NovelToon NovelToon
Mr. Sinclair Bride

Mr. Sinclair Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Action
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.

Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.

Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Haikal

Setelah mengumpulkan seluruh keperluan rumah tangga, Chester mendorong troli menuju antrean kasir di bagian depan minimarket pangkalan.

Mengingat ada beberapa bahan makanan yang belum sempat terambil, Ayyana berpamitan singkat untuk kembali ke lorong belakang, meninggalkan Chester sendirian yang mulai memindahkan barang-barang ke atas meja kasir.

Proses pemindaian barang berlangsung cepat. Namun, tatkala Ayyana kembali dari lorong bahan segar sambil membawa beberapa keperluan tambahan, langkah kakinya melambat.

Di dekat ujung meja kasir, Chester tidak lagi sendirian.

Seorang wanita berpenampilan rapi—mengenakan kemeja formal dengan pin instansi pangkalan—berdiri tepat di samping Chester.

Usianya tampak sebaya dengan Chester. Cara wanita itu berdiri dan tersenyum menunjukkan tingkat kenyamanan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah lama saling kenal di dalam kompleks pangkalan ini.

"Saya dengar laporan Sektor Bravo kemarin cukup berat, Ches," ujar wanita itu halus, nadanya terdengar santai dan akrab saat menyapa sang Kapten. "Untung kamu dan Team Eclipse kembali tanpa cedera serius."

Chester menanggapi dengan anggukan singkat.

Meski wajahnya tetap mempertahankan garis-garis kaku khas perwira, gestur tubuhnya tidak sewaspada atau setegang saat ia berada di dekat Ayyana.

Chester merespon percakapan itu dengan ketenangan seorang pria yang sedang berbicara dengan rekan kerja lamanya.

"Hanya tugas rutin," jawab Chester datar, suaranya berat namun komunikatif. "Laporan sudah diserahkan ke markas besar tadi pagi."

Ayyana mengamati interaksi singkat itu dari jarak beberapa langkah.

Ada keakraban alami di antara keduanya—tipe keakraban yang tumbuh dari pengalaman bertahun-tahun berada di lingkungan pangkalan yang sama.

Ayyana menyunggingkan senyum tipis, merapikan letak pakaiannya, lalu melangkah maju menghampiri meja kasir untuk bergabung dengan sang Kapten.

Wanita itu—Kendall Walts—tersenyum hangat ketika menyadari Ayyana mendekat.

Kendall adalah putri dari salah satu perwira senior pangkalan sekaligus kepala staf administrasi logistik yang sudah mengenal Chester sejak pria itu pertama kali menginjakkan kaki di kompleks militer ini sebagai perwira muda.

"Kamu pasti Ayyana," sapa Kendall ramah, mengalihkan perhatiannya sepenuhnya dari Chester. "Saya Kendall. Maaf menyela, saya cuma mau mengucapkan selamat datang secara resmi di pangkalan. Chester ini dari dulu memang kaku seperti papan, jadi kalau dia bikin kamu darah tinggi, bilang ke saya—saya tahu cara 'menjinakkannya' di kantor."

Kalimat itu diucapkan dengan nada gurau yang matang, bukan intimidasi murahan seperti yang dilakukan kelompok Ny. Harris.

Kendall bertindak dari posisi seseorang yang merasa punya masa lalu dan histori panjang dengan Chester.

Ayyana menyambut uluran tangan Kendall dengan genggaman yang mantap, senyumnya mengembang sempurna—elegan dan sangat percaya diri.

"Ayyana Sinclair," balas Ayyana mempertegas nama belakang yang kini menyatu dengannya. "Terima kasih, Kendall. Tapi tenang saja, Kapten Sinclair tidak semenakutkan itu di rumah. Saya punya cara sendiri untuk menghadapinya."

Chester, yang berdiri di antara kedua wanita itu, mendadak merasa atmosfer di sekitar kasir menjadi sangat tipis.

Binar mata Ayyana yang tenang saat menyebut nama Sinclair terasa jauh lebih mematikan daripada provokasi apa pun di mobil tadi.

"Semuanya sudah dipindai, Kapten," potong petugas kasir yang merasa canggung di tengah aura tegang yang tak kasat mata itu.

Chester segera mengeluarkan kartu pembayaran taktisnya, memproses transaksi seraya melirik Ayyana yang masih berdiri anggun di sampingnya.

"Kami harus kembali sekarang, Kendall," potong Chester kaku, memutus percakapan itu sebelum situasi makin lepas kendali. Ia meraih kantong-kantong belanjaan dengan satu tangan kekar.

Kendall mengangguk santai, mengusap lengan Chaster. "Tentu, Ches. Sampai ketemu di rapat komando minggu depan."

Saat berjalan keluar menuju parkiran, Ayyana sengaja memperlambat langkahnya, berjalan tepat di samping Chester yang kembali mengencangkan rahangnya.

Sentuhan singkat jemari Kendall di lengan Chester tadi tidak luput dari pengamatan tajam Ayyana—dan Chester menyadari hal itu sepenuhnya.

Chester memasukkan kantong-kantong belanjaan ke dalam bagasi belakang SUV dengan gerakan cepat dan teratur, berusaha keras menghindari tatapan selidik Ayyana.

Namun, bisikan halus yang menusuk dari wanita di sampingnya itu berhasil menghentikan pergerakan tangannya sejenak di atas pintu bagasi.

Ia menutup bagasi dengan bunyi thud yang berat, lalu berbalik menghadapi Ayyana.

"Kendall cuma rekan kerja, Ayyana," jawab Chester kaku, menatap lurus ke manik mata Ayyana dengan pertahanan dingin yang kembali dipasangnya rapat-rapat. "Kami berada di lingkungan pangkalan yang sama sejak perwira muda. Tidak ada hal pribadi di antara kami."

Ayyana menyunggingkan senyum tipis, memiringkan kepalanya sedikit. "Aku tidak bertanya apakah ada hal pribadi atau tidak, Kapten. Aku cuma mengamati betapa santainya dia menyentuh lenganmu—sesuatu yang bahkan harus saya perjuangkan hanya untuk mendapat izin membukakan pintu mobil."

Chester terpaku. Rahangnya makin mengeras, namun binar matanya menyiratkan keterkejutan atas rasa cemburu terselubung yang baru saja ditunjukkan oleh Ayyana.

"Dia bertindak atas dasar kebiasaan lama," balas Chester rendah, mencoba memberi penjelasan rasional walau suaranya terdengar makin berat. "Dan saya tidak pernah memberi akses lebih pada siapa pun di pangkalan ini. Termasuk Kendall."

Ayyana melangkah satu pijakan lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka di samping pintu mobil yang tertutup.

"Bagus kalau begitu," bisik Ayyana halus, jemarinya bergerak santai merapikan kerah jaket kargo yang dikenakan Chester dengan ketenangan yang memikat. "Karena sekarang, area itu milik Nyonya Sinclair. Dan saya tidak suka berbagi territory dengan 'rekan kerja lama'."

Chester menahan napas, dadanya naik turun saat merasakan sentuhan lembut jemari Ayyana di dadanya.

Chaster menatap Ayyana dengan binar mata abu gelap yang dalam—sebuah pertarungan hebat kembali berkecamuk di dalam dirinya antara memelihara jarak demi Haikal, atau menyerah pada pesona istrinya sendiri.

"Masuk ke mobil, Ayyana," gumam Chester serak, membukakan pintu penumpang untuk wanita itu sebelum pertahanannya runtuh total di area parkir pangkalan.

Begitu pintu penumpang ditutup, Chester memutari bagian depan SUV dengan langkah cepat dan langsung mendudukkan dirinya di balik kemudi. Namun, saat tangannya hendak menyalakan mesin, pandangannya otomatis bergulir ke sisi kiri.

Ayyana duduk bersandar anggun, tangannya terlipat rapi di pangkuan. Sabuk pengamannya masih menggantung tak tersentuh di pilar mobil.

Chester memejamkan mata sejenak, menahan napas dalam-dalam. "Ayyana. Sabuk pengaman."

Ayyana tidak bergerak. Wanita itu justru menoleh perlahan, menatap Chester dengan binar mata yang tenang namun penuh tuntutan yang jelas. "Tangan ku masih agak pegal membawa bahan makanan tadi, Kapten. Dan rasanya... suamiku yang disiplin ini jauh lebih ahli dalam memastikan keselamatan istrinya."

Chester mengepalkan tangannya di atas kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu ini murni permainan kekuasaan dari Ayyana, sebuah ujian terang-terangan untuk melihat sejauh mana pria itu sanggup menahan diri.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Chester melepaskan sabuk pengamannya sendiri, memutar tubuh tegapnya, dan membungkuk melintasi dada Ayyana.

Jarak mereka kembali terkikis habis.

Aroma vanilla yang melekat pada kulit Ayyana langsung menyerbu indra penciuman Chester, membuat napas sang Kapten tertahan di tenggorokan.

Rahang tegas Chester berada hanya beberapa inci dari leher halus Ayyana.

Saat jemari tebal Chester meraih kepala sabuk pengaman di dekat pinggang Ayyana, dadanya yang terbalut kaos hitam ketat tak sengaja bergesekan tipis dengan lengan wanita itu.

KLIK.

Sensasi pengunci sabuk yang menyatu menggema di dalam kabin. Chester segera menarik tubuhnya kembali, namun Ayyana sama sekali tak memberi jeda bagi Chester untuk menetralkan detak jantungnya.

Saat SUV hitam itu melaju membelah jalanan kompleks menuju stasiun pengisian bahan bakar, Ayyana memecah kesunyian dengan suara yang teramat halus, namun sarat akan provokasi dingin.

"Menjinakkan..." gumam Ayyana santai, menatap pemandangan luar jendela sebelum mengalihkan pandangannya pada profil wajah kaku Chester dari samping.

Chester tetap memandang lurus ke jalanan, meski otot rahangnya mengetat seketika. "Apa maksudmu?"

"Kalimat Kendall tadi," lanjut Ayyana dengan nada menimbang-nimbang yang elegan. "'Kalau dia bikin kamu darah tinggi, bilang ke saya—saya tahu cara menjinakkannya di kantor.'" Ayyana terkekeh pelan, sebuah kekehan dingin yang menusuk. "Pilihan kata yang sangat menarik untuk seorang 'rekan kerja lama', Kapten."

Chester menekan pedal gas sedikit lebih dalam, berusaha memfokuskan pikirannya pada kemudi. "Kendall cuma bercanda. Itu istilah biasa di pangkalan untuk menyindir sifat kaku saya."

"Bercanda?" Ayyana memiringkan kepalanya, menatap lurus ke arah mata Chester yang terpantul di kaca spion tengah. "Seorang wanita tidak akan menggunakan kata 'menjinakkan' pada pria berpangkat Kapten kecuali dia merasa punya tingkat kontrol tertentu atas pria itu di masa lalu."

Mobil SUV berhenti mulus di salah satu jalur pengisian bahan bakar pom pangkalan. Chester mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Ayyana. Binar mata abu gelap sang Kapten membeku, memancarkan intensitas yang amat pekat.

"Tidak ada yang pernah 'menjinakkan' saya di pangkalan ini, Ayyana," tegur Chester dengan suara bas yang rendah, berat, dan tanpa keraguan. "Termasuk Kendall. Jangan berasumsi atas hal yang tidak kamu ketahui."

Ayyana tidak gentar oleh tatapan intimidatif itu. Ia justru memajukan tubuhnya sedikit, menantang jarak di antara mereka walau terhalang sabuk pengaman.

"Kalau begitu bukankan itu artinya..." bisik Ayyana halus dengan senyum tipis yang amat memikat di bibirnya, "...aku adalah wanita pertama yang berhasil membuat sang Kapten Diktator ini kehilangan kendali?"

Kata-kata Ayyana yang sarat akan godaan itu mendadak menjadi pemicu yang merusak seluruh toleransi Chester.

Benteng pertahanan yang berusaha ia jaga dengan gigih seketika runtuh, berganti dengan kilatan emosi dingin yang amat pekat.

Chester memajukan tubuh tegapnya drastis, mengikis habis sisa jarak di antara mereka hingga hembusan napasnya yang berat terasa menerpa kulit wajah Ayyana.

Binar mata abu gelapnya memancarkan kemarahan, luka, dan penolakan yang bercampur menjadi satu.

"Jangan pernah lancang beranggapan seperti itu, Ayyana," bisik Chester dengan suara bas yang teramat rendah, begitu kaku dan menusuk hingga setiap kata yang keluar terasa seperti sabetan sembilu.

Ayyana mematung sejenak, menangkap intensitas mengerikan dari tatapan pria di hadapannya.

"Saya tidak pernah kehilangan kendali," lanjut Chester penuh penekanan, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang. "Saya ada di sini, bertahan di dekat kamu, bukan karena saya terpengaruh oleh kamu. Saya cuma sedang menjalankan tugas untuk menghargai wanita milik kakak saya."

Dada Chester naik turun menahan gejolak pekat di dadanya. Rasa tak berhak dan bayang-bayang Haikal yang selama ini menghantuinya disuarakan secara lantang di dalam kabin yang sempit itu.

"Kamu milik Haikal," tegas Chester kaku, setiap kata diucapkannya dengan dingin tanpa cela. "Pernikahan ini cuma barikade sementara. Saya cuma menjaga kamu di rumah ini... sampai bajingan itu muncul kembali dan membawa kamu pergi dari kehidupan saya. Cuma itu."

Ruang mobil itu mendadak dihantam keheningan yang mencekam.

Chester menarik tubuhnya kembali ke posisi semula dengan gerakan kasar, melepas sabuk pengamannya, lalu mendorong pintu SUV dan melangkah keluar menuju mesin pengisi bahan bakar tanpa menoleh sedikit pun ke arah Ayyana.

1
YuWie
memang begitu rumit ya kehidupan militer dikalangan para jendral..
IceQueen
seruuu
Mei TResna Rahmatika
kok di ulang thor bab nya
Muse_Cha: oiya ya. maaf ya aku jadwalin 2x brati 😭🙏 makasih ya kak udah remind
total 1 replies
YuWie
lhaaa begitu ternyata mbak kendall
IceQueen
mulai muncul nih gangguan2 dedemit/Smug/
karina
guaaaa suka bangetttt cerita nyaa aaaaa baperr bangett 🤣
Muse_Cha: makasihhh ya kak 😍😭
total 1 replies
IceQueen
mulai muncul serangan fajar
Muse_Cha: serangan ayya ini kak 🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
porak poranda sudah hati Chester 🤣
Muse_Cha: kalah bom molotov ya😭
total 1 replies
IceQueen
selalu ada aja gebrakan dari ayyana🤣
Muse_Cha: ini dia si kancilll🤭
total 1 replies
YuWie
wah wahhh.... masih kita tunggu action mu yg lebih berani kapt..
Muse_Cha: jabatan doang kapten ya, ama istri sendiri cemen🤭
total 1 replies
YuWie
gagal kapt..hukumanmu ke ayyana
Muse_Cha: kurang beruntung, silahkan coba lagi besok😄
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wkwkw Chester 🤣bikin Ayana hamil Chester biar kalo si pecundang kembali ga bisa ngrebut ayana🤭
Muse_Cha: pelaaaaaaan pelaaaan pak sopiiiiir🤣🤭
total 1 replies
YuWie
walahh..kupikir akan terjadi hal yg iya2... btw rambutbayyana hitam atau coklat kak thor..
Muse_Cha: iya² nya delay ini😶‍🌫️cokelat kak. makasih yaa🙏
total 1 replies
YuWie
nah lho..
YuWie
sik, aku gak salah baca kan..perkawinan ayyana dan cester sdh berapa lama..kenapa ayy tanya ke jacob..kemana haikal menghilang 2th lalu?
YuWie
dasar kanebo..dikasih sinyal2 gak paham..memang harus dijelaskan secara gamblany ayy..biar mudeng tuj si kapten
YuWie
semangat kak..aku aja baru nemu cerita cester dan ayyana kemaren..
YuWie
maniss dikit.. terus ayy..buat suamimu makin salting dan akhirnya bucin akut
YuWie
goda goda aja terus itu suami mu ayy...
YuWie
kapan manis2 nya tho kapten...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!