Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: KESEPAKATAN DAN NIAT TERSELUBUNG
Suasana di ruang makan vila perbukitan yang tadinya tegang mendadak berubah menjadi hening. Kamilah menatap Rizky Syah dengan binar mata yang memancarkan pemahaman baru. Di dalam benaknya yang polos, teka-teki mengenai wanita bermarga Ye yang dicintai oleh pengusaha muda berkuasa itu kini terasa makin terang benderang.
Dia begitu peduli, perhatian, dan bersikap serba salah padaku... ternyata penyebab utamanya karena dia memang menyimpan rasa suka pada kakakku, Roya Ye! bisik Kamilah mantap di dalam hatinya.
Kamilah menyunggingkan senyum lega yang teramat lebar, merasa telah berhasil memegang kartu AS yang bisa membebaskannya dari belenggu obsesi pria posesif di hadapannya. Ia menegakkan posisi duduknya, menatap Rizky dengan raut wajah manis yang sengaja dibuat-buat.
"Kamu rahasiakan kejadian salah kamar dan salah paham kita malam itu, dan aku janji akan merahasiakan perasaanmu pada Kak Roya ini rapat-rapat," ujar Kamilah dengan nada suara riang dan penuh kemenangan. "Siapa tahu... kita berdua bisa jadi satu keluarga nanti? Bagaimana menurutmu... Kak Syah?"
Panggilan 'Kak Syah' yang keluar begitu renyah dan tiba-tiba dari bibir Kamilah membuat Rizky Syah seketika terpaku diam di tempat duduknya. Pria tegap itu menghentikan potong dagingnya, sorot matanya yang tajam bergetar pelan.
Dia... baru saja memanggilku dengan sebutan Kak Syah? batin Rizky Syah terkesima, merasakan kepakan aneh yang begitu hangat di dalam dadanya akibat panggilan akrab tersebut.
Melihat Rizky yang mendadak bungkam, Kamilah makin percaya diri dengan skenario yang ia susun di kepalanya.
Sekarang kita berdua sudah sama-sama saling memegang rahasia penting masing-masing. Dengan begini, dia seharusnya tidak akan punya alasan untuk terus-menerus mengganggu atau mengejarku lagi, kan? desah Kamilah penuh rasa syukur di dalam hatinya.
Rizky menatap gadis di hadapannya dengan pandangan dalam yang sulit diartikan, mengulang perkataan gadis itu dengan nada suara rendah dan serak. "Satu keluarga?"
"Iya, benar! Satu keluarga besar!" jawab Kamilah antusias, menganggukkan kepalanya berulang kali agar pria itu makin yakin.
Rizky menyunggingkan senyum misterius yang amat tipis di sudut bibir tegasnya. "Baiklah kalau begitu."
"Deal!" seru Kamilah riang. Ia mengangkat cangkirnya tinggi-tinggi ke udara, mengajak Rizky bersulang sebagai tanda kesepakatan resmi dan perdamaian di antara mereka.
Rizky mengangkat cangkirnya sendiri, menyentuhkan pinggiran porselen itu pada milik Kamilah hingga menimbulkan suara dentingan pelan yang jernih.
Aku sebenarnya sama sekali tidak berniat menyetujui kesepakatan konyol dan salah paham absurak ini... tapi dia baru saja memanggilku Kak Syah dengan sangat manis. Pria mana di dunia ini yang sanggup menolak panggilan seakrab itu darinya? batin Rizky Syah sambil terus memperhatikan ekspresi bahagia di wajah Kamilah. Lagi pula... permainan kucing mengejar tikus akan terasa jauh lebih menyenangkan kalau dilakukan secara bertahap dan perlahan.
Rizky meletakkan cangkirnya kembali ke atas tatakan porselen. "Ada rencana apa kamu hari ini setelah pergi dari sini?"
Kamilah buru-buru menyeka bibirnya dengan tisu kain dan langsung berdiri dari kursi. "Aku ada urusan pribadi yang sangat penting hari ini, jadi aku harus pergi sekarang juga!"
"Tunggu sebentar," panggil Rizky dengan suara tegasnya.
Pria itu ikut berdiri dari duduknya, meraih boneka kelinci rajut edisi terbatas yang sebelumnya sempat didekap Kamilah di kamar, lalu melangkah lebar mendekat dan menyodorkannya tepat ke hadapan gadis itu. "Ini untukmu. Bawa pulang."
Kamilah menatap boneka di tangan Rizky dengan perasaan ragu dan bimbang. "Ini kan barang koleksi edisi terbatas yang sangat langka dan mahal di seluruh dunia. Kamu benar-benar yakin mau memberikan boneka berharga ini padaku?"
Tanpa memberikan ruang untuk perdebatan atau penolakan lebih lanjut, Rizky menarik tangan Kamilah, memaksa jemari lentik gadis itu untuk memeluk erat boneka kelinci tersebut ke dadanya. "Ambil saja. Tidak ada bantahan."
Kamilah tertegun menatap wajah tegas pria di depannya. Sepertinya dia memberiku hadiah berharga ini semata-mata demi mengambil hati Kak Roya melalui diriku... Orang ini, walaupun pembawaannya seperti berandalan posesif yang berbahaya, tapi kalau jadi kakak iparku sepertinya cukup bagus dan sangat bertanggung jawab.
Kamilah menyunggingkan senyum lebar, memeluk boneka kelinci itu kencang-kencang. "Terima kasih banyak ya, Kak Syah! Aku pamit pergi dulu!"
Beberapa jam kemudian, suasana berubah total di sebuah gedung pertunjukan musik dan pertemuan yang megah di pusat kota.
Aroma parfum mahal dan alunan musik instrumental klasik yang mengalun lembut memenuhi ruang auditorium eksklusif tersebut. Kamilah duduk di salah satu deretan kursi penonton barisan terdepan bersama dengan Ikram Pratama. Gadis itu tampil anggun mengenakan gaun malam berpotongan pendek yang membiarkan bagian lutut serta pahanya sedikit terbuka.
Saat pendingin udara ruangan besar itu bertiup kian kencang dan menusuk kulit, Ikram Pratama yang duduk tepat di sampingnya bergerak dengan sangat sigap. Pria itu melepaskan jas hitam mewahnya dengan gerakan perlahan, lalu menyangkutkan dan menutupi bagian paha serta lutut Kamilah yang terbuka menggunakan jas hangatnya.
"Pendingin udara di dalam ruang pertemuan ini terpasang sangat dingin," bisik Ikram dengan nada suara yang teramat lembut dan penuh perhatian. "Lututmu bisa kedinginan kalau dibiarkan terbuka terus seperti itu."
Kamilah sempat tersentak kaget dengan perhatian tiba-tiba itu, namun ia merapikan jas tebal Ikram di atas pangkuannya agar tidak jatuh. "Terima kasih banyak, Mas Ikram."
Ikram menatap profil wajah Kamilah dari samping dengan pandangan mata yang sarat akan kekaguman mendalam yang telah dipendamnya sejak lama. Pria itu membetulkan posisi duduknya agar bisa lebih leluasa menghadap ke arah Kamilah.
"Kita memang belum pernah berinteraksi secara langsung atau duduk mengobrol secara pribadi seperti ini sebelumnya," ujar Ikram pelan namun mantap, mencoba memecah kecanggungan di tengah dentuman alunan musik pertunjukan. "Tiba-tiba saja kamu diminta oleh Kakek Ye untuk bersiap bertunangan denganku. Aku tahu betul ini terasa sangat mendadak, kaku, dan mungkin terasa sedikit memaksa bagimu..."
Ikram menarik napas panjang, menghentikan kalimatnya sejenak demi menatap lurus tepat ke dalam manik mata Kamilah yang jernih.
"...tapi jujur saja dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku sudah memperhatikanmu dan memandangi tumbuh kembangmu dari kejauhan sejak kita masih kecil. Dan aku... sangat menyukaimu, Kamilah."
Mendengar pengakuan jujur dan begitu mendadak dari pria di sampingnya, Kamilah seketika membisu kaku di tempatnya. Perasaannya mendadak menjadi campur aduk tak bertepi. Bayangan trauma masa kecil akan sosok sang ayah yang manis dan pandai berjanji namun tega berselingkuh mendadak berkelebat hebat di pikirannya. Bayangan itu bertabrakan kuat dengan raut ketegasan Rizky Syah yang baru saja ia tinggalkan beberapa jam lalu.
Tanpa sanggup membalas sepatah kata pun untuk merespons pengakuan Ikram, Kamilah hanya bisa diam terpaku. Jemari tangannya yang saling bertautan erat di balik jas hangat milik Ikram mengepal kencang, menekan kulit tangannya sendiri hingga terasa sakit demi menahan gejolak kebingungan, kecemasan, dan kebingungan yang tiba-tiba meluap di dadanya.