan padam menenggelamkan kembali ruangan terkutuk itu dalam kegelapan pekat.
Bella terus berjalan mundur dalam gelap tanpa menyadari ada jeruji besi dingin di belakangnya.
Sreet!!
Sebuah tangan kurus dan gemetar tiba-tiba menyambar serta menggenggam pergelangan tangan Bella. Sontak Bella menoleh dan membalikkan badannya cepat, jantungnya seakan melompat keluar karena terkejut bukan main.
Dengan napas memburu, Bella memantik kembali sebatang korek api.
Begitu lidah api menyala, mata Bella kembali berkaca-kaca dengan mulut menganga tak percaya. Di balik jeruji besi itu, ternyata terdapat sebuah sel penjara sempit. Di dalamnya, terkurung beberapa remaja dan anak-anak yang mengenakan pakaian lusuh penuh noda kotoran serta debu.
Salah satu remaja putri di dalam sel mencengkeram jeruji besi. Matanya yang sembap berkaca-kaca, menyiratkan penderitaan bertahun-tahun di dalam kegelapan. “Kau… kau kemari untuk menolong kami?” tanyanya dengan suara serak parau, seolah sudah kehabisan energi bahkan hanya untuk bersuara.
“Apa?” bisik Bella tercekat, dadanya sesak.
“Tadi aku melihatmu turun dari lubang angin…” permohonan remaja putri itu memelas memecah kesunyian, “tolong selamatkan kami. Bantu kami keluar dari sini, ya?”
Bella merogoh sakunya dan mengeluarkan arloji yang kini sudah menunjukkan tepat pukul sepuluh malam. Rasa iba dan kemanusiaannya membuncah ia tidak tega meninggalkan mereka begitu saja di neraka ini. Bella bertekad bulat untuk menyelamatkan para tahanan anak-anak itu sekarang juga.
Bella bergerak cepat membendung kunci sel, lalu bahu-membahu membantu menaikkan mereka satu per satu melewati lubang ventilasi di langit-langit.
Namun di tengah proses evakuasi yang menegangkan itu, salah seorang tahanan tak sengaja menoleh ke arah kaca pintu dan melihat bayangan seorang dokter tengah berjalan melintas di koridor luar.
“Cepat naik!” bisik Bella panik sambil menoleh cemas ke arah pintu.
Dokter itu menghentikan langkahnya tepat di depan pintu laboratorium, merogoh saku mantelnya, lalu memasukkan anak kunci ke dalam lubang selot.
Ceklek!!
Gagang pintu terputar. Dokter itu melangkah masuk dan segera menutup kembali pintunya, melangkah menembus ruangan yang gelap gulita. Ia menyalakan sakelar lampu. Seketika cahaya terang membedah sudut-sudut laboratorium.
Dokter itu melangkah mendekati deretan botol kaca di rak seraya mengusap-usap kedua telapak tangannya. Ia meraih sebuah tabung kaca kecil lalu membukanya perlahan.
Sementara itu, dari balik celah kisi-kisi ventilasi di atas sana, para tahanan yang berhasil bersembunyi tampak memperhatikan punggung dokter tersebut dengan napas tertahan. Tahanan anak-anak saling menggenggam jemari satu sama lain dengan erat, gemetar ketakutan menahan jeritan di dalam kegelapan lorong saluran udara.
Dokter itu selesai memasukkan cairan kimia ke dalam tabung suntikan, lalu mengangkat nampan besi berisi peralatan medis dan jarum suntik tersebut dengan ketenangan yang dingin.
Namun, langkahnya terhenti mendadak saat matanya menatap ke arah jeruji besi. Alisnya berkerut dalam. Ia keheranan,sel penjara yang seharusnya berisi anak-anak dan remaja tahanan itu kini kosong melompong. Dokter itu melangkah perlahan mendekati jeruji besi dengan raut penuh curiga.
Sementara itu, Bella bersembunyi rapat-rapat di balik tiang tembok yang tebal. Dokter tersebut terus berjalan melintas, melewati posisi Bella tanpa menyadari keberadaannya.
Bella bergerak cepat namun tanpa suara, bergeser mengitari sisi lain tiang untuk menjaga posisinya tetap tak terlihat.
Dokter itu mendadak berhenti melangkah tepat di depan sel.
Dari balik pinggangnya, Bella perlahan-lahan mencabut sebilah pisau tajam. Ia mengalihkan pandangannya sebentar ke arah kisi-kisi ventilasi di atas.
Dari balik kegelapan ventilasi udara, tahanan putri tampak mengintip dengan mata membelalak cemas. Bella memberi isyarat gerakan kepala yang tegas, memerintahkan para tahanan untuk segera mundur dan kembali bersembunyi.
Bella kembali memusatkan perhatiannya pada sang dokter yang kini sedang memeriksa jeruji besi.
Dokter itu mendongak ke atas. Pandangannya membentur lubang ventilasi udara yang sudah terbuka lebar tanpa penutup. Wajahnya seketika memerah, tersulut amarah dan kepanikan.
“Brengsek!!” maki dokter itu geram.
Ia berbalik hendak bergeser pergi dengan panik untuk membunyikan alarm. Namun, baru satu langkah berputar, gerakannya terhenti. Nalurinya menyadari ada pergerakan mencurigakan dari balik tiang tembok tepat di sampingnya.
Sebelum sang dokter sempat berteriak atau menarik senjatanya, Bella bergerak secepat kilat. Tanpa ragu dan tanpa rasa berdosa, ia menghujamkan pisaunya tepat ke dada dokter itu!
Bella segera menahan tubuh pria itu, menurunkannya ke lantai secara perlahan agar tak menimbulkan suara dentuman yang mencurigakan. Dengan satu tarikan mantap, ia mencabut pisaunya kembali.
Darah segar menyembur deras seperti air terjun dari luka tusukan, membasahi lantai semen yang dingin. Dokter itu tergeletak tak bernyawa, matanya mendelik kosong menatap langit-langit.
Bella berdiri mematung sejenak, memandangi jasad dokter itu dingin dengan napas memburu dan pisau bersimbah darah di genggamannya.