Satu Atap Bersama Mantan
Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.
Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.
Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.
Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Tagihan Ratusan Juta
Pukul tujuh malam tadi, Devan baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam kondominium setelah seharian berkutat dengan rapat pemegang saham yang melelahkan. Pria itu melempar kunci mobilnya ke atas meja foyer, merenggangkan ikatan dasinya, lalu berniat mandi.
Namun, baru saja ia melepas dua kancing atas kemejanya, ponsel di saku celananya mendadak bergetar tanpa henti.
Ting! Ting! Ting!
Devan merogoh saku, meraba layarnya. Sebuah Notifikasi Notifikasi Transaksi Bank meluncur bertubi-tubi.
> [BANK NOTIFICATION] Transaksi Card xxxx-8821 sebesar Rp 45.000.000 di Le Jardin Fine Dining - BERHASIL.
> [BANK NOTIFICATION] Transaksi Card xxxx-8821 sebesar Rp 87.500.000 di Chanel Boutique - BERHASIL.
> [BANK NOTIFICATION] Transaksi Card xxxx-8821 sebesar Rp 62.000.000 di Dior Boutique - BERHASIL.
>
Melihat deretan nominal fantastis yang meluncur hanya dalam rentang waktu dua jam, bukannya mengamuk atau mencak-mencak, sudut bibir Devan justru tertarik ke atas. Sebuah senyuman kecil—penuh geli—terukir di wajah tampannya.
Pria itu menyandarkan punggungnya di sofa ruang tengah, membayangkan dengan sangat jelas bagaimana raut wajah Aira saat menggesek kartu itu. Pasti cewek itu lagi memasang muka sok angkuh, sambil membayangkan Devan di rumah lagi kelimpangan kena serangan jantung.
"Hmph," Devan tertawa pendek, menggelengkan kepalanya pelan. "Cewek aneh. Dikira gue bakal nangis darah cuma gara-gara angka segini?"
Bahkan ketika Devan selesai mandi dan mulai menyibukkan diri di dapur untuk memotong sayuran buat makan malam, ponselnya yang tergeletak di atas meja bar masih setia bergetar.
Ting! Rp 35.000.000 di Jo Malone London.
Ting! Rp 48.000.000 di Christian Louboutin.
Total angkanya dengan cepat menembus angka tiga ratus juta rupiah.
Devan meletakkan pisau dapurnya, memegangi kepalanya yang mendadak agak cenut-cenut sambil terkekeh pelan. "Aira... Aira... niat banget lu mau bikin gue kaget."
Tapi tunggu dulu.
Devan mengernyitkan alisnya. Pria itu menyambar ponselnya kembali, meneliti nomor kartu kredit yang tertera di layar notification center bank tersebut.
xxxx-8821.
Devan tertegun lima detik, lalu menepuk jidatnya sendiri. "Oalah, gila..."
Ternyata... transaksi fantastis ratusan juta itu bukan berasal dari kartu kredit pribadi milik Aira yang baru diaktifkan Papi Surya kemarin.
Cewek itu ternyata memakai kartu kredit black card atas nama Devan Argawinata—kartu kredit tambahan yang sengaja Devan selipkan di dalam dompet Aira tadi pagi pas sesi sarapan yang ditolak mentah-mentah oleh Aira.
Aira mungkin asal comot kartu dari dompetnya tanpa melihat nama pemiliknya, mengira itu kartu miliknya sendiri.
"Pantesan geseknya tanpa beban," Devan tertawa lepas sampai bahunya berguncang. Ini benar-benar murni memakai uang Devan. Tapi anehnya, Devan justru merasa makin terhibur.
Pukul sembilan malam lewat sedikit.
Pintu ganda penthouse terbuka. Dua orang petugas valet bangunan masuk mengekor di belakang Aira, membawa dua troli penuh sesak oleh tumpukan paper bag bermerek.
Aira melangkah masuk dengan gaya bak ratu sejagat. Kepalanya terangkat angkuh, memakai kacamata hitam di dalam ruangan malam-malam demi memaksimalkan gaya drama balas dendamnya.
"Taruh aja trolinya di dekat sofa, Pak. Makasih ya," perintah Aira anggun.
Begitu petugas valet pamit dan pintu tertutup, Aira melepaskan kacamata hitamnya, siap menyambut amukan Devan. Ia sudah pasang kuda-kuda mental buat meladeni teriakan atau omelan cowok itu soal tagihan ratusan juta yang membanjiri HP-nya.
Namun... pemandangan di depan matanya sama sekali di luar prediksi.
Devan sudah berdiri di depan area dapur, berkacak pinggang. Tapi cowok itu sama sekali nggak kelihatan marah. Wajahnya santai banget, kaus hitamnya tergulung sedikit di lengan, dan cengiran jahil paling menyebalkan sudah terpampang nyata di wajah tampannya.
"Wah, wah, wah..." Devan melangkah pelan mendekati tumpukan belanjaan di dekat sofa, menepuk-nepuk salah satu kantong Chanel dengan gaya sok terpesona. "Borong satu mall nih ceritanya, Nyonya Argawinata? Lu mau buka toko kelontong barang branded di kamar lu apa gimana?"
Aira melipat tangannya di dada, memasang muka paling galak yang ia punya buat menutupi rasa herannya. Kok ini cowok santai banget?!
"Kenapa?! Lu kaget liat tagihannya?!" sembur Aira tajam, mendongak nantangin. "Gue sengaja! Gue borong semuanya biar HP lu kebanjiran notifikasi! Biar lu tahu rasa udah coba-coba ngatur hidup gue!"
Devan bukannya tertekan, justru tertawa renyah. Pria itu menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah Aira.
"Kaget? Nggak tuh. Gue cuma agak terharu aja," bisik Devan santai, matanya berkilat penuh ejekan.
Aira mengernyit curiga. "Terharu apaan?! Lu udah gila ya?!"
Devan merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya lalu mengulurkan layarnya tepat di depan mata Aira. "Gue terharu karena lu bener-bener bertindak sebagai 'Istri yang baik'. Lu belanja ratusan juta malam ini... murni pake kartu kredit Black Card milik gue yang gue kasih tadi pagi. Bukan pake kartu dari Papi lu."
Mata Aira seketika melotot sempurna.
"Hah?!"
Aira buru-buru merogoh tasnya, menarik keluar dompetnya, dan melihat kartu yang dipakainya belanja seharian ini. Di bagian depan kartu warna hitam berkilau itu... terukir nama dengan huruf cetak tebal: DEVAN ARGAWINATA.
Wajah Aira seketika memerah padam dari pipi sampai ke leher. Aduhhh! Sumpah demi apa gila?! Gue salah ambil kartu?! batin Aira histeris, rasanya mau menghilang ditelan bumi detik itu juga.
Melihat reaksi Aira yang mendadak kaku kayak patung dengan muka merah padam, kepuasan Devan mencapai puncaknya.
"Makasih ya, Istriku," goda Devan lagi dengan intonasi yang bikin telinga Aira panas. "Awalnya gue kira lu mau bales dendam. Ternyata lu cuma mau manja-manja minta dibelanjain pake uang suami. Sosweet banget deh. Lain kali kalau kurang, bilang ya, ntar gue tambahin limitnya."
"DEVAN ARGAWINATA! LU BENER-BENER BIKIN GUE EMOSI YA!" jerit Aira frustrasi, menyenggol dada Devan pake tasnya dengan kasar. "Gue gak sengaja ambil kartu lu! Gue kira ini kartu gue!"
"Ya lagian main gesek-gesek aja tanpa liat nama," Devan terkekeh, menangkap tas Aira dengan mudah lalu menahannya. "Tapi gak apa-apa kok. Uang gue kan uang lu juga sekarang. Lagian cuma tiga ratus lima puluh juta, belum bikin gue bangkrut esok hari."
"Lu tuh ya—"
Kringgg! Kringgg!
Sebelum adu mulut mereka makin melantur ke mana-mana, ponsel Devan yang tergeletak di atas meja foyer berdering keras.
Devan melepaskan tas Aira, berjalan mengambil ponselnya. Nama yang tertera di layar membuat Devan merapikan raut wajahnya sejenak: Papi Surya.
Devan menekan tombol speaker, menyuruh Aira mendekat lewat isyarat tangan. "Halo, Pi?"
"Halo, Devan. Aira udah pulang?" suara Papi Surya Hermawan terdengar berwibawa di ujung telepon.
"Udah, Pi. Baru aja nyampe rumah," jawab Devan melirik Aira yang masih mendelik galak di sebelahnya.
"Baguslah," kata Surya. "Papi telepon ini mau menyampaikan... besok malam jam tujuh, Papi sama Mami mau mengundang kalian berdua buat makan malam keluarga di rumah Papi."
Aira yang mendengar itu langsung mau angkat suara buat menolak, tapi Devan dengan cepat memotong intention Aira.
"Siap, Pi. Besok malam Devan sama Aira pasti datang tepat waktu," jawab Devan sigap dan sopan.
"Oke, Devan. Tolong pastikan Aira bersikap manis ya besok malam. Sampai ketemu besok."
Tut... tut...
Sambungan telepon terputus begitu saja sebelum Aira sempat memprotes sepatah kata pun.
Aira mendelik histeris ke arah Devan. "Lu kenapa langsung iya-iyain sih?! Gue gak mau datang! Gue males ketemu Papi kalau cuma mau dibahas soal aturan-aturan aneh lagi!"
Devan menghela napas, meletakkan ponselnya kembali. "Itu Papi lu yang minta, Ra. Masa anak sama menantu menolak undangan makan malam orang tua sendiri? Lu mau kartu kredit lu dibekukan lagi buat kedua kalinya?"
"Biarin! Biar sekalian gue gak usah belanja lagi!" sembur Aira asal, membalikkan badannya berniat kabur ke dalam kamar.
"Eits, mau ke mana lu?" dengan gerakan refleks, Devan melangkah mendahului Aira, menghadang jalan Aira tepat di depan lorong kamar.
Aira menghentikan langkahnya, menatap Devan curiga. "Mau tidur! Gue capek!"
"Tidur apanya? Lu belum makan malam kan?" Devan menunjuk ke arah meja makan yang sudah tertata dua piring steak daging sapi saus lada hitam yang masih hangat, lengkap dengan kentang tumbuk dan salad segar.
"Gue udah makan ya tadi sama Sandy!" tolak Aira ketus, melipat tangannya. "Gue kenyang banget! Perut gue mau meledak!"
"Gue gak peduli lu udah makan apa belum," potong Devan, nadanya mendadak berubah agak tegas dan tidak bisa dibantah. Pria itu menatap Aira lurus-lurus. "Lu udah nguras uang gue tiga ratus lima puluh juta malam ini, dan gue udah cape-cape berdiri dua jam di dapur buat masak steak ini sebelum lu pulang. Minimal lu hargai usaha gue."
Aira menelan ludah. Tatapan mata Devan kali ini... ada sedikit penekanan yang bikin Aira kehilangan kata-kata buat melawan.
Ditambah lagi... omongan Sandy di mobil tadi soal 'menghargai usaha Devan' mendadak terngiang kembali di kepala Aira.
"G-gue beneran kenyang, Devan..." cicit Aira, suaranya melunak berbeda dari sebelumnya, meski raut mukanya tetap dipasang ketus.
"Duduk lima belas menit. Makan dua suap kentangnya sama dagingnya dikit. Habis itu lu bebas masuk kamar," tawar Devan memberikan kompromi, melangkah mundur dan menarik satu kursi buat Aira.
Aira berdiri selama lima detik di tempatnya. Tarik-ulur gengsi di dadanya bergejolak hebat. Tapi melihat piring steak hangat buatan Devan yang aroma sausnya bener-bener menggoda, serta fakta bahwa ia memang sudah menggunakan uang cowok itu ratusan juta... Aira akhirnya menyerah.
Dengan desahan pasrah yang keras, Aira melangkah mendekati meja makan. "Haaaaah..."
Aira duduk di kursi yang ditarik oleh Devan, meraih garpu dan pisaunya dengan enggan. "Awas ya kalau steak lu gak enak, gue lepeh di depan muka lu!"
Devan yang melihat Aira akhirnya nurut cuma menyunggingkan senyuman tipis yang sangat hangat. Pria itu duduk di kursi seberang Aira, meraih garpunya sendiri.
"Cobain dulu, Nyonya. Steak buatan suami lu ini levelnya beda," kata Devan ringan.
Aira memotong sedikit bagian daging steak yang sangat empuk itu, mencelupkannya ke saus lada hitam, lalu menyuapkannya ke dalam mulut.
Kelembutan dagingnya langsung lumer di lidah, paduan rasa gurih dan pedas lada hitamnya bener-bener pas banget.
Aira tertegun sejenak. Sialan. Ini steak enak banget! Jauh lebih enak daripada fine dining yang dimakannya bareng Sandy tadi!
Aira mencoba keras buat tetap memasang muka datar, mengunyah pelan-pelan. "B aja. Biasa banget rasanya."
Tapi jemarinya justru bergerak memotong bagian daging yang lebih besar buat suapan kedua.
Devan yang memperhatikan pergerakan tangan Aira cuma bisa menahan tawa di dalam hati. Pria itu menggeleng-gelengkan kepala, menikmati pemandangan istrinya yang lagi adu gengsi dengan perutnya sendiri.
semangat thorr💪💪😍