NovelToon NovelToon
Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: Hello Ketty.

Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.

Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Saat melangkah memasuki mansion, Sera sudah ditunggu oleh Martha dan Bianca. Kedua wanita itu berdiri tegak di ambang pintu sambil melipat tangan di dada.

"Dari mana saja kau?" tanya Martha dengan nada mengintimidasi.

"Apa aku perlu melapor pada seorang pelayan jika aku mau pergi?" jawab Sera tajam.

Wajah Martha seketika berubah marah. "Berani sekali kau!"

"Biarkan aku yang menghukumnya," sahut Bianca sambil mengangkat cambuk yang sudah ia pegang sejak tadi menunggu kedatangan Sera.

Sera sempat bergerak hendak menangkis serangan tiba-tiba itu, tapi dia segera menahan diri.

Kalau aku terlalu cepat menangkis, nanti mereka curiga dan tahu aku bisa bela diri, batinnya.

Srek!

Cambuk itu melesat dan mengenai bahu Sera dengan keras.

Sera merasakan perih luar biasa menghantam bahunya. Gadis itu bisa membayangkan betapa menderitanya kakak dulu saat dipukul berulang kali hingga bekas luka memenuhi seluruh punggungnya.

Bianca kembali mengangkat cambuk, siap melesatkannya lagi untuk melampiaskan amarah sekaligus membalas dendam.

"Kalau kalian terus menyakitiku, aku akan langsung melaporkan semuanya pada Paman Sean!" Sera akhirnya tak punya pilihan selain menggunakan nama Sean untuk menakuti mereka.

"Berani kau!" tegur Rika yang tiba-tiba datang sambil menyunggingkan senyum jahat.

"Kenapa aku tidak beran, Bu. Mereka menyakitiku. Dan kalau Paman tahu, mereka semua pasti akan dipecat!" Jawab Sera tegas.

Mendengar kata 'dipecat', tangan Bianca gemetar ketakutan mencengkeram gagang cambuk.

Dia teringat nyaris saja kehilangan pekerjaannya. Gaji di mansion itu sangat besar, berkali lipat lebih banyak dibanding bekerja sebagai pelayan di rumah orang kaya lainnya. Mana mungkin ia mau melepaskan mata pencaharian yang begitu menguntungkan.

"Sera, apa kau tidak takut kalau Sean pergi lagi seperti biasanya? Apa kau tidak takut kalau kami akan menghukummu? Ingat, kami tidak akan segan-segan menyingkirkanmu. Teriaklah sepuasmu sekarang, karena begitu Sean pergi, kau akan hancur lebur!" ancam Rika.

"Sudah, ayo masuk saja!" ujar Martha lalu pergi. Bianca pun segera menyusul.

Melihat mereka menghilang, Sera segera berlari menaiki tangga. Ia hanya mengambil barang-barang penting untuk dibawa.

Setelah itu kembali turun ke lantai bawah. Ia harus segera berangkat kembali ke desa, apalagi sekarang neneknya sedang terbaring sakit.

Diparkiran, Sera tidak sengaja berpapasan dengan Sean yang baru saja pulang.

Sean melihatnya membawa tas kecil seperti mau pergi.

"Kau mau ke mana, Sarah?"

"Paman... Aku mau pulang ke desa dulu, Paman. Nenekku sedang sakit."

"Nenekmu sakit?"

"Iya, Paman."

"Kau sudah izin dengan suamimu?"

"Mas Adrian masih ada di kantor, Paman. Dan aku mau cepat,"

"Ya sudah, aku panggil sopir supaya mengantarmu sampai ke desa dengan aman."

"Tidak usah, Paman. Aku bisa pergi sendiri," ucap Sera berusaha menahan langkah pria itu.

"Tidak apa-apa, Sarah. Lagipula, perjalanan ke desa itu cukup jauh, lebih baik kau diantar supaya cepat sampai ditujuan."

"Tapi Paman... Apa aku tidak merepotkan?"

"Sama sekali tidak."

"Terima kasih banyak, Paman."

Sean pun memanggil salah satu sopir yang biasa dipanggil Pak Yan.

"Pak Yan," panggil Sean.

"Ya, Tuan?"

"Tolong antarkan Sarah pulang ke desanya ya."

"Baik, Tuan. Tapi saya harus bersiap dulu," jawab Pak Yan.

Sean menoleh kearah Sera.

"Kira-kira berapa jam perjalanannya ke desa itu, Sarah?" tanya Sean.

"Kira-kira 7 sampai 8 jam perjalanan, Paman," jawab Sera.

"Baiklah, Pak Yan segera bersiap,"

"Terima kasih, Tuan." Pak Yan bergegas masuk dan bersiap-siap.

"Kau hati-hati di jalan, Sarah."

"Iya, Paman. Terima kasih banyak sudah menyuruh sopir mengantarku."

"Hm."

Pria itu hanya berdehem, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam tanpa menoleh lagi.

Peduli... tapi terlalu dingin, gumam Sera dalam hati.

Tak lama, Pak Yan pun sudah siap. Mereka berangkat menuju desa. Sepanjang perjalanan, Sera terus berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada neneknya.

_____

Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya Sera tiba di rumah neneknya.

"Assalamualaikum, Nek..." panggil Sera.

"Waalaikumsalam..." Buk Sumi keluar menyambutnya. "Sera, kamu sudah sampai?"

"Iya, Buk. Nenek di mana?"

"Nenek ada di dalam itu."

Sera mengerut. "Bukannya Buk Sumi bilang Nenek di rumah sakit ya?" tanya Sera bingung.

"Iya, Neng Sera... Tapi Nenek meminta untuk dibawa pulang, katanya tidak betah di rumah sakit, baunya obat terus."

"Ya sudah kalau begitu... Oh ya Buk, tolong panggil dulu sopir di luar itu, lalu sajikan makanan dan minumannya. Sepertinya sopir Paman itu sudah lapar setelah perjalanan jauh."

"Baik,"

"Terima kasih, Buk."

Buk Sumi memanggil Pak Yan, sementara Sera bergegas masuk ke dalam kamar neneknya.

Menghampiri nenek yang tampak terbaring lemah seolah sakit keras. Ia langsung memeluk neneknya, air mata Sera menetes.

"Nek... Bagaimana bisa Nenek sakit seperti ini? Bukankah Sera sudah berpesan supaya Nenek selalu jaga kesehatan?"

"Sudah, tidak apa-apa... Nenek baik-baik saja."

"Sera periksa Nenek dulu ya."

Sera bersiap mengambil alat-alat medis yang memang sudah ia siapkan di rumah itu khusus untuk merawat neneknya.

Aduh, gawat... Jangan sampai Sera benar-benar memeriksaku. Aku khawatir kalau dia tahu aku sebenarnya tidak sakit sama sekali, batin Nenek Susi cemas.

Dia cuma berakting agar cucunya mau pulang dan bersedia menikah.

Nenek Susi segera menarik tangan cucunya. "Nenek tidak butuh diperiksa, Sera. Lagipula Nenek juga baru pulang dari rumah sakit,"

"Tapi Nek..."

"Tenang dulu, cucuku..." Nenek tersenyum lembut sambil mengusap pucuk kepala cucunya. "Nenek cuma rindu ingin melihat kalian..."

"Apa lagi Sarah yang seperti sudah melupakan Nenek... Bahkan lima tahun tidak pernah menginjakkan kaki di rumah ini..." Nenek tampak sedih.

Sera terdiam. Sebenarnya tadi ia sempat berniat mengajak Sarah pulang bersama, namun mengingat kakaknya masih dalam masa pemulihan dan kondisi mentalnya belum sepenuhnya stabil, ia takut kepanikan bisa membuat Sarah kambuh lagi. Akhirnya ia memilih berangkat sendiri.

"Maafkan Kak Sarah, Nek. Mungkin Kakak juga mau pulang, tapi siapa tahu saja dia lagi sibuk ngurusin suaminya," Sera bersedih karena terpaksa berbohong.

"Sudah, tidak apa-apa. Sarah kan sudah menikah, sudah ada laki-laki yang menjaganya."

Sera tersenyum kecut. Nek... Kakak memang sudah menikah, tapi dengan laki-laki bajingan itu, batinnya pedih. Ia sedih mendengar neneknya berpikir kakaknya bahagia, padahal kenyataannya Sarah disiksa habis-habisan selama lima tahun kebersamaannya bersama pria brengsek.

"Sera..." Panggil Nenek Susi dengan wajah sedih.

"Iya, Nek?"

"Kalau boleh... Nenek juga ingin kamu segera menikah. Supaya Nenek bisa tenang dan tidak perlu terus-menerus mencemaskan kalian. Nenek mohon... Menikahlah dengan laki-laki yang sudah dijodohkan denganmu itu. Setelahnya, Nenek janji tidak akan pernah memaksamu lagi. Nenek khawatir, di usia 26 tahun kamu belum juga menikah... Nenek mohon, tolong kabulkan permintaan terakhir Nenek ini, Cucuku..."

Menghelah napas berat karena berpikir misinya untuk merebut kembali harta mereka masih sangat panjang dan mustahil menikah dalam masa terdekat ini.

"Tapi Nek, Sera..." ucapannya terputus.

"Sera, kalau kau masih terus menolak... Apa kau tidak takut Nenek benar-benar pergi, dan tidak sempat melihat kalian berdua memiliki keluarga yang lengkap?" Nenek tampak sedih. "Sampai saat ini Nenek belum bisa memenuhi pesan terakhir Ayah dan Ibumu untuk menikahkanmu dengan laki-laki pilihan mereka, Sera."

Sebenarnya di lubuk hatinya ia ingin menolak, namun melihat wajah neneknya yang begitu berharap, membuat Sera tak tega. Lagipun perjodohannya sudah tertunda bertahun-tahun, dan neneknya terus menagihnya.

"Baiklah, Nek... Sera akan menikah."

Mendengar itu, Nenek Susi yang tadi berakting lemah seketika langsung bangkit dengan wajah ceria. "Benarkah, Sera?!"

Sera mengerutkan dahi melihat perubahan sikap neneknya yang begitu drastis.

Nenek Susi menyadari hampir ketahuan, lalu segera kembali berpura-pura sakit dan batuk-batuk pelan.

"Uhuk, uhuk,"

"Nenek tidak apa-apa?" tanya Sera cemas.

"Tidak apa-apa... Tapi kau benar-benar mau menikah kan?"

Sera mengangguk cepat tanpa berpikir dua kali hanya supaya bisa menenangkan sang nenek. "Iya, Nek."

"Baiklah... Pernikahannya akan diadakan besok siang."

"Apa?!" Sera terperanjat.

Dia tidak menyangka neneknya justru ingin dia menikah secepat itu.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!