Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Kevin Wijaya tidak pernah melupakan momen ketika dia dipermalukan di depan seluruh keluarga. Hari itu, ketika rekaman kamera keamanan menunjukkan dirinya mencuri dokumen dari ruang kerja Adrian, harga dirinya hancur berkeping-keping. Dia pulang ke rumah orang tuanya dengan kepala tertunduk dan menahan amarah yang membara. Victor dan Marissa berusaha menenangkannya, tetapi Kevin sudah terlalu sakit hati.
Beberapa bulan telah berlalu sejak kejadian itu. Kevin yang dulunya sering terlihat di acara keluarga, kini jarang muncul. Dia mengurung diri di kamarnya, menghabiskan waktu dengan merencanakan sesuatu yang akan memulihkan harga dirinya dan memberikan apa yang dia anggap sebagai haknya. Rumah besar Wijaya seharusnya menjadi miliknya. Perusahaan Wijaya Corporation seharusnya dipimpin olehnya. Adrian dan Adeline telah merebut semua yang seharusnya menjadi miliknya.
Suatu sore, Kevin muncul di rumah besar Wijaya tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dia datang dengan senyum ramah dan membawa sekotak kue mahal dari toko kue terkenal. Adrian yang saat itu sedang duduk di ruang tamu, mengangkat alisnya melihat kedatangan keponakannya.
"Kevin, ada perlu apa?" tanya Adrian dengan nada hati-hati.
Kevin tersenyum lebar. "Aku hanya ingin meminta maaf, Paman. Aku tahu aku sudah berbuat salah. Tapi aku sudah berubah. Aku ingin memperbaiki hubungan keluarga kita."
Adeline yang duduk di sudut ruangan, langsung menegang mendengar suara Kevin. Gadis kecil itu menatap sepupunya dengan tatapan waspada. Di dalam kepalanya, suara hati Kevin berbicara dengan sangat jelas.
Keluarga bodoh ini percaya pada senyum palsu. Mereka pikir aku benar-benar menyesal. Tunggu saja, aku akan mendapatkan semua yang menjadi hakku.
Adeline menggenggam erat boneka beruangnya. Dia ingin berteriak dan memperingatkan ayahnya, tetapi Clara telah mengajarinya untuk tidak selalu bereaksi impulsif. Dia harus menunggu saat yang tepat.
Kevin terus berbicara dengan ramah. Dia menceritakan tentang bagaimana dia telah merenungkan kesalahannya, bagaimana dia ingin menjadi orang yang lebih baik, dan bagaimana dia berharap bisa kembali menjadi bagian dari keluarga besar Wijaya. Adrian yang memang ingin menjaga keutuhan keluarga, mulai melunak mendengar kata-kata keponakannya.
"Kamu benar-benar berubah?" tanya Adrian pelan.
Kevin mengangguk dengan mantap. "Aku benar-benar berubah, Paman. Aku bahkan sudah membicarakan hal ini dengan psikolog. Aku ingin menjadi penerus keluarga yang baik suatu hari nanti."
Adrian tersenyum dan menepuk bahu Kevin. "Aku senang mendengarnya. Keluarga kita butuh persatuan, terutama di masa sulit seperti ini."
Adeline melihat bagaimana ayahnya mulai percaya pada Kevin. Gadis kecil itu merasakan dadanya sesak. Dia tahu bahwa Kevin berbohong. Dia tahu bahwa sepupunya menyimpan iri hati yang sudah lama dipendam. Tetapi dia juga tahu bahwa dia tidak bisa terus menerus menjadi orang yang memberitahu kebenaran setiap saat. Kadang, orang dewasa harus belajar sendiri.
Beberapa minggu berlalu dan Kevin semakin sering datang ke rumah besar Wijaya. Dia mulai berbicara dengan anggota keluarga lain, menyebarkan keraguan tentang kepemimpinan Adrian. Kepada William, dia mengatakan bahwa Adrian terlalu sibuk dengan perusahaan sehingga mengabaikan keluarga. Kepada Elena, dia mengatakan bahwa Adrian mungkin menyembunyikan sesuatu tentang kondisi keuangan perusahaan. Kepada Nathan, dia mengatakan bahwa Adeline terlalu dimanjakan dan mendapatkan terlalu banyak perhatian.
Nathan yang sudah waspada terhadap Kevin, segera menceritakan semua ini kepada adiknya. "Dia mencoba memecah belah keluarga kita," kata Nathan dengan marah. "Dia berbicara buruk tentang Ayah di belakang punggungnya."
Adeline mengangguk. "Aku tahu, Kak. Aku sudah mendengar suara hatinya. Dia sangat iri pada Ayah. Dia merasa bahwa Ayah tidak pantas menjadi pemimpin keluarga. Dia ingin mengambil alih semuanya."
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Nathan.
Adeline berpikir sejenak. "Kita harus memberitahu Ayah. Tapi tidak dengan cara langsung. Ayah baru saja mulai mempercayai Kevin lagi. Jika kita menuduhnya sekarang, Ayah mungkin tidak akan percaya."
Malam itu, ketika semua orang berkumpul di ruang keluarga, Adeline duduk di pangkuan ayahnya. Dia memeluk leher Adrian dan berbisik, "Ayah, Adeline sayang Ayah. Adeline tidak mau ada yang menyakiti Ayah."
Adrian tersenyum dan mengecup kening putrinya. "Tidak ada yang akan menyakiti Ayah, Sayang. Ayah baik-baik saja."
Adeline menggigit bibirnya. Dia tahu dia harus berhati-hati. "Ayah, Adeline mendengar sesuatu yang membuat Adeline sedih. Kevin tidak benar-benar berubah. Dia masih iri pada Ayah. Dia berbicara buruk tentang Ayah di belakang Ayah."
Adrian terkejut mendengar kata-kata putrinya. "Apa maksudmu, Sayang?"
"Dia bilang Ayah tidak pantas menjadi pemimpin keluarga," lanjut Adeline dengan suara pelan. "Dia bilang Ayah terlalu sibuk dan mengabaikan keluarga. Dia ingin mengambil alih perusahaan. Dia hanya berpura-pura baik agar Ayah percaya padanya."
Adrian terdiam. Dia menatap putrinya dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia tahu bahwa Adeline tidak pernah berbohong. Di sisi lain, dia baru saja mulai memikirkan untuk memberikan Kevin kesempatan di perusahaan.
"Ayah, percayalah padaku," kata Adeline dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak ingin Ayah terluka. Kevin jahat. Dia ingin menghancurkan kita."
Adrian memeluk putrinya erat. "Ayah percaya padamu, Sayang. Ayah akan berhati-hati terhadap Kevin. Ayah tidak akan membiarkan dia merusak keluarga kita."
Di sudut ruangan, Kevin yang baru saja masuk dan mendengar percakapan itu, mengepalkan tangannya. Matanya menyipit penuh amarah saat menatap Adeline. Gadis kecil itu telah menghancurkan rencananya sekali lagi. Tetapi Kevin tidak akan menyerah. Dia akan menemukan cara lain, cara yang lebih licik, untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Malam itu, ketika semua orang sudah tidur, Kevin duduk di mobilnya di depan rumah besar Wijaya. Dia menatap rumah itu dengan tatapan penuh kebencian. "Kalian akan menyesal," bisiknya. "Suatu hari nanti, rumah ini akan menjadi milikku. Dan kalian semua akan menderita seperti yang aku alami."
Di dalam kamarnya, Adeline terbangun dari tidurnya. Dia mendengar suara hati Kevin yang penuh amarah dan kebencian. Gadis kecil itu memeluk boneka beruangnya erat dan berbisik, "Aku tidak akan membiarkanmu, Kevin. Aku akan melindungi keluargaku. Apapun yang terjadi."