Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.
Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Akankah Alfa bisa menemukan Senja?
Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan dalam setiap langkah
Pernikahan kerap disebut sebagai puncak impian setiap manusia, sebuah momen sakral di mana dua jiwa memilih untuk saling memagut janji, dibingkai oleh warna favorit, dekorasi impian, dan gaun yang diidamkan sejak lama.
Namun bagi Senja Kala Anjasmara, pernikahan hanyalah satu lagi proyek bisnis besar yang dieksekusi oleh kedua orang tuanya.
Selama satu bulan penuh masa persiapan, Senja tidak pernah diperbolehkan ikut campur. Ia tak diberi ruang untuk sekadar memilih warna bunga dekorasi, menetapkan konsep pencahayaan, atau memilih desainer mana yang akan menjahit gaun pengantinnya.
Semua keputusan berada mutlak di tangan Prasetya Anjasmara dan Rahma. Warna pastel kesukaannya disingkirkan, digantikan oleh tema keemasan yang mencolok dan megah untuk memamerkan kekayaan. Gaun pilihan ibunya berbobot berat dengan payet kristal yang menusuk kulit, dibuat bukan untuk kenyamanan Senja, melainkan untuk memukau mata para kolega elite.
Senja tidak pernah diperkenankan mengekspresikan dirinya. Hidupnya dibentuk bagai sebuah program robot, hanya bisa menerima instruksi, menjalankan perintah, tanpa memiliki hak untuk bersuara apalagi berpendapat.
Kehidupannya diatur hingga detail terkecil, dan kini, pernikahan yang menentukan seluruh sisa usianya pun ditransaksikan tanpa menyisakan ruang bagi keinginannya sendiri.
Di dalam kamar suite hotel bintang lima tempatnya bersiap, Senja berdiri di depan cermin berukir perak. Di sekelilingnya, puluhan penata busana, penata rias, dan pengawal lalu lalang dengan terburu-buru.
Ruangan itu begitu bising dan penuh orang, namun Senja merasa terlempar ke dalam ruang hampa. Ia sering berdiri di tengah keramain yang bising, tetapi jiwanya selalu merasa benar-benar sendiri. Tak ada satu pun orang di ruangan itu yang peduli pada apa yang dirasakan hatinya.
"Nona, semuanya sudah siap!" Suara bernada datar itu memecah lamunan Senja.
Senja mengedipkan matanya perlahan. Dalam pecahan detik, otot-otot wajahnya bergerak secara mekanis. Sebuah senyuman santun dan sempurna terukir secara otomatis di bibirnya, sebuah refleks yang sudah terpatri sejak kecil setiap kali ia berhadapan dengan siapa pun yang berhubungan dengan keluarganya.
Wanita yang menyapanya adalah Meimei, asisten pribadinya. Dalam cerita banyak orang, asisten adalah sosok paling dekat dan tepercaya bagi seorang tuan.
Namun tidak bagi Senja. Meimei dipilih langsung oleh Prasetya. Artinya, Meimei adalah mata dan telinga Papanya. Senja sadar betul bahwa setiap gerak-gerik, desah napas, dan ucapannya akan dilaporkan tanpa celah. Karena itu, Senja selalu membangun benteng tinggi dan menjaga jarak yang aman darinya.
"Baiklah" Kata Senja singkat.
Ia berdiri tegap, merapikan kebayanya yang berwarna gading pekat dengan sulaman benang emas yang amat rumit. Kainnya terasa begitu erat membalut tubuhnya, seolah menjadi pengingat fisik akan sesaknya sangkar yang selama ini mengurungnya.
Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Alfa Argantara. Hari yang menentukan seluruh jalan hidupnya ke depan. Di balik keputusasaan karena tak memiliki hak atas acara pernikahannya sendiri, ada sepercik harapan yang membakar pelan di dadanya.
"Hari ini adalah hari kebebasanku."
Dituntun oleh Meimei di sisinya dan dikawal oleh dua pengawal bersetelan gelap di belakangnya, Senja mulai melangkah keluar dari kamar hotel. Lorong hotel berkarpet tebal itu terasa begitu panjang. Langkah kakinya yang beralaskan sepatu hak tinggi tak bersuara, tenggelam dalam keheningan batinnya.
Dalam setiap pijakan langkahnya menyusuri lorong sunyi itu, doa lirih berulang kali dipanjatkan oleh hati Senja yang dahaga akan kasih sayang. Ia berharap penuh bahwa Alfa adalah jawaban atas penderitaannya.
Ia berharap pria itu benar-benar bisa membawanya pergi jauh dari cengkeraman Prasetya dan Rahma, membantunya membangun sebuah rumah kecil yang hangat, rumah yang selama ini hanya ada dalam lamunan malamnya.
Pintu ganda berukuran raksasa menuju ballroom utama hotel perlahan terbuka lebar.
Seketika itu pula, gelombang cahaya dari ribuan lampu kristal dan kilatan kamera media menyambar penglihatan Senja. Ruangan raksasa itu telah disulap menjadi istana megah bernuansa keemasan dan putih ivory. Ribuan tamu undangan yang terdiri dari pejabat tinggi negara, pengusaha papan atas, hingga jajaran diplomatik memenuhi setiap sudut ruangan.
Musik instrumental nan anggun mengalun merdu, namun ketegangan dan keagungan acara itu langsung memusatkan perhatian semua orang ke arah pintu masuk.
Senja melangkah masuk dengan anggun. Punggungnya tegap lurus, dadanya dibusungkan secara terukur, dan pandangannya menatap lurus ke depan dengan senyum diplomatis yang memesona.
Di ujung karpet merah, berdiri di balik meja akad yang dihiasi hamparan bunga mawar putih segar, seorang pria sedang menunggunya.
Alfa Argantara.
Pria itu tampak sangat tampan dan gagah dalam balutan beskap pengantin berwarna gading pekat yang senada dengan kebaya Senja. Peci berhiaskan permata kecil terpasang rapi di kepalanya, mempertegas rahang tegas dan ketampanan wajahnya yang maskulin. Postur tubuhnya yang tinggi tegap membuat siapa pun terpesona saat memandangnya.
Bisik-bisik kagum langsung menjalar di antara para tamu undangan saat Senja berjalan mendekati Alfa.
"Lihatlah mereka... pasangan yang sangat sempurna."
"Putri keluarga Anjasmara dan putra mahkota Argantara. Seperti pangeran dan putri dari negeri dongeng."
Namun, di antara decak kagum itu, terselip pula bisikan-bisikan dingin dari sudut-sudut ruangan yang sempat tertangkap oleh pendengaran Senja.
"Pernikahan sempurna dari mananya? Ini sih murni transaksi bisnis. Kedua keluarga itu cuma ingin mengunci penguasaan aset dan makin memperkaya dinasti mereka."
"Benar. Anjasmara butuh dana Argantara, dan Argantara butuh pengaruh politik Anjasmara. Kasihan anak-anaknya, cuma dijadikan alat kekuasaan."
Senja mendengarnya, namun tak ada satu pun riak emosi yang tampak di wajah cantiknya. Ia sudah kebal. Biarlah dunia menganggapnya sebagai alat transaksi, selama pria yang berdiri di ujung karpet merah itu bisa membukakan pintu kebebasan untuknya.
Akad nikah rupanya telah dilangsungkan beberapa menit sebelum Senja dipanggil keluar kamar, sebuah prosesi yang sengaja diatur cepat oleh kedua keluarga demi efisiensi waktu. Kini, Senja berdiri tepat di samping Alfa yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Hadirin sekalian, kita memasuki prosesi penyerahan mas kawin dan tukar cincin" Suara pembawa acara bergema melalui pengeras suara.
Alfa mengambil cincin emas bermata berlian murni dari nampan beludru, lalu meraih jemari tangan kiri Senja. Sentuhan kulit mereka membuat dada Senja berdesir hebat.
Dengan perlahan dan hati-hati, Alfa menyematkan cincin itu di jari manis Senja. Senja melakukan hal yang sama, menyematkan cincin yang lebih besar ke jari manis Alfa dengan jemari yang berusaha keras untuk tidak gemetar.
"Selanjutnya, disilakan kepada Sang Istri untuk memohon berkah dengan mencium tangan Sang Suami."
Jantung Senja serasa berhenti berdetak sejenak.
Rasa gugup yang luar biasa mendadak menyerang pertahanan dinginnya. Selama dua puluh delapan tahun hidupnya, Senja dididik dengan sangat ketat dan terisolasi. Ia tidak pernah menjalin hubungan asmara, tak pernah berpacaran, dan ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia harus mencium tangan seorang lawan jenis secara intim di hadapan ribuan pasang mata.
Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, Senja meraih tangan kanan Alfa. Kulit tangan Alfa terasa hangat, kokoh, dan berotot. Senja membungkukkan tubuhnya pelan, lalu mendaratkan kening dan bibirnya di punggung tangan pria yang kini resmi menjadi suaminya.
Aroma wangi kayu cendana dan parfum maskulin yang khas dari tubuh Alfa menyeruak masuk ke indra penciumannya, mengirimkan sensasi hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Tepat saat Senja masih menundukkan kepalanya di atas punggung tangan Alfa, rasa terkejut kembali menghampiri jiwanya.
Tangan kiri Alfa menyentuh kepala Senja yang tersanggul rapi. Usapan lembut dan pelan diberikan Alfa di atas kepalanya, sebuah gestur perlindungan yang begitu menenangkan.
Di tengah riuh tepuk tangan tamu undangan dan kilatan kamera yang saling menyambar, Alfa membungkukkan sedikit tubuhnya ke arah telinga Senja.
"Senja... semoga kita bisa melewati ini bersama-sama" Bisik Alfa amat lirih. Suaranya berat, dalam, dan terasa begitu dekat di telinganya.
Senja perlahan mendongakkan kepalanya dari jemari Alfa. Pandangan matanya perlahan naik, menatap langsung ke dalam manik mata hitam milik Alfa yang berada sangat dekat darinya. Tangan Alfa masih bertengger dengan hangat di atas kepalanya.
Wajah tampan di hadapannya itu tidak memancarkan amarah, juga tidak menunjukkan rasa benci. Ada kelembutan di sana, namun ada pula sesuatu yang bersembunyi di balik matanya, sebuah riak emosi yang terasa rumit dan sulit diterjemahkan.
Sebuah senyum tipis yang amat lembut akhirnya terukir di wajah Senja. Hatinya bergetar hangat. Kendati ada nada ambigu yang tersirat dari kata 'melewati ini bersama-sama' yang diucapkan Alfa, Senja memilih untuk meyakini harapan baiknya.
"Dia mau melewatinya bersamaku?" Batin Senja penuh rasa syukur.
Senja percaya bahwa doa-doanya di lorong hotel tadi mulai dikabulkan. Ia meyakini bahwa Alfa adalah takdir yang akan menggenggam tangannya, menuntunnya keluar dari kegelapan masa lalu, dan membawanya menuju rumah hangat yang selalu ia impikan.
Senja tidak pernah tahu, bahwa ucapan Alfa malam itu memiliki arti yang jauh berbeda dari apa yang ada di dalam fantasinya.
Kalo sudah tak ada baru terasa
Kehadiranmu sungguh berharga
Sungguh berat hidupku tanpa dia
🎶 🎶 💃 💃