NovelToon NovelToon
Aversion To You

Aversion To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Dark Romance / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.

Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.

Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

003

Restoran The Obsidian seakan menjadi saksi bisu atas drama yang tak kasatmata namun menyesakkan dada. Aroma daging panggang premium dan anggur merah tahun 2005 yang baru saja dituang Jonathan ke gelas masing-masing tidak mampu mencairkan kebekuan di antara mereka.

Udara di dalam ruangan privat itu terasa begitu tebal, dipenuhi kepalsuan, ego pria, dan dendam lama yang merayap pekat.

Aurora duduk dengan punggung tegak kaku. Jari-jarinya yang gemetar disembunyikan rapat-rapat di bawah meja, meremas kuat kain gaun silk velvet hitamnya yang mahal hingga buku-buku jarinya memutih.

Rasa nyeri di perut bawahnya—bekas jahitan operasi caesar yang baru berusia beberapa Minggu—terus berdenyut memprotes setiap gerakan kecil, namun rasa sakit fisik itu kalah pekat dibandingkan kehampaan yang merajai dadanya.

Di sampingnya, Jonathan tampak begitu bersemangat. Ia tertawa lebar, sesekali menyentuh lengan Berenda—asisten pribadinya—dengan dalih memberikan instruksi dokumen atau sekadar meminta tablet kerja.

Aurora melihat itu semua dengan tatapan dingin. Ia menyaksikan bagaimana binar mata Jonathan saat menatap Berenda jauh lebih hidup dan penuh kehangatan dibandingkan saat pria itu menatap Draco yang terbaring lemah di rumah sakit.

"Jadi, Braxley," Jonathan memulai, suaranya mengandung nada sok akrab yang memuakkan, sengaja dibikin berat untuk mengimbangi aura pria di depannya.

"Bagaimana rasanya kembali ke sini setelah bertahun-tahun di Eropa? Kudengar kau membangun dinasti baru di sana. Desmon Group sekarang menjadi raksasa yang makin menakutkan di pasar global."

Braxley mengangkat gelas kristalnya, menyesap anggur merah itu dengan gerakan lambat dan elegan—sebuah gestur yang mendadak melempar memori Aurora kembali ke masa lalu.

Dulu, di pinggir lapangan basket kampus, Braxley akan meminum soda langsung dari kaleng dengan gestur maskulin yang sama santainya.

Kini, pemuda arogan dengan jaket kulit itu telah sepenuhnya berubah menjadi seorang taipan dingin tanpa cela.

"Bisnis adalah bisnis, Jonathan. Tempat tidak relevan selama ada keuntungan yang masuk akal," jawab Braxley datar. Suaranya serak dan tenang, matanya tak sekalipun melirik ke arah Aurora, seolah-olah wanita yang duduk di seberangnya hanyalah benda mati yang tak disengaja berada di ruangan itu.

"Tentu, tentu saja," Jonathan manggut-manggut penuh simpati buatan. "Aku sangat menghargai prospek kerja sama ini. Apalagi istriku, Aurora, dia juga sangat antusias. Dia bahkan sempat belajar banyak tentang profil perusahaanmu sebelum kita berangkat ke acara makan malam ini."

Aurora tersentak kecil di kursinya.

Itu bohong. Jonathan bahkan tidak memberitahunya siapa yang akan mereka temui sampai sedan hitam mereka berada di tengah jalanan kota.

Jonathan hanya sedang memainkan peran sebagai suami sempurna dan suportif di depan rekan bisnis kelas atas.

"Benarkah?" Baxeena, kakak kandung Braxley, menimpali dengan senyum penuh arti. "Aurora memang selalu pintar sejak dulu. Dia mahasiswi lulusan terbaik di angkatannya, bukan? Tidak heran jika dia ikut membantumu dalam urusan persiapan kantor."

"Begitulah," sahut Jonathan singkat tanpa menatap Aurora, lalu ia beralih sepenuhnya pada Berenda. "Berenda, tolong tunjukkan skema distribusi yang kita diskusikan tadi sore di mobil pada pihak Desmon."

Kalimat itu—tadi sore di mobil—menghantam dada Aurora bagaikan pukulan benda tumpul.

Tadi sore, ia sedang berjuang sendirian di ruang gawat darurat, menahan tangis melihat selang infus menusuk kulit halus Draco yang dehidrasi parah.

Sementara suaminya, ayah dari bayi itu, sedang sibuk "berdiskusi" di dalam mobil mewah bersama asisten pribadinya.

Berenda tersenyum manis, membuka tablet kerjanya dan membungkuk sedikit untuk memperlihatkan grafik ekspansi kepada Braxley.

Saat Berenda membungkuk terlalu dekat ke arah Jonathan untuk menggeser dokumen, Aurora menangkap kilatan di mata Braxley. Itu bukan kilatan ketertarikan pada gaun berani Berenda, melainkan kilatan muak penuh kejijikan yang dilemparkan terang-terangan pada Jonathan.

"Skema ini tidak efisien," potong Braxley tiba-tiba. Suaranya yang dingin dan tajam langsung memutus penjelasan Berenda di tengah jalan. "Kalian membuang terlalu banyak anggaran di sektor pergudangan sekunder. Aku ingin skema yang jauh lebih ramping dan rasional."

Jonathan tampak sedikit tersinggung, garis rahangnya mengeras, namun ia segera menutupi kepedasan egonya dengan senyum profesional yang dipaksakan. "Tentu, kami bisa merevisinya malam ini juga. Berenda, catat poin itu."

Di sela-sela perdebatan teknis yang makin membosankan, Baxeena kembali memiringkan tubuhnya, menatap Aurora dengan raut wajah khawatir yang jujur.

"Aurora, kau terlihat sangat pucat. Apa kau baik-baik saja? Melahirkan dalam kurun waktu beberapa bulan lalu dan langsung menghadiri jamuan seberat ini... kau pasti sangat lelah."

Aurora mencoba mengukir senyum di bibirnya yang teroles lipstik merah menyala, meski rasanya otot-otot wajahnya akan retak.

"Aku hanya butuh sedikit udara segar, Kak Xeena. Terima kasih sudah perhatian."

"Bagaimana dengan bayimu?" tanya Baxeena lagi, sama sekali mengabaikan tatapan peringatan yang dilemparkan adik laki-lakinya. "Siapa tadi namanya? Draco? Apa dia sangat mirip dengan Jonathan? Biasanya anak laki-laki adalah fotokopi mutlak dari ayahnya."

Keheningan mendadak jatuh menimpa meja makan itu. Udara di ruangan terasa membeku seketika.

Pertanyaan polos dari Xeena itu bagaikan korek api yang dilempar ke atas genangan bensin—memicu bom waktu yang sejak tadi berdetak di antara mereka.

Aurora merasakan tenggorokannya kering kerontang. Ia melirik Jonathan dari sudut matanya. Suaminya itu justru berpura-pura sibuk berbisik mengenai jadwal esok hari dengan Berenda, seolah-olah topik tentang darah dagingnya sendiri adalah hal asing yang tidak layak ditanggapi.

"Draco... dia punya ciri khasnya sendiri," jawab Aurora dengan suara pelan yang nyaris tenggelam oleh derum halus pendingin udara.

"Aku sangat ingin melihat fotonya," desak Baxeena hangat. "Kau pasti punya banyak fotonya di ponselmu, kan?"

Aurora ragu. Jemarinya yang memegang tas genggam makin gemetar.

Jika ia mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto Draco, Braxley yang duduk tepat di seberangnya pasti akan melihatnya.

Dan jika pria itu menatap mata dan garis rahang bayi mungil tersebut—wajah yang merupakan cerminan murni dari masa lalu—apa yang akan tersisa dari sisa-sisa hidupnya?

"Ponselku... habis baterai," bohong Aurora, suaranya sedikit goyah.

"Oh, sayang sekali," ujar Baxeena lembut, menunjukkan kekecewaan yang tulus.

Tiba-tiba, suara berat yang amat dingin memotong keheningan.

"Mungkin karena bayi itu sama sekali tidak mirip dengan ayahnya," ujar Braxley dengan nada santai yang amat beracun. "Sehingga ibunya merasa malu untuk menunjukkannya pada orang lain."

Bum!

Kalimat itu dijatuhkan bagaikan granat aktif di tengah meja makan.

Jonathan serta-merta berhenti bicara dengan Berenda.

Pria itu menoleh kaku ke arah Braxley dengan tatapan mata membelalak tajam. Ego dan harga diri seorang pria Carser terusik hebat di depan bawahan dan tamunya.

"Apa maksudmu dengan ucapan itu, Braxley?" tanya Jonathan dengan suara rendah yang sarat akan ancaman.

Braxley menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya dominan.

Matanya yang sedalam samudra kelabu menatap Jonathan tanpa gentar sedikit pun, sebelum akhirnya bergulir—hanya untuk satu detik yang mematikan—ke arah Aurora. Tatapan sekilas yang sanggup membakar seluruh lapisan kulit dan pertahanan wanita itu.

"Hanya pengamatan acak," ujar Braxley tenang, hampir tanpa beban. "Biasanya, orang tua yang bangga akan memamerkan foto anak mereka tanpa perlu diminta dua kali. Tapi kalian berdua... kalian tampak jauh lebih sibuk dan intim dengan asisten masing-masing daripada membicarakan calon pewaris Carser."

Jonathan tertawa, namun nada tawa yang keluar dari tenggorokannya terdengar sangat dipaksakan dan sumbang.

"Kami hanya bersikap profesional di depan kolega bisnis, Braxley. Dan tentang Draco... dia masih terlalu kecil untuk dibilang mirip siapa. Tapi yang jelas, dia adalah masa depan resmi keluarga Carser."

Dada Aurora bergemuruh mual mendengar kebohongan itu. Masa depan keluarga Carser. Kata-kata itu terdengar begitu menjijikkan dan munafik saat keluar dari mulut pria yang baru beberapa jam lalu menyebut Draco sebagai "putramu" dan menuduh kehamilannya sebagai hasil Penghianatan.

Makan malam yang menyesakkan itu terus berlanjut dengan ketegangan yang kian merayap di bawah permukaan. Jonathan tak berhenti memberikan perhatian berlebih pada Berenda di bawah meja, sementara Braxley tetap menjadi kutub es yang tak tersentuh oleh percakapan apa pun.

Satu jam kemudian, Jonathan meminta izin untuk meninggalkan meja guna menjawab panggilan telepon penting di lobi luar yang lebih tenang.

Hanya berselang dua menit setelah suaminya menghilang di balik pintu kayu mahoni, Berenda berdiri menyusul dengan dalih ingin memperbarui riasan di toilet.

Di dalam ruangan privat itu, kini hanya tersisa Aurora di antara anggota keluarga Desmon.

"Jonathan benar-benar tidak berubah, ya," gumam Baxeena pelan, matanya menatap sinis ke arah pintu tempat Jonathan baru saja keluar. "Masih tetap sombong dan haus validasi seperti saat di kampus dulu."

Aurora tidak menjawab. Ia menunduk kaku, menatap permukaan anggur merah di gelasnya yang masih utuh tak tersentuh.

"Kenapa kau memilih menikah dengannya, Aurora?"

Pertanyaan tajam itu bukan datang dari Baxeena. Itu adalah suara Braxley.

Suara berat yang bertahun-tahun lalu selalu membisikkan janji manis dan kata-kata cinta di telinga Aurora saat mereka berpelukan, kini terdengar dingin dan tanpa ampun bagaikan vonis dari seorang hakim eksekutor.

Aurora membuang napas perlahan, lalu mengangkat wajahnya yang pucat untuk menatap langsung ke dalam mata Braxley. "Itu bukan urusanmu lagi, Braxley."

"Tentu saja bukan," Braxley menyunggingkan senyum sinis yang amat menyakitkan. "Hanya saja aku merasa penasaran. Apa sebenarnya yang kau cari dari pria seperti dia? Kekayaan? Nama besar keluarga Carser? Atau kau hanya sedang mencari seorang pria yang cukup bodoh untuk bersedia menerima wanita yang sudah rusak sepertimu?"

PLAK!

Suara tamparan keras memecahkan kesunyian ruangan privat itu.

Sebelum Aurora menyadari apa yang dilakukannya, tubuhnya sudah berdiri tegak di samping meja, dengan telapak tangan kanan yang terasa panas dan gemetar hebat setelah mendarat telak di pipi kiri Braxley.

Clark, asisten Braxley yang berdiri di sudut ruangan, tersentak kaget dan hampir melangkah maju.

Baxeena dengan cepat menutup mulutnya menggunakan kedua tangan, terperangah melihat keberanian wanita di depannya.

Braxley sama sekali tidak tersungkur. Kepala dan wajahnya hanya berpaling sedikit akibat dorongan tamparan keras itu.

Secara perlahan dan mengerikan, ia mengembalikan posisi kepalanya, menatap lurus pada Aurora dengan iris mata kelabu yang kini membara oleh amarah murni yang membakar.

"Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang harus kulalui selama ini!" desis Aurora, napasnya memburu dan air mata frustrasi mulai menggenang pekat di pelupuk matanya.

"Kau pergi meninggalkan kota ini, Braxley! Kau pergi begitu saja saat aku sedang hancur-hancurnya!"

"Aku pergi karena kau sendiri yang mendorongku keluar dari hidupmu, Aurora!" balas Braxley, suaranya naik satu oktaf, meluncur tajam meski ia masih berusaha menahannya agar tidak terdengar ke luar ruangan.

"Kau yang memilih untuk membunuh masa depan kita dengan pil-pil itu! Kau yang tidak pernah punya kepercayaan sedikit pun padaku!"

"Aku melakukannya karena aku takut!" teriak Aurora tertahan, seluruh pertahanannya runtuh saat ingatan traumatik itu berputar kembali. "Aku takut tidak akan pernah bisa menjadi wanita yang cukup pantas untuk mendampingimu!"

"Dan sekarang?" Braxley berdiri dari kursinya, menunjuk kasar ke arah pintu tempat Jonathan pergi. "Apa pria itu yang kau butuhkan dalam hidupmu?! Seorang suami yang bahkan tidak bisa membedakan mana batas untuk istri dan mana untuk asisten pribadinya??!"

Aurora terdiam mematung. Kata-kata Braxley menghantam kesadarannya bagaikan bilah-bilah pisau yang mencabik-cabik harga dirinya.

Dalam keputusasaan yang memuncak, kalimat-kalimat yang selama bertahun-tahun terpendam di dasar hatinya akhirnya meluncur lepas begitu saja dari bibir Aurora yang bergetar hebat.

"Jika saja... jika saja dulu kau mau berubah, Braxley! Jika saja kau tidak terus-menerus terlibat tawuran, tidak sibuk berlagak jadi jagoan jalanan yang mengabaikan masa depan, mungkin aku tidak akan pernah senekat itu meminum pil-pil kontrasepsi itu secara berlebihan! Aku takut... aku sangat takut kau memang belum siap dan tidak akan pernah siap untuk menjadi seorang ayah!"

Deg.

Ruangan itu mendadak hening total, seolah seluruh pasokan oksigen ditarik keluar secara paksa.

Braxley menatap Aurora dengan tatapan yang amat dingin dan mematikan. "Pembohong," bisik Braxley, suaranya pelan namun sanggup meremukkan jantung Aurora.

"Kau pikir aku tidak tahu tentang rumor kehamilanmu yang terlalu cepat itu? Aku tahu persis Jonathan meragukan keabsahan Draco setiap hari di rumahmu."

"Draco adalah anak Jonathan!" ucap Aurora cepat, suaranya melengking tinggi dalam kepanikan yang mendalam.

Braxley melangkah satu tahap melintasi meja, mengikis jarak di antara mereka.

Pria itu menatap lurus ke dalam iris mata Aurora dengan pandangan mata yang sangat dalam, seakan mampu membongkar seluruh rahasia tergelap yang disembunyikan wanita itu di dasar jiwanya.

"Jika kau masih terus membohongi dirimu dan dunia, kau hanya sedang membunuh dirimu sendiri secara perlahan, Aurora."

Sebelum Aurora sempat membalas ucapan bernada ancaman itu, gagang pintu kayu mahoni berputar tajam.

Pintu terdorong terbuka dan Jonathan melangkah masuk kembali ke dalam ruangan bersama Berenda yang menyusul di belakangnya. Raut wajah Jonathan mendadak berubah keruh dan penuh kecurigaan saat melihat posisi istrinya dan Braxley yang berdiri berhadapan dalam jarak yang terlampau dekat.

"Ada apa ini?" tanya Jonathan tajam, matanya menatap bergantian antara wajah Aurora yang memerah basah oleh air mata dan raut wajah kaku Braxley.

Braxley tidak berkedip sedikit pun saat mengalihkan pandangannya pada Jonathan. Dengan ketenangan luar biasa yang dingin dan menakutkan, ia membenarkan posisi kerah jasnya.

"Istrimu... sepertinya tampak sangat tidak nyaman," kata Braxley penuh arti, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sindiran. "Mungkin dia butuh istirahat, Jonathan. Jangan menyiksa wanita yang baru saja melahirkan demi memamerkannya di meja perjamuan."

Jonathan tersentak pelan, egonya merasa tersindir hebat.

Namun sebelum ia sempat meluapkan amarah pada Braxley, Aurora sudah melangkah mundur, membelakangi mereka semua untuk menyapu air mata di pipinya.

Malam ini baru saja dimulai, namun reruntuhan masa lalu sudah siap menimbun mereka bertiga dalam kehancuran yang tak terelakkan.

1
Astrid Kucrit
lyn,cuma kamu yang draco inginkan
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak🙏🏻
total 1 replies
Siti Kamisah Hasnul
Linzy ternyata anak Jonathan...wahhhhh...kacau ini
Rosdianah 🌷: jangan kacau dulu kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
gak nyangka udah di tahap baca ceritanya anaknya AJ brarti si braxley ini cucunya vexana sama landon 🤣
Rosdianah 🌷: hehe iya kak, kembarannya Braxton disebelah kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
jonathan harus di kasih pelajaran tambahan nih 🤣🤣🤣tuh orang gak ada takut nya
😔
Rosdianah 🌷: Wajib digoyeng 🤣🤭
total 1 replies
Ainun Mahya
nggk up nih kak?
Rosdianah 🌷: huhu besok author Double Up 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
vote meluncur🤭🤭
Rosdianah 🌷: uhuy ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
widieww....braxley tipe2 blackflag banget gak sih🤔🤣😂
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
selamat thor udah meluncur karya baru lagi🥳🥳🥳
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳
Rosdianah 🌷: Huhu🫶 Ma'aciww kak, Dan ma'aciww juga asas setiap Jejak Nya selama ini. semoga cerita nya. happy reading 🥰
total 1 replies
Hennyy exo
wow karya mu emang bagus thor
Rosdianah 🌷: ma'aciw kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!