Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. obrolan lauren dan zara
Lauren duduk membeku, kata-kata Zara masih menggantung berat di udara. Wajar rasanya kalau Zara bersikap seperti ini, mengingat Alex memang sudah bertunangan dengannya sejak dua tahun lalu, kabar yang baru saja Lauren ketahui pagi ini dari Della. Tapi yang membuat Lauren bingung bukan soal itu.
"Kenapa dia bicara seolah aku sudah melakukan sesuatu?" pikirnya, jantungnya berdebar kencang meski wajahnya berusaha tetap tenang. "Selama aku bekerja di sini, aku bahkan tidak pernah sekali pun mendekati Alex. Kami hanya berpapasan sekali di lorong, itu pun karena aku salah lantai."
"Aku tidak mengerti maksud Nona," kata Lauren akhirnya, memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati, suaranya dijaga setenang mungkin. "Tidak ada apa-apa antara aku dan Pak Alex. Aku hanya karyawan baru di sini, aku bahkan baru dua hari bekerja."
Zara tersenyum tipis, mengangguk pelan seolah menerima jawaban itu, meski matanya sama sekali tidak melunak. "Karyawan baru," ulangnya perlahan, seperti mengecap kata itu satu per satu. "Karyawan baru yang makan malam berdua saja di kediaman pribadi Alex, sepulang kerja di hari pertamanya?"
Lauren membeku, wajahnya seketika kehilangan warna. Baru sekarang ia sadar, kekhawatiran Zara ternyata tidak ada hubungannya dengan apa pun yang terjadi selama ia bekerja di kantor ini, melainkan malam itu, malam ketika Damian menjemputnya langsung dari trotoar depan gedung sepulang kerja.
"Salah satu staf di rumah itu cukup baik hati memberitahuku," lanjut Zara, menyesap air lemonnya dengan tenang, seolah sedang membahas hal paling biasa di dunia. "Jadi kurasa tidak perlu lagi berpura-pura di depanku, Lauren. Aku menghargai kejujuran, ingat?"
"Dasar murahan," batin Zara, senyumnya tetap terjaga sempurna di permukaan, tidak menunjukkan sedikit pun kemarahan yang sesungguhnya bergejolak di dalam dadanya. "Belum setahun bekerja, bahkan satu bulan, Tapi dia sudah mencoba menjadi pelakor."
"Itu... bukan seperti yang Nona pikirkan," kata Lauren akhirnya, suaranya nyaris berbisik, mencoba mencari pijakan di tengah kepanikan yang kini sulit ia sembunyikan. "Malam itu Pak Alex bilang mengundangku sebagai ucapan terima kasih, karena aku pernah menolongnya beberapa kali sebelum aku bekerja di sini. Aku bahkan belum tahu siapa Pak Alex sebenarnya waktu itu."
"Menolongnya?" Alis Zara terangkat sedikit, nada suaranya tetap terjaga sopan meski jelas tidak sepenuhnya percaya. "Menarik sekali penjelasan itu."
"Itu memang yang terjadi, Nona," jawab Lauren, tetap menjaga suaranya tenang meski dadanya terasa panas oleh keinginan untuk membela diri lebih keras. "Pak Alex yang mengundangku sebagai ucapan terima kasihnya, bukan aku yang meminta. Aku hanya datang karena tidak enak menolak, tidak lebih dari itu."
Zara tersenyum tipis, sama sekali tidak terpengaruh oleh jawaban itu. "Berterima kasih," ulangnya, nadanya merendahkan meski kata-katanya sendiri terdengar begitu sopan. "Aku yakin ada banyak cara berterima kasih yang lebih pantas, tanpa harus sampai duduk berdua di ruang makan pribadinya sampai larut malam. Tapi mungkin standar sopan santun kita memang berbeda."
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Lauren duga, membuat pipinya memanas menahan amarah yang tidak bisa ia tunjukkan. Namun ia hanya tersenyum tipis, menahan diri sekuat tenaga. "Aku minta maaf kalau itu membuat Nona tidak nyaman."
"Tidak masalah," kata Zara, melambaikan tangan kecil, seolah topik itu sudah tidak lagi penting baginya. "Sejujurnya, aku tidak peduli apa yang kau lakukan untuk Alex, atau bagaimana caramu berterima kasih padanya karena telah mengundangmu makan malam di rumahnya. Mau kau bilang terima kasih dengan cara duduk semalaman di rumahnya sekalipun, itu bukan urusanku. Aku hanya butuh kau mengerti posisimu."
Zara menyesap air lemonnya sekali lagi, matanya menatap Lauren dari atas ke bawah dengan sorot yang menilai. "Lagi pula, orang sepertimu seharusnya tahu diri. Alex mungkin terlihat baik hati sesekali, tapi jangan salah paham. Kau ada di sana bukan karena kau istimewa, hanya karena kau kebetulan berguna untuknya waktu itu. Setelah rasa berutangnya lunas, kau akan kembali jadi karyawan biasa seperti yang lain."
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Zara sadari, mengingatkan Lauren pada semua keraguan yang selama ini ia coba tepis sendiri sejak malam pertama ia bertemu Alex. Dadanya terasa sesak, tapi ia menahan diri sekuat tenaga, tidak membiarkan sedikit pun keretakan itu muncul di wajahnya.
"Aku mengerti, Nona," jawab Lauren akhirnya, tersenyum tenang meski suaranya sedikit tertahan. "Terima kasih sudah meluangkan waktu menjelaskannya langsung padaku."
"Bagus." Zara tersenyum, meletakkan garpunya perlahan di tepi piring. "Karena sejujurnya, aku sedikit heran, gadis sepertimu bisa membuat Alex repot-repot mengundang makan malam. Biasanya dia tidak pernah seramah itu, apalagi pada orang yang baru dikenalnya. Mungkin dia hanya kasihan padamu."
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya, tapi Lauren memaksakan senyum tetap terpasang di wajahnya, tidak membiarkan sedikit pun keretakan terlihat di permukaan. "Mungkin begitu, Nona," jawabnya, suaranya tetap sopan meski dadanya terasa perih.
"Anggap saja ini nasihat baik dariku," lanjut Zara, nadanya kembali melunak di permukaan, seolah baru saja tidak mengatakan apa pun yang menyakitkan. "Jangan sampai kau salah paham dengan kebaikan Alex. Dia memang begitu pada siapa saja yang menurutnya perlu dikasihani."
Lauren mengangguk kecil, tidak lagi mencoba membela diri lebih jauh, menyadari percuma berdebat dengan seseorang yang sudah memutuskan apa yang ia percayai sejak awal.
Sisa waktu makan siang berlalu dengan obrolan yang dipaksakan terasa santai, Zara sesekali melempar pertanyaan ringan tentang pekerjaan, tapi tidak pernah lagi menyinggung soal Alex secara langsung. Ketika akhirnya Lauren berpamitan dan melangkah keluar dari ruangan itu, kakinya terasa lemas, jauh lebih lelah dari yang pernah ia rasakan sepanjang dua hari pertamanya bekerja di sini.
Ia tahu pasti sekarang, ada mata-mata di rumah Alex yang melapor langsung kepada Zara, dan itu berarti setiap gerak-geriknya mulai sekarang mungkin sedang diawasi.
*****
Tidak sampai satu jam setelah Damian meninggalkan ruangannya, pintu kerja Alex kembali diketuk. Damian melangkah masuk, ekspresinya tetap tenang seperti biasa, tapi ada sesuatu di caranya menutup pintu pelan-pelan yang membuat Alex tahu kabar yang akan dibawanya bukan kabar ringan.
"Sudah dapat sesuatu?" tanya Alex, tidak repot dengan basa-basi.
"Saya sudah dengar rekamannya." jawab Damian.
Alex menyandarkan punggungnya ke kursi, memberi isyarat agar Damian melanjutkan.
"Nona Zara menyinggung soal makan malam kemarin di kediaman Anda," kata Damian, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Dia bilang salah satu staf di rumah memberitahunya. Nona Lauren sempat membantah, mengatakan itu hanya ucapan terima kasih Anda karena pernah ditolong beberapa kali sebelum dia bekerja di sini."
Rahang Alex mengeras, jarinya mengetuk pelan tepi meja. "Lalu?"
"Nona Zara tidak menerima penjelasan itu begitu saja," lanjut Damian. "Dia bilang tidak peduli alasan apa pun yang dipakai, dan memperingatkan Nona Lauren untuk tahu batasannya. Ada beberapa kalimat yang cukup tajam, Pak. Salah satunya, dia bilang Nona Lauren cuma berguna sementara, dan begitu rasa berutang Anda lunas, dia akan kembali jadi karyawan biasa seperti yang lain."
Sesuatu di dalam diri Alex mengeras mendengar itu, sesuatu yang jarang sekali muncul di permukaan wajahnya yang biasa terkendali sempurna. "Bagaimana reaksi Lauren?"
"Dia tetap tenang, Pak. Masih sempat tersenyum sepanjang obrolan, menjawab sopan, tidak membalas dengan nada yang sama meski jelas tertekan. Begitu makan siang selesai dan dia pamit keluar, sikapnya masih biasa saja di depan orang lain, tidak menunjukkan apa-apa. Tapi saya perhatikan dia jadi cukup murung sepanjang sisa siang ini, tidak seceria biasanya."
Kalimat terakhir itu membuat sesuatu di dada Alex terasa sesak, sensasi asing yang jarang sekali ia rasakan untuk siapa pun selain dirinya sendiri. Ia berdiri dari kursinya, melangkah ke jendela, menatap kota London yang terbentang di bawahnya tanpa benar-benar melihatnya.
"Cari tahu siapa staf yang bocorkan informasi itu ke Zara," kata Alex akhirnya, suaranya rendah dan dingin. "Aku ingin nama itu di mejaku sebelum akhir minggu."
"Baik, Pak." Damian mengangguk, mencatat instruksi itu dalam ingatannya.
"Dan awasi Lauren," lanjut Alex, tanpa menoleh. "Dari jauh. Jangan sampai dia sadar."
Damian menatap punggung atasannya sejenak, cukup lama untuk menyadari betapa berbedanya nada suara Alex kali ini dibanding biasanya, meski ia terlalu profesional untuk berkomentar soal itu. "Baik, Pak. Saya akan atur."
Damian berbalik dan melangkah keluar tanpa suara, meninggalkan Alex sendirian menatap kota yang terbentang di bawahnya, pikirannya dipenuhi bayangan Lauren duduk di mejanya sekarang, tersenyum seperti biasa di depan rekan-rekan kerjanya, menyembunyikan kesedihan yang tidak seharusnya ia tanggung sendirian.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Alex merasakan sesuatu yang begitu asing baginya, keinginan untuk melindungi seseorang bahkan dari tunangannya sendiri.