NovelToon NovelToon
Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Fantasi
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Arya Walker

[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]

Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan Di Bawah Gudang 1

Dari balik rimbunnya semak-semak, Simon segera menajamkan indranya, dan melihat ke depan.

"Sekiranya ada 20 orang yang ku lihat."

Orang berjubah hitam itu terus berlalu-lalang membawa obor, mencari keberadaannya dan Gogo saat ini.

Simon melihat Carl berdiri, berbicara dengan pria kekar yang tadi ikut makan malam bersamanya, itu adalah Edie!.

Penampilan Edie telah berubah total, ia kini mengenakan baju besi lengkap yang siap tempur, dan di pinggangnya tersampir sebuah pedang panjang berwarna hitam yang memancarkan aura misterius.

"Bagaimana persiapannya, Edie? Waktunya semakin dekat," tanya Carl dengan nada yang tidak lagi gemetar, melainkan dengan tegas.

Edie mengelus gagang pedang hitamnya. "Semua sudah siap. Penduduk desa ini akan segera menjadi tumbal yang sempurna untuk ritual ini. Dengan darah mereka, Dewi Sunyi akan memberikan berkat-Nya kepada kita semua."

"Bagus, dan jangan lupa cari kedua ksatria itu, bagus jika kita mendapatkan dan menjadikannya tumbal, mungkin berkatnya akan meningkat" Carl menyeringai keji.

"Serahkan padaku, aku akan meyeret mereka kesini." Kata Edie dengan percaya diri.

"Semoga Dewi menyinari kita." Kata Carl

"Semoga Dewi menyinari kita," balas Edie serempak sebelum ia berbalik untuk memimpin pencarian ke arah hutan.

Melihat dari celah tersebut, Simon segera mengangkut Gogo yang masih pingsan untuk pergi dan bergerak secara diam-diam menuju gudang gandum sebelumnya.

Setibanya di dalam gudang yang gelap dan beraroma apek dari gandum itu, Simon menyandarkan Gogo di sudut yang tersembunyi.

Ia mengambil napas sejenak, membiarkan Pernafasan Ular Hitam memulihkan staminanya yang terkuras.

[ Pernafasan Ular Hitam +2 ]

[ Pernafasan Ular Hitam +2 ]

Konspirasi di Desa Maple ini jauh lebih besar dari sekadar pajak gandum,' pikir Simon dengan tajam.

'Wabah itu hanya kedok untuk menutupi penculikan penduduk sebagai tumbal. Keramahan Carl hanyalah umpan, persis seperti penipuan pinjol yang menjeratku dulu. Aku harus bersembunyi di sini setidaknya sampai Gogo bangun, lalu kami akan keluar dari tempat terkutuk ini.'

Tiba-tiba, telinga Simon yang tajam menangkap suara langkah kaki yang mendekat.

Ia segera membawa Gogo bersama meraka merunduk dan bersembunyi di balik gundukan karung gandum yang menjulang tinggi.

Klik!

Melalui celah kecil, Simon melihat Carl masuk sendirian ke dalam gudang.

Carl berjalan menuju sudut ruangan dan menarik sebuah tuas tersembunyi yang membuka pintu bawah tanah di bawah lantai gudang.

Hati Carl kini dipenuhi kegembiraan yang meluap-luap.

'Satu langkah lagi!' pikirnya.

'Jika tumbal penduduk desa ini berhasil dipersembahkan, Dewi Sunyi pasti akan menghargaiku. Aku tidak akan lagi menjadi kepala desa rendahan di pinggiran ini, aku akan dipromosikan menjadi Uskup agung!'

Wajahnya yang keriput tampak sangat menyeramkan saat ia membayangkan kekuasaan yang akan ia genggam.

"Ini saatnya!"

Saat Carl sedang lengah dalam fantasinya, Simon memanfaatkan momentum tersebut. Dengan kecepatan Pernafasan Ular Hitam, Simon melesat keluar dari bayang-bayang.

Srat!

Sebelum Carl sempat bereaksi, bilah pedang dingin milik Simon sudah menempel erat di lehernya.

"Ap-pa?!"

"Jika kau membuat satu suara saja, pedangku akan langsung memotong lehermu!" Ancam Simon dengan suara yang dapat membekukan darah.

Carl membeku, keringat dingin mengucur deras di wajahnya.

"Kauu- ksatria sebelumnya? Apa yang kau inginkan?" tanya Carl dengan suara gemetar ketakutan.

"Sebenarnya kalian ini apa?" tanya Simon dengan dingin.

"Ka-kami adalah Sekte Dewi Sunyi," jawab Carl terbata-bata.

"Apa yang kau lakukan di desa terpencil seperti ini?" Simon menekan pedangnya lebih dalam, memancing sedikit darah keluar dari kulit Carl.

"Aku... aku dikirim oleh anggota tertinggi untuk menyelenggarakan ritual persembahan kepada Dewi," jawab Carl dengan tergesa-gesa.

"Lalu di mana penduduk asli desa ini? Apakah kalian membantai mereka semua?" tanya Simon sembari menatap Carl dengan sepasang mata merahnya berkilat.

Carl ragu-ragu sejenak, matanya melirik ke arah pintu bawah tanah yang terbuka.

"Katakan cepat!" bentak Simon sembari menggores leher Carl sedikit lebih keras.

"Mereka tidak mati! Mereka... mereka semua kami sekap di bawah tanah!" jawab Carl dengan napas tersengal-sengal karena takut langsung dibunuh

"Lepaskan aku, Tuan! Aku telah membicarakan semuanya!"

"Aku akan membiarkanmu pergi dari sini, aku janji! tapi tolong jangan bunuh aku! Kumohon!"

Simon menatap Carl dengan pandangan yang datar dan tanpa emosi.

Sebagai seseorang yang sudah memahami hukum rimba dunia ini, ia tahu bahwa membiarkan musuh hidup hanya akan mendatangkan bencana di masa depan.

Tanpa peringatan, Simon menggerakkan tangannya secara horizontal.

Crash!

Simon mengorok leher Carl dengan satu gerakan yang efisien.

Carl terbelalak, ia terhuyung-huyung, tangan tuanya mencoba menahan darah yang mengucur deras dari tenggorokannya yang terputus.

Namun itu sia-sia, Simon menggeres tepat di nadinya.

"Ka-kau..." Sambil menunjuk simon dan gumam Carl dengan pupil mata yang mengecil sebelum akhirnya tubuhnya ambruk ke tanah dengan bunyi 'gedebuk'.

Simon membersihkan darah di pedangnya dengan kain kasar, sama sekali tidak merasa terganggu oleh kematian pria tua itu.

Dengan rasa penasaran di hatinya, Simon melangkah perlahan menuruni tangga menuju ruang bawah tanah yang gelap.

.......

Langkah kaki Simon bergema pelan-pelan di tangga batu yang dingin saat ia turun lebih jauh ke bawah tanah.

Cahaya redup dari obor di tangannya menari-nari di dinding.

Setibanya di dasar, pemandangan di depan simon membuat perutnya mual.

Iya melihat di tengah ruangan luas tersebut terdapat sebuah simbol lingkaran aneh yang diukir dalam di lantai batu.

Di dalamnya, bertumpuk mayat pria dewasa, wanita, hingga anak-anak dalam kondisi yang mengenaskan, organ-organ mereka keluar seperti di congkel secara paksa!

"Sungguh omong kosong bahwa ada yang masih hidup. Jelas mereka sudah mati semua, omongan sekte sesat memang tidak dapat diandalkan!" Cemoh Simon dengan wajah melas.

Sebagai seseorang yang dididik oleh kekejaman realitas sejak reinkarnasinya, Simon tahu bahwa harapan sering kali hanyalah umpan untuk menjebak orang naif.

Ia berkeliling sejenak, berharap menemukan satu saja korban selamat, namun semuanya sia-sia.

Simon mendengus dingin saat melihat deretan lilin yang masih menyala di sekitar lingkaran ritual itu.

Dengan gerakan kasar, ia menendang lilin-lilin tersebut hingga padam, mengirimkan kepulan asap kelabu ke udara.

"Hoo, jadi kamu ada di sini..." sebuah suara bergema dari arah tangga.

Simon segera waspada, ia menjaga jarak sembari menajamkan perhatiannya ke tangga.

Sesosok pria tegap dengan baju besi lengkap turun perlahan.

Ediie muncul dengan seringai keji menghiasi wajahnya yang kasar.

"Carl telah terbunuh... itu pasti ulahmu kan, Simon? Carl memang hanya orang biasa, jadi dia tak layak untukmu," kata Edie dengan nada meremehkan.

Ia menghunus sebuah pedang panjang berwarna hitam yang tampak dikelilingi oleh kabut hitam tipis yang berputar-putar di bilahnya.

Edie menjilat bilah pedang hitamnya dengan pandangan lapar.

"Aku akan menggunakan pedang pemberian kakakku ini padamu untuk menguji... seberapa kuat pedang ini."

Simon menyipitkan mata merahnya, memacu Pernafasan Ular Hitam

[ Pernafasan Ular Hitam +1 ]

Tanpa peringatan, Edie mengayunkan pedangnya.

Alih-alih serangan fisik biasa, sebuah gelombang kabut hitam pekat melesat cepat ke arah Simon.

Dengan kecepatan luar biasa yang ditempa melalui latihan gila-gilaan, Simon meliuk ke samping.

DUMM!

Lantai batu di tempat Simon berdiri tadi retak hancur seolah dihantam palu raksasa.

Mata Simon melebar.

'Qi pertempuran? Tidak, ini berbeda! Tekanan energinya jauh lebih dingin dan korosif! Pikir Simon.

"Hoo, jadi kamu bisa menghindarinya? Selanjutnya, aku pastikan kamu tidak bisa menghindar lagi!!" raung Edie sembari menerjang maju, kabut hitam di pedangnya semakin pekat, memancarkan aura kematian yang nyata di bawah gudang gandum tersebut.

Simon mengencangkan genggaman pada pedangnya, bersiap untuk pertarungan yang lebih serius!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!