NovelToon NovelToon
SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Orang Disabilitas / Nikah Kontrak
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.

Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.

Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.

Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Ketika Ares Meminta

Dewi mendekatkan wajahnya sedikit. “Katanya kamu tambah cantik.”

Alisha langsung meliriknya. “Dia bilang begitu?”

“Iya.” Dewi menyenggol lengannya. “Dan aku punya berita lebih menarik.”

“Apa lagi?” tanya Alisha.

“Dia masih naksir kamu.”

Alisha spontan tertawa kecil. “Wi, itu udah lama.”

“Emangnya kalo lama otomatis ilang?”

Alisha mengangkat bahunya. “Ya mana kutau.”

“Makanya aku bilang, jangan buru-buru nyimpulin.”

Alisha menggeleng. “Dia cuma kenalan lama.”

Dewi menatapnya dengan senyum penuh arti. “Kenalan lama yang dulu pernah nembak kamu?”

“Dewi.”

“Iya, iya.” Dewi mengangkat kedua tangan. “Aku cuma mengingatkan.”

Pintu lift terbuka.

Dewi masuk lebih dulu, lalu menoleh kepada Alisha. “Kalau suatu hari Kak Yudhis nembak lagi, jangan bilang aku gak pernah kasih bocoran.”

Alisha mendengus sambil ikut masuk. “Ngaco.”

Dewi tertawa.

Pintu lift menutup, membawa keduanya menuju lantai kantor.

***

Sepulang kerja, Alisha menyempatkan diri datang ke rumah sakit.

Baru beberapa langkah masuk ke kamar, Raka sudah memerhatikan cara jalannya. “Kak, kaki Kakak kenapa?”

Alisha menoleh. “Kenapa?”

“Jalannya aneh," kata Raka. "Biasanya gak gitu.”

Alisha melihat kakinya sendiri. “Oh, ini? Tadi malam terantuk kaki nakas.”

“Bengkak?” Raka tampak khawatir.

“Dikit.”

“Terus masih dipakai jalan?”

Alisha menghela napas. “Kalo gak dipakai, Kakak harus merangkak?”

Raka tertawa kecil. “Makanya hati-hati.”

“Iya, Pak Dokter," canda Alisha.

“Jangan panggil aku begitu.”

“Kenapa?" tanya Alisha. "Sekarang kamu punya dokter beneran.”

Raka langsung tersenyum. “Kak Yudhis?”

“Iya.” Alisha meletakkan tasnya di kursi.

“Dia baik," ujar Raka ringan.

“Dokter memang harus baik," tandas Alisha.

“Bukan itu.” Raka menyeringai. “Kayaknya dia juga kenal banget sama Kakak.”

Alisha langsung tahu arah pembicaraan itu. “Udah, jangan mulai.”

“Aku cuma bilang kok.” Raka bersandar di kepala ranjang.

“Kamu harusnya istirahat.”

Raka tertawa pelan. “Galak.”

Alisha ikut tersenyum, lalu duduk di samping ranjang. Mereka mengobrol cukup lama sampai Alisha tanpa sadar kembali melirik jam.

Sudah hampir waktunya. Ponselnya bergetar sekali, lalu sekali lagi. Alisha mengambilnya.

Tuan Ares:

> Datang malam ini.

Belum sempat ia memasukkan ponsel ke dalam tas, pesan berikutnya masuk.

Tuan Ares:

> Jangan terlambat.

Alisha menatap layar beberapa detik. Jarinya mengepal di sekitar ponsel.

“Kak?” panggil Raka.

Alisha segera mengangkat wajah. “Hm?”

“Kok bengong?” tanya Raka.

“Enggak.” Alisha memasukkan ponselnya ke tas. “Ka, malam ini Kakak nggak bisa nemenin kamu.”

Raka langsung mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Ada acara kantor," jawab Alisha.

“Acara apa, Kak?”

“Acara biasa," ujar Alisha sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.

“Penting?”

“Lumayan," jawab Alisha.

Raka menatap kakaknya beberapa detik. “Kalo emang penting, ya udah. Kakak pergi aja.”

Alisha tersenyum kecil. “Besok Kakak datang lagi.”

“Janji?”

“Janji.” Alisha mencoba tersenyum.

Raka mengangguk. “Kalo acaranya selesai cepat, datang lagi.”

Alisha terdiam sesaat. “Iya.” Ia berdiri, lalu merapikan selimut Raka. “Jangan tidur terlalu malam.”

“Yang suka tidur malam 'kan Kakak," balas Raka.

Alisha terkekeh kecil. “Sekarang Kakak udah belajar tidur lebih awal.”

Raka tersenyum. “Bagus.”

Alisha mengusap rambut adiknya sebelum berbalik. Namun baru beberapa langkah, rasa bersalah kembali menyusup.

"Maaf, Ka."

Raka percaya begitu saja pada alasan yang diberikannya. Padahal malam ini ia tidak akan menghadiri acara kantor.

Ia akan pergi ke rumah seorang pria yang bahkan wajahnya sendiri tidak boleh ia lihat.

 

Begitu keluar dari rumah sakit, Alisha berhenti di dekat pintu masuk. Ia kembali membuka ponselnya.

Tidak ada pesan baru. Namun kalimat terakhir Ares masih terbayang jelas.

Jangan terlambat.

Alisha menarik napas panjang. Ia memesan taksi online. Sepanjang perjalanan, pikirannya tidak tenang. Bukan karena ia takut bertemu Ares. Setidaknya, bukan hanya itu.

Ia terus memikirkan Raka. Tentang kebohongan kecil yang baru saja ia ucapkan. Tentang uang lima puluh juta yang sudah masuk ke rekeningnya.

Dan tentang kenyataan bahwa setiap kali Ares memintanya datang, ia harus meninggalkan adiknya dengan alasan yang berbeda.

 

Di sisi lain rumah sakit...

Sore itu, Dewi baru saja keluar dari ruang rawat bibinya ketika melihat seseorang berjalan dari arah berlawanan.

“Kak Yudhis?”

Yudhis berhenti. “Dewi?" Ia memerhatikannya. "Baru pulang dari kantor?”

Dewi mengangguk. “Iya. Kalo udah pulang males ke mana-mana. Jadi habis dari kantor langsung ke sini deh, jenguk Bibi.”

"Aku tadi juga sempet jenguk," kata Yudhis. "Bibi ngerengek pengen pulang."

Dewi mendesah pelan. “Katanya harus dirawat beberapa hari.”

“Semoga cepat membaik," ucap Yudhis.

“Amin.” Dewi mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

Mereka berjalan berdampingan beberapa langkah. Yudhis kemudian melirik jam tangannya.

“Gimana kondisi Raka, Kak?” tanya Dewi.

“Cukup baik," jawab Yudhis. "Tadi Alisha juga datang.”

Dewi mengangguk. “Bagus.”

Yudhis menatap ke depan sebelum berkata, “Alisha biasanya datang sebelum magrib dan Raka selalu nungguin dia.”

Dewi langsung menoleh. "Kakak tahu banget jadwal Alisha.”

Yudhis tersenyum tipis. “Kan sekarang aku yang nanganin Raka. Alisha yang mendampingi dia. Kalo ada perubahan kondisi, dia yang pertama dapat informasi.”

“Ah, iya, ya.” Dewi mengangguk-angguk, tetapi senyumnya mulai muncul.

Yudhis meliriknya. “Kenapa?”

Dewi mengangkat bahu kecil. “Nggak kenapa-kenapa.”

Yudhis menaikkan sebelah alisnya. “Ekspresimu bilang sebaliknya.”

Dewi terkekeh. “Cuma lucu aja kok.”

“Apanya?” tanya Yudhis.

“Dulu waktu Kakak suka sama Alisha, Kakak juga selalu ngomongin dia. Kepoin dia.”

Yudhis langsung menghela napas. “Dewi.”

“Aku belum bilang apa-apa loh," ujar Dewi santai.

“Tapi wajahmu udah," balas Yudhis.

Dewi tertawa kecil. “Ya udah, aku gak ganggu.”

Mereka sampai di depan lift. Sebelum pintunya terbuka, Yudhis kembali bertanya,

“Alisha akhir-akhir ini baik-baik saja, 'kan?”

Kali ini Dewi tidak langsung menggoda. “Yang aku tau iya. Memangnya kenapa, Kak?”

“Gak apa-apa.” Yudhis memasukkan tangannya ke saku jas. “Dia kelihatan agak lelah kemarin.”

Dewi menatapnya beberapa saat. “Kak.”

“Hm?” sahut Yudhis.

“Kalau emang masih peduli, gak usah cari alasan lewat Raka.”

Yudhis tak menanggapi.

Pintu lift terbuka. Dewi masuk sambil tersenyum. “Kalo suka jangan dipendem. Ntar jadi bisul 'kan repot."

Pintu mulai menutup.

Yudhis masih berdiri di luar. Ia menggeleng kecil, tetapi sudut bibirnya terangkat. “Adikku ini emang banyak omong.”

Namun setelah lift membawa Dewi pergi, tatapannya kembali tertuju ke lorong rumah sakit.

Pikirannya kembali pada Alisha. Bukan sebagai kakak dari pasien yang sedang ia tangani. Melainkan sebagai perempuan yang dulu pernah ia sukai.

***

Mobil yang ditumpangi Alisha berhenti di depan rumah Ares. Wanita itu menatap bangunan besar di balik pagar. Lampu-lampunya sudah menyala.

Entah kenapa malam ini rumah itu terasa berbeda. Lebih sunyi, lebih asing.

Alisha mengangkat wajah. Gerbang perlahan terbuka. Ia menelan ludah, lalu melangkah masuk dan langsung menuju ke kamar.

Begitu tiba, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, namun tidak Ares. Alisha meletakkan tas di kursi, lalu melirik jam.

“Katanya suruh datang cepat.”

Ia kemudian mengambil pakaian ganti dan masuk ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri, Alisha keluar dengan pakaian tidur yang sederhana.

Ia meraih penutup mata dari atas nakas dan memasangnya seperti biasa. Kemudian duduk di tepi ranjang. Kedua tangannya bertumpu di pangkuan.

Ia tidak tahu apa yang terjadi malam ini. Biasanya Ares memang tidak pernah menjelaskan kenapa ia memintanya datang. Namun kali ini pesannya terasa lebih mendesak. Alisha menarik napas pelan.

Beberapa menit berlalu, tetapi tidak ada suara. Ia mulai bertanya-tanya apakah Ares sudah pulang atau masih berada di tempat lain.

Lalu terdengar suara pintu kamar dibuka. Alisha langsung menegakkan tubuh.

Langkah kaki memasuki ruangan. Selangkah demi selangkah, hingga semakin dekat.

Alisha mengenali suara itu. “Tuan Ares?”

Tidak ada jawaban.

Namun kali ini, sebelum rasa khawatir sempat muncul, ia mencium aroma yang samar-samar familiar. Aroma sabun, bercampur sedikit wangi parfum yang bukan miliknya. Langkah Ares berhenti tepat di hadapannya.

Alisha tanpa sadar menggenggam ujung pakaian tidurnya. “Apa terjadi sesuatu?”

Ares masih diam. Kemudian terdengar suaranya, lebih rendah dari biasanya.

“Boleh aku memelukmu?”

Alisha tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut Ares.

 

...✨“Kebohongan kecil mungkin terasa mudah ketika dilakukan demi melindungi orang yang kita sayangi. Namun semakin sering sebuah alasan disembunyikan, semakin berat pula hati menanggung rahasia yang menyertainya.”✨...

.

To be continued

1
anonim
Raka senang kakaknya terlihat lebih seger.

Raka pengertian, kakaknya di suruh sering-sering tidur di rumah, tidak perlu nungguin dirinya.

Alisha jadi bisa punya waktu untuk suaminya, kalau tidak bisa nungguin Raka. Tidak harus cari alasan kalau Raka tanya-tanya.
anonim
Ares telah menyiapkan beberapa pakaian bermerk, pakaian tidur, juga pakaian dalam dan berbagai produk perawatan kulit untuk Alisha.

Alisha setelah sarapan pergi ke rumah sakit.

Raka sudah dipindahkan ke ruang lain, masih di lantai yang sama.

Ares tetap memikirkan kenyamanan Raka dan Alisha dengan memindahkan ruang rawat serta ada sofa.
anonim
Foto Alisha yang tertempel di surat nikah matanya tertutup kain hitam. Foto suaminya dilepas alias nggak ada fotonya.

Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.

Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
anonim
Ares bijaksana, Alisha boleh menemani adiknya.

Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.

Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.

Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.

Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
Septi Wijaya
apakah Arga termasuk orang yg obsesif??
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
Dek Sri
semoga Arga gak menemukan Alisha dimana
aryuu
kamu siapa sih Arga... ribet banget sama idup orang
aryuu
cukup emak kamu aja res yg ribet
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
aryuu
suruh buka dong res... nyiksa anak orang kamu tuh/Proud/
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Memang suh... Sampai tujuh turunan belum habis... Tapi kan, pas keturunan kedelapan, Keluarga Sudibyo akan bangrutlah. 😂😂😂 Kan, katanya sampau tujuh turunan kan? Terus, kalau udah keturunan kedelapan? Terus dapat apa dong? Sisa warisan yang hanya secuil? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Jadi? Kalau Ares lagi tidak bisa memberikan Rania sesuatu? Terus dia seenaknya saja gitu, untuk selingkuh? Cih! Perempuan murahan kayak gitu pula yang selama ini kau pacari Ares? ha? 😂😂😂 Rania itu, sampah tau. Tidak ada artinya. 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ooih Jadi, nama mantan Pacar Ares itu Rania... 😂😂😂 Bugus juga namanya... 😂😂😂 Tapi sayang, dia perempuan yang di setia. Penghianat! 🤬🤬🤬
Fadillah Ahmad
Bagus Ares... 😂😂😂 Kau hebat. Kau selangkah lebih maju dari lawanmu. 😁😁😁 Dan, langkahmu untuk menempatkan anak buahmu di sekitar istrimu itu sydah benar Ares... 😂😂😂 Sekarang, kita tinggal lihat, apa yang akan di lakukan oleh Si Arga iru... 😂😂😂
mimief
yeee...bini orang di cariin
kacau ini orang 🤣🤣
Fadillah Ahmad
Yaaa yang pastinya, dia mempunyai maksud Ares... 😂😂😂 Tapi, aku belum tau apa maksud Si Arga sialan itu... 😁😁😁
Fadillah Ahmad
Waaah, bahaya juga ya Si Arga itu... 😂😂😂 Mencari mati saja dia! 😁😁😁 Masuk ke kandang singa... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Semuanya Ares. Semua 8nformasi yang bisa dia peroleh... 😂😂😂 Termasuk Status Alisha saat ini... 😁😁😁
mimief
dia takut sha
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔
Fadillah Ahmad
Berarti, tugas anda jelas Pak. Anda harus melindungi istri majikan anda Pak... 😂😂😂 Kalau tidak... Alisha bisa di rayu dan di goda noh sama si Arga mata keranjang itu... 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!