Setelah Andra menikah lagi, Armila berubah. Ia menjadikan suaminya ini ada, tapi tiada. Sapaan, rayuan dan keberadaanku serupa angin lalu.
Diamnya armila membuat Andra stres.
Pernikahannya dengan resti pun menjadi tidak harmonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TINGKAH RESTI
RESTI
Sialan! Mas Andra ninggalin aku demi Armila! Kurang ajar nenek sihir itu!
Kenapa, kenapa Armila selalu menang?
Dari obat pencahar itu saja dia lolos.
Untunglah aku masih bisa merayu Mas Andra agar tidak menjatuhkan hukuman berat. Kalau ingat bagaimana aku berakting merasa bersalah dan menyesal jadi ingin tertawa. Ekspresi dibuat sesedih mungkin agar terlihat nyata penyesalannya.
Mas Andra hanya mendiamkanku dua hari saja. Setelahnya ngajak bobo bareng lagi.
Laki-laki memang begitu. Marah, sih marah, tapi melihat istri selalu tampil vulgar, runtuh juga gengsinya.
Aku sangat paham kelemahan Mas Andra. Pria itu tak tahan dengan permainan malam. Karena itu mudah sekali menaklukkan ketika hal tersebut diumpankan.
Tapi malam ini kejadian lagi, baru saja hubunganku dengan mas Andra membaik Armila mengacaukannya. Ia. berhasil membuat pria itu meninggalkanku di pesta sendirian.
Aku sangat murka pada Armila yang selalu menganggu keromantisan kami. Pikirnya, dia itu paling cantik apa di dunia ini? Terus Mas Andra tergila-gila padanya gitu? Kalau memang dirinya berharga, ngapain juga suaminya berpaling padaku.
Aku harus menemukan cara agar mas Andra benci pada Armila selamanya. Bahkan, lebih baik mereka bercerai dan wanita itu dibuang ke jalanan.
*
"Beneran gak, nih dukunnya bisa bikin Mas Andra lepas dari Armila? Awas aja kalau gagal. Bukan cuma dipecat, kamu juga harus menanggung kerugiannya!"
Aku ingin memastikan bahwa dukun yang direkomendasikan bi Mimin bukan kaleng kalengan. Untuk meyakinkanku, dia terus mengatakan bahwa sudah banyak yang berhasil memisahkan suami istri kata temannya.
Bahkan, ia menyampaikan pengalaman majikan temannya dulu yang ingin merebut suami dari tangan pelakor. Hanya satu kali datang ke dukun tersebut, suami majikan langsung kembali lagi dan pelakor itu ditendang.
Sebenarnya aku kesal ketika dia membicarakan soal pelakor. Aku merasa tersinggung sebab orang-orang mencap kami seperti itu. Dan rajukan, kukeluarkan juga sejumlah uang.
"Nih, 15 rebu, beli lipen orange sono biar bibirmu makin monyong!"
"Ibu emang kece badai. Makin love, deh!"
Kalau ada maunya aja muji-muji setinggi langit. Biasanya juga dia sibuk gosip sana-sini. Untunglah bisa diajak kerjasama jadi aku masih mau memeliharanya. Kalau tidak sudah kulempar ke jalanan.
"Cepetan, woy dandannya. Kalau udah dari sono jelek gak akan berubah mau dandan segimana juga!" teriakku di depan kamarnya.
"Sabar ngapa, Bu. Pan dukun itu duda siapa tahu saya bisa jadi bakal calon bini!"
Ya, ampun. Kenapakah aku punya pembokat seganjen ini. Waktu muda terus-menerus dituduh sebagai penghancur rumah tangga orang.
Padahal, hancurnya sebuah rumah tangga bukan karena ada orang ketiga.
Kalau laki-lakinya tahan banting juga tidak akan tuh tergoda. Kenapa juga harus pelakor yang disalahkan, laki-lakinya tidak. Kalau tidak sama-sama digulung napsu, ya takkan terjadi perselingkuhan itu.
"Okelah, saya mau ke sana sekarang. Cepetan siap-siap!"
"Bu, gak ada bonus gitu?"
"Bonus endasmu. Hasilnya aja belum ada, sudah ngomong bonus. Buktikan dulu baru minta duit!"
"Hehehe, iya, Bu. Tapi, selembar dulu aja, Bu, yang merah. Saya mau beli lipen, nih!"
Ngeselin banget punya pembantu hobi rajukan, kukeluarkan juga sejumlah uang.
"Nih, 15 rebu, beli lipen orange sono biar bibirmu makin monyong!"
"Ibu emang kece badai. Makin love, deh!"
Kalau ada maunya aja muji-muji setinggi langit. Biasanya juga dia sibuk gosip sana-sini. Untunglah bisa diajak kerjasama jadi aku masih mau memeliharanya. Kalau tidak sudah kulempar ke jalanan.
"Cepetan, woy dandannya. Kalau udah dari sono jelek gak akan berubah mau dandan segimana juga!" teriakku di depan kamarnya.
"Sabar ngapa, Bu. Pan dukun itu duda siapa tahu saya bisa jadi bakal calon bini!"
Ya, ampun. Kenapakah aku punya pembokat seganjen ini. Waktu muda dia juga pelakor sepertinya. Pantas kelakuan nggak jauh beda sama aku. 2
Setelah menghabiskan kesabaran selama satu jam, barulah Bu Mimin siap dengan dandanannya. Lipstik merah cabe, eye shadow hijau dipadu orange membuatku sempat bergidik. Tadinya mau teriak karena disangka itu demit cewek.
"Kenapa, Bu, terpesona, ya sama kecantikan saya? Sebenarnya saya masih bisa masuk kriteria jadi madu ibu. Tapi, takut ibu sedih kalah saing sama saya!"
Aku getok bahu pembantu yang punya kepedean tingkat tinggi itu. Ia malah terbahak-bahak. Untung bi Mimin tadi gak makan pete. Bisa pingsan aku nyium bau mulutnya.
Untuk sampai ke rumah dukun itu, kami harus menempuh perjalanan selama dua jam. Tak masalah asalkan tujuanku menyingkirkan Armila tercapai.
Aku tak sabar menjadi istri satu-satunya mas Andra dan menguasai seluruh hartanya. Aku ingin menegakkan kepala di hadapan orang-orang yang dulu menghina karena kemiskinan. Jadi istri kedua orang yang sukses adalah jalan instannya.
But, aku gak puas jadi nomor dua. Malah ingin jadi satu satunya. Dengan begitu tak harus mendengar nyinyiran orang terkait statusku.
Kami tiba di sebuah rumah yang menurutku tak layak disebut hunian manusia. Temboknya sudah retak sana sini. Pintu kayu sudah terkelupas hampir seluruhnya
Ketika kami masuk ke dalam, keadaannya lebih parah lagi. Lanyai hanya disemen kasar dengan onggokan sampah di sana-sini. Orang yang dipanggil dukun oleh bi Mimin pun, tampilannya sepadan dengan rumah yang dihuni.
Laki-laki yang usianya mungkin tak jauh berbeda dengan Bu Mimin, menyambut kami dengan seringai menakutkan. Karena begitu lebar mulut terbuka, barisan gigi kuningnya pun terlihat. Rasanya aku ingin lari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perut saat melihatnya..
Kalau tak ingat ini demi masa depan, aku pasti sudah kabur dari sini. Aku hanya perlu bersabar sedikit lagi demi tercapainya sebuah cita-cita.
Aku duduk di atas tikar yang sudah bolong sana-sini. Ada semacam wadah untuk dupa yang mengeluarkan asap berbau menyan. Suasana mistis makin kentara di sini.
"Saya sudah bisa menerawang maksud Bu Resti datang ke sini?"