Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.
Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Heboh
Mendengar suara dari belakang, kompak keduanya menoleh. Nilan dan Prisa terkejut melihat sesosok wanita muda yang tubuh dan kepalanya dipenuhi luka serta darah.
“Kamu siapa?” tanya Nilan.
“Namaku Riri. Aku … aku … dibunuh seseorang. Aku … aku tidak tahu harus ke mana.”
Riri mulai menangis. Setelah rohnya terpisah dari jasadnya, wanita itu terus melayang tak tentu arah sampai akhirnya tiba di kampus ini.
“Ya ampun kasihan banget,” sahut Prisa. “Kapan kamu mati?”
“Tadi malam,” jawab Riri di sela-sela tangisnya.
Saat Prisa masih bertanya-tanya pada Riri, Nilan terus memperhatikan arwah di depannya. Dia meneliti luka yang dialami Riri, semua mirip seperti keadaan dirinya. Apalagi luka di bagian kepala yang terus mengeluarkan darah.
“Siapa yang sudah membunuhmu?” tanya Nilan.
“Aku tidak tahu. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Dia mengenakan topeng.”
“Topeng,” ulang Nilan. Seketika tubuhnya menegang. Napasnya tampak memburu, tangannya mengepal erat.
Ingatannya kembali pada malam ketika pria bertopeng Rahwana itu membunuhnya. Melihat itu, Prisa langsung menenangkannya.
“Tenang Nilan, jangan sampai kamu emosi dan membuat kekacauan di sini. Atau Ahqam akan menghukummu lagi.”
Nilan mengangguk pelan. Perlahan emosi wanita itu mulai mereda. Setelah berhasil menguasai dirinya lagi, dia kembali bertanya pada Riri. “Apa pria yang membunuhmu memakai topeng Rahwana?”
“Bagaimana kamu tahu?” tanya Riri terkejut.
“Karena aku juga korban pembunuhan. Dan orang yang membunuhku mengenakan topeng Rahwana. Dia membawa palu dan menghantamkan benda itu ke tubuhku berkali-kali.”
“Itu juga yang terjadi padaku.”
“Kalau begitu, bisa jadi pelaku yang membunuh kalian adalah orang yang sama,” celetuk Prisa.
Nilan dan Riri mengangguk bersamaan. Riri langsung memeluk Nilan. Arwah wanita itu bersyukur bisa bertemu dengan orang yang senasib dengannya.
“Di mana mayatmu berada?” tanya Nilan lagi.
“Mayatku ada di bangunan kosong dekat klub tempatku bekerja.”
“Apa nama klubnya?” tanya Prisa.
“Butterfly.”
Sontak Nilan dan Prisa saling berpandangan. Semalam keduanya sempat mendengar Ahqam dan Eris berbincang.
Ahqam mengatakan kalau dia baru saja selesai membantu Nino dan Asep menggerebek penjual narkoba di klub Butterfly.
“Mayatmu harus ditemukan, supaya polisi bisa menemukan pelakunya,” ujar Nilan bersemangat.
“Tapi bagaimana caranya? Tidak ada yang bisa melihat dan mendengar suaraku.”
“Tenang saja. Aku akan membawamu pada orang yang tepat.”
Riri mengangguk singkat. Dia mengikuti saja saran Nilan.
Dua jam kemudian Gilang sudah selesai mengikuti perkuliahan. Begitu pemuda itu keluar dari kelas, Nilan dan Prisa langsung menghampiri.
“Lang, ada yang mau bertemu denganmu.”
“Siapa? Bentar, gue kebelet.”
Secepatnya Gilang berlari menuju toilet yang letaknya di ujung koridor.
Baru saja Gilang menarik resleting dan mengancingkan celananya, Nilan dan Prisa sudah berada di belakang pemuda itu. Begitu berbalik, Gilang dibuat terkejut. “Eh buset, ngapain lo ngikutin gue? Jangan bilang lo ngintipin gue tadi.”
“Enak aja. Ngapain ngintipin kamu. Lagian aku yakin punya Rian pasti lebih besar dari punyamu.”
“Kampret,” maki Gilang pelan. Pemuda itu keki karena dibandingkan dengan CEO mokondo itu.
“Lang, ada yang mau ketemu kamu,” sela Nilan.
“Siapa?”
“Nih.”
Nilan mengayunkan tangannya ke kanan. Sosok Riri yang tubuh dan kepalanya dipenuhi luka yang terus mengeluarkan darah langsung muncul di hadapan Gilang.
“AAAAAA!!!”
Tubuh Gilang terhuyung ke belakang. Pemuda itu bukan hanya terkejut, tapi tubuhnya juga langsung terasa lemas.
“Jangan pingsan, Lang! Kalau kamu pingsan, kita repot mindahin kamu!” teriak Nilan.
Melihat Gilang yang hampir kehilangan kesadaran, Prisa langsung merasuki tubuh Gilang.
Tubuh Gilang yang semula lemas langsung terisi tenaga kembali. Pemuda itu segera keluar dari kamar mandi disusul Nilan dan Riri.
“Kamu mau ke mana?” tanya Nilan, membuat Gilang yang dirasuki Prisa menahan langkahnya.
“Kita ke tempat mayat Riri berada.”
“Jangan. Nanti Gilang kena masalah lagi. Mending hubungi Nino atau Asep,” usul Nilan.
“Kita ke kantor polisi aja langsung.”
Prisa segera berjalan menuju lift. Riri yang masih kebingungan, mengikuti saja ke mana Prisa dan Nilan melangkah.
Setelah turun menggunakan lift, Prisa bergegas menuju parkir motor. Wanita itu mencari-cari kunci motor Gilang di tasnya.
“Kuncinya nggak ada,” ujar Prisa.
“Ada di saku celana kali,” celetuk Nilan.
Prisa langsung merogoh saku celana Gilang dan menemukan kunci motor pemuda itu. Wanita itu segera menaiki sepeda motor Gilang.
“Emang kamu bisa bawa motor?” tanya Nilan yang sudah duduk di belakang Prisa.
“Nggak,” jawab Prisa dengan polosnya.
“Kalau nggak bisa, gimana kamu bawanya?” kesal Nilan.
“Kamu, bisa, nggak?” kali ini Prisa yang bertanya pada Nilan.
“Nggak juga.”
“Sama aja. Ya udah, biar aku aja yang bawa. Kan sama aja kayak naik sepeda,” ujar Prisa dengan percaya dirinya.
Prisa segera mengeluarkan motor Gilang dari barisan parkir. Dia menaikkan standar seraya menyalakan mesin. Tanpa sengaja tangannya memutar grip gas. Motor tersebut tiba-tiba menyentak ke depan.
“Rem, Pris!” teriak Nilan dari belakang.
“Rem di kanan apa kiri?” tanya Prisa.
“Kanan.”
Prisa memutar grip gas ke arah bawah, motor kembali melaju.
“Aaaaaa!!” teriak Prisa yang tidak bisa mengendalikan laju motornya.
“Rem, Pris!! Tuas kanan!” kali ini Riri yang berteriak.
Sekuat tenaga Prisa menekan tuas rem depan. Motor yang sedang melaju tiba-tiba berhenti hingga ban belakangnya sedikit naik. Nilan dan Riri yang ada di belakang langsung terpental ke depan lalu jatuh di aspal.
“Sorry,” ujar Prisa dengan wajah tanpa dosa.
“Udah simpan aja motornya. Mending naik ojek aja,” usul Nilan. Dia bisa mati dua kali jika dibonceng oleh Prisa. Bukan tidak mungkin Gilang akan ikut jadi almarhum.
Prisa buru-buru mengembalikan motor ke tempat parkir tadi. Dia mengambil ponsel Gilang untuk memesan ojek online. Namun dia kesulitan membuka kunci layar ponsel pemuda itu.
“Aduh dia pakai pola apa ya?” tanya Prisa pelan sambil menggaruk kepalanya.
“Eh tuh ada ojek lewat. Bilang aja minta offline,” usul Nilan.
Prisa langsung berlari menghampiri pengemudi ojek online yang baru saja mengantarkan penumpangnya.
“Pak, antar saya ke kantor Polda. Saya bayar lebih deh, nggak usah pakai aplikasi. Gimana?” tanya Prisa.
“Lumayan jauh kantor Polda. Mau bayar berapa?” sang pengemudi malah bernegosiasi.
“Tujuh puluh ribu, gimana?”
“Ya sudah, naik.”
Prisa segera naik ke belakang pengemudi itu. Nilan dan Riri ikut di belakang. Keduanya menemplok di tubuh Gilang yang sedang dirasuki Prisa.
Sang pengemudi memutar gas, agar motornya melaju lebih cepat. Namun entah kenapa motor yang ditungganginya ini lebih berat dari biasanya.
Berat banget nih motor. Perasaan tadi baik-baik aja. Apa karena anak ini? Badan nih anak nggak besar, tapi kenapa berat banget? Apa keberatan dosa kali ya? Batin sang pengemudi sambil terus mengemudikan motornya.
Dalam waktu setengah jam, motor yang ditumpangi Prisa sudah sampai di kantor Polda Jabar. Prisa langsung mencari dompet Gilang di dalam tas.
Saat tidak menemukannya, dia meraba saku belakang dan ternyata apa yang dicarinya ada di sana.
Prisa langsung membuka dompet Gilang. Mata Prisa seketika membelalak, ternyata di dompet Gilang hanya ada selembar dua puluh ribu rupiah.
***
Nah lho, tanggung jawab Prisa🤣
aaciieeeee.....
Ahqam cosplay jd Tom Cruise...emmhh biar Eris makin semakin...huweee /Puke//Facepalm/