Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.
Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.
Kali ini, segalanya akan berbeda.
Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.
"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."
Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20 Gudang yang Terbakar
Sebelum Arjuna bergerak ke gudang barat, salinan buku besar dikirim ke Puri Timur.
Anindya menerimanya di atas dipan dengan bantal menopang punggung. Wulan menaruh semangkuk jamu penghangat di meja, wajahnya jelas tidak setuju.
"Gusti Putri seharusnya tidur."
"Aku akan tidur setelah membaca tiga halaman."
"Tadi Gusti berkata dua halaman."
"Berarti aku masih jujur. Aku belum berkata sepuluh."
Wulan ingin marah, tetapi gagal. Ia hanya menarik selimut lebih tinggi ke bahu Anindya.
Halaman-halaman itu berbau tinta baru karena disalin terburu-buru oleh orang Harsa. Namun angka di dalamnya berasal dari buku tua yang sudah lama menyimpan dosa. Anindya membaca tanggal, tanda K, biaya pengawalan, dan catatan sumbangan upacara. Beberapa kali ia berhenti untuk menghangatkan jari di cangkir, lalu kembali menulis.
Di halaman ketiga, matanya menyipit.
Gudang barat disebut lima kali, tetapi jumlah barangnya kecil. Terlalu kecil untuk membuat Kertanegara panik. Di sisi lain, setiap catatan gudang barat selalu diikuti lambang kecil berbentuk gelombang.
Air.
Anindya menarik napas. "Wulan, panggil Bagus. Sekarang."
***
Arjuna tiba di dekat gudang barat saat matahari condong ke barat.
Bangunan itu berdiri di belakang deretan rumah saudagar, dindingnya dari bata merah, pintunya besar dan sudah ditutup dari dalam. Bau minyak tanah samar tercium dari jalan. Terlalu jelas.
"Mereka ingin kita melihat api," kata Arjuna.
Harsa menatap pintu. "Tetap harus dihentikan. Jika benar ada dokumen, kita tidak bisa membiarkannya habis."
"Garuda."
Garuda memberi isyarat. Tiga anggota Pasukan Garuda bergerak ke belakang gudang. Tidak lama kemudian, terdengar suara pendek dari dalam, lalu pintu samping terbuka. Seorang penjaga berlari keluar, langsung ditangkap.
Di dalam gudang, api baru mulai menyala di sudut kanan. Beberapa peti kosong ditumpuk seperti korban, disiram minyak agar terbakar cepat. Asap hitam naik, membuat mata perih.
"Padamkan," perintah Arjuna.
Orang-orang Garuda bergerak membawa karung basah. Darmawan yang ikut dari Pasar Sentosa memaki pelan saat melihat peti-peti kosong.
"Ini panggung."
"Ya."
Harsa menemukan beberapa lembar catatan yang sengaja dibiarkan di dekat api. Ia mengambil satu dengan penjepit. "Nama kecil. Jumlah kecil. Kalau ini yang mereka biarkan terbakar, berarti ini yang ingin kita temukan."
Arjuna menatap gudang itu. Terlalu mudah. Kertanegara tidak bodoh. Panik, iya. Bodoh, tidak.
Seorang anak buah Adi datang terengah dari arah jalan. Ia membawa kain kecil yang diikat tiga simpul, tanda pesan dari Puri Timur.
"Dari Gusti Putri."
Arjuna membuka kain itu.
Tulisan Anindya pendek, tetapi cukup membuat matanya berubah.
Gudang barat hanya umpan. Periksa jalur air. Lambang gelombang muncul setelah setiap catatan gudang barat.
Arjuna hampir bisa mendengar suara Anindya di balik tulisan itu: tenang, lemah, tetapi keras kepala.
"Garuda, tinggalkan dua orang di sini. Sisanya ke saluran air belakang."
Harsa langsung mengikuti. "Aku ikut."
"Kau perlu melihat dengan mata Pengadilan."
Mereka berlari melewati lorong sempit di belakang gudang. Bau air busuk dan lumpur semakin kuat. Di ujung lorong ada pintu kayu rendah yang mengarah ke saluran air kecil. Dua perahu datar sudah siap di sana, masing-masing memuat peti-peti panjang yang ditutup kain bekas.
Para pengangkut terkejut melihat Arjuna.
"Berhenti!" seru Garuda.
Salah satu pengangkut melompat ke perahu dan mencoba memotong tali. Garuda melempar keris kecil ke tiang kayu di samping tangannya. Pria itu membeku.
Pertarungan singkat terjadi di tepi saluran. Satu orang tercebur ke air, dua ditangkap, satu mencoba melarikan diri membawa kantong dokumen. Arjuna mengejarnya sampai jembatan kecil, menarik kerahnya, dan menjatuhkannya ke tanah.
Kantong itu terbuka.
Di dalamnya ada gulungan daftar pembayaran, beberapa cap lilin, dan surat pendek dengan tanda Kementerian Perang.
Harsa berlutut, wajahnya berubah serius. "Ini bukan catatan gudang biasa."
Arjuna membuka salah satu gulungan. Di sana tertulis jumlah pembayaran untuk penjaga pos, nama pengawas pelabuhan, dan satu baris yang membuat semua orang diam.
Untuk rumah Pangeran B.
Tidak menyebut Baskara lengkap. Tetapi cukup jelas untuk membuat udara terasa lebih tajam.
Darmawan yang baru menyusul bersiul rendah. "Mereka mulai ceroboh."
"Bukan ceroboh," kata Arjuna. "Terlalu percaya tidak ada yang berani membaca sampai sini."
Harsa segera mengeluarkan segel Pengadilan. "Semua peti disita."
Garuda membuka satu peti. Isinya bukan kain upacara. Ada logam mentah, rempah langka yang dibungkus daun tebal, dan beberapa bilah pedang pendek belum diasah.
"Senjata," kata Harsa.
"Bahan senjata," koreksi Arjuna. "Belum selesai. Artinya jaringan ini bukan hanya mengumpulkan uang. Mereka juga menyiapkan kekuatan."
Semua orang memahami maksudnya.
Ini bukan sekadar perdagangan gelap.
Ini dasar untuk pasukan pribadi.
Harsa memanggil dua saksi tambahan dari pos air terdekat. Ia memaksa mereka melihat isi peti satu per satu sebelum disegel. Wajah kedua penjaga pos berubah pucat saat mengenali cap yang selama ini mereka biarkan lewat.
"Jika ini masuk laporan resmi, Kementerian Perang akan mengguncang meja," kata Harsa pelan.
"Biarkan mereka mengguncang," jawab Arjuna. "Orang yang tangannya bersih tidak takut pada meja yang berguncang."
Darmawan menutup salah satu peti. "Dan orang yang tangannya kotor akan mencari air untuk mencuci."
"Itulah saat kita lihat warna airnya," kata Arjuna.
Garuda segera memerintahkan semua peti dibawa ke tempat penyimpanan Pengadilan sebelum malam semakin ramai sekali.
***
Kabar penyitaan saluran air sampai ke Kadipaten Kertanegara sebelum malam.
Adipati Kertanegara berdiri di ruang pribadinya, wajahnya seputih kapur. Pengurus gudang berlutut di depannya, tubuhnya gemetar.
"Gudang barat hanya umpan," bisik Adipati. "Bagaimana mereka tahu jalur air?"
Tidak ada yang bisa menjawab.
Seorang utusan dari Puri Baskara tiba dengan wajah tertutup tudung. Ia tidak masuk terlalu jauh, hanya menyerahkan satu pesan dan pergi.
Adipati membuka pesan itu.
Isinya hanya dua baris.
Jangan sebut nama Pangeran Baskara.
Selesaikan sendiri.
Kertas itu bergetar di tangannya.
Di Puri Timur, Arjuna kembali saat malam turun. Pakaiannya masih berbau asap dan air saluran. Anindya belum tidur. Tentu saja.
"Jalur air?" tanyanya.
Arjuna berdiri di ambang pintu, menatap wajah pucatnya yang tetap mencoba terlihat kuat.
"Kau benar."
Anindya mengembuskan napas pelan.
"Apa yang ditemukan?"
"Bahan senjata, rempah gelap, dan pembayaran untuk rumah Pangeran B."
Wulan hampir menjatuhkan cangkir.
Anindya menatap salinan buku di pangkuannya. "Berarti Kertanegara tidak hanya memperkaya diri."
"Mereka membiayai sesuatu yang lebih besar."
Di luar, Garuda berlutut di depan pintu dengan laporan baru.
"Yang Mulia, Adipati Kertanegara menerima pesan dari Puri Baskara. Isinya memerintahkan dia menanggung semuanya sendiri."
Arjuna tersenyum dingin.
"Bagus. Besok kita lihat bagaimana wajah orang yang dibuang tuannya sendiri."