NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyelamatan di Kegelapan Malam

Dentuman bas musik EDM yang memekakkan telinga bergetar konstan di dada Valerie, menyatu dengan detak jantungnya yang kian hari kian tidak beraturan. Di bawah siraman lampu pendar warna-warni Club Noir yang berputar liar, duniakah seolah kehilangan porosnya. Kepala Valerie terasa berputar hebat, pengaruh alkohol berkadar tinggi melumpuhkan seluruh kendali logikanya. Dia menyandarkan keningnya di atas meja marmer bar counter yang dingin, membiarkan beberapa helai rambutnya yang berantakan menempel di pipinya yang basah oleh air mata.

"Valerie?"

Sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan teramat familier mendadak menembus bisingnya musik malam. Suara itu kaku, namun kali ini sarat akan riak kepanikan yang teramat sangat pekat.

Valerie mengernyitkan keningnya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang kian merosot drastis menuju kegelapan. Ketika dia mendongak dengan pandangan yang kabur, sosok pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam formal tanpa cela sudah berdiri tepat di samping kursinya. Dean. Mantan kekasihnya, sang robot es yang satu tahun lalu menendangnya dari ruang kerja CEO tanpa mau mendengar pembelaannya, kini berdiri di sana dengan tatapan mata elang yang memancarkan keterkejutan luar biasa sekaligus rasa perih yang mendalam.

Dean yang kebetulan sedang menghadiri pertemuan bisnis dengan beberapa kolega eksekutif di lantai lobi VIP atas, tidak pernah memprediksi logikanya akan dipaksa menghadapi pemandangan mengenaskan ini. Dari kejauhan tadi, matanya menangkap siluet seorang gadis bergaun kasual gelap yang terus menenggak gelas alkohol sendirian. Begitu dia memastikan bahwa gadis itu adalah Valerie—wanita yang selama satu tahun penuh ini selalu dia tangisi dalam penyesalan bisu yang terlambat—seluruh urusan bisnisnya mendadak menguap tanpa arti.

"Dean...?" bisik Valerie, suaranya parau dan rancu akibat mabuk berat. Sesaat kemudian, begitu logikanya menyadari siapa pria di depannya, binar matanya yang sayu langsung berubah drastis menjadi kilatan ketakutan dan kebencian yang mendalam. Valerie menyentak tubuhnya mundur, mencoba menjauh hingga kursi tingginya hampir terjatuh. "Jangan sentuh aku! Pergi!"

Dean mengulurkan kedua tangannya dengan gerakan yang sangat berhati-hati, mencoba menahan bahu Valerie agar tidak limbung ke lantai marmer. "Valerie, ini saya, Dean. Kamu mabuk berat. Kita pulang sekarang. Di mana tas dan ponselmu?"

"Aku bilang jangan sentuh aku, bajingan!" teriak Valerie histeris, menyentakkan tangan Dean dengan sisa-sisa tenaga fisiknya yang kian melemas. Air matanya kembali luruh membelah riasan wajahnya yang berantakan. Suaranya melengking di antara bisingnya club malam, menarik perhatian beberapa pengunjung di sekitar mereka. "Kamu jahat... Dean jahat... Carlo juga jahat... Semua laki-laki di duniakah ini penipu! Pergi dari hadapanku! Aku tidak butuh penghakiman logis dari monster kaku sepertimu!"

Mendengar nama Carlo disebut bersamaan dengan kata 'jahat' dan melihat kehancuran batin Valerie yang begitu hebat, Dean merasakan sebuah denyut perih yang luar biasa besar meremas dadanya hingga membuatnya sesak napas. Logika perfeksionisnya langsung menyambungkan titik-titik anomali: pria jangkung berjaket denim yang setahun lalu merebut senyuman Valerie di kampus, ternyata telah melakukan sesuatu yang kejam hingga menghancurkan duniakah manis Valerie sampai berkeping-keping malam ini. Rasa bersalah masa lalu dan naluri protektif yang selama ini dia kubur dalam-dalam kini meledak seketika, mengubah Dean menjadi sosok garda terdepan yang tidak akan membiarkan wanitanya hancur untuk kedua kalinya.

"Valerie, tenang... Saya di sini. Saya tidak akan menghakimi atau menyakitimu lagi," bisik Dean, suaranya melembut ke titik yang belum pernah Valerie dengar sebelumnya. Dia melepaskan jas hitam mahalnya, lalu menyampirkannya ke atas bahu Valerie yang bergetar hebat menahan dingin malam, mengabaikan penolakan fisik dari gadis itu.

"Valerie! Kak Dean!"

Sebuah teriakan panik dari arah pintu masuk club memutus ketegangan di antara mereka. Tiara berlari dengan napas terengah-engah membelah lautan manusia di lantai dansa. Wajah adik kandung Dean itu tampak sangat pucat, matanya sembap karena cemas setelah menerima panggilan telepon histeris dari Valerie beberapa puluh menit lalu.

Tiara tertegun sejenak saat melihat kakak kandungnya sudah berada di sana, mendekap tubuh Valerie yang mulai kehilangan kekuatan penuh untuk berdiri. Namun, menyadari situasi darurat di depan matanya, Tiara menekan seluruh egonya. Dia segera maju, merengkuh tubuh sahabatnya dari samping.

"Val... ini aku, Tiara. Aku sudah di sini. Kita pulang ke apartemenmu ya, Sayang..." tangis Tiara pecah melihat kondisi mengenaskan Valerie.

"Tiara... duniaku hancur lagi, Ra... Kak Carlo... Sarah hamil..." igau Valerie dengan suara yang kian melemah, sebelum akhirnya seluruh pasokan tenaganya habis dan matanya terpejam rapat. Tubuhnya ambruk sepenuhnya, pingsan di dalam dekapan pelukan Tiara dan Dean.

Dean dengan sigap langsung menyergap tubuh Valerie sebelum menyentuh lantai, mengangkat raga gadis itu ke dalam gendongan lengannya yang kokoh dengan gerakan yang teramat sangat lembut dan penuh kehati-hatian. Dia menatap Tiara dengan ekspresi kaku yang mengeras bagai batu karang. "Tiara, bawa tasnya. Kita tidak bisa membawa dia pulang ke apartemen studionya yang sepi dalam kondisi mental dan fisik seperti ini. Kita bawa Valerie pulang ke rumah utama keluarga kita. Biar Mama yang menjaganya malam ini."

Tiara mengangguk cepat tanpa bantahan, memungut ponsel Valerie yang tergeletak di bawah meja bar, lalu berjalan cepat mengekor di belakang langkah besar Dean yang sedang menggendong Valerie membelah kerumunan club menuju mobil sedan hitam yang sudah stanby di lobi depan.

Perjalanan malam membelah sunyinya jalanan ibu kota Jakarta terasa begitu menekan. Di kursi belakang mobil, Valerie berbaring dengan kepala yang berbantalkan paha Tiara, tubuhnya masih terbungkus rapat oleh jas hitam milik Dean. Sesekali, gadis itu masih meracau pelan dalam tidurnya, memanggil nama Carlo dan menangis tersedu-sedu menahan sisa rasa sakit hati yang teramat sangat pekat di dalam dadanya.

Dean fokus menyetir di balik kemudi, namun matanya berulang kali melirik ke arah kaca spion tengah, menatap wajah pucat Valerie dengan binar mata yang dipenuhi oleh penyesalan yang mendalam dan amarah yang berapi-api untuk pria bernama Carlo. Logika duniakorporatnya malam ini telah runtuh sepenuhnya; yang tersisa hanyalah jiwa seorang pria yang bersumpah dalam hati untuk melakukan apa pun demi merebut kembali hati wanitanya dan melindunginya dari badai apa pun di masa depan.

"Tiara," panggil Dean pelan, suaranya kaku memecah keheningan kabin mobil. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan Carlo dan wanita bernama Sarah itu?"

Tiara mengusap rambut Valerie dengan lembut, air matanya menetes pelan menatap wajah sahabatnya. "Kak Carlo dijebak oleh keluarganya sendiri dan keluarga Sarah sebulan lalu saat makan malam formal, Kak. Mereka mencampurkan zat penenang ke minumannya sampai dia kehilangan kesadaran bersama Sarah di kamar hotel. Sore tadi, Sarah mendatangi kampus membawa hasil tes medis positif hamil empat minggu dan memaksa Kak Carlo bertanggung jawab dalam waktu satu bulan. Kak Carlo terpaksa jujur pada Valerie... dan itulah yang membuat Valerie hancur-hancuran seperti ini."

Mendengar penjelasan dari adiknya, rahang Dean mengetat sempurna hingga urat di lehernya tercetak jelas. Cengkeramannya pada kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Logikanya yang presisi langsung mengenali pola manipulasi keji tersebut—pola yang hampir mirip dengan apa yang dilakukan Dania padanya satu tahun lalu. Perbedaannya, kali ini melibatkan konspirasi kehamilan duniakah orang dewasa yang jauh lebih kotor.

"Begitu rupanya..." desis Dean kaku, matanya berkilat penuh keputusan mutlak yang dingin. "Carlo mungkin adalah korban jebakan, tapi ketidakmampuannya untuk mengontrol lingkungan dan melindungi Valerie dari kehancuran ini adalah kegagalan terbesarnya sebagai seorang pria. Satu tahun lalu, saya memilih mundur dan membiarkan Valerie bahagia bersamanya karena saya mengira Carlo jauh lebih layak menjaganya daripada saya yang kaku ini. Tapi malam ini... melihat Valerie hancur seperti ini untuk kedua kalinya, aku bersumpah demi nama baikku... aku tidak akan pernah melepaskan atau membiarkan pria mana pun menyentuh hidup Valerie lagi."

Mobil sedan hitam milik Dean berbelok perlahan memasuki gerbang pekarangan rumah utama keluarga mereka di kawasan elite Jakarta. Di bawah siraman cahaya lampu taman yang hangat, Dean turun dari mobil, kembali mengangkat tubuh Valerie yang pingsan dengan kelembutan pekat yang menyelimuti seluruh jiwanya. Tembok tinggi di hati Valerie mungkin telah tertutup rapat untuk pria manapun setelah pengkhianatan ini, namun perjuangan panjang, melelahkan, dan penuh inisiatif dari seorang Dean untuk mengetuk kembali pintu es hati sang mantan kekasih kini resmi dimulai dari titik nol malam ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!