Di dunia di mana para penyihir saling pamer ledakan dan mantra panjang, Kaelen Vance mantan pakar cybersecurity yang bereinkarnasi menjadi putra bangsawan miskin memilih menjadi anomali yang tak terlihat. Melihat sihir kuno tak lebih dari sistem jaringan yang penuh celah keamanan, Kael dengan sengaja memasukkan "kode rusak" pada ujian masuk Akademi Sihir. Tujuannya satu: dibuang ke Kelas F, sebuah gedung tua dengan sistem keamanan magis kedaluwarsa yang menjadi titik buta sempurna untuk meretas arsip kerajaan.
Publik mencapnya sebagai "Sampah Akademi". Mereka tidak tahu bahwa Kael tidak butuh merapal mantra; ia menyimpan struktur sihir di otaknya secara permanen layaknya NVRAM, dan menggunakan cincinnya sebagai router untuk meretas dan membelokkan serangan musuh di udara. Kael tidak butuh validasi atau menjadi pahlawan—ia menghancurkan musuhnya secara diam-diam dari balik layar.
Namun,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YANDRI HS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 10: Deep Packet Inspection
Malam kembali merengkuh Akademi Sihir Aethelgard dengan dingin yang menusuk tulang. Langit malam tertutup rapat oleh gumpalan awan kelabu yang tebal, menghapus pendar bintang dan menyisakan kegelapan pekat yang menelan setiap sudut bangunan tua. Di asrama elit sayap utara, lampu-lampu kristal mewah masih menyala terang, memancarkan cahaya keemasan yang menghangatkan kamar-kamar para bangsawan yang sedang tertidur pulas. Namun, di sayap selatan—khususnya di koridor-koridor kumuh Kelas F—suasana terasa sunyi mencekam, nyaris menyerupai kuburan tua yang ditinggalkan.
Di dalam kamarnya yang sempit dan berdebu, Kaelen Vance tidak menyalakan satu pun penerangan sihir. Ia duduk bersila di atas lantai kayu yang lapuk, punggungnya tegak lurus, dan kedua tangannya diletakkan tenang di atas lutut. Di hadapannya, perkamen topologi jaringan yang memetakan seluruh isi akademi terbentang lebar, memantulkan pendar biru tipis yang berasal dari cincin perak di jari telunjuknya.
Bagi siapa pun yang melihatnya dari luar, Kael tampak seperti seorang pertapa yang sedang bermeditasi dalam keheningan total. Namun, di dalam kepalanya, kesadaran Kael sedang melayang jauh melampaui batas fisik ruangan tersebut. Ia sedang melakukan *deep packet inspection*—pemindaian mendalam terhadap setiap aliran data dan residu gelombang *mana* yang melintasi kabel-kabel magis akademi.
Situasi di luar jauh lebih tegang dari perkiraan awal. Sejak insiden pemantulan sihir Valerius di arena turnamen, Dewan Agung dan para *Inquisitor* sihir utusan kerajaan telah bergerak cepat tanpa kenal lelah. Mereka mendirikan pos-pos pemindaian di setiap koridor utama, memasang kristal sensor penanda anomali di setiap pintu perbatasan, dan memperketat patroli malam dengan menyiagakan puluhan golem penjaga bersenjata lengkap yang berpatroli tanpa henti.
"Mereka sedang membangun benteng pertahanan berlapis di sekeliling gerbang depan," batin Kael dingin. Pandangan analitisnya menembus dinding batu, melihat bagaimana para *Inquisitor* sibuk memperkuat *firewall* eksternal dan menambal celah-celah kecil yang tampak di permukaan. "Mereka mengira serangan berikutnya akan datang dari luar, atau dari faksi musuh politik yang ingin merebut kekuasaan."
"Mereka bodoh. Mereka tidak menyadari bahwa benteng pertahanan itu justru sedang mencekik server pusat mereka sendiri."
Semakin ketat para *Inquisitor* memindai gerbang depan, semakin besar beban kerja yang harus ditanggung oleh kristal memori inti di bawah tanah. Sumber daya komputasi akademi terkonsentrasi untuk melayani sensor-sensor pengawas tersebut, menciptakan lonjakan beban (*overload*) pada protokol autentikasi internal. Dan di situlah letak kerentanannya. Kael tidak perlu merusak pertahanan mereka; ia hanya tinggal menunggu hingga sistem itu kelelahan menanggung bebannya sendiri.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan dan terukur terdengar dari arah pintu kamar.
*Tok. Tok. Tok.*
Ketukan itu memiliki pola yang sangat khas—dua kali ketukan cepat, satu kali jeda, lalu satu ketukan lambat. Itu adalah kode sandi rahasia yang disepakati Kael dan Elara untuk memastikan tidak ada pengawas acak yang datang menyamar.
Kael tidak beranjak dari posisinya. Ia hanya mengalirkan sedikit instruksi mental ke arah gagang pintu, membatalkan penguncian magnetiknya dari jarak jauh tanpa menyentuhnya.
Pintu berderit pelan, terbuka cukup lebar untuk memuat sosok Elara Vane yang menyelinap masuk dengan gesit. Wanita itu langsung menutup pintu rapat-rapat, menguncinya kembali dengan sihir pembatas suara, lalu menyandarkan punggungnya di daun pintu sambil mengatur napasnya yang sedikit memburu. Jubah gelapnya basah oleh embun malam, dan tudungnya ditarik rendah menutupi separuh wajahnya.
"Kau mengambil risiko besar dengan datang ke sini malam-malam, Elara," ucap Kael tanpa membuka mata, suaranya datar namun bernada tegas. "Para *Inquisitor* sedang berpatroli di lorong utama sayap barat. Sensor mereka diatur untuk mendeteksi fluktuasi *mana* sekecil apa pun di luar jadwal asrama."
Elara melepas tudungnya, mengibaskan sisa embun dari jubahnya, lalu melangkah mendekati meja Kael. Matanya menyala tajam, memancarkan kombinasi antara rasa cemas yang tertahan dan adrenalin yang memuncak.
"Aku tidak punya pilihan, Kael," balas Elara, suaranya berbisik namun tajam. "Para *Inquisitor* itu baru saja menggeledah ruang kerjaku di perpustakaan lama. Mereka membalikkan setiap tumpukan perkamen, memeriksa instrumen penelitianku, dan menanyai bawahanku dengan metode interogasi sihir paksa."
Kael akhirnya membuka matanya. Bola mata abu-abunya menatap lurus ke arah Elara. "Apakah mereka menemukan sesuatu?"
"Tidak," jawab Elara sambil menggeleng pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh kemenangan. "Sebelum mereka tiba di sana, kau sudah memperingatkanku lewat pesan singkat gelombang *mana* sore tadi, dan aku telah mereset seluruh indeks data ke versi arsip lama. Mereka hanya menemukan tumpukan teori sihir kuno yang membosankan dan tidak relevan. Tapi itu buktinya bahwa mereka semakin mendekat. Waktu kita tidak banyak, Kael."
Kael bangkit berdiri dari posisinya. Tinggi badannya yang menjulang membuat ruangan sempit itu terasa semakin sesak. Ia melangkah mendekati meja dan mengambil cincin peraknya, mengenakannya kembali ke jari telunjuk kanannya dengan gerakan presisi.
"Justru sebaliknya," kata Kael tenang. "Pemeriksaan ketat yang mereka lakukan di perpustakaan lama adalah konfirmasi bahwa mereka telah mengalihkan seratus persen daya pemindaian dari sektor bawah tanah."
Alis Elara bertaut. "Maksudmu..."
"Pusat kendali bawah tanah—ruang server inti akademi—sekarang berada dalam kondisi *unattended*," jelas Kael, suaranya mengalir tenang bagaikan instruksi dari sistem operasi. "Mereka mengerahkan seluruh tenaga ahli ke permukaan untuk mencari hantu yang tidak ada. Di bawah sana, pintu menuju jantung jaringan terbuka lebar."
Elara menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena ketakutan, melainkan karena kesadaran bahwa mereka sedang melangkah ke jurang paling berbahaya di akademi ini. "Kau berniat masuk ke ruang server inti malam ini? Tanpa menunggu aba-aba? Penjagaan di sekitar lift bawah tanah mungkin sudah dikurangi, tapi sistem keamanannya otomatis. Satu kesalahan kecil saat memasukkan kode, dan seluruh golem pelindung akan aktif."
"Aku tidak akan menggunakan lift," sahut Kael dingin. Ia berjalan ke sudut ruangan, menggeser lemari kayu tua yang menempel di dinding hingga menampakkan sebuah kisi-kisi ventilasi berkarat di bagian bawahnya. "Lift adalah jalur publik yang dipantau oleh sensor optik. Kita akan menggunakan jalur utilitas lama—kabel distribusi *mana* sekunder yang menghubungkan langsung Kelas F ke ruang server inti."
Elara membungkuk, mengamati lubang ventilasi yang gelap dan sempit itu dengan tatapan tidak percaya. "Saluran itu berukuran kurang dari setengah meter, Kael! Itu adalah saluran pembuangan sisa energi panas dari sistem pendingin sihir purba. Suhunya di dalam sana cukup untuk memanggang kulit manusia dalam hitungan menit!"
"Suhu di dalam saluran itu memang tinggi, tetapi aliran energinya sedang berada dalam titik terendah karena sistem pendingin utama dialihkan untuk mendinginkan pos pantau para *Inquisitor* di permukaan," terang Kael tanpa ragu. Ia berbalik menatap Elara. "Hukum fisika dan jaringan tidak pernah berdusta, Elara. Selalu ada *trade-off*. Ketika mereka memperkuat satu titik, titik lain pasti mengalami defisit."
Elara terdiam sejenak. Ia menatap wajah Kael yang sama sekali tidak menunjukkan keraguan. Pemuda di hadapannya ini bukan lagi sekadar buronan atau siswa buangan; ia bertindak seperti seorang arsitek yang sedang merubuhkan gedung ciptaannya sendiri dengan presisi matematis.
Elara mendengkus pelan, menarik napas panjang, lalu menegakkan tubuhnya kembali. "Baiklah. Kalau kau mati terbakar di dalam saluran sempit itu, aku pastikan penelitianku tentang anomali spasial kubawa serta ke liang kubur agar tidak ada yang tahu betapa bodohnya keputusan kita malam ini."
"Pernyataan yang tidak efisien," balas Kael datar, namun ada secercah nada geli yang sangat tipis di balik suaranya. "Mari kita berangkat."
Tanpa buang waktu, Kael merunduk dan membuka kisi-kisi ventilasi besi tersebut. Ia merangkak masuk terlebih dahulu ke dalam pipa yang gelap gulita. Elara, dengan segala keberanian dan rasa ingin tahunya yang besar, menyusul di belakangnya, memastikan pintu kamar kembali tertutup rapat sebelum ia merangkak masuk ke dalam kegelapan saluran utilitas.
Perjalanan merayap di dalam pipa utilitas itu terasa sangat melelahkan. Suhu di dalam saluran memang panas, namun berkat perhitungan presisi Kael mengenai defisit energi sistem pendingin, udara di sekitar mereka masih berada dalam batas toleransi fisik. Kael merayap dengan gerakan ritmis, menggunakan cincin peraknya untuk memindai setiap sambungan kabel sihir yang mereka lewati. Setiap kali ada sensor atau katup pengaman otomatis yang mendeteksi getaran, Kael langsung mengirimkan sinyal penutup palsu, membekukan sensor tersebut selama beberapa detik hingga mereka berhasil lewat tanpa terdeteksi.
Setelah merayap selama hampir dua puluh menit menembus labirin besi berkarat di bawah tanah akademi, Kael akhirnya berhenti di depan sebuah plat baja bundar yang dipenuhi ukiran rune kuno. Di balik plat baja itu, suara dengungan pelan berfrekuensi rendah mulai terdengar—suara detak jantung dari infrastruktur magis Akademi Aethelgard.
Ruang server inti.
Kael menempelkan telapak tangan kanannya yang mengenakan cincin perak ke permukaan plat baja tersebut. Ia tidak mencoba mendobraknya dengan kekuatan fisik atau sihir destruktif. Sebaliknya, cincin peraknya memancarkan pendaran cahaya biru yang sangat terang, mengirimkan rangkaian kode biner magis langsung ke dalam sirkuit pengunci plat baja tersebut.
*Auth sequence initialized...*
*Bypassing legacy encryption...*
*Access granted.*
*Klik.*
Suara mekanis yang sangat halus terdengar saat ribuan tahun penguncian kuno itu menyerah pada logika peretasan Kael. Plat baja bundar tersebut bergeser perlahan ke dalam, membuka sebuah lubang seukuran tubuh manusia yang langsung memancarkan cahaya biru terang benderang dari dalam ruangan.
Kael mendesak maju, melompat keluar dari saluran utilitas dan mendarat dengan ringan di atas lantai kaca transparan ruang server inti. Elara menyusul di belakangnya, mendarat dengan sedikit terhuyung sebelum matanya terpaku pada pemandangan di hadapannya.
Napas Elara tercekat.
Mereka tidak sedang berdiri di dalam sebuah ruangan bawah tanah biasa. Mereka berada di dalam sebuah bola raksasa yang transparan. Di sekeliling mereka, jutaan pilar kristal bercahaya biru mengapung di udara tanpa gravitasi, saling terhubung oleh benang-benang cahaya data yang mengalir deras bagaikan sungai galaksi. Itu adalah pusat memori kolektif akademi—tempat di mana seluruh sejarah, mantra, kontrak magis, dan identitas setiap penyihir di kerajaan ini disimpan dalam bentuk kode murni.
"Luar biasa..." bisik Elara, matanya berkaca-kaca menyaksikan keindahan teknologi kuno yang melampaui imajinasi dunia modern. "Ini... ini adalah perpustakaan akashic versi fisik dari para pendahulu kita."
"Bukan perpustakaan," koreksi Kael dingin, berdiri tegak di tengah platform kaca transparan sambil menatap lautan data yang berdenyut di sekeliling mereka. "Ini adalah server pusat. Dan kita baru saja berhasil mendapatkan *root access*."
Kael melangkah maju ke sebuah konsol kristal utama yang berdiri di tengah platform. Ia mengangkat tangan kanannya, dan cincin peraknya menyala terang, memancarkan proyeksi data raksasa ke udara.
Namun, sebelum Kael sempat memasukkan perintah eksekusi untuk mengambil alih hak administrator penuh, seluruh pilar kristal di sekeliling mereka mendadak berubah warna dari biru damai menjadi merah menyala yang agresif. Suara alarm bernada rendah bergema ke seluruh penjuru bola transparan, disusul oleh suara sistem otomatis yang menggema dari langit-langit.
*Warning. Unauthorized intrusion detected in core sector zero. Initiating system lockout.*
Mata Kael menyipit tajam. "Sial," gumamnya pelan. "Mereka tidak memindai gerbang depan. Seseorang di Dewan Agung baru saja menjalankan *manual integrity check* dari jarak jauh."
Di hadapannya, di udara kosong di atas konsol utama, proyeksi cahaya mulai berpilin membentuk sesosok avatar keamanan sistem—sebuah entitas magis berbentuk perisai api berukuran besar dengan mata menyala tajam, siap menghapus apa pun yang mencoba merusak inti server
Suara alarm berfrekuensi rendah terus berdenyut, memancarkan gelombang kejut merah yang membuat udara di dalam bola transparan itu terasa semakin panas dan menyesakkan. Di hadapan konsol kristal utama, avatar keamanan sistem—yang menjelma menjadi perisai api raksasa dengan sepasang mata menyala tajam—membumbung tinggi, mengacungkan bilah energi termal ke udara. Sistem pertahanan otomatis inti akademi telah aktif sepenuhnya, mengunci koordinat fisik Kael dan Elara sebagai ancaman mutlak yang harus dihapuskan dari dalam jaringan.
Elara terkesiap, mundur selangkah hingga punggungnya hampir menabrak batas platform kaca transparan. "Kael! Program pertahanan otonom!" teriak Elara di tengah deru suara alarm. "Itu bukan sekadar ilusi atau golem biasa! Itu adalah entitas proksi yang langsung terhubung ke inti memori! Kalau ia menyerang kita di sini, sirkuit mental kita akan langsung terbakar habis!"
Kael tidak bergeming. Sikapnya tetap dingin, tenang, dan tanpa ada kepanikan sedikit pun yang terpancar dari wajahnya. Matanya yang abu-abu memantulkan cahaya merah menyala dari avatar api tersebut, menganalisis setiap baris pola serangannya secara instan.
"Dia bukan ancaman fisik," jawab Kael datar, suaranya mengiris suara alarm yang memekakkan telinga. "Dia adalah penjaga protokol akses. Protokol yang dijalankan menggunakan skrip usang dari dua ratus tahun lalu."
Sebelum avatar api itu sempat mengayunkan bilah termalnya ke arah mereka, Kael mengangkat tangan kanannya. Cincin perak di jari telunjuknya berputar cepat, mengeluarkan pendaran cahaya biru terang yang langsung menembakkan untaian data tipis lurus ke arah pusat dada sang avatar.
Kael tidak mencoba menangkis atau menghancurkan entitas tersebut dengan kekuatan sihir destruktif. Sebaliknya, ia menyuntikkan sebuah protokol otorisasi darurat yang ia curi dari arsip perpustakaan lama—profil akses milik Elara yang telah dimodifikasi sebelumnya.
*Injecting override sequence...*
*Verifying administrative signature...*
*Access parameter: Administrator Level 3.*
Proses itu hanya memakan waktu sepersekian detik. Untaian cahaya biru Kael melilit tubuh entitas api tersebut, menghentikan gerakannya tepat satu inci di atas kepala mereka. Bilah termal yang tadinya membara mendadak kehilangan warnanya, meredup menjadi garis-garis kode biner yang transparan.
Mata avatar api yang tadinya menyala agresif perlahan berkedip tak beraturan. Suara alarm di ruangan itu tersendat, lalu mati secara total dalam keheningan yang mendadak.
*Authentication accepted. Welcome back, Administrator.*
Suara sistem otomatis yang tadinya dingin dan mengancam kini berubah menjadi netral dan patuh. Avatar api itu membungkuk hormat, lalu larut kembali menjadi partikel cahaya biru yang menyatu dengan aliran data di sekeliling bola transparan tersebut.
Elara menghembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan. Kakinya terasa lemas, dan ia terpaksa mencengkeram tepi konsol kristal untuk menjaga keseimbangannya. Jantungnya berdegup kencang seolah baru saja melompat dari jurang yang curam.
"Kau... kau baru saja meretas avatar pertahanan otonom tingkat tinggi hanya dalam waktu tiga detik?" bisik Elara tidak percaya, menatap Kael dengan mata terbelalak lebar. "Tanpa perlawanan fisik? Tanpa mantra pelindung?"
"Kelemahan dari sistem keamanan otonom berbasis peninggalan masa lalu adalah mereka terlalu percaya pada tanda tangan digital yang sah," jelas Kael tenang, menurunkan tangannya dan kembali memusatkan perhatian pada konsol kristal utama. "Mereka tidak memiliki kecerdasan buatan untuk mengenali anomali perilaku; mereka hanya mencocokkan kode. Dan kodenya sudah usang."
Kael menempelkan kedua telapak tangannya di permukaan konsol utama. Kali ini, layar proyeksi data di udara berubah menjadi warna hijau stabil. Seluruh pilar kristal yang mengapung di sekeliling mereka berhenti berputar, menunggu instruksi selanjutnya dari sang arsitek.
"Sekarang," ucap Kael dingin, suaranya bergema di dalam ruang server yang sunyi. "Kita ambil alih kendali penuh atas jaringan ini."