Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Pagi itu suasana di ruangan CEO Grup Nirvana terlihat sedikit lebih sibuk dari biasanya.
Clara mondar-mandir di depan mejanya sambil memasukkan beberapa map tebal ke dalam koper kecil berwarna hitam.
Deni yang sedang duduk bersila di atas sofa asyik memakan keripik kentang sambil menonton bosnya itu bekerja.
Kres kres.
"Nona Clara ini mau pergi ke mana sih pagi-pagi sudah sibuk berkemas seperti mau pindah rumah saja," tanya Deni dengan mulut penuh keripik.
Clara menutup resleting kopernya lalu menatap Deni dengan wajah yang terlihat sangat serius.
"Kita harus pergi ke luar kota hari ini juga Deni, ada pertemuan penting untuk proyek pembangunan resor di daerah pesisir pantai," jawab Clara menjelaskan situasinya.
"Wah ke pantai ya Nona, kebetulan sekali aku sudah lama tidak berenang dan makan ikan bakar segar di pinggir laut," ucap Deni dengan kedua mata berbinar senang.
Clara menghela nafas pelan melihat kelakuan pengawalnya yang selalu mengaitkan segala hal dengan makanan dan liburan.
"Ini perjalanan bisnis yang sangat penting Deni, bukan acara jalan-jalan santai mencari makanan enak di pinggir pantai," tegur Clara mengingatkan.
"Pesaing bisnis kita di sana sangat licik dan aku butuh perlindunganmu secara penuh selama perjalanan ini berlangsung."
Deni langsung melompat berdiri dan menepuk dadanya dengan gaya yang sangat sombong seperti biasa.
"Nona bos tenang saja, selama ada kurir terkuat ini di samping Nona maka nyamuk pesisir pun tidak akan berani menggigit kulit Nona," kata Deni sangat percaya diri.
Pintu ruangan terbuka dan Siska masuk membawa dua gelas kopi hangat lalu meletakkannya di atas meja tamu.
"Nona Clara, mobil dan supir sudah disiapkan di lobi bawah, kalian bisa berangkat sekarang agar tidak terjebak macet jalanan kota," lapor Siska dengan senyum ramah.
Clara mengangguk mengerti lalu mengambil gelas kopinya dan meminumnya sedikit sebelum bersiap pergi.
"Terima kasih Siska, tolong jaga kantor dan temani Maya selama aku pergi ke luar kota ya," pesan Clara pada asisten kepercayaannya itu.
"Siap Nona Clara, semoga perjalanan bisnis Nona dan Deni berjalan lancar tanpa ada hambatan di jalan," jawab Siska mendoakan keselamatan mereka.
Setengah jam kemudian mobil sedan mewah berwarna perak itu melaju dengan tenang meninggalkan area gedung Grup Nirvana.
Deni duduk santai di kursi belakang bersama Clara sementara mobil dikemudikan oleh seorang supir tua yang sudah lama bekerja untuk keluarga Clara.
Brum brum.
Suara mesin mobil mewah itu terdengar sangat halus saat mulai memasuki gerbang jalan tol antar kota yang cukup panjang.
Deni menempelkan wajahnya ke kaca jendela mobil menatap pemandangan pepohonan yang bergerak cepat di luar sana.
"Sayang sekali aku tidak bisa bawa motor matic bututku Nona, padahal motor kesayanganku itu sangat suka diajak jalan jauh mencari angin," keluh Deni asal bicara.
Clara yang sedang membaca dokumen penting di tabletnya langsung menoleh ke arah pemuda berjaket oranye di sampingnya itu.
"Kalau kamu nekat pakai motor bututmu itu kita baru akan sampai di tempat tujuan besok pagi Deni," balas Clara dengan nada datar.
"Tapi kan Nona Clara bisa duduk menyamping di jok belakang sambil pegangan jaketku erat-erat seperti adegan di film romantis itu," goda Deni sambil tersenyum usil.
Wajah Clara tiba-tiba sedikit merona merah membayangkan hal memalukan tersebut namun dia segera membuang muka kembali menatap tabletnya.
"Berhenti bicara omong kosong Deni atau aku akan menyuruh supir menurunkanmu di tengah jalan tol ini sekarang juga," ancam Clara berusaha menutupi rasa malunya.
Deni hanya tertawa pelan dan kembali membuka bungkus camilan barunya untuk mengusir rasa bosan selama perjalanan darat tersebut.
Perjalanan di jalan tol itu awalnya terasa sangat lancar dan damai tanpa ada gangguan lalu lintas sama sekali.
Namun saat mobil mereka memasuki area jalan tol yang diapit oleh perbukitan yang sangat sepi, supir tua itu tiba-tiba menginjak rem dengan cukup kasar.
Ckiit.
Tubuh Clara hampir saja terdorong ke depan menghantam kursi supir jika Deni tidak dengan sigap menahan bahu wanita itu.
"Ada apa Pak supir, kenapa tiba-tiba berhenti mendadak di jalan tol yang sepi begini," tanya Clara dengan nada sedikit panik dan terkejut.
Supir tua itu menunjuk ke arah jalanan depan dengan tangan kanannya yang terlihat sedikit gemetar.
"Nona Clara, di depan sana tiba-tiba ada dua mobil van hitam yang sengaja memblokir jalan kita," jawab supir itu dengan suara bergetar ketakutan.
Deni menyipitkan matanya menatap tajam ke arah dua mobil van yang berhenti melintang menutupi seluruh ruas jalan tol di depan mereka.
"Wah sepertinya kita kedatangan tamu tidak diundang Nona, dan mereka kelihatannya bukan orang baik-baik yang mau minta sumbangan panti asuhan," ucap Deni tersenyum tipis.
Dari dalam dua mobil van hitam itu turunlah delapan orang pria berpakaian serba hitam dengan wajah yang ditutupi oleh kain merah.
Mereka tidak membawa parang atau tongkat besi berkarat seperti preman biasa, melainkan membawa semacam jarum panjang dan pedang tipis.
"Nona Clara tetaplah di dalam mobil bersama Pak supir, biar aku yang keluar untuk menyapa mereka sebentar," kata Deni sambil membuka pintu mobil.
"Hati-hati Deni, mereka terlihat sangat aneh dan jauh lebih berbahaya dari preman pasar yang kemarin," pesan Clara memegang ujung jaket Deni dengan cemas.
"Tenang saja Nona bos, paling mereka cuma sekumpulan orang nyasar yang mau numpang tanya arah jalan ke toilet umum," canda Deni sebelum melompat keluar dan menutup pintu mobil.
Brak.
Deni berjalan dengan sangat santai menghampiri delapan pria berkain merah itu sambil terus mengunyah keripik kentangnya tanpa rasa takut sedikitpun.
Kres kres.
"Permisi paman-paman sekalian, mobil kalian menghalangi jalan saya nih, apa kalian butuh jasa dorong mobil mogok dari kurir tampan," sapa Deni dengan suara lantang dan ramah.
Salah satu pria yang tampaknya adalah pemimpin kelompok itu maju selangkah menatap Deni dengan sorot mata yang sangat tajam dan dingin.
"Apakah kau yang bernama Deni, kurir peliharaan Clara yang sudah merusak rencana besar Tuan Rian," tanya pria itu dengan suara serak yang mengancam.
Deni langsung cemberut dan menghentikan kunyahannya karena merasa sangat tersinggung dengan panggilan yang tidak sopan tersebut.
"Hei paman muka kain, aku ini kurir bintang lima yang sangat dihormati oleh pelanggan tahu, jangan sembarangan memanggilku begitu," protes Deni dengan wajah kesal.
Pria itu mendecih remeh lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi memberi isyarat kepada seluruh anak buahnya untuk bersiap menyerang.
"Tidak peduli kau kurir teladan atau bukan, hari ini aspal jalan tol ini akan menjadi kuburan untukmu dan bos wanitamu itu," ancam pemimpin penyerang tersebut dengan kejam.
Tiba-tiba dua orang pria dari kelompok itu melesat maju dengan kecepatan yang lumayan tinggi langsung ke arah posisi Deni berdiri.
Wush wush.
Gerakan kaki mereka jauh lebih rapi dan mematikan dibandingkan dengan preman bayaran biasa yang pernah dilawan Deni sebelumnya.
Mereka mengayunkan pedang tipis yang berkilau di bawah sinar matahari secara menyilang langsung ke arah leher dan perut Deni.
"Wah ternyata kalian ini orang-orang dari sekte bela diri ya, pantas saja gayanya sok misterius begitu," ucap Deni sambil menghindari tebasan pedang dengan gerakan memutar santai.
Trang.
Deni menjepit ujung pedang tipis milik salah satu penyerang itu hanya dengan menggunakan dua jarinya saja, yaitu jari telunjuk dan jari tengah.
Pria penyerang itu membelalakkan matanya sangat terkejut melihat pedangnya terhenti total dan tidak bisa ditarik kembali sama sekali sekeras apapun dia mencoba.
"Ini pedangnya beli diskonan di pasar loak ya paman, kok rasanya rapuh sekali seperti kerupuk udang," ejek Deni sambil mematahkan ujung pedang itu dengan mudah.
Krak.
Suara patahan baja murni itu membuat kelompok pembunuh bayaran tersebut mundur selangkah karena terkejut melihat kekuatan jepitan jari sang kurir makanan.
Deni sama sekali tidak memberi mereka waktu untuk berpikir lama, dia langsung menendang keras dada pria yang pedangnya baru saja patah itu.
Bug.
Pria itu terpental sangat jauh ke belakang hingga menabrak badan mobil van mereka sendiri dengan suara hantaman yang sangat keras.