"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025: Kevin Bangkrut Akal
"Kalau harga terlalu murah untuk masuk akal, biasanya ada biaya yang disembunyikan."
Budi meletakkan dua lembar penawaran di meja rapat CV Prasetyo. Satu dari tim Bayu untuk proyek perhiasan kamar suite sebuah grup hotel Surabaya. Nilainya Rp4 miliar, dengan batu alam terverifikasi, desain Wibowo, dan jadwal pengiriman enam minggu.
Yang satu lagi dari perusahaan rekanan Wijaya.
Harganya tiga puluh persen lebih rendah.
Hendra membaca angka itu sampai dua kali. "Orang ini sedang menyiram bensin ke dompet sendiri. Diskon wajar tidak sedalam ini."
Rizal menatap klausul kecil di bawah. "Mereka menjanjikan kualitas yang sama, waktu lebih cepat, harga lebih murah. Mustahil kecuali biaya dipotong dari sesuatu."
Bayu tidak langsung bicara. Ia melihat pesan dari procurement manager hotel.
Maaf, Mas Bayu. Ada tekanan dari pihak tertentu. Direksi minta kami membagi order dulu. Separuh untuk CV Prasetyo, separuh untuk vendor Wijaya. Kami harap Mas memahami.
Di saat yang sama, kabar buruk kedua datang.
Pak Hasan, pemasok cutting dan setting yang sudah disiapkan untuk proyek itu, mengirim pesan: mesin utama rusak, pengerjaan harus ditunda tanpa batas waktu.
Budi membuka kontrak.
"Klausul keterlambatan ada. Kalau alasan force majeure, harus ada bukti pemeriksaan mesin, foto, estimasi perbaikan, dan pemberitahuan maksimal dua puluh empat jam. Dia terlambat memberi kabar."
Hendra mengusap wajah. "Kevin main dua kaki. Rebut order, lalu bikin kaki kita pincang."
"Jangan sebut nama tanpa bukti," kata Bayu.
"Aku sebut dalam hati."
"Hati juga jangan terlalu keras."
Budi sudah mengetik. "Saya kirim somasi ke Pak Hasan. Dia bisa memenuhi kontrak, mengganti rugi, atau menjelaskan bukti kerusakan."
Langkah kedua dilakukan Bayu sendiri. Ia menelepon Haji Rachmat Permata di Bandung.
"Pak Haji, saya butuh bantuan kapasitas potong dan setting darurat. Proyek hotel, separuh order, kualitas harus bersih."
Rachmat tidak bertanya terlalu lama.
"Kirim spesifikasi dan foto batu. Saya geser satu line kecil malam ini. Tapi jangan membuat anak buah saya kerja tanpa jadwal jelas."
"Saya kirim kontrak dan uang muka resmi."
"Bagus. Bisnis yang tergesa-gesa tetap harus punya kaki."
Malam itu, batu untuk order hotel dibagi ulang. Cahaya Timur menyediakan desain dasar bersama Intan. Permata Jaya membantu kapasitas teknis. Budi mencatat biaya ekstra, waktu pengiriman, dan potensi klaim terhadap Pak Hasan. Rizal menghubungi hotel, meminta pertemuan terbuka.
Di ruang rapat hotel, Bayu tidak menyerang Kevin. Ia membawa tabel.
"Ini struktur biaya untuk kualitas yang Bapak minta," katanya kepada procurement manager dan dua direktur. "Batu alam terverifikasi, setting, garansi, sertifikat, ongkos kerja, cadangan cacat, pajak. Kalau harga dipotong tiga puluh persen, ada tiga kemungkinan. Vendor rugi untuk merebut nama. Kualitas turun. Atau sebagian klaim tidak benar."
Seorang direktur bertanya dingin, "Mas Bayu sedang menuduh vendor lain akan curang?"
"Tidak. Saya sedang menjelaskan risiko harga. Silakan uji hasil kami dan hasil vendor lain dengan standar yang sama. Kalau kualitas mereka sama dan legal, Bapak untung. Kalau tidak, kontrak Bapak harus punya jalan keluar."
Budi menambahkan satu lembar usulan: inspeksi independen sebelum serah terima, penalti jika bahan tidak sesuai, dan hak pembatalan jika ada synthetic stone yang diklaim natural.
Pihak hotel akhirnya membagi order seperti rencana mereka. Separuh untuk CV Prasetyo, separuh untuk vendor Wijaya.
Hendra keluar dari hotel sambil mengeluh. "Setengah order itu tetap sakit."
"Setengah order dengan standar pemeriksaan yang sama," kata Bayu. "Itu cukup."
Empat minggu kemudian, cukup itu berubah menjadi seluruh panggung.
Produk pertama dari CV Prasetyo tiba tepat waktu. Batu sesuai sertifikat, foto sebelum dan sesudah setting lengkap, setiap item diberi kode internal. Tim hotel memeriksa dengan dingin, lalu mengangguk.
Satu supervisor hotel bahkan mencoba mencari celah.
"Kalau tamu kami komplain setelah tiga bulan?"
Budi menunjuk kartu garansi. "Ada masa tanggung jawab, tapi hanya untuk cacat produksi. Kalau rusak karena penggunaan, mekanismenya berbeda. Semua tertulis."
Supervisor itu akhirnya menandatangani berita acara penerimaan.
Produk dari vendor Wijaya datang dua hari kemudian.
Di atas baki, semuanya tampak berkilau.
Namun pemeriksaan independen menemukan dua masalah: beberapa batu kecil adalah synthetic stone yang tidak disebut dalam dokumen, dan sebagian setting memakai lapisan lebih tipis daripada spesifikasi. Dari luar masih cantik. Di bawah standar, ia sudah runtuh.
Procurement manager hotel menelepon Bayu malam itu juga.
"Mas Bayu, direksi memutuskan membatalkan sisa vendor Wijaya. Apakah CV Prasetyo bisa mengambil seluruh order?"
"Bisa, dengan jadwal tambahan yang realistis dan inspeksi sama untuk semua barang."
"Kami setuju."
Nilai kontrak penuh Rp4 miliar akhirnya masuk ke CV Prasetyo. Tidak semuanya laba. Ada biaya desain, kerja, batu, setting, transportasi, dan bantuan kapasitas Permata Jaya. Tetapi secara posisi, ini order terbesar mereka sejak berdiri.
Keesokan harinya, Pak Hasan datang ke ruko.
Wajahnya kusut. Ia membawa map bukti kerusakan mesin yang terlambat, tetapi matanya tidak berani menatap lama.
"Mas Bayu, saya salah. Ada orang datang menawarkan uang supaya saya menunda. Saya pikir cuma seminggu. Ternyata jadi begini."
Hendra langsung berdiri. "Pak, satu minggu itu kalau nasi telat masih bisa dimakan. Kalau order telat, perusahaan bisa jatuh."
Bayu mengangkat tangan.
"Pak Hasan, saya bisa menuntut penuh sesuai kontrak. Budi sudah menyiapkan angkanya."
Pak Hasan pucat.
"Tapi saya tidak sedang mencari mayat usaha. Saya mencari pemasok yang bisa dipercaya. Satu kali kesempatan terakhir: Bapak bekerja lagi dengan kami, tapi ada petugas quality control di tempat produksi dari pihak kami, semua jadwal tertulis, dan setiap keterlambatan punya penalti otomatis. Kalau melanggar lagi, tidak ada pembicaraan kedua."
"Orang kami akan hadir di tempat produksi saat pekerjaan untuk CV berjalan," tambah Rizal. "Pengawasan itu akan menutup semua alasan gelap."
Pak Hasan menunduk. "Saya terima."
Budi menggeser dokumen adendum. "Baca sebelum tanda tangan. Jangan nanti bilang kami menjebak."
Sementara itu, di Jakarta, Kevin berdiri di ruang rapat Wijaya dengan wajah tegang.
Ronald Wijaya tidak berteriak. Ia hanya meletakkan laporan hotel di meja.
"Kamu memakai nama grup untuk bermain harga rendah, lalu kalah pada kualitas."
"Pa, aku cuma..."
"Kamu cuma membuat lawan terlihat lebih profesional."
Kevin menelan.
"Minggu depan kamu berangkat ke Singapura. Belajar. Diam. Jangan membawa nama Wijaya untuk urusan kecil yang bahkan tidak bisa kamu hitung."
Di bandara, sebelum masuk ruang tunggu, Kevin mengunggah satu Instagram story: foto malam Surabaya dari jendela mobil, dengan tulisan bahasa Inggris pendek.
I'll be back.
Komentarnya penuh ejekan.
Tetapi di kantor Wijaya, seorang sekretaris Ronald menyimpan tangkapan layar itu setelah melihat folder baru yang terbuka di meja atasannya. Story Kevin sendiri tidak penting.
Nama di sampulnya:
Bayu Prasetyo.