Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Diam-diam Curang
Waktu terasa berjalan lambat hingga bel pulang sekolah akhirnya berbunyi nyaring, mengakhiri penderitaan di jam pelajaran terakhir. Para murid langsung berhamburan berlarian di koridor, tak sabar untuk segera pulang ke rumah masing-masing.
Di tengah keramaian itu, Danu, Rio, dan Zahra berjalan beriringan menyusuri lorong. Mereka sempat membahas semangat menggebu untuk latihan lagu Sayap Merah di Antara Awan. Namun, karena Kak Rizki hari ini sedang sibuk mengurus panti asuhan, mereka sepakat untuk menunda latihan. Namanya juga skuad solid, kalau satu tidak bisa ikut, ya terpaksa semuanya ikut menunggu sampai formasi lengkap.
Sesampainya di gerbang depan, ketiga sahabat itu pun melambaikan tangan, berpisah ke arah persimpangan yang berbeda.
Setibanya di depan kamar kosnya yang sederhana, Danu melepas sepatunya dan meletakkannya rapi di rak. Begitu pintu terbuka, ia langsung melangkah masuk dan menghempaskan tubuh lelahnya ke atas sofa. Meski busanya sudah agak kempes dan usang, sofa itu adalah harta karun paling berharga bagi Danu untuk merebahkan diri.
"Haa... enak banget akhirnya bisa istirahat," gumam Danu sambil memejamkan mata menikmati keempukan sofanya.
Matanya kembali terbuka menatap langit-langit kamar. "Enaknya ngapain, ya?"
Sebuah ide terlintas di kepalanya. "Oh iya, aku cek HP dulu, ah. Siapa tahu udah dapat penghasilan dari hasil penulisan ceritaku."
Danu merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel, lalu mengklik aplikasi platform novel tempatnya biasa berkarya. Begitu layar utama memuat, matanya langsung terbelalak.
Ikon lonceng di pojok kanan atas menunjukkan angka merah yang sangat diidamkan oleh semua penulis: 99+ Notifikasi!
Dengan jantung berdebar, Danu membuka tab pemberitahuan. Ia membaca komentar teratas dan terkejut sekaligus terharu. Ternyata ada pembaca setia yang mengaku kangen berat karena Danu belum membuat karya baru, mengingat selama ini ia hanya memublikasikan satu cerita saja.
"Wah... nggak kusangka ternyata ada yang beneran suka dan nungguin karyaku," gumam Danu dengan senyum yang terus mengembang. Semangatnya mendadak terbakar. "Kalau gitu, aku harus bikin cerita baru! Tapi... tentang apa, ya?"
"Hmm..." Danu membiarkan imajinasinya melayang bebas, mencari premis cerita yang seru dan bisa ia kuasai. Ia membayangkan berbagai skenario di kepalanya, sampai akhirnya sebuah pencerahan datang.
"Aha! Aku tahu!" cetusnya gembira.
Ia buru-buru membuka aplikasi catatan di ponselnya. "Gimana kalau judulnya Kembali ke Jalan yang Benar? Wah, keren tuh kedengarannya!"
Danu langsung mengetikkan judul dan sinopsis singkatnya. Setelah itu, jari-jemarinya mulai menari lincah di atas layar keyboard virtual, memanjakan imajinasinya dengan mengetik bagian Prolog, berlanjut terus hingga menyelesaikan Bab 1 tanpa henti.
Saking asyiknya menulis, Danu sampai tidak sadar peluh mulai bercucuran di pelipisnya. Layar ponselnya tampak begitu terang menyilaukan, kontras dengan kondisi kamar kosnya yang perlahan menjadi remang-remang.
Begitu ia menyelesaikan kalimat terakhir di Bab 1, Danu mendongak dan baru menyadari bahwa hari sudah beranjak gelap. Sudah saatnya ia mandi, menyalakan lampu kamar, dan bersiap menyambut azan Maghrib.
Di waktu yang bersamaan, dalam sebuah kamar mewah yang sengaja dibuat gelap gulita, Reno sedang merencanakan sesuatu secara diam-diam. Ia memanggil salah satu bawahannya mendekat dan mulai berbicara dengan nada pelan.
"Gimana? Udah selesai?" tanya Reno setengah berbisik.
"Sudah, Bos. Tapi kan... kalau ketahuan sama orang tua Bos, kita bisa habis!" jawab bawahan itu dengan suara gemetar khawatir.
Reno tersenyum licik. "Tenang saja... Kalau lu bisa lakuin rencananya sampai beres, gue bayar lebih deh."
"Waahh, terima kasih, Bos!" Bawahan itu mendadak semringah, langsung menyalami tangan Reno dan mengayunkannya cepat ke atas dan ke bawah saking semangatnya.
Cetek!
Tiba-tiba lampu kamar menyala terang benderang. Ibu Reno masuk tanpa mengetuk pintu, membuat dua orang yang sedang berkonspirasi itu tersentak kaget.
"Nak... kenapa tadi lampunya dimatiin?" tanya ibunya heran.
"Haa... nggak apa-apa kok, Bu. Aku cuma lagi... main rahasia-rahasiaan sama bawahan tadi," karang Reno dengan senyum kaku.
Ibunya mengangguk pelan, meski raut wajahnya masih sedikit curiga. "Ouuhh, kalau gitu jangan malam-malam mainnya. Dan terus, ingat ya, itu bawahan Bapakmu, jadi jangan diapa-apain."
"Ahaha, iya Bu, tenang saja!" Reno memasang senyum terpaksa yang paling lebar, meski keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Begitu ibunya berbalik dan meninggalkan ruangan, Reno buru-buru menutup pintu dan menguncinya. Ia menghela napas lega yang panjang sembari membiarkan tubuhnya merosot ke bawah, bersandar pada daun pintu.
"Haa... hampir saja ketahuan. Enak saja nggak boleh diapa-apain, kan ini juga hakku!" gerutunya kesal, mencoba mengembalikan gengsinya yang sempat runtuh.
Namun, tak lama kemudian, bahunya perlahan menurun. Tatapannya berubah kosong menatap lantai marmer kamarnya. "Aku nggak sedih... aku nggak kesepian... kalian saja yang terlalu sok tahu!" gumamnya entah pada siapa, menyangkal perasaan hampa yang tiba-tiba menyergap dada.
Reno mengusap wajahnya dengan kasar. "Hmm... kok jadi aneh gini mood-nya. Mending gue ke kolam renang aja, ah."
Reno bangkit dari lantai, mencari handuk, dan mengganti celananya menjadi kolor santai. Sesampainya di area kolam renang indoor rumahnya yang luas dan sepi, ia tak merasa antusias sama sekali. Dengan gerakan malas, ia menyeburkan dirinya ke pinggiran kolam.
Byurr...
Air dingin memeluk tubuhnya. Reno menyandarkan lengannya di tepi kolam, menatap pantulan lampu yang menari di permukaan air.
"Haa..." Reno menghela napas berat. "Semenjak ortuku jadi orang kaya, aku merasa ada yang kurang. Mungkin karena mereka jadi sombong? Atau mereka yang berubah arogan?"
Reno tertawa sumbang, menertawakan kebodohannya sendiri. "Hahaha... jadi aneh rasanya. Di sekolah kelakuan gue kayak preman begitu padahal cuma karena pengin dapat perhatian dari Ayah seorang."
Tawanya perlahan memudar, menyisakan raut wajah seorang anak laki-laki yang kehilangan arah.
"Tapi karena Ayah nggak pernah ada... aku jadi bosan di rumah segede ini tanpa kamu, Yah."
Bagian ini bener-bener menyentuh, Bos. Judul bab "Diam-diam Curang" sangat pas karena selain curang soal konser, Reno juga "curang" menyembunyikan perasaannya sendiri dari orang lain.
Esok harinya telah tiba. Matahari pagi menyapa hangat saat Danu bangun dari tidur lelapnya. Dengan semangat baru yang memenuhi dada, ia bersiap-siap dan melangkah keluar dari pintu kosnya. Langkah kakinya terasa begitu ringan menyusuri jalan. Setibanya di persimpangan biasa, dua sahabatnya sudah menunggu. Formasi tiga sekawan pun akhirnya lengkap!
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju sekolah, kembali asyik membahas aransemen lagu Sayap Merah di Antara Awan. Di tengah obrolan, Rio dengan rasa percaya diri selangit tiba-tiba mulai menyanyikan lirik bagiannya. Bukannya terdengar keren dan macho, suaranya malah melengking sumbang dan fals ke mana-mana. Danu dan Zahra sontak tertawa kecil, tak kuasa menahan geli mendengar konser dadakan yang menyiksa telinga itu.
"Makanya, dengerin nih cara nyanyinya yang bener," tegur Zahra di sela tawanya.
Gadis itu menarik napas pelan, lalu mulai menyenandungkan bait demi bait lagu tersebut. Saat suara lembut Zahra mengalun di udara, suasana di sekitar mereka mendadak terasa berbeda. Hembusan angin pagi seolah ikut terbuai, mengalir dan berputar lembut mengelilingi tubuh Zahra, menerbangkan helai-helai rambutnya dengan anggun.
Bagaikan keajaiban kecil di pagi hari, seekor kupu-kupu yang entah datang dari mana terbang menghampiri dan hinggap manis tepat di atas kepala Zahra. Danu dan Rio sampai tertegun, terhanyut oleh pesona lagu dan momen magis tersebut.
[Bersambung]