Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.
Ruang perawatan itu tampak sunyi dengan aroma steril yang begitu pekat memenuhi udara dan hanya diisi dengan suara monitor yang monoton.
Di satu-satunya ranjang rumah sakit yang ada di ruangan itu, seorang wanita paruh baya terbaring tanpa pergerakan dengan beberapa alat medis membelenggu tubuhnya yang menjadi alat penopang hidup.
Wajahnya tampak pucat di bawah cahaya lampu putih. Rambut yang dulu hitam legam kini dipenuhi uban tipis. Dadanya naik turun dengan teratur, namun wajahnya menyiratkan lara yang tidak bisa dilihat siapa pun selain dirinya sendiri yang tak kunjung membuka mata meski tahun sudah berganti berulang kali.
Klik.
Suara pintu dibuka memecah keheningan ruangan. Sesaat kemudian, sosok Bram yang masih mengenakan setelan jas usai bekerja masuk dan menutup pintu di belakangnya. Selama beberapa saat, tatapan Bram mengunci tubuh tak berdaya yang terbaring di atas ranjang, kemudian ia berjalan mendekat.
Bram berdiri di sisi ranjang, jemarinya mengepal pelan pada tepi ranjang, lalu ia menunduk menatap wajah wanita itu lebih dekat.
"Mirah... Kau masih hidup?"
Tidak ada jawaban. Hanya suara dengung mesin yang terdengar teratur dan dingin.
Bram menarik kursi, tetapi ia tidak duduk. Ia tetap berdiri dengan netra mengunci wajah pucat wanita yang ia sebut Mirah.
"Orang-orang mungkin mengira kau adalah korban." Bram tersenyum tanpa kehangatan. "Mereka tidak tahu siapa kau sebenarnya."
Mirah tetap diam. Kelopak matanya tak bergerak, napasnya tetap tenang dibantu mesin yang sudah menjadi penopang hidupnya selama puluhan tahun.
"Dua puluh tiga tahun, Mirah. Kau seperti ini karena dosamu sendiri."
Kalimat itu meluncur pelan, tetapi tajam.
"Jadi, tetaplah seperti ini. biarkan semua yang terjadi malam itu mati bersamamu."
Bram menegakkan tubuhnya, menatap wajah pucat wanita yang mustahil untuk kembali membuka mata ataupun bicara, kemudia ia berbalik dan berjalan menuju pintu.
Pintu menutup, ruangan itu kembali sunyi dengan monitor berbunyi stabil seperti biasa.
Namun perlahan, jemari Mirah bergerak, kelopak matanya bergetar pelan, sekali, lalu kembali diam. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya kedua mata itu terbuka.
.
.
.
Di balik kemudi, Damar menginjak pedal rem berulang kali. Namun, sebanyak apa pun ia mencoba, meski ia sudah menginjak pedal sampai dasar, mobilnya tidak mau berhenti. Mobil itu terus melaju.
Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya, wajahnya pucat pasi. Berulang kali ia berusaha mengendalikan kemudi saat mobil keluar dari jalur. Ia bahkan sudah menurunkan kecepatan, menarik rem tangan, tetapi jarak menuju persimpangan semakin pendek.
Dan ketika sebuah truk melaju dari arah berlawanan setelah ia berhasil menghindari mobil pengemudi lain, ia kehilangan kendali. Ia membanting setir saat mobilnya hilang keseimbangan yang mengakibatkan benturan keras tidak bisa dihindari.
Brak!
Bagian depan mobil menyerempet badan truk yang melaju dari arah berlawanan, mobilnya berputar sebelum menghantam pembatas jalan, menimbulkan suara benturan logam yang memekakan telinga sebelum akhirnya mobil itu berhenti dengan asap yang mengepul dari kap mobil.
Tubuh Damar terdorong maju, kepalanya membentur kemudi dengan keras, sementara tubuhnya membentur pintu mobil, meninggalkan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya bersama kelembapan yang mengalir di dahinya yang terluka.
Samar-samar, aroma bensin menguar di udara disusul percikan api yang muncul dari mesin. Semua orang yang melihat hal itu menjauh, tak ada satu pun dari mereka berani mendekat.
Suara decit ban yang beradu dengan aspal memecah kerumunan. Elang melompat turun bahkan sebelum mobil yang Keira kemudikan benar-benar berhanti. Langkahnya tergesa mendekati mobil yang sudah dikelilingi asap.
“Pak Damar!”
Elang mencoba membuka pintu pengemudi, namun terkunci. Ia menggedornya, tetapi tak ada hasil. Yang ada hanyalah aroma bensin yang semakin pekat.
Damar masih setengah sadar dengan tubuh yang tertahan seatbelt. Kepalanya berdenyut hebat, tubuhnya mati rasa, membuat ia bahkan tidak bisa menggerakkan satu pun jemarinya.
“Elang!” Keira tiba beberapa detik kemudian.
“Mundur!"
Setelah memastikan Keira sedikit menjauh, Elang menghantamkan sikunya pada kaca mobil di pintu penumpang belakang untuk menghindari pecahan kaca yang mungkin bisa melukai Damar.
Satu kali. Kaca mobil itu bergetar pelan.
Dua kali, retakan tipis mulai terlihat seperti jaring laba-laba, meninggalkan rasa nyeri pada siku Elang.
Kali ketiga, kaca mobil pecah, serpihan kaca itu berhamburan, meninggalkan luka gores pada siku Elang yang kini memiliki noda merah.
Ketegangan meningkat saat perckan api kembali muncul seperti lidah api yang nyaris menyentuh bensin yang menetes di aspal. Namun, itu tidak membuat Elang berhenti. Dengan gerakan cepat dan presisi, Elang membuka pintu mobil, membuka kunci pada pintu depan. Dan beralih membuka pintu kemudi untuk mengeluarkan Damar dari mobil dengan gerakan cepat namun hati-hati.
Percikan api dari mesin mobil menyambar tetesan bensin yang sudah membentuk genangan di bawah mobil, menciptakan kobaran api yang melahap mobil di detik terakhir setelah Elang berhasil membawa Damar menjauh.
"Pak."
Elang memanggil Damar yang kini ia papah, namun tak ada jawaban.
"Ke mobil," ucap Keira cepat. " Akan terlalu lama jika menunggu ambulan."
Elang segera membawa tubuh Damar ke mobil Keira tanpa menjawab, menyandarkan kepala Damar di bahunya begitu ia duduk di jok belakang sambil memastikan kepala Damar tidak menerima benturan, sementara satu tangannya yang masih bebas mengeluarkan ponsel dari saku celana untuk menghubungi ayahnya.
.
.
Tim medis sudah menunggu di depan pintu saat mobil Keira tiba. Dua petugas segera mendekat begitu mobil berhenti sambil mendorong brankar dan membantu Elang membaringkan Damar ke atas brankar.
Gema langkah tergesa di lorong rumah sakit menjadi saksi bisu saat brankar tempat Damar terbaring didorong menuju ruang darurat. Di saat yang bersamaan, brankar lain datang dari arah berlawanan dengan seorang wanita berusia lima puluhan terbaring di atasnya.
Kedua brankar itu berpapasan tepat saat kedua mata wanita itu terbuka perlahan. Waktu seolah berhenti bergerak. Kedua mata wanita itu melebar saat pandangannya menangkap wajah Damar yang terbaring tak sadarkan diri dengan darah di garis rahang pria itu.
Tubuh wanita itu bergetar, tangannya terangkat dengan gemetar, sesaat kemudian tatapannya beralih pada Elang yang mendorong brankar Damar, membuat air mata bergulir tanpa diminta.
Dalam gerakan sepersekian detik sebelum Elang melangkah melewatinya, tangan kurusnya menangkap tangan Elang yang membuat langkah Elang terhenti dan menoleh.
"Apakah Anda mengenal pasien?"
Perawat yang mendorong brankar wanita itu refleks menghentikan langkahnya.
"Saya tidak-"
"Elang," Keira menyela sebelum Elang sempat menjawab. "Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Bu Keira menunggu di depan ruang darurat saja menunggu keluarga Pak Damar tiba," jawab Elang.
Keira mengangguk singkat sebelum berbalik pergi. Sementara Elang segera menurunkan pandangannya pada tangan wanita asing yang tidak ia kenal.
"Apakah Anda membutuhkan sesuatu dari saya, Nyonya?" tanya Elang sopan tanpa menarik tangannya meski ia bisa.
Wanita yang tidak lain adalah Mirah mengangkat satu tangannya yang masih bebas tanpa melepaskan tangan Elang, menunjuk ke arah di mana brankar Damar menghilang dari pandangan mereka.
"Ar-... Ar-"
Mira terbata, berusaha untuk mengeluarkan kalimat yang tersangkut di tenggorokannya.
"Arkatama?" tebak Elang.
Mirah mengangguk.
"Anda mengenal Pak Damar Arkatama?" tanya Elang.
Mirah kembali mengangguk. "A- apa... ya-..."
"Apa yang terjadi?" tebak Elang lagi.
Sekali lagi Mirah mengangguk.
Elang sedikit menundukkan tubuhnya. "Kecelakaan mobil." tangannya menepuk lembut punggung tangan Mirah saat melihat keterkejutan di wajah Mirah, berusaha menenangkan wanita itu. "Beliau mendapatkan benturan di kepala, tapi saya yakin beliau tidak apa-apa."
"K-ka..mu p-pu...tranya?" tanya Mirah.
Elang tersenyum sambil menggeleng. "Bukan."
"A-ay...yahmu?"
Elang menggosok tengkuknya. Ia ingin segera pergi, namun tangan wanita itu masih mencekal pergelangan tangannya. Hingga ia tidak memiliki pilihan lain selain mengeluarkan ponsel dan menunjukkan potret sang ayah pada Mirah.
"Ini ayahku."
Kedua mata Mirah melebar sempurna, tubuhnya bergetar, kepalanya menggeleng kuat.
"Bu-bukan... Bu-kan...."
"Suster, tolong bawa Nyonya ini, saya sungguh tidak mengenalnya." ucap Elang mencoba melepaskan cekalan lemah Mirah dari tangannya.
"Bu-bukan..." Mirah mengulang kata yang gagal ia ucapkan.
Elang kian tak mengerti dengan reaksi yang wanita itu perlihatkan, namun wanita itu juga tidak melepaskan Elang begitu saja.
Hingga, entah dari mana Mirah mendapatkan kekuatan fisiknya yang sudah lemah, ia menarik Elang lebih kuat saat pemuda itu berniat pergi dan mengucapkan satu kalimat tanpa terbata yang membuat dunia Elang berhenti.
"Bram Mahesa bukan ayahmu."
. . . .
. . . .
To be continued...
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????