Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kebohongan yang lain!
"Kalau begitu..." suara Rindu tertahan di tenggorokan.
Kalimat yang semula ingin ia ucapkan mendadak terasa begitu berat. Bibirnya terbuka, tetapi tak ada kata yang segera keluar. Dadanya dipenuhi keraguan. Sebagian dirinya masih berharap semua yang ia pikirkan hanyalah kesalahpahaman.
Arsen yang semula hendak melangkah ke arah kamar mandi akhirnya menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Rindu.
Sorot matanya dipenuhi tanda tanya, heran melihat istrinya yang biasanya tidak pernah ragu mengutarakan isi hatinya.
"Ada apa?" tanyanya pelan.
Rindu menatap wajah suaminya beberapa saat. Lalu, dengan suara yang nyaris berbisik, ia akhirnya melanjutkan kalimatnya.
"...aroma parfum siapa yang ada di jas kamu?"
Pertanyaan itu membuat Arsen mengernyitkan dahi.
"Parfum apa, Sayang?" tanyanya bingung.
Rindu tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju kursi tempat jas Arsen tergantung, lalu mengangkatnya perlahan. Kedua tangannya merapikan bagian bahu jas itu sebelum menyodorkannya kepada Arsen.
"Coba kamu cium sendiri."
Arsen menerima jas itu tanpa banyak bicara. Ekspresinya masih terlihat kebingungan. Ia mengangkat jas tersebut mendekati wajahnya, lalu menghirup aromanya beberapa kali.
Beberapa detik berlalu. Arsen kembali menghirupnya, kali ini lebih lama.
"Loh..." gumamnya pelan.
Rindu memperhatikan setiap perubahan di wajah suaminya. Dari raut yang semula bingung, kini tampak sedikit terkejut, seolah baru menyadari ada aroma yang memang bukan berasal dari parfumnya sendiri.
"Kamu nyium, kan?" tanya Rindu pelan.
Arsen kembali mencium bagian kerah jasnya.
"Iya... memang ada aroma parfum."
"Itu bukan parfum kamu." Arsen mengangguk pelan.
"Bukan."
Rindu menarik napas panjang. Setidaknya kini ia tahu dirinya tidak berhalusinasi. Aroma itu benar-benar ada.
"Makanya aku tanya," ucapnya lirih.
"Kalau kamu nggak ganti parfum, terus itu parfum siapa?"
Arsen tidak langsung menjawab. Pandangannya masih tertuju pada jas di tangannya, seolah berusaha mengingat kejadian sepanjang hari yang mungkin membuat aroma itu menempel.
"Aku... nggak tahu," katanya akhirnya.
"Nggak tahu?"
"Iya."
Arsen menggeleng pelan.
"Seharian ini aku memang banyak ketemu orang. Ada beberapa rapat, terus sempat turun ke divisi lain juga. Mungkin tanpa sengaja ada yang bersentuhan sama jas ini."
Rindu tetap menatapnya.
"Tapi wanginya kuat sekali, Mas." Arsen kembali mencium jas itu.
"Iya... memang cukup kuat."
"Dan ini bukan pertama kalinya."
Ucapan Rindu membuat Arsen mengangkat wajahnya.
"Maksud kamu?"
"Beberapa hari terakhir setiap kamu pulang, wanginya selalu sama."
Arsen terdiam. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
Baru setelah mencium jas itu, ia menyadari dari mana aroma tersebut berasal. Wanginya begitu khas. Manis dengan sentuhan bunga yang lembut. Aroma yang sudah sangat dikenalnya.
Itu parfum istri keduanya.
Sore tadi, sebelum pulang, istrinya sempat memeluk lengannya beberapa saat ketika mereka berada di apartemen. Saat itu Arsen sama sekali tidak memikirkan kemungkinan parfum itu akan tertinggal di jasnya.
Namun kini, bukti itu justru berada di tangannya sendiri.
Sesaat kepalanya terasa kosong. Tatapan Rindu yang penuh harap membuat pikirannya bekerja cepat, mencari alasan yang terdengar masuk akal.
"Beberapa hari ini..." ucap Arsen akhirnya.
"Aku memang sering ketemu klien perempuan, Sayang."
Rindu masih menatapnya tanpa berkedip.
"Klien?"
"Iya."
Arsen memaksa dirinya terdengar tenang, meski di dalam hati ia mulai panik.
"Tadi juga ada rapat sama Bu Fina."
Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
"Bu Fina?"
"Iya. Kamu kan pernah aku kenalin waktu acara ulang tahun perusahaan tahun lalu."
Rindu mencoba mengingat-ingat. Wajah Bu Fina memang masih samar di benaknya. Seingatnya, perempuan itu adalah salah satu klien penting perusahaan.
"Bu Fina pakai parfum yang wanginya memang kuat sekali," lanjut Arsen, menyempurnakan kebohongan yang baru saja ia susun.
"Kalau berdiri berhadapan atau ngobrol agak dekat, wanginya gampang nempel ke pakaian orang lain."
Ia bahkan tersenyum kecil, seolah menganggap hal itu sesuatu yang biasa.
"Tadi kami beberapa kali diskusi sambil lihat berkas. Mungkin dari situ wanginya nempel."
Rindu tidak langsung menjawab, tatapannya beralih pada jas yang masih berada di tangan Arsen.
Entah mengapa, penjelasan itu terdengar masuk akal. Namun di saat yang sama, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Memangnya sedekat itu sampai wanginya bisa nempel?" tanyanya pelan.
Arsen mengangguk cepat.
"Ruang rapat tadi juga kecil. Jadi ya... jaraknya memang dekat."
Ia berusaha menjaga sorot matanya tetap tenang, meski telapak tangannya mulai berkeringat.
"Kalau kamu nggak percaya, besok kamu bisa tanya sendiri ke Bu Fina. Dia memang terkenal suka pakai parfum yang aromanya kuat."
Kalimat itu diucapkan dengan penuh keyakinan, seolah ia tidak sedang menyembunyikan apa pun.
Padahal setiap kata yang keluar dari mulutnya hanyalah kebohongan yang dirangkai dalam hitungan detik.
"Benarkah?" suara Rindu terdengar lirih, tetapi penuh keraguan.
"Kamu nggak lagi bohong, Mas?"
Pertanyaan itu membuat Arsen membeku sesaat.
Sorot mata Rindu tidak lagi sekadar penasaran. Ada kekecewaan dan rasa takut yang perlahan muncul di balik tatapannya. Seolah-olah ia berharap Arsen segera meyakinkannya, sekaligus takut jika jawaban yang diberikan justru memperkuat prasangkanya.
Arsen memaksa tersenyum tipis.
"Ngapain aku bohong sama kamu?"
"Aku cuma nanya."
"Iya, dan aku udah jawab sejujurnya."
Arsen melangkah mendekat, lalu meletakkan kedua tangannya di bahu Rindu dengan lembut.
"Sayang, beberapa hari ini perusahaan memang lagi berantakan. Aku lembur, aku pulang malam, ketemu banyak klien, banyak rapat. Wajar kalau ada hal-hal kecil yang bikin kamu salah paham."
Tatapan Rindu tidak berpaling dari wajah suaminya.
"Kalau memang cuma karena Bu Fina..."
"Iya."
"...kenapa wanginya selalu sama setiap kamu pulang?"
Arsen kembali terdiam sepersekian detik. Pertanyaan itu jauh lebih sulit dijawab daripada yang ia bayangkan.
Ia segera memutar otak.
"Karena hampir setiap hari aku ketemu beliau," jawabnya akhirnya.
"Beliau lagi ngurus proyek yang sama dengan perusahaan kita. Hampir tiap hari ada pembahasan."
"Kalian sering berdua?"
"Nggak."
Arsen menggeleng cepat.
"Selalu ada tim lain. Nggak pernah cuma aku sama Bu Fina."
Rindu menghela napas pelan.
Melihat istrinya masih diam, Arsen menggenggam kedua tangan Rindu.
"Rindu..."
"Iya?"
"Aku tahu akhir-akhir ini aku terlalu sibuk. Aku juga jarang punya waktu buat kamu."
Rindu menundukkan kepala.
"Tapi bukan berarti ada perempuan lain."
Kalimat itu diucapkan dengan tatapan yang begitu meyakinkan, padahal jauh di dalam hatinya, Arsen merasa bersalah.
Ia sedang menatap mata perempuan yang begitu mempercayainya, sambil menyembunyikan kenyataan bahwa ia telah menikah lagi secara diam-diam.
Rasa bersalah itu sempat membuat dadanya sesak.
Namun ia tahu, mengakui semuanya malam ini bukanlah pilihan yang sanggup ia ambil.
Rindu mengusap pelan jemarinya sendiri.
"Aku cuma takut, Mas."
"Takut apa?"
"Takut kehilangan kamu."
Arsen menelan ludah. Ia menarik tubuh Rindu ke dalam pelukannya.
"Jangan mikir yang aneh-aneh."
Rindu membalas pelukan itu, tetapi tidak seerat biasanya.
Sementara Arsen memejamkan mata. Pelukan itu seharusnya membuatnya merasa tenang.
Namun justru sebaliknya. Semakin erat ia memeluk Rindu, semakin besar rasa bersalah yang menghimpit dadanya.
Kebohongan yang baru saja ia ucapkan mungkin berhasil meredakan kecurigaan istrinya untuk malam ini.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰