Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Sabtu pagi. Zain sengaja mematikan aplikasi ojol.
Biasanya keputusan seperti ini membuatnya gelisah—satu hari tidak narik berarti satu hari tanpa pemasukan. Namun entah kenapa, hari ini rasa penasarannya jauh lebih besar.
Begitu memasuki bengkel bawah tanah, langkah Zain mendadak terhenti. Motor matiknya sudah berada tepat di tengah ruangan, tetapi kali ini di sekelilingnya berdiri beberapa alat ukur: laser pengukur dimensi, scanner tiga dimensi, dan beberapa kamera kecil.
Di sana, Profesor Surya sedang berbicara dengan Ardi.
"Selamat pagi."
"Eh, Zain. Tepat waktu."
Zain mendekat. "Loh... motor saya mau diapain?"
Profesor tersenyum. "Tenang, hari ini belum dipotong."
Zain mengembuskan napas lega. "Syukurlah."
Ardi yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum tipis. "Prof memang sengaja menunggumu."
Profesor mengambil sebuah tablet. Di layarnya muncul gambar digital motor Zain yang bisa diputar dari segala arah.
"Hebat..." gumam Zain.
"Kita mulai dengan memindai seluruh rangka."
"Kenapa harus dipindai, Pak?"
"Karena saya ingin semua modifikasi nantinya bisa dikembalikan seperti semula."
Zain menoleh. "Maksudnya?"
"Aku tidak ingin motormu rusak permanen. Kalau suatu hari kamu berubah pikiran, kita bisa melepas semua komponen eksperimen."
Jawaban itu membuat Zain tersenyum. Profesor benar-benar memikirkan semuanya.
Pemindaian berlangsung hampir dua jam. Setelah selesai, Profesor mengajak Zain melihat layar komputer.
"Ini rangkamu," Profesor menekan beberapa tombol, lalu di layar muncul rangka tambahan yang tipis dan melengkung mengikuti bentuk motor. "Lalu ini..."
"Ini apa?"
"Kerangka pendukung. Beban alat nanti cukup berat. Kalau dipasang sembarangan, rangka motormu bisa retak."
Zain mengangguk. "Berarti bukan cuma ditempel ya."
"Bukan. Semuanya harus dihitung."
Siang harinya, Profesor membuka lemari besi di sudut ruangan. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah silinder logam sepanjang lengan orang dewasa. Warnanya hitam pekat, permukaannya halus tanpa sambungan.
"Hmm... itu apa?"
Profesor memegangnya dengan hati-hati. "Ini hasil penelitian dua belas tahun."
"Dua belas tahun?"
"Iya. Namanya masih belum resmi, tetapi saya biasa menyebutnya Inti Resonansi."
Zain tentu tidak mengerti, namun dari cara semua orang di ruangan itu memandang silinder tersebut, ia tahu benda itu sangat penting. Ardi bahkan langsung memakai sarung tangan khusus sebelum membantu meletakkannya di atas meja.
"Jangan sampai jatuh," kata Ardi pelan.
Profesor mengangguk. "Tentu."
Zain memperhatikan silinder itu. "Boleh saya pegang?"
Profesor berpikir beberapa detik. "Lewat sarung tangan ini."
"Baik."
Begitu silinder itu berada di tangannya, Zain terkejut. "Ringan..."
Ia mengira benda itu akan sangat berat, tetapi ternyata bobotnya jauh lebih ringan daripada yang terlihat.
"Padahal logam," gumamnya.
Profesor hanya tersenyum. "Itulah sebabnya pembuatannya sangat sulit."
Menjelang sore, semua pengukuran selesai. Motor Zain kembali diparkir seperti semula—belum ada satu baut pun yang diganti, belum ada satu komponen pun yang dipasang.
Namun sebelum Zain pulang, Profesor berkata, "Minggu depan kita mulai membuat komponen pertama."
"Sudah mulai dipasang?"
"Bukan, kita membuatnya dulu."
"Kenapa enggak beli saja?"
Profesor tersenyum. "Karena... komponen yang kita butuhkan belum pernah dibuat siapa pun."
Zain tertawa kecil. "Kalau begitu... semoga saya enggak bikin salah."
Profesor menatap motor Zain yang terparkir, lalu berkata pelan, "Mulai hari ini, tidak ada jalan untuk terburu-buru. Kalau kita salah satu langkah saja, bukan hanya penelitian yang gagal, motor kesayanganmu juga bisa hancur."
Zain mengangguk mantap. "Kalau begitu, kita kerjakan pelan-pelan saja, Pak."
Profesor tersenyum puas. Itulah jawaban yang ingin ia dengar.
Seminggu berikutnya berlalu tanpa perubahan besar. Zain tetap menjadi pengemudi ojol—pagi hingga sore ia berkeliling kota, lalu setiap Sabtu datang ke laboratorium.
Namun anehnya, mereka belum juga memasang satu pun alat ke motornya. Yang mereka lakukan justru membuat berbagai komponen kecil seperti dudukan logam, bracket, peredam getaran, dan pelindung kabel.
Suatu siang Zain tak tahan untuk tidak bertanya. "Kita kok bikin beginian terus?"
Profesor Surya yang sedang menghaluskan permukaan sebuah plat aluminium tersenyum. "Fondasi."
"Lho?"
"Kalau rumah dibangun mulai dari atap... tentu akan roboh."
Zain mengangguk. "Iya juga."
Hari itu, Profesor mengajak Zain ke ruangan yang belum pernah dimasukinya. Pintunya berada di balik rak besi besar dan hampir tidak terlihat.
Profesor memasukkan kartu akses. Suara bip terdengar dan pintu terbuka perlahan.
Ruangan di dalamnya jauh lebih kecil daripada laboratorium utama, namun jauh lebih rapi. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja kerja besar, dan di atasnya terbentang blueprint raksasa.
Mata Zain langsung membelalak. "Itu..."
Gambar motornya! Namun bukan motor biasa. Di dalam rangka motor tergambar puluhan komponen tambahan: jalur kabel, modul elektronik, bahkan sebuah ruang kosong tepat di bawah jok.
Profesor mendekat. "Ini rancangan akhirnya."
Zain mendekat perlahan. "Kalau semua ini dipasang... motor saya masih bisa dipakai narik?"
Profesor tertawa kecil. "Itu justru syarat utamanya."
"Hah?"
"Saya ingin kendaraan ini tetap terlihat seperti motor biasa dari luar. Orang tidak boleh tahu."
Zain mulai memahami. Alasan Profesor memilih motor matik memang bukan kebetulan—motor itu akan menyamar di tengah ribuan motor lain di jalanan.
Di sudut ruangan, masih ada yang tertutup kain hitam—rangka besi yang pernah dilihat Zain beberapa minggu lalu.
"Kali ini boleh lihat?" tanya Zain.
Profesor terdiam beberapa saat, lalu mengangguk. "Silakan."
Zain menarik kain penutup itu perlahan. Debu beterbangan.
Di bawahnya bukan motor utuh, melainkan rangka kendaraan yang hangus. Sebagian logamnya meleleh, beberapa kabel masih menempel, dan joknya sudah habis terbakar.
"ini apa?"
Profesor menatap rangka itu cukup lama. "Prototipe pertama."
"Yang gagal?"
"Iya."
Zain mengusap logam yang menghitam itu. "Meledak?"
"Bukan, terjadi lonjakan energi. Hampir seluruh sistem terbakar. Untung... belum ada orang di atasnya."
Zain mengembuskan napas lega. "Syukurlah."
Profesor mengangguk. "Sejak hari itu... saya berjanji. Kalau belum benar-benar yakin, tidak akan pernah ada manusia yang duduk di kendaraan ini."
Sore menjelang. Saat Zain hendak pulang, Ardi datang membawa sebuah kotak panjang.
"Prof, komponennya sudah selesai."
Profesor membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat cincin logam tipis berwarna keperakan dengan diameter sekitar tiga puluh sentimeter. Permukaannya dipenuhi jalur-jalur halus seperti ukiran.
"Inikah komponen pertama?" tanya Zain.
Profesor mengangguk. "Iya."
"Namanya?"
Profesor tersenyum tipis. "Cincin Resonansi. Mulai Sabtu depan... kita akan memasangnya."
Zain menatap motornya yang terparkir di luar bengkel. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Selama ini semua masih sebatas gambar, teori, dan persiapan. Mulai minggu depan, motor itu benar-benar akan mulai berubah.