NovelToon NovelToon
Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Putri asli/palsu / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.

Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.

Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.

Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.

Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.

Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.

Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Vila di PIK

Keira membuka mata di ruang perawatan dengan selang oksigen di hidung.

Amanda tertidur sambil duduk, kepalanya bersandar di tepi ranjang. Tante Mira berada di sofa. Rayhan berdiri di dekat jendela, masih mengenakan kemeja semalam tanpa jas.

Dokter Ryan masuk membawa hasil pemeriksaan.

"Kadar alkoholnya tidak cukup tinggi untuk membuat orang sehat kehilangan kesadaran sedalam itu," katanya. "Masalahnya adalah kombinasi alkohol, sisa obat penenang pascaoperasi, kurang makan, dan dehidrasi. Napasmu sempat terlalu lambat. Dengan satu ginjal, gangguan cairan juga lebih berisiko."

Keira mencoba duduk. Kepalanya langsung berputar.

"Jangan," kata Amanda dan Rayhan bersamaan.

Amanda terbangun sepenuhnya. Matanya merah. "Kak Keira, kalau mau minum lagi, telepon aku. Biar aku yang mengikatmu ke kursi dulu."

"Itu bukan saran medis," kata Ryan.

"Tapi efektif."

Ryan mengabaikannya. Ia menjelaskan bahwa Keira sudah melewati masa bahaya, tetapi harus menghentikan alkohol, minum sesuai jadwal, dan menyelesaikan pemantauan fungsi ginjal. Setelah itu ia menatap Rayhan.

"Satu botol pun seharusnya tidak diberikan."

"Kesalahanku," jawab Rayhan.

Tidak ada alasan panjang. Ia menerima teguran itu dan mencatat seluruh aturan di ponselnya.

Keira dipulangkan keesokan siang. Di tempat parkir, Rayhan tidak langsung membuka pintu mobil.

Sebelum meninggalkan bangsal, petugas administrasi meminta Keira memperbarui kontak darurat. Ia menulis Amanda Maheswari di urutan pertama dan Tante Mira di urutan kedua. Kolom ketiga dibiarkan kosong. Rayhan berdiri di samping meja, tetapi tidak menawarkan namanya dan tidak menyentuh formulir.

Ryan menyerahkan daftar obat langsung kepada Keira, bukan kepada laki-laki di sebelahnya. Amanda mendapat salinan hanya setelah Keira memberi izin lisan di depan perawat. Detail kecil itu membuat bahu Keira turun sedikit.

"Kamu punya tiga pilihan," katanya. "Kembali ke Pondok Indah, tinggal bersama Tante Mira, atau tinggal sementara di vila PIK."

"Kenapa vila milikmu masuk dalam daftar?"

"Oma membutuhkan orang untuk menyelesaikan Peony Agung. Ruang kerja, bahan, dan bayaran disediakan. Kamu boleh pergi kapan saja."

"Dan perlindungan?"

"Ada. Bukan harga sewa."

Keira meminta semua itu ditulis: upah kerja, akses keluar masuk, hak mengunci kamar, larangan staf memasuki ruang pribadinya tanpa izin, dan tidak ada klaim pertunangan. Rayhan mengirim pesan kepada bagian legal di depan matanya.

"Kamu sungguh mau menandatangani semua itu?"

"Hm."

Ia sudah memutuskan akan menjaga Keira, dan suatu hari meminta perempuan itu menjadi istrinya. Namun keputusan kedua hanya miliknya sendiri. Keira tidak berutang jawaban hanya karena ia menerima tempat aman.

Keira memilih vila PIK.

Bangunan itu menghadap taman dan kanal yang tenang. Tidak ada pagar tinggi yang menyerupai lapas. Kartu akses diberikan langsung kepada Keira, beserta kunci pintu samping dan nomor kepala keamanan.

Pintu gerbang bisa dibuka dari dalam tanpa persetujuan Rayhan. Kepala keamanan menunjukkan tombol darurat dan buku catatan tamu, lalu meminta Keira menentukan sendiri siapa yang dilarang masuk. Ia menulis Edmond, Yolanda, Vanessa, dan Lucas. Untuk Kevin, ujung penanya berhenti lama sebelum ia memilih aturan `harus meminta izin lebih dulu`.

"Semua kamera hanya di area luar dan ruang bersama," jelas Brandon. "Tidak ada kamera di kamar, kamar mandi, atau ruang kerja. Rekaman hanya bisa dibuka dengan laporan insiden."

Keira menguji kunci kamarnya dari dalam sebelum meletakkan tas.

Di lantai dua, jendela terbesar menghadap taman. Sebuah meja lebar berdiri di tengah ruangan, tingginya bisa diatur agar kaki Keira tidak dipaksa menekuk. Lemari berisi benang sutra disusun menurut warna. Di atas bingkai kayu terbentang bagian awal Peony Agung yang ia lihat di Menteng.

Sinar sore jatuh tepat di atas kain.

"Kamar dengan cahaya terbaik," kata Bi Sari dari pintu. "Kalau mata capek, berhenti. Jangan merasa dikejar siapa-siapa."

Keira menyentuh sehelai benang merah tua. "Oma mengizinkan aku meneruskannya?"

"Oma bilang karya yang tidur terlalu lama butuh tangan yang juga baru bangun."

Suara mobil datang dari halaman. Oma masuk sambil memerintah dua staf membawa sebuah koper besar.

"Nak, lihat wajahmu. Pucat seperti kertas! Ini ejiao, cordyceps, sup herbal, vitamin, semuanya."

Rayhan membuka koper itu, membaca label satu per satu, lalu memisahkan setengahnya. "Yang ini tunggu izin Dokter Ryan."

Oma memukul lengannya dengan kipas. "Oma tahu. Bawel sekali."

"Ko Rayhan benar," kata Keira pelan.

Oma langsung menunjuknya. "Dengar? Calon pasien paling pintar di rumah ini setuju dengan Oma."

Rayhan tidak membantah gelar yang keliru itu, tetapi ia juga tidak menggunakannya untuk menekan Keira.

Sore berikutnya, Tante Mira dan Amanda tiba membawa dua koper. Rayhan telah bertanya lebih dulu siapa yang ingin Keira bawa ke vila. Keira menyebut nama mereka tanpa ragu.

Amanda turun dari mobil, memandang vila, petugas keamanan, lalu Rayhan dari kepala sampai sepatu. Brandon yang membawa koper hampir menabrak punggungnya.

"Permisi, Kak Manda."

Amanda mengabaikannya. Ia menarik Keira sedikit menjauh dan berbisik, "Oke, dia jauh lebih tampan dari rumornya. Dan cara dia menatapmu seperti melihat satu-satunya bintang di langit."

"Kamu terlalu banyak bicara."

"Berarti pengamatanku benar."

Brandon mengangkat kedua koper seorang diri. "Kamar Tante Mira di lantai satu. Kamar Kak Manda di sebelah ruang baca."

"Aku bisa bawa sendiri."

"Saya tahu. Saya sedang berusaha terlihat berguna."

Amanda akhirnya menatapnya. Brandon tersenyum. Amanda mengambil koper yang lebih ringan dan berjalan lebih dulu.

Malam itu enam orang duduk di meja makan: Oma, Rayhan, Keira, Bi Sari, Tante Mira, dan Amanda. Brandon memilih berdiri sampai Oma memukul kursi kosong dengan kipas dan menyuruhnya ikut makan.

Tidak ada piring yang dibedakan. Tidak ada makanan sisa yang sengaja diletakkan di depan Keira. Bi Sari menyendok sup setelah memastikan tidak ada bahan yang bertabrakan dengan obatnya.

Ketika nasi di piring Keira tinggal sedikit, Rayhan bertanya, "Mau tambah nasi?"

Keira membeku.

Di rumah Pratama, pertanyaan tentang makanan selalu berarti ia sudah mengambil terlalu banyak atau harus memberikan bagiannya kepada Vanessa. Ia menatap mangkuk nasi di tangan Rayhan, menunggu syarat yang tidak datang.

"Sedikit," katanya.

Rayhan menambahkan setengah centong, persis seperti yang diminta.

Oma melanjutkan cerita tentang tukang kebun seolah tidak ada yang luar biasa. Tante Mira menunduk untuk menyeka mata. Amanda menyenggol lutut Keira pelan di bawah meja.

Untuk pertama kalinya, Keira menghabiskan makan malam tanpa harus menghitung siapa yang akan marah.

Larut malam, Amanda berdiri di taman dengan sebatang rokok. Ia baru menyalakannya ketika Brandon muncul dari jalur batu.

"Taman ini dilarang merokok."

Amanda memutar mata. Dengan satu gerakan, ia menjentikkan rokok itu tepat ke saku dada Brandon.

Brandon buru-buru menariknya sebelum bara menyentuh kain, lalu mematikannya di wadah pasir dekat pintu. Ketika ia mengangkat wajah, Amanda sudah berjalan pergi.

"Bilang pada bosmu, Kei tidur nyenyak malam ini."

Brandon menatap punggungnya.

Sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.

1
Intan Marliah
mewekkk banget... ceritanya disusun seepik ini.
Iba Sa Iba Daud
apa ginjal tu tuk bokapnya ato evelyn
Iba Sa Iba Daud
Kluarga bangat iblis... si kevin ni ga bs apa" klo udh depan bokapny.. bilang priksa CCTV tp bentakn bokap diam..
Iba Sa Iba Daud
sungguh orgtua yg pling kejam.. tunggu sj katmamu tua bngka
Iba Sa Iba Daud
kavin klo lo sayg kaira cari tau ksuus 5 thn llu dn sobeknya baju adk tiri manja lo tu
Rina Arie
good book
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!