Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.
ikuti untuk bab selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Menantu Tidak Boleh Menganggur
Ucapan Bu Mirna semalam terus terngiang di kepalaku.
"Mama bisa membuat mereka malu punya anak seperti kamu."
Kalimat itu terdengar seperti ancaman. Sejak menikah dengan Mas Viyan, aku memang belum pernah menceritakan apa pun kepada kedua orang tuaku. Bukan karena aku tidak percaya kepada mereka, melainkan aku tidak ingin mereka ikut memikirkan rumah tanggaku.
Kupikir, semua ini akan membaik seiring berjalannya waktu.
Namun ternyata aku salah.
**
Pagi itu seperti biasa, aku sudah berada di dapur sebelum semua penghuni rumah bangun.
Aku sedang menggoreng tempe ketika Bu Mirna datang sambil membawa secangkir kopi.
"Fitri."
"Iya, Ma."
"Kamu dulu kerjanya apa?"
Aku sedikit heran mendengar pertanyaan itu.
"Dulu Fitri kerja di perusahaan, Ma."
"Gajinya berapa?"
Aku terdiam beberapa detik.
"Alhamdulillah cukup, Ma."
"Loh, Mama tanya berapa."
Aku tersenyum tipis.
"Dulu sekitar 15 juta sebulan."
Bu Mirna sampai menghentikan langkahnya.
"15 juta?"
"Iya, Ma."
Beliau langsung duduk di kursi makan sambil berpikir.
"Pantesan..."
Aku tidak mengerti maksud ucapannya.
"Mas Viyan sudah pernah cerita?"
"Belum."
"Oh."
Tak lama kemudian beliau kembali berbicara.
"Sayang banget ya."
"Maksud Mama?"
"Ya sayang. Penghasilan segitu kok malah di rumah."
Aku mematikan kompor lalu menoleh.
"Kan sekarang Fitri fokus ngurus rumah dulu, Ma."
"Ngurus rumah juga enggak seharian." ucap mertuaku.
Aku mulai merasa pembicaraan ini mengarah ke sesuatu.
"Begini saja."
Bu Mirna menyesap kopinya.
"Minggu depan kamu kerja lagi."
Aku mengernyitkan dahi.
"Kerja lagi?"
"Iya."
"Tapi Mas Viyan belum pernah bilang...."
"Lah, enggak perlu nunggu Viyan."
"Tapi aku harus izin sama suami dulu, Ma."
Bu Mirna mendecakkan lidah.
"Ya nanti Mama yang ngomong."
Aku tidak langsung menjawab.
Dalam hati sebenarnya aku memang ingin kembali bekerja.
Bukan karena bosan di rumah.
Melainkan karena aku tidak ingin kehilangan karier yang sudah ku bangun bertahun-tahun.
***
Siang harinya, setelah semua pekerjaan selesai, aku membuka laptopku. Beberapa temanku dulu masih sering mengirim informasi lowongan kerja. Aku membaca satu per satu. Belum sempat mencari lebih jauh, Dinda tiba-tiba masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu.
"Mbak."
"Iya?"
"Lagi ngapain?"
"Lihat lowongan kerja."
"Wih..."
Dia langsung duduk di sampingku.
"Gaji gede enggak?"
"Belum tahu."
"Kalau gede nanti enak dong."
Aku menoleh heran.
"Enak kenapa?"
"Ya rumah ini jadi kebantu."
Aku hanya tersenyum tipis. Belum sempat menjawab, Dinda kembali berkata,
"Eh, nanti kalau sudah kerja jangan lupa ya."
"Lupa apa?"
"Kan aku masih kuliah."
Aku langsung memahami arah pembicaraannya.
"Maksud kamu?"
"Ya bantu uang kuliah lah."
Aku memandang wajah adik iparku itu.
"Dinda."
"Hm?"
"Yang berkewajiban membiayai kuliahmu itu orangtua mu"
"Lah, pelit amat sih." ucap Dinda sinis.
"Bukan pelit."
"Kan Mbak gajinya gede."
"Itu hasil kerja Mbak." Ucapku menjawab tegas.
Dinda langsung berdiri.
"Iya deh... baru juga belum kerja udah perhitungan."
Dia keluar sambil membanting pintu.
Aku menghela napas panjang.
Entah kenapa, setiap pembicaraan dengan Dinda selalu berakhir dengan uang.
****
Menjelang sore, Mas Viyan pulang. Seperti biasa aku menyiapkan minuman hangat untuknya. Saat kami sedang duduk di ruang tamu, Bu Mirna tiba-tiba datang.
"Yan."
"Iya, Ma?"
"Mama kepikiran sesuatu."
"Apa?"
"Fitri suruh kerja lagi saja."
Mas Viyan tampak terkejut.
"Kerja?"
"Iya."
"Kan baru nikah, Ma." Jawab suamiku.
"Memangnya kenapa?"
"Kasihan nanti capek."
Bu Mirna langsung menggeleng.
"Capek bagaimana? Orang kerja juga ibadah."
Aku memilih diam mendengarkan.
"Mama lihat sayang kalau penghasilan cuma dari kamu."
"Masih cukup kok, Ma." ucap Mas Viyan tersenyum kecil.
"Cukup buat sekarang."
Bu Mirna melanjutkan, "Nanti kalian punya anak bagaimana?"
Aku bisa melihat Mas Viyan mulai berpikir.
"Lagian Fitri juga dulu gajinya besar."
Mas Viyan menoleh kepadaku.
"Kamu mau kerja lagi?"
Aku menjawab pelan.
"Kalau Mas mengizinkan."
Suamiku terdiam beberapa saat.
"Sebenarnya Mas enggak keberatan."
Hatiku sedikit lega.
"Tapi...."
Aku kembali menatapnya.
"Kalau nanti sudah kerja, jangan lupa bantu kebutuhan rumah ini juga." ucap suamiku setuju dengan ibunya.
Kalimat itu membuatku membeku. Bukan karena aku keberatan membantu. Melainkan karena baru beberapa hari menikah... Penghasilanku sudah mulai diperhitungkan.
Aku mengangguk pelan.
"Iya, Mas."
"Nah, begitu dong." ucap Bu Mirna, mertuaku tersenyum puas.
Beliau kemudian berdiri.
"Kalau semua kerja, rumah ini pasti lebih ringan." lanjut nya.
Beliau masuk ke kamarnya dengan langkah santai. Aku menunduk menatap kedua tanganku sendiri. Dalam hati aku mulai bertanya-tanya... Apakah Mama benar-benar ingin aku bekerja agar aku berkembang...
Atau...
Beliau hanya sedang melihatku sebagai sumber uang yang baru? Pertanyaan itu terus mengganggu pikiranku. Dan entah mengapa... Aku mulai takut menemukan jawabannya.
***
Sebenarnya aku memang rindu bekerja. Aku rindu suasana kantor, menyelesaikan pekerjaan, berdiskusi dengan rekan kerja, dan menerima gaji dari hasil jerih payahku sendiri.
Namun kini aku sudah menjadi seorang istri. Keputusan untuk bekerja bukan lagi keputusan yang bisa kuambil sendirian. Aku menoleh ke arah Mas Viyan yang sedang memainkan ponselnya di sampingku.
"Mas."
"Iya, Sayang?"
"Boleh ngobrol bentar?"
"Kalau aku kerja lagi... Mas benar-benar enggak keberatan?"
Suamiku tersenyum kecil.
"Kenapa nanya begitu? Kan tadi udah bilang setuju. Yang di bilang mama bener banget. Mas juga sebenarnya senang kalau kamu kerja lagi."
Hatiku sedikit lega.
"Tapi Mas juga enggak mau kamu terlalu capek." ucapnya.
Aku tersenyum.
"Tenang mas, insyaallah aku bisa bagi waktu kok." Jawabku.
Mas Viyan mengangguk.
"Kalau begitu coba saja dulu."
Aku mengangguk pelan.
"Terima kasih, Mas."
Belum sempat pembicaraan kami berlanjut, pintu kamar diketuk.
Tok...
Tok...
Tok...
"Yan." Suara Bu Mirna terdengar dari luar.
"Iya, Ma?"
"Besok pagi Fitri ikut Mama sebentar ya."
"Mau ke mana ma?" tanya suamiku.
"Mama sudah dapat info."
"Info apa ma?" tanyaku.
"Ada teman Mama yang lagi cari pegawai perempuan." Ucapnya.
Aku saling berpandangan dengan Mas Viyan. Aku baru sadar. Mama ternyata sudah mencarikan pekerjaan untukku tanpa bertanya lebih dulu.
****
Keesokan paginya aku mengikuti Bu Mirna keluar rumah. Sepanjang perjalanan beliau terus berbicara.
"Nanti kalau diterima kerja, jangan pilih-pilih."
"Iya, Ma." Jawabku singkat.
"Yang penting dapat gaji." Lanjutnya cerewet.
"Iya."
"Oh ya." Ucap beliau berhenti berjalan dan menoleh kepadaku.
"Nanti gaji kamu kasih ke Mama saja." Ucapnya lanjut sangat tidak tau diri.
Aku spontan berhenti melangkah.
"Hah? Kok gitu ma?" Ucapku spontan kaget.
"Biar Mama yang atur." Ucapnya enteng.
Aku berusaha tersenyum.
"Ma... nanti kan aku sama Mas yang atur." Jawabku.
"Loh.. Kamu kan tinggal di rumah Mama." Nada suara Bu Mirna berubah
"Iya maa."
"Berarti wajar kalau ikut membantu." Lanjutnya.
"Membantu boleh, Ma."
"Ya sudah. Berarti semua gaji kamu nanti kasih ke Mama semua ya." Ucap nya dan tersenyum
Aku mulai merasa ada yang tidak beres.
"Kalau semua... terus kebutuhan aku sama Mas bagaimana?"
Bu Mirna tertawa kecil dan berkata : "Kan ada Mama. minta aja kalau butuh"
Aku terdiam. Untuk pertama kalinya... Aku mulai merasa... Mama bukan sedang membantuku mendapatkan pekerjaan. Melainkan sedang menghitung ke mana gajiku akan mengalir.
Aku melanjutkan langkah dengan perasaan yang jauh berbeda dari saat berangkat tadi. Di dalam hati, sebuah pertanyaan mulai muncul. Kalau nanti aku benar-benar bekerja... Apakah hasil kerja kerasku masih menjadi milikku? Atau... Akan ada orang lain yang merasa paling berhak atas semuanya?
Bersambung..