⚠️ PERINGATAN
Jika pembaca hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab, di hitung sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye: 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Atau Baca di judul Bab contoh:
[POV FRAGMEN PERTAMA: FANG YE]
[POV FRAGMEN KEDUA: GU MOYUAN]
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebenc
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEKUATAN BERADA DI TEMPAT YANG TIDAK DIBUTUHKAN [POV FRAGMEN KELIMA: FANG KUANG]
Fang Kuang pulang setelah enam minggu mengembara, tubuhnya lebih keras daripada sebelumnya, tinjunya sudah bisa meremukkan batu yang dulu hanya bisa ia retakkan, kepalanya penuh rencana untuk pertarungan berikutnya melawan siapa pun yang cukup berani menantangnya sebelum ia cukup kuat untuk kembali menemui Heilong.
Ia mengharapkan sambutan seperti biasa—sorak-sorai anak-anak, ejekan bersahabat dari sesama pemuda suku, mungkin tantangan duel dari seseorang yang ingin mengukur seberapa jauh ia berkembang.
Yang ia temukan adalah perkemahan yang lebih sunyi daripada seharusnya, dan wajah-wajah yang tidak langsung menyambutnya dengan senyum.
"Apa yang terjadi?" ia bertanya pada orang pertama yang ia temui, seorang pemuda bernama Ba Te yang biasanya paling bersemangat menyambut kepulangannya.
Ba Te tidak langsung menjawab, matanya menghindar sebentar sebelum akhirnya berkata, "Serigala Bertanduk menyerang tiga minggu lalu. Kawanan besar, lebih besar dari yang pernah kita hadapi. Kami kehilangan dua puluh ekor ternak, dan—"
Ia berhenti.
"Dan apa?" Fang Kuang mendesak, sesuatu yang dingin mulai menjalar di dadanya, sangat berbeda dari sensasi panas yang biasa menyertai antisipasi pertarungan.
"Fang Lin terluka parah melindungi anak-anak yang terjebak di tepi perkemahan," Ba Te akhirnya berkata. "Lengan kanannya... tabib bilang ia tidak akan pernah bisa menggunakannya sepenuhnya lagi."
Fang Lin adalah sepupu Fang Kuang, tujuh tahun lebih muda darinya, seorang petarung muda berbakat yang selalu memandangnya sebagai contoh untuk dikejar—seseorang yang berlatih setiap hari dengan harapan suatu saat bisa cukup kuat untuk berdiri di sisinya sebagai sesama petarung, bukan hanya sebagai adik yang harus dilindungi.
Fang Kuang berlari menuju tenda perawatan tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, menemukan Fang Lin duduk di alas tidurnya, lengan kanannya dibalut ketat dari bahu hingga pergelangan tangan, wajahnya pucat tapi matanya tetap tajam seperti biasa saat ia melihat kedatangannya.
"Kau kembali," Fang Lin berkata, suaranya lebih lemah dari biasanya tapi nadanya tetap sama tegasnya. "Dan terlambat untuk pertarungannya, tapi tepat waktu untuk melihat hasilnya."
"Kenapa kau tidak mengirim seseorang untuk memanggilku kembali?" Fang Kuang bertanya, suaranya lebih keras daripada yang ia maksudkan, campuran rasa bersalah dan kepanikan yang jarang ia rasakan sejelas ini.
"Untuk apa?" Fang Lin bertanya balik, tidak gentar oleh nada suaranya. "Kau berhari-hari melakukan perjalanan jauh, mengejar lawan seperti apa, dan entah untuk membuktikan apa. Kalau kami menunggu kepulanganmu, seluruh perkemahan bagian timur sudah hancur sebelum kau tiba."
"Kalau aku ada di sini—"
"Kalau kau ada di sini," Fang Lin memotong, "mungkin aku tidak akan terluka seperti ini. Atau mungkin orang lain yang terluka sebagai gantinya, karena kau akan mengambil posisi paling berbahaya seperti biasa, dan aku akan mengambil posisi yang sekarang membuatku terluka, karena itu posisi yang harus diisi seseorang." Ia menatapnya lurus. "Kau tidak bisa menghitung ulang kejadian yang sudah terjadi, Fang Kuang. Berhenti mencoba."
Kejujuran Fang Lin, tanpa berusaha meringankan situasi atau menyalahkannya secara langsung, entah bagaimana terasa lebih berat daripada jika ia berteriak menuduhnya.
Fang Kuang duduk di samping alas tidurnya, tangannya yang biasa begitu percaya diri dalam pertarungan kini terasa canggung, tidak tahu harus diletakkan di mana.
"Aku pergi untuk mencari lawan yang lebih kuat," ia akhirnya berkata, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Fang Lin. "Aku pikir itu yang paling penting saat ini—menjadi lebih kuat, secepat mungkin, untuk bisa mengalahkan Heilong."
"Dan seluruh suku harus menunggu sampai kau cukup kuat untuk dirimu sendiri," Fang Lin berkata, tidak dengan kepahitan, hanya dengan pengamatan jujur yang justru lebih menyakitkan karena tidak ada niat menyakiti di dalamnya. "Kuakui kekuatanmu memanglah luar biasa, Sepupu. Tapi kekuatan yang selalu pergi mencari tantangan yang lebih besar, terkadang tidak selalu berada di tempat yang benar-benar membutuhkannya."
Fang Kuang teringat kata-katanya sendiri berbulan-bulan lalu, di lingkaran duel melawan Ao Heng—kekuatan memberiku hak untuk memilih. Ia sudah bangga dengan jawaban itu, merasa telah menemukan sesuatu yang penting tentang dirinya sendiri.
Ia tidak pernah memikirkan pertanyaan lanjutannya: kalau kekuatan memberinya hak untuk memilih ke mana ia pergi dan apa yang ia kejar, apakah itu juga berarti ia berhak memilih untuk tidak berada di tempat yang membutuhkan kekuatannya, demi mengejar sesuatu yang lebih memuaskan egonya sendiri?
Ia tidak menyukai arah pertanyaan itu.
"Aku tidak tahu caranya memperbaiki situasi ini," ia akhirnya berkata, suara yang jarang terdengar begitu kehilangan kepastian dari mulutnya.
"Kau tidak bisa memperbaikinya," Fang Lin berkata sederhana, mengangkat lengannya yang terluka sedikit, meringis karena gerakan kecil itu saja sudah terasa sakit. "Lenganku tidak akan kembali seperti semula. Itu fakta yang harus kita berdua terima, bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan pukulan atau tekad."
Ia menatapnya lama, ekspresinya melunak sedikit untuk pertama kalinya sejak Fang Kuang tiba.
"Tapi kalau kau bertanya apa yang bisa kau lakukan sekarang," ia melanjutkan, "bukan untuk memperbaiki apa yang sudah terjadi, tapi untuk hari-hari yang akan datang—mungkin kau bisa berhenti menganggap kekuatanmu hanya sebagai alat untuk kejayaan pribadimu sendiri, dan mulai memikirkan siapa yang benar-benar bergantung padanya saat kau memutuskan ke mana harus membawanya."
Fang Kuang tidak menjawab segera. Ia duduk dalam diam yang tidak biasa baginya, mencerna kata-kata yang terasa lebih berat daripada pukulan Heilong yang pernah membuatnya terlempar lima meter.
"Aku tidak akan berhenti mencari lawan yang lebih kuat," ia akhirnya berkata, jujur karena berbohong tentang hal itu hanya akan jadi pengkhianatan lain terhadap dirinya sendiri. "Itu bagian dari diriku yang tidak bisa kuhilangkan begitu saja."
"Aku tidak memintamu berhenti," Fang Lin berkata. "Aku hanya memintamu berpikir sebelum pergi.Tidak sesulit itu, kan?"
Ia tetap di perkemahan selama tiga minggu berikutnya, lebih lama daripada yang pernah ia lakukan sejak Trial of Fangs, melatih para pemuda suku yang lebih muda alih-alih hanya melatih dirinya sendiri—sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia lakukan sebelumnya karena selalu merasa waktu semacam itu lebih baik dihabiskan untuk kekuatannya sendiri.
Ia tidak menikmati semua bagiannya. Mengajar anak-anak berusia dua belas tahun cara memukul dengan benar terasa jauh lebih lambat dan membosankan dibandingkan pertarungan sungguhan melawan lawan sekelas Heilong. Beberapa hari, ia hampir menyerah dan kembali pada rencana lamanya untuk pergi mencari tantangan berikutnya.
Tapi setiap kali ia melihat Fang Lin duduk di tepi lapangan latihan, lengannya masih dibalut, mengawasi latihan dengan mata yang tetap tajam meski tidak lagi bisa ikut berlatih penuh, sesuatu menahannya untuk tetap tinggal satu hari lagi.
Ia tidak tahu apakah ini akan menjadi kebiasaan permanen, atau hanya jeda sementara sebelum ia kembali sepenuhnya pada obsesinya mencari lawan yang lebih kuat.
Ia juga tidak berpura-pura sudah menemukan keseimbangan sempurna antara ambisinya sendiri dan tanggung jawabnya pada suku—ia masih memikirkan Heilong hampir setiap malam, masih merasakan dorongan familiar untuk pergi mencari pertarungan yang bisa membuat darahnya kembali mendidih dengan cara yang tidak pernah bisa diberikan latihan rutin dengan pemuda-pemuda suku.
Yang berubah hanyalah, untuk pertama kalinya, dorongan itu tidak lagi sepenuhnya tanpa pertimbangan lain di sampingnya.
Fang Lin tidak pernah memaafkannya secara eksplisit untuk ketidakhadirannya minggu itu—dan Fang Kuang menyadari, semakin ia memikirkannya, bahwa mungkin permintaan maaf bukan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan Fang Lin darinya sama sekali. Yang ia butuhkan hanya seseorang yang benar-benar berpikir, bukan sekadar merasa bersalah sebentar lalu kembali seperti sedia kala.
Fang Kuang belum tahu apakah ia sudah menjadi orang seperti itu.
Tapi untuk pertama kalinya, ia setidaknya bertanya pada dirinya sendiri sebelum pergi, bukan sesudahnya.