Selama tujuh tahun, Keira Halim mencintai Rafael Atmadja sambil membiarkan pekerjaannya dicuri, rasa sakitnya diremehkan, dan tubuhnya disebut rusak. Malam ketika Rafael mempermalukannya di depan para mitra bisnis demi membela Celine Hartono, sentuhan paksa seorang klien memicu serangan panik yang nyaris membuat Keira kehilangan kesadaran. Kali ini ia tidak memohon untuk dipercaya. Ia mengembalikan cincin pertunangannya, pergi, lalu mengetuk pintu yang salah.
Pria di balik pintu itu adalah Adrian Wijaya—dingin, penuh rahasia, tetapi tidak pernah menyentuh Keira tanpa izin. Di dekatnya, tubuh Keira yang selalu siaga akhirnya bisa bernapas. Dalam waktu empat puluh delapan jam, mereka menyepakati batas, menandatangani perjanjian harta dan berita acara di hadapan saksi, lalu mencatatkan pernikahan mereka secara resmi. Bagi Keira, itu adalah jalan keluar. Bagi Adrian, pernikahan tersebut jauh lebih pribadi daripada yang berani ia akui.
Ketika Keira membangun Lentera Brand Lab dan merebut kembali namanya, Rafael mulai menyadari perempuan yang telah ia sia-siakan tidak akan pernah pulang. Namun penyesalan sang mantan berubah menjadi kepanikan saat identitas Adrian terbuka: suami “biasa” Keira ternyata pengendali Asterion Capital sekaligus pewaris keluarga Wijaya.
Di tengah perang reputasi, sebuah jam saku lama mengungkap bahwa Keira bukan yatim piatu tanpa asal-usul. Ia adalah satu-satunya penyintas keluarga Halim, pewaris aset lintas negara, dan saksi hidup pembunuhan sembilan belas orang yang selama ini ditutupi keluarga Atmadja. Untuk merebut kembali warisan dan nama keluarganya, Keira harus menghadapi pria berjari pendek dari ingatannya, membongkar perusahaan pencemar, dan memastikan para pelaku diadili—tanpa membiarkan cinta Adrian berubah menjadi sangkar baru.
Karena kali ini, Keira tidak sedang menunggu seorang pria menyelamatkannya. Ia sedang memilih siapa yang boleh berjalan di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Sidik Jari Dua Kejahatan
Tim gabungan memisahkan serangan di Pulau Seraya dari kematian keluarga Halim selama sembilan belas tahun. Papan penyelidikan memiliki dua jalur warna. Tidak ada garis yang ditarik hanya karena nama yang sama muncul dalam cerita Keira.
Sidik jari Matius menjadi penghubung pertama yang dapat diuji. Debu gudang menjadi penghubung kedua. Polisi memperoleh izin penggeledahan berdasarkan bukti itu, bukan atas permintaan keluarga Wijaya.
Keira hadir untuk mengidentifikasi barang yang berkaitan dengannya, tetapi tetap di luar perimeter gudang lama. Ia tidak ikut membuka pintu, menyentuh dokumen, atau memberi perintah kepada petugas.
Doni dibawa untuk pemeriksaan terpisah. Ia mengakui pernah memberikan kartu akses acara kepada Celine dan menghapus log atas arahan mantan asisten Leonard.
"Saya pikir hanya untuk menutup pertemuan pribadi," katanya. "Saya tidak tahu kartu itu akan dikloning."
"Siapa yang meminta log dihapus?" tanya penyidik.
Doni menyebut satu alamat surel. Nama pengirim berubah setiap minggu, tetapi tanda tangan internal selalu memakai kode lama kantor Leonard.
Hendra juga menyerahkan riwayat pembayaran dokumen palsu. Rekening pengirim berbeda dengan pembayaran Doni, namun keduanya melewati penyedia jasa keuangan yang sama. Polisi belum menyebut itu bukti satu perintah. Mereka hanya mencatat pola.
Di gudang, petugas menemukan tungku kecil dengan abu dokumen yang masih baru. Sebagian kertas belum habis terbakar. Ada daftar nomor kontainer, jadwal petugas, dan potongan surat yang memuat kata Seraya.
Ruang belakang menyimpan kasur tipis, obat tekanan darah atas nama palsu, pakaian dengan ukuran yang sesuai Matius, serta foto jalur perjalanan Keira. Semua diambil dengan daftar barang dan saksi lokasi.
Theresia datang membawa foto asli yang selama ini disimpan dalam amplop kedap udara. Petugas membandingkan bentuk tangan Matius di foto dengan rekaman tikungan. Jari pendek dan bekas luka pada ibu jari tampak serupa, tetapi kesimpulan diserahkan kepada ahli biometrik.
"Saya melihat dia malam itu," kata Theresia. "Di dekat pintu servis rumah Halim."
"Apakah Anda melihat dia melakukan kekerasan?" tanya penyidik.
"Tidak. Saya melihatnya membawa tas dan membersihkan pegangan pintu."
Keterangan itu penting justru karena batasnya jelas.
Petugas kemudian membuka panel kontrol akses lama. Di belakangnya terselip lembar perawatan berusia sembilan belas tahun. Nama Matius tercetak sebagai teknisi pengganti. Waktu servisnya bertepatan dengan delapan menit ketika alarm rumah Halim tidak merekam pintu belakang.
Keira membaca foto lembar itu dari luar garis polisi. Nathan mungkin telah membuka pintu untuk seseorang yang dikenalnya, atau alarm sengaja dibuat buta. Bukti belum memilih jawaban.
"Matius tidak ada di gudang," kata Felix.
"Biarkan polisi yang mencari," jawab Keira. "Kita pulang setelah identifikasi selesai."
Sore hari, tim keuangan menyampaikan hasil penelusuran rekening pembayaran Hendra. Pemilik manfaat bukan Hendra, Celine, atau Leonard. Rekening itu menerima dana dari pemasok bahan industri yang selama bertahun-tahun dikendalikan melalui nominee.
Nama pemilik manfaat akhirnya terbuka setelah bank menyerahkan dokumen KYC.
Olivia Atmadja.
Hendrik menutup berkas. "Ini bukti aliran uang. Belum bukti bahwa Olivia memberi setiap instruksi."
Keira mengangguk. "Kalau kita memperbesar bukti sebelum waktunya, pengacaranya akan memakai kesalahan kita untuk mengecilkan semuanya."
Ahli pembakaran menyaring abu gudang dan memisahkan penjepit, tinta, serta potongan nomor halaman. Mereka tidak dapat membaca seluruh dokumen, tetapi urutan dua nomor cocok dengan ledger Hartono yang diserahkan Victor. Satu fragmen memuat rekening yang sama dengan pembayaran Hendra.
Keira meminta penjelasan mengapa gudang baru digeledah sekarang. Ketua tim menunjukkan dasar hukum sebelumnya belum cukup. Debu dari serangan dan sidik jari memberi hubungan baru yang memungkinkan izin dikeluarkan.
"Saya benci menunggu," kata Keira. "Tetapi saya tidak ingin bukti dibuang karena pintunya dibuka tanpa dasar."
Rani menyusun tabel siapa mengetahui rencana perjalanan. Log menunjukkan surel singkat diteruskan Doni kepada akun Celine. Surel itu tidak menyebut drive, tetapi lampirannya mempunyai foto tas standar audit. Doni mengaku tidak membuka lampiran dan tetap bertanggung jawab karena mengirim materi terbatas ke luar daftar.
Theresia menjalani pengenalan berurutan, bukan memilih Matius dari satu foto. Ia melihat beberapa gambar dengan ciri serupa dan menandai tingkat keyakinannya. Pada bentuk tangan ia yakin tinggi; pada wajah ia hanya sedang karena malam kejadian gelap.
"Jangan perbaiki jawaban saya agar terdengar kuat," katanya.
Penyidik mempertahankan kata-katanya. Bukti yang jujur tentang batas lebih berguna daripada keyakinan palsu.
Petugas juga mencari Matius dalam catatan kematian dan perjalanan. Nama samaran muncul pada resep obat di klinik dekat gudang. Kamera apotek menunjukkan laki-laki bertopi, tetapi gambarnya belum cukup untuk identifikasi. Polisi mengeluarkan pencarian terbatas agar rincian operasi tidak bocor.
Keira pulang sebelum penggeledahan selesai. Ia tidak menunggu sampai fajar demi merasa mengendalikan hasil. Rani menerima nomor penghubung dan berjanji menyampaikan semua pembaruan tanpa memilih.
Pagi berikutnya, laporan bank tiba. Struktur nominee pemasok terdiri atas tiga perusahaan. Pemilik formal berbeda, tetapi formulir KYC menunjuk satu orang yang mengendalikan keputusan dan menerima manfaat.
Sebelum nama pemilik manfaat dibagikan kepada Keira, penyidik mengonfirmasi dokumen bank melalui pejabat kepatuhan kedua. Tanda tangan Olivia muncul pada pembukaan rekening dan pembaruan tahunan, sedangkan alamat korespondensi mengarah ke kantor penasihat keluarga.
Olivia dapat berargumen bahwa perusahaan dijalankan pengurus lain. Karena itu tim mencari instruksi pembayaran, komunikasi, dan siapa yang memperoleh manfaat. Rekening saja membuka jalur, bukan menutup perkara.
Keira meminta salinan untuk Hendrik dan menolak membiarkan Naya membuat pernyataan. Jika Olivia mengetahui titik bukti terlalu cepat, dokumen pendukung mungkin hilang. Polisi menerbitkan perintah pelestarian kepada bank serta perusahaan terkait.
Rani menambahkan temuan pada daftar kontinuitas audit. Kode rekening ternyata pernah muncul dalam biaya keamanan pada proyek Pulau Seraya. Hubungan itu diperiksa terpisah agar kasus lingkungan tidak tercampur tanpa dasar.
Adrian bertanya apakah Keira ingin pulang ke Rumah Kemang atau apartemen Lentera. Ia memilih apartemen dan meminta Rani tinggal di unit sebelah. Adrian menerima tanpa menyebut jarak sebagai penolakan terhadapnya.
Untuk pertama kalinya, dua warna di papan penyelidikan bertemu pada rekening Olivia Atmadja. Garis itu tipis, tetapi tidak lagi berasal dari ingatan siapa pun.