NovelToon NovelToon
Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.

Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22. Perang di Puncak Es Abadi

Salju di Puncak Es Abadi tidak pernah mencair, bahkan di musim panas, karena gunung itu seperti tulang punggung dunia yang menahan langit agar tidak runtuh, dan di puncaknya ada sebuah kuil tua yang sudah retak di mana-mana, tempat segel yang menahan "Jenderal Es" dan pasukannya dulu dikunci oleh para pertapa tiga ratus tahun lalu, segel yang sekarang retak karena seseorang di luar sana, entah Sekte Iblis atau orang serakah, telah mencoba membuka kekuatan di dalamnya tanpa tahu bahwa apa yang mereka lepaskan bukanlah harta, melainkan bencana yang bisa menelan seluruh Sichuan jika tidak dihentikan sebelum bulan purnama berikutnya, dan Tang Hyun tahu itu ketika dia melihat langit di utara berubah menjadi merah kehitaman setiap malam dan ketika para pengintai kembali dengan wajah pucat membawa laporan bahwa desa-desa di kaki gunung sudah menjadi kuburan es, dengan mayat-mayat yang membeku dalam posisi berlari, seolah mereka dibekukan saat masih hidup.

Tang Hyun tiba di kaki Puncak Es Abadi bersama lima ratus prajurit Klan Tang, bukan dengan genderang dan bendera, melainkan dalam diam, karena suara di gunung ini akan memantul dan membangunkan hal-hal yang lebih buruk daripada musuh yang bisa dilihat, dan begitu mereka mendirikan perkemahan di lembah sempit, angin langsung berhenti bertiup, seolah gunung itu sedang menahan napas dan menunggu mereka untuk membuat langkah pertama.

"Kekuatan musuh?" tanya Tang Hyun kepada komandan pengintai.

"Tiga ribu," jawab pengintai itu dengan suara bergetar, "manusia bayaran dari sisa Sekte Iblis, ditambah... sesuatu yang lain. Makhluk setinggi dua tombak, kulitnya es, matanya merah, dan mereka tidak mati ketika ditusuk."

"Jenderal Es dan anak buahnya," gumam Tang Hyun, "maka kita tidak bisa bertarung seperti biasa."

Tang So-yeon berdiri di sampingnya, "Rencanamu?"

"Kita tidak menyerang mereka," jawab Tang Hyun, "kita menyerang gunungnya. Kita hancurkan segel yang retak itu sebelum mereka bisa menggunakannya untuk memanggil lebih banyak monster."

Rencana itu gila, karena naik ke puncak berarti harus melewati lembah yang dijaga oleh ribuan musuh, berarti harus melawan dingin yang bisa membekukan darah dalam satu jam, dan berarti harus bertarung dengan makhluk yang tidak takut mati, tetapi Tang Hyun tidak punya pilihan lain, karena jika dia menunggu, maka dalam sebulan Sichuan akan menjadi lautan es.

Malam itu dia menulis surat terakhir untuk Putri Mahkota, surat yang singkat dan tidak punya waktu untuk puitis, "Xinyue, aku akan ke puncak. Jika aku tidak kembali, jaga Klan. Dan jaga janji kita." Dia menyegelnya dan memberikannya kepada burung tercepat, lalu dia membakar kantong kue beras ketan yang sudah keras, bukan karena dia tidak menghargainya, melainkan karena dia tidak ingin mati dengan sesuatu yang manis di dekatnya, dia ingin mati dengan racun di tangannya jika memang harus mati.

Fajar berikutnya, mereka bergerak, lima ratus orang dibagi menjadi tiga kelompok, kelompok pertama dipimpin Tang So-yeon untuk mengalihkan perhatian pasukan musuh di lembah dengan menembakkan panah beracun dan membuat ledakan kabut, kelompok kedua dipimpin oleh dua Tetua untuk menyerang dari sisi barat dan membuat musuh percaya bahwa serangan utama datang dari sana, dan kelompok ketiga, hanya lima puluh orang termasuk Tang Hyun, akan menyusup melalui celah sempit di sisi timur, celah yang hanya cukup untuk satu orang dan yang menurut peta lama adalah jalan yang digunakan para pertapa untuk naik ke kuil.

Perjalanan ke atas gunung adalah neraka, karena setiap langkah membuat paru-paru terasa seperti ditusuk jarum es, karena setiap hembusan napas berubah menjadi kristal, dan karena setiap sepuluh meter mereka diserang oleh patroli monster es yang bergerak tanpa suara dan yang hanya bisa dibunuh dengan membakar inti di dada mereka menggunakan racun api yang Tang Hyun buat khusus untuk kesempatan ini.

Di tengah jalan, salah satu anak buahnya terpeleset dan jatuh ke jurang, dan tidak ada yang berteriak, tidak ada yang menangis, karena di tempat ini suara adalah undangan untuk mati, sehingga mereka hanya melanjutkan jalan sambil menggenggam tali lebih erat, dan Tang Hyun adalah orang pertama yang mencapai pintu kuil, pintu batu besar yang tertutup salju dan yang di atasnya ada ukiran naga yang matanya sudah hilang.

"Di dalam," kata Tang Hyun pelan, "segelnya ada di dalam."

Mereka mendorong pintu, dan di dalamnya bukan aula, melainkan ruangan besar berbentuk lingkaran dengan lantai retak dan di tengahnya ada pilar es setinggi lima orang, dan di dalam pilar itu ada sosok "Jenderal Es", tidak tidur, tidak mati, melainkan menatap mereka dengan mata merah yang menyala seperti bara.

"Manusia," suara Jenderal Es menggema tanpa mulutnya bergerak, "kalian datang untuk mati."

"Kami datang untuk menguburmu kembali," jawab Tang Hyun sambil mengeluarkan sepuluh botol kecil dari dalam jubahnya, "dan kali ini kami tidak akan gagal."

Pertarungan dimulai tanpa peringatan, karena begitu kata terakhir keluar dari mulut Tang Hyun, lantai bergetar dan dari dalam es keluar dua puluh prajurit es yang menyerang seperti badai, dan Tang Hyun serta empat puluh sembilan orangnya langsung bertarung, bukan dengan pedang, karena pedang akan patah di suhu ini, melainkan dengan racun, dengan jarum, dan dengan bom kecil yang meledak dan menciptakan panas sesaat untuk melelehkan tubuh musuh.

Tang Hyun bertarung di garis depan, dia tidak membuang tenaga untuk membunuh prajurit biasa, dia langsung berlari ke pilar, karena dia tahu bahwa selama Jenderal Es ada di dalam pilar, maka monster akan terus muncul tanpa henti, dan dia mulai menuangkan racunnya ke dasar pilar, racun yang dia racik selama sebulan, campuran dari "Senandung Kematian", darahnya sendiri, dan bubuk dari bunga plum yang dia bawa dari Sichuan, racun yang dirancang untuk merusak struktur es dari dalam.

"Berhenti," raung Jenderal Es, dan pilar itu retak, dan dia melangkah keluar, tubuhnya sebesar rumah kecil, dan satu hantaman tangannya membuat tiga prajurit Klan Tang terpental dan mati seketika.

Tang Hyun tidak mundur, dia melemparkan dirinya ke samping, menghindari hantaman itu, dan menusukkan jarum ke persendian lutut Jenderal Es, tempat es paling tipis, dan jarum itu langsung meleleh dan menciptakan lubang kecil yang mengeluarkan uap panas.

"Kau menyakitiku," kata Jenderal Es, "manusia pertama dalam tiga ratus tahun yang bisa menyakitiku."

"Bagus," jawab Tang Hyun sambil terbatuk karena paru-parunya hampir beku, "maka rasakan ini juga."

Dia melemparkan dirinya ke depan dan menempelkan telapak tangannya ke dada Jenderal Es, lalu dia memecahkan botol terakhir di tangannya, botol yang berisi racun yang dia namai "Musim Semi", racun yang dibuat untuk satu tujuan, menghancurkan es abadi dengan memaksa musim berganti di satu titik.

Racun itu masuk, dan tubuh Jenderal Es mulai bergetar, retakan muncul di seluruh tubuhnya, dan dia meraung begitu keras sehingga langit di luar kuil terbelah dan salju mulai turun lebih deras, bukan salju biasa, melainkan salju yang bercampur darah.

"Tidak... segel... akan... hancur..." kata Jenderal Es sebelum tubuhnya meledak menjadi ribuan pecahan es yang mencair sebelum menyentuh tanah.

Dengan kematian Jenderal Es, semua prajurit es di luar juga runtuh, dan di lembah, pasukan manusia bayaran Sekte Iblis yang melihat pemimpin mereka mati langsung panik dan melarikan diri, meninggalkan senjata dan mayat di belakang.

Tang Hyun berlutut, tubuhnya penuh luka, kulitnya biru karena radang dingin, dan darah keluar dari mulutnya, tetapi dia masih hidup, dan dia masih tersenyum, karena dia tahu bahwa dia menang.

Tang So-yeon adalah orang pertama yang masuk ke kuil, dia menggendong Tang Hyun dan berteriak, "Tabib! panggilkan Tabib sekarang juga!"

Perjalanan turun gunung memakan waktu tiga hari, dan selama tiga hari itu Tang Hyun berada di antara hidup dan mati, demam, menggigil, dan bermimpi tentang Putri Mahkota yang berdiri di bawah pohon bunga plum dan memanggil namanya, dan setiap kali dia hampir menyerah, dia mengingat janji itu dan memaksa dirinya untuk tetap bernapas.

Ketika mereka akhirnya tiba di perkemahan, tabib terbaik Klan Tang bekerja selama dua hari dua malam untuk menyelamatkannya, dan di hari ketiga, Tang Hyun membuka matanya.

"Menang?" tanya dia hal pertama.

"Menang," jawab Tang So-yeon sambil menangis, "kau menang, idiot."

Berita kemenangan itu sampai ke ibu kota dalam waktu lima hari, dan Kaisar secara pribadi mengirim surat pujian, dan Putri Mahkota mengirim utusan dengan seratus kotak obat, seribu meter kain, dan satu surat yang hanya berisi satu kalimat, "Aku menunggu di bawah pohon bunga plum."

Tang Hyun membaca surat itu dan menangis untuk pertama kalinya dalam hidupnya, bukan karena sakit, melainkan karena lega, karena dia masih hidup, dan karena ada seseorang yang menunggunya.

Sebulan kemudian, ketika salju mulai mencair dan jalanan kembali bisa dilalui, Tang Hyun kembali ke Chang'an, bukan sebagai prajurit yang pulang dari perang, melainkan sebagai pahlawan, dan di gerbang kota, rakyat melemparkan bunga, bukan racun, dan anak-anak berteriak "Wakil Kepala Tang!" dengan mata berbinar.

Di istana, jamuan besar diadakan untuk merayakan kemenangan, dan di jamuan itu, Putri Mahkota Li Xinyue secara resmi mengumumkan bahwa Klan Tang akan diberi gelar "Pelindung Perbatasan Utara", gelar yang membuat Klan Tang menjadi bagian resmi dari pertahanan kekaisaran dan yang membuat semua musuh politik mereka terdiam karena tidak ada yang bisa menyerang orang yang baru saja menyelamatkan setengah negeri.

Setelah jamuan, ketika semua orang sudah pergi, Putri Mahkota dan Tang Hyun bertemu lagi di Paviliun Bunga Plum, tempat yang sama seperti sebelumnya, tetapi kali ini tidak ada ketakutan, tidak ada pengawal yang mengintip, hanya mereka berdua dan angin yang membawa kelopak bunga.

"Kau menepati janji," kata Putri sambil menuangkan teh.

"Kau juga," jawab Tang Hyun, "kau menunggu."

Putri Mahkota tersenyum, "Aku bilang aku akan menunggu. Dan aku tidak pernah berbohong."

Mereka duduk diam, minum teh, dan untuk pertama kalinya, Tang Hyun tidak merasa perlu waspada, tidak merasa perlu memikirkan racun atau musuh, dia hanya merasa tenang, seperti setelah badai panjang akhirnya ada matahari.

"Kau terluka lagi," kata Putri sambil melihat bekas luka di tangan Tang Hyun.

"Ini bukan apa-apa," jawab Tang Hyun, "dibandingkan dengan luka yang tidak terlihat."

Putri Mahkota mengulurkan tangannya dan dengan lembut menyentuh bekas luka itu, "Maka biarkan aku yang menyembuhkannya."

Tang Hyun tidak menarik tangannya, dia hanya menatap Putri, dan di mata Putri dia melihat sesuatu yang tidak pernah dia lihat pada siapa pun, rumah, tempat di mana dia bisa berhenti berlari.

"Xinyue," kata Tang Hyun pelan.

"Ya?"

"Jika perang ini selesai, jika semua musuh sudah mati, apakah kau masih ingin minum teh denganku?"

Putri Mahkota tertawa kecil, "Aku tidak hanya ingin minum teh. Aku ingin hidup. Hidup tanpa topeng, tanpa politik, hanya aku dan kau."

Tang Hyun menggenggam tangan Putri, "Maka kita akan membuat dunia itu."

Janji itu diucapkan di bawah pohon bunga plum, dan kelopaknya jatuh di atas tangan mereka yang saling menggenggam, seolah langit sendiri memberkati.

Malam itu, Tang Hyun kembali ke penginapan dengan hati yang lebih ringan daripada sebelumnya, dan di dalam tidurnya dia tidak bermimpi tentang darah, dia bermimpi tentang sebuah rumah kecil di pegunungan, dengan kebun bunga plum dan dua cangkir teh di meja.

Namun di tempat lain, di ruang bawah tanah gelap di ibu kota, sisa-sisa konspirator yang selamat dari eksekusi Menteri Zhao sedang berkumpul, dan pemimpin mereka, seorang pria bertopeng, berkata, "Tang Hyun terlalu kuat. Putri terlalu menyukainya. Jika kita tidak memisahkan mereka sekarang, maka kita tidak akan pernah punya kesempatan lagi."

"Bagaimana?" tanya salah satu dari mereka.

"Kita gunakan sesuatu yang bahkan Putri tidak bisa lindungi," jawab pria bertopeng, "kita gunakan rahasia masa lalu Klan Tang. Rahasia yang bahkan Tang Hyun tidak tahu."

Di luar, bulan purnama bersinar terang di atas Puncak Es Abadi yang sekarang sudah tenang, dan angin membawa bisikan bahwa perang besar berikutnya bukan akan terjadi di medan perang, melainkan di dalam istana, di dalam hati, dan di dalam rahasia yang terkubur selama seratus tahun.

Tang Hyun tidur nyenyak malam itu, karena dia tidak tahu, tetapi di dalam mimpinya, Putri Mahkota juga tersenyum, karena untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, mereka berdua memiliki sesuatu yang sama untuk diperjuangkan, bukan kekuasaan, bukan balas dendam, melainkan masa depan bersama.

Dan di bawah pohon bunga plum, janji itu masih menunggu untuk ditepati.

1
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
Mengesankan... 🤗
Oppojaya
👍👍👍👍
Arni Arlinawati Pratiwi💃
punya banyak dendam thor.. mc nya di bikin kesiksa dulu, lanjutan nya balas dendam.. kebiasaan author urban nih, sekali kali ada cinta cinta an nya thor kasian mc nya taku metong gak ngerasaain mencintai seseorang.. kan sian. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
baru aja masuk thor.. tiba tiba nyesek, /Facepalm/
Chandra Arbara
seorang pemuda yang terlehir kembali, untuk menjadi seseorang yang layak berdiri didunia murim
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!