Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).
Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).
Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.
Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.
Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulfa Terpaksa Setuju 05.
Langkah kaki Ulfa terasa seberat timbunan batu saat melewati koridor sekolah yang mulai sepi. Seragam putih abu-abunya sudah kusut di bagian siku. Biasanya, jam pulang sekolah adalah waktu favoritnya untuk mampir membeli es boba bersama teman-teman.
Namun, hari ini, ada sebuah bom waktu yang berdetik di kepalanya, pernikahan sepihak yang dipaksakan kedua orang tuanya beberapa hari yang lalu.
Sepanjang jalan pulang menaiki sepeda motor scoopy nya, dada Ulfa terasa sesak. Pikirannya berputar keras. Menikah di usia remaja bukan hanya perkara mengganti status di KTP, melainkan tentang masa depannya yang dipertaruhkan.
Begitu pintu rumah jati itu terbuka, aroma kopi hitam langsung menyengat indra penciumannya. Di sana, di ruang kerja yang pintunya dibiarkan terbuka paruh, Pak Baskoro duduk termenung. Guratan lelah di wajah pria berkepala lima itu tampak berkali-kali lipat lebih kentara dibanding biasanya.
Ulfa meneguhkan hati. Dibukanya pintu ruang kerja itu perlahan.
"Pah," panggil Ulfa, suaranya agak bergetar namun ada nada tegas di sana.
Pak Baskoro mendongak, mencoba memaksakan senyum hangat yang gagal menyembunyikan matanya yang kuyu. "Eh, Anak Papah sudah pulang. Sini, duduk."
Ulfa tidak duduk. Dia tetap berdiri di sisi meja kerja, meremas tali tas ranselnya erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih. "Ulfa mau ngomong serius, Pah. Soal... perjodohan itu. Ulfa mau batalin."
Pak Baskoro menghentikan gerakannya yang hendak menutup laptop. Ruangan itu mendadak hening, hanya menyisakan suara detik jam dinding yang terdengar konstan dan intimidatif.
"Ulfa," suara Pak Baskoro merendah, sarat akan kelelahan fisik dan batin. "Kita sudah bahas ini minggu sebelumnya, Nak."
"Tapi Ulfa enggak bisa, Pah!" Setetes air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos, membasahi pipi. Ulfa buru-buru menyekanya dengan punggung tangan, menolak terlihat lemah, meski suaranya mulai serak karena emosi. "Ulfa baru belasan tahun. Teman-teman Ulfa sibuk mikirin ujian nasional dan kuliah, sedangkan Ulfa? Ulfa dipaksa mikirin pernikahan?"
Ulfa menarik napas dalam-dalam, mencoba mengais sisa-sisa logika di kepalanya agar tidak terdengar seperti remaja yang sedang tantrum. "Ulfa takut, Pah. Ulfa takut sakit hati. Hubungan yang dipaksa begini egois banget. Gimana kalau nanti dia enggak cinta sama Ulfa? Dia sudah punya pacar pah, Gimana kalau setelah nikah Ulfa cuma jadi pajangan dan akhirnya dibuang? Ulfa takut hancur sebelum sempat ngejar mimpi Ulfa sendiri."
Mendengar rentetan kalimat putrinya, bahu Pak Baskoro tampak merosot. Pria itu tidak marah. Beliau justru memijat pangkal hidungnya, lalu mengembuskan napas berat yang terdengar seperti sebuah kepasrahan yang teramat sangat.
Pak Baskoro bangkit dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke halaman samping, membelakangi Ulfa.
"Kamu tahu kenapa Papah belakangan ini jarang pulang dan sering telat makan, Fa?" tanya Pak Baskoro pelan, pandangannya kosong menatap luar.
Ulfa terdiam. Tangisnya mereda, digantikan oleh firasat buruk yang mendadak merayap di tengkuknya.
"Perusahaan kita... sedang di ujung tanduk," ucap Pak Baskoro, suaranya terdengar parau, nyaris berbisik namun terdengar begitu menggelegar di telinga Ulfa. "Utang bank menumpuk karena tiga vendor besar kita membatalkan kontrak sepihak bulan lalu. Bulan depan, kalau kita tidak bisa membayar cicilan dan menyuntikkan modal baru, aset kita akan disita. Rumah ini, pabrik, semua tabungan... habis."
Pak Baskoro membalikkan badan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Ulfa melihat mata Papahnya berkaca-kaca. Pria yang selalu menjadi pahlawan tangguh di matanya itu kini tampak begitu rapuh dan kalah.
"Keluarga Langit... mereka satu-satunya yang bersedia menyuntikkan dana tanpa syarat yang mencekik. Tapi, mereka menginginkan ikatan kekeluargaan yang pasti melalui kalian berdua. Mereka ingin memastikan investasi mereka aman di tangan keluarga sendiri." Pak Baskoro melangkah mendekati Ulfa, memegang kedua bahu putrinya dengan tangan yang sedikit gemetar. "Papah egois, Fa. Papah tahu ini mengorbankan masa mudamu. Tapi kalau pernikahan ini batal... minggu depan kita bangkrut. Papah tidak tahu lagi harus memberi makan karyawan pabrik pakai apa. Papah tidak tahu kita harus tinggal di mana."
Kata-kata itu menghantam Ulfa bak gada besi. Ego remajanya yang menuntut kebebasan seketika runtuh, digantikan oleh rasa bersalah yang teramat besar melihat penderitaan ayahnya. Pikirannya kini dipaksa melihat realitas yang jauh lebih kejam daripada sekadar urusan patah hati.
Air mata Ulfa tumpah semakin deras, kali ini tanpa bisa ditahan lagi.
Dadanya naik-turun akibat isak tangis yang tertahan di tenggorokan.
Di satu sisi, jiwanya berteriak menolak takdir ini. Namun di sisi lain, bayangan wajah ibunya yang sakit-sakitan dan wajah frustrasi ayahnya membuat kakinya lemas.
Dia tidak punya pilihan. Menyelamatkan keluarganya berarti harus membunuh separuh dari dirinya sendiri.
"Pah..." Ulfa berbisik di sela tangisnya, suaranya parau dan bergetar hebat. Dia menunduk, tidak sanggup menatap mata ayahnya yang penuh kilat rasa bersalah. "Ulfa... Ulfa mau."
Pak Baskoro langsung menarik Ulfa ke dalam pelukannya. Pelukan yang terasa hangat, namun sekaligus terasa seperti jeruji besi yang mengunci kebebasan Ulfa.
"Maafkan Papah, Nak... Maafkan Papah," bisik Pak Baskoro berulang kali, ikut menangis di pucuk kepala putrinya.
Di dalam dekapan hangat itu, Ulfa memejamkan mata erat-erat. Air matanya membasahi kemeja kerja sang ayah. Di sore yang mendung itu, Ulfa tahu, masa remajanya yang polos telah berakhir sebelum waktunya.
......................
...****************...
Tbc,
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳