NovelToon NovelToon
Diantara Kita

Diantara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: MonAmour19

Diantara kita hanya ada kebaikan saja? tidak ada harapan untukku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MonAmour19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

rumah yang hangat (11)

Sudah tiga hari sejak Arga mengantar Naya pulang saat hujan. Festival Seni tinggal tiga minggu lagi, waktu terasa sedikit lebih cepat tanpa mereka sadari.

Setiap hari sepulang sekolah, ruang OSIS hampir tidak pernah sepi. Tumpukan proposal semakin banyak, jadwal latihan terus berubah, dan telepon dari para sponsor datang silih berganti. Sore itu, Arga terlihat sibuk membolak-balik map berwarna hitam di atas meja.

"Kok nggak ada..." gumamnya pelan, ada rasa sedikit panik. Steven yang duduk di depannya mengangkat kepala.

"Nyari apa?" tanya steven melihat Arga kepanikan mencari sesuatu l.

"Proposal final." ucap Arga

"Yang kemarin?" tanya steven

"Iya." Arga mengusap tengkuknya sedikit ada kegelisahan di mukanya.

"Kayaknya ketinggalan di rumah." Steven tiba-tiba langsung tertawa.

"Ketua panitia juga bisa lupa." ucapnya sedikit meledek Arga.

"Namanya juga manusia." Arga ikut tersenyum kecil. Ia lalu menoleh ke arah Naya yang sedang merapikan notulen nya.

"Nay." panggil Arga

"Iya, Kak?" jawab Naya

"Kalau nggak keberatan..." Arga berhenti sejenak.

"...mau ikut ke rumahku sebentar?" Naya mendongak, dengan mengerutkan keningnya.

"Ambil proposalnya, soalnya besok pagi harus dikumpulin ke Bu Rina." Naya berpikir beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.

"Boleh." ucap Naya santai

"Sebentar aja." ucap Arga sedikit tidak enak.

 

Motor Arga melaju membelah jalanan kota yang mulai dipenuhi kendaraan pulang kerja. Perjalanan menuju rumah Arga memakan waktu sekitar dua puluh menit.

Berbeda dengan rumah Naya yang sederhana dan hangat, rumah Arga berdiri di kawasan perumahan yang cukup tenang. Halamannya luas. Di teras, beberapa pot bunga tersusun sangat rapi dan bersih.

"Masuk aja." kata Arga sambil membuka pagar rumahnya. Naya mengangguk pelan. Entah kenapa, ia mendadak gugup. Belum sempat Arga membuka pintu, suara seorang perempuan terdengar dari dalam.

"Arga?" tanya perempuan itu

"Iya, Mah." Pintu terbuka. Memperlihatkan seorang perempuan berusia sekitar empat puluh lima tahun tersenyum hangat.

"Udah pulang?" tanya nya begitu hangat

"Iya." ucap Arga, Lalu pandangannya berpindah kepada Naya yang berdiri dengan sedikit kegugupannya.

"Oh..."

"Kamu pasti Naya." ucapnya dengan tersenyum hangat pada Naya, dan Naya tampak sedikit terkejut.

"Tante tahu nama saya?" Perempuan itu tertawa pelan, lucu sekali pikirnya.

"Masa nggak tahu." ucap perempuan itu.

"Belakangan ini Arga sering nyebut nama kamu." Arga langsung memijat pelipisnya tidak tahu harus bersikap bagaimana dan pada akhirnya dia sendiri langsung menyangkalnya

"Mah..."

"Itu kan karena panitia." ucap Arga buru buru

"Iya, iya." Ibunya terkekeh pelan mendengar jawaban Arga.

"Tetap aja." lanjut ibu Arga dengan senyuman yang jahil, Naya hanya tersenyum malu. Pipinya mulai menghangat mendengar percakapan itu.

"Masuk dulu, Nak." ucap ibu Arga sembari memegang tangan Naya, seketika Naya melihat tangannya yang sedang di pegang oleh perempuan itu, tidak pernah ada pikiran Naya akan bertemu ibunya, dan ternyata ibu Arga sebaik ini padanya.

"Iya, Tante." ucap Naya sambil tersenyum canggung, dan mengikuti langkahnya

 

Ruang tamu rumah Arga terasa nyaman. Rak buku memenuhi salah satu sisi dinding, terlihat sangat rapi, Beberapa foto keluarga tertata rapi di atas lemari kecil, lucu sekali.

Di salah satu foto, Arga mengenakan seragam basket sambil memegang piala.

"Kamu suka basket?" tanya Naya tanpa sadar.

"Hm." Arga menjeda jawaban nya sebentar

"Dari SMP." lanjutnya

"Pantes." ucap Naya sambil melihat lihat foto itu dan menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Apa?" tanya Arga sambil menatap naya

"Tinggi." jawaban Naya membuat Arga tertawa kecil.

"Itu mah bawaan lahir." Suasana menjadi lebih santai dari sebelumnya, tak lama kemudian, ibu Arga datang membawa dua gelas teh hangat dan sepiring pisang goreng.

"Dimakan dulu." ucapnya sembari menyimpan pisang goreng itu

"Makasih, Tante." Naya langsung duduk di sofa.

"Nggak usah sungkan." Belum sempat mereka mulai makan, terdengar suara langkah kaki dari lantai dua. Seorang pria berperawakan tinggi turun sambil membawa tas kerja semua menatap ke arahnya.

"Udah pulang?" tanya pria itu pada arga

"Iya." jawab Arga singkat.

"papa."

"Ini Naya, teman panitia." Arga memperkenalkan Naya pada ayahnya, Pak Aditya mengangguk sopan.

"Halo." sapa ayah arga terlebih dahulu dengan senyuman nya

"Halo, Om." sapa kembali Naya dengan senyuman khasnya yang manis

"Terima kasih sudah membantu Arga." Naya tersenyum kecil.

"Sama-sama, Om." pak Aditya menatap putranya beberapa saat.

"Lumayan." ucapnya tiba-tiba membuat Arga menoleh dan mengangkat alisnya

"Akhirnya ada juga yang bisa diajak kerja sama." Arga menghela napas.

"pah..." itu terdengar seperti teguran yang rendah namun penuh makna di dalamnya

"papah cuma bercanda." Semua tertawa, dan tanpa disadari ibu Arga memandangi anaknya dengan Naya mereka tertawa lepas satu sama lain, seperti ada kecocokan.

 

Setelah mengambil proposal dari ruang kerja, Arga dan Naya mulai memeriksanya di meja makan.

"Kita cek sekali lagi." kata Arga sembari membuka map nya.

"Nggak boleh ada yang kelewat." lanjutnya

"Oke." Mereka membaca halaman demi halaman dengan serius. Sesekali Naya memberi koreksi kecil pada proposal itu.

"Bagian ini tanggalnya salah." ucap Naya dengan teliti

"Iya." Arga langsung mencoret dan memperbaikinya.

"Kalau ini logonya agak miring."

"Bener juga." Tanpa terasa, hampir satu jam mereka bekerja. Dari dapur, Maya memperhatikan keduanya sambil tersenyum tipis.

"Mah." bisik Pak Aditya.

"Kenapa senyum-senyum?" tanyanya

"Lucu aja." ucapnya sambil tersenyum

"Apa?"

"Itu anak kita." tunjuk Maya dengan dagunya, Pak Aditya ikut melihat ke arah meja makan.

"Lho?" ucap pak Aditya

"Kenapa?" tanya maya

"Biasanya kalau kerja sama orang..."

"Mau lima belas menit juga udah bete." maya tertawa pelan.

"Sekarang?" tanya maya dengan sengaja

"Lihat sendiri." Pak Aditya memperhatikan Arga yang tengah berdiskusi dengan Naya. Tidak ada nada kesal. Tidak ada wajah lelah. Justru sesekali terdengar tawa kecil, dan mereka melihatnya sangat adem.

"Hm." Pak Aditya mengangguk pelan dengan senyum kecilnya

"Anaknya baik."

"Iya." jawab Maya tanpa pikir panjang.

"Kelihatan."

 

Menjelang magrib, proposal akhirnya selesai diperiksa.

"Nah." arga menutup map itu sambil menghela nafas.

"Udah beres."

"Besok tinggal dikumpulin." Naya mengembuskan napas lega.

"Syukurlah." Saat hendak berpamitan, Maya menghampiri mereka sambil membawa sebuah kotak kecil.

"Naya." panggil Maya membuat Naya menoleh

"Iya, Tante?" tanyanya

"Ini buat di rumah." Naya tampak bingung, dan Naya memberikan kotak kecil yang dia bawa.

"Eh, nggak usah, Tante." ucap Naya dengan sungman

"Nggak apa-apa." ucap maya sambil memberikan kotak itu

"Cuma brownies."

"Tadi siang Tante bikin kebanyakan." Arga langsung tersenyum.

"Mah, browniesnya favorit aku."

"Iya."

"Makanya Tante bikin dua loyang." Semua tertawa kecil. Naya menerima kotak itu dengan kedua tangan.

"Makasih banyak, Tante." ucap Naya dengan senyumnya

"Sama-sama."

"Jangan sungkan, nanti harus main ke sini lagi ya." Kalimat itu sederhana.

Namun membuat hati Naya terasa hangat. Arga mengantar Naya sampai ke depan gerbang rumahnya.

"Makasih ya." kata Arga dengan senyuman kecilnya.

"Udah mau ikut."

"Nggak apa-apa."

"Malah aku senang bisa bantu." Arga mengangguk pelan.

"Oya."

"Browniesnya jangan dihabisin sendiri." Naya terkekeh.

"Siap." Mereka saling tersenyum. Lalu Naya masuk ke dalam rumah.

Arga baru menyalakan motor setelah memastikan pintu rumah Naya benar-benar tertutup. Di balik jendela lantai dua, Bu Sari yang melihat itu hanya tersenyum kecil.

Sementara di rumah Arga, Maya membereskan cangkir teh yang tadi mereka gunakan. Ia menoleh kepada suaminya dan berkata pelan,

"Kalau anak itu sering datang, rumah jadi lebih ramai." pak Aditya hanya mengangguk. Ia tidak menambahkan apa-apa.

Namun untuk pertama kalinya, kedua orang tua Arga memiliki harapan sederhana. Mereka berharap pertemanan itu bertahan lama.

Mereka tidak tahu...

Suatu saat akan ada badai apa yang akan datang kedepannya, Naya yang akan meninggalkan Arga lalu kembali dengan kejujurannya yang tak sempat ia ucapkan, lalu dengan sebuah harapan agar bisa menjadi milik arga? Atau Arga yang akan datang kepada Naya dengan kejelasannya terhadap ia dan Naya?

......................

soon to bee

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!