Tiga tahun jadi sampah!
Itulah yang dialami Arya Langit setelah meridiannya hancur. Dari jenius nomor satu Perguruan Langit Biru, dia jatuh jadi pecundang yang bahkan tidak bisa mengangkat pedang.
Di hari pertunangannya, tunangannya sendiri Kezia Adinegara membatalkan pernikahan di depan seluruh tetua demi pria lain dan memberinya 100 Batu Roh sebagai uang hinaan.
Tepat saat tamparan itu mendarat di wajahnya, Sistem Takdir Harem Kaisar Abadi bangkit!
Mata Takdir aktif. Arya bisa melihat masa depan tragis setiap wanita dengan Takdir Kaisar.
Sekar Embun, Bidadari Pedang nomor satu yang dingin seperti es, akan lumpuh total dalam 7 hari dan mati kedinginan di lembah terpencil.
Luna Maheswari, Ratu Iblis yang mempesona, akan menjadi kuali kultivasi dan meledak mati.
Kirana Lestari, Putri Kerajaan yang manja, akan diracun pada malam pernikahannya.
Satu-satunya cara menyelamatkan mereka adalah menjadikan mereka istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Gadis Misterius dari Teratai Suci
Perjalanan kembali ke Puncak Embun terasa jauh lebih cepat dari perjalanan pergi.
Pedang raksasa biru es milik Sekar Embun membelah langit sore dengan kecepatan penuh. Angin kencang berhembus menerpa wajah, tapi tidak ada satu pun dari dua orang di atas pedang itu yang berbicara.
Arya Langit masih menggenggam tangan Sekar Embun.
Tangan wanita itu sangat lembut, putih seperti salju pertama, dan dingin seperti es abadi, tapi sekarang ada sedikit kehangatan samar yang mengalir di dalamnya setelah dua sesi penyembuhan. Sentuhan itu membuat jantung Arya berdegup kencang, bukan karena nafsu, tapi karena dia bisa merasakan kepercayaan yang begitu besar dari wanita yang dijuluki Gunung Es Abadi itu.
Sekar Embun juga tidak melepaskan genggaman itu.
Wajahnya masih dingin dan menatap lurus ke depan seolah sedang fokus mengendalikan pedang terbang, tapi telinganya yang tertutup oleh rambut hitam panjangnya itu sudah memerah seperti buah ceri matang. Jantungnya yang sudah membeku selama dua puluh dua tahun itu berdegup dengan sangat kencang hingga dia takut Arya bisa mendengarnya.
Di dalam kepala Arya, Fitur Intim dari sistem masih aktif dan terus menampilkan isi hati gurunya yang sangat bertolak belakang dengan wajah dinginnya itu.
[Isi hati Sekar Embun: "Kenapa dia masih memegang tanganku... Kenapa aku tidak melepaskannya... Tangannya hangat sekali... Bodoh, Sekar Embun, kamu adalah gurunya, jaga wibawamu... Tapi... rasanya nyaman sekali..."]
Arya hampir tertawa membaca isi hati itu. Siapa sangka Bidadari Pedang Embun yang ditakuti semua murid itu di dalamnya ternyata sepolos dan semalu ini.
Dia sengaja mengeratkan sedikit genggamannya.
Tubuh Sekar Embun sedikit bergetar karena kaget, tapi dia tetap tidak melepaskannya. Dia hanya mempercepat laju pedang terbangnya hingga dua kali lipat lebih cepat, seolah ingin segera sampai di Puncak Embun agar bisa melepaskan diri dari situasi canggung yang membuat jantungnya tidak karuan ini.
Akhirnya, Puncak Embun yang diselimuti salju abadi terlihat di depan mata.
Pedang raksasa itu mendarat dengan sedikit goyah di halaman pondok bambu, tidak sehalus biasanya. Sekar Embun buru buru melompat turun dan langsung melepaskan tangan Arya dengan gerakan yang sedikit panik.
"Kita... kita sudah sampai," kata Sekar Embun dengan suara yang sedikit gugup, tidak berani menatap mata Arya. Dia langsung berjalan cepat menuju pondoknya. "Kamu... kamu istirahatlah dulu. Sesi penyembuhan hari ini sudah cukup. Besok pagi kita lanjutkan lagi."
Melihat punggung gurunya yang terlihat kabur karena malu itu, Arya tidak bisa menahan senyumnya. Senyum itu tulus, bukan senyum mengejek seperti yang dia tunjukkan di Balai Utama tadi.
"Baik, Guru," jawab Arya dengan suara lembut.
Sekar Embun yang sudah sampai di pintu pondok berhenti sejenak, lalu tanpa menoleh berkata dengan suara kecil yang hampir tidak terdengar.
"Dan... terima kasih untuk hari ini... karena sudah melindungiku juga di Balai Utama tadi..."
Setelah berkata begitu, dia langsung masuk ke dalam pondok dan menutup pintu bambu itu dengan sedikit keras, seperti ingin menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah total.
Arya tertawa kecil. Dia duduk bersila di tepi kolam yang airnya sudah kembali hangat setelah esnya mencair tadi, dan mulai memeriksa hadiah yang dia dapatkan dari sistem setelah kejadian di Balai Utama.
[Kepercayaan Sekar Embun: 60%]
[Poin Takdir: 650]
[Kultivasi: Alam Jiwa Kesatria tingkat 2]
[Hadiah baru: Teknik Langkah Bayangan Embun]
Teknik Langkah Bayangan Embun adalah teknik gerakan kaki warisan Puncak Embun yang terkenal. Dikatakan bahwa jika dikuasai sampai tingkat sempurna, seseorang bisa bergerak seperti bayangan embun pagi, tidak terlihat, tidak terdengar, dan bisa muncul di mana saja dalam radius seratus meter dalam sekejap mata. Teknik ini sangat cocok untuk dipadukan dengan Teknik Pedang Embun Beku miliknya.
Arya langsung duduk bersila dan mulai memahaminya. Dengan Tubuh Meridian Naga Langit dan bakat yang sudah meningkat sepuluh kali lipat, memahami teknik tingkat Raja seperti ini hanya butuh waktu beberapa jam baginya, sesuatu yang butuh waktu bertahun tahun bagi jenius biasa.
Langit perlahan lahan menjadi gelap. Bulan purnama naik di atas Puncak Embun, cahayanya memantulkan kilauan indah di atas salju putih.
Di dalam pondok, Sekar Embun yang sudah berganti pakaian dengan gaun tidur sutra tipis berwarna putih duduk di depan cermin. Dia menatap wajahnya sendiri di cermin. Wajah yang biasanya selalu dingin dan tanpa ekspresi itu kini terlihat berbeda. Pipinya masih sedikit merona, matanya sedikit berbinar.
Dia menyentuh tangannya sendiri, tangan yang tadi digenggam oleh Arya. Seolah kehangatan dari tangan pemuda itu masih tersisa di sana.
"Apa yang terjadi padaku..." bisiknya pelan dengan suara yang bingung.
Di luar pondok, Arya masih tenggelam dalam pemahamannya. Bayangan tubuhnya mulai menjadi kabur, kadang terlihat ada di sini, kadang terlihat ada di sana, seperti embun yang tertiup angin.
Pada saat itu, sebuah suara langkah kaki yang sangat pelan, hampir tidak terdengar, menginjak salju di luar halaman Puncak Embun.
Langkah itu sangat ringan, bahkan lebih ringan dari Teknik Langkah Bayangan Embun yang baru saja dipelajari Arya. Jika bukan karena Tubuh Meridian Naga Langit yang membuat pendengaran Arya menjadi sangat tajam, dia pasti tidak akan mendengarnya.
Mata Arya yang terpejam langsung terbuka. Cahaya keemasan melintas di matanya.
"Siapa di sana!" bentak Arya dengan suara pelan namun penuh wibawa. Bayangannya langsung menghilang dari tepi kolam dan muncul kembali di gerbang masuk Puncak Embun dalam sekejap mata. Itulah Teknik Langkah Bayangan Embun tingkat awal.
Di gerbang yang diselimuti salju, berdiri seorang gadis.
Gadis itu adalah gadis cantik yang tadi diam di belakang Tetua Lotus di Balai Utama. Gadis yang auranya lebih mulia dan lebih dingin dari Kezia Adinegara.
Di bawah cahaya bulan purnama, kecantikan gadis itu terlihat jauh lebih jelas dari pada di dalam balai yang agak gelap tadi.
Dia mengenakan gaun putih dengan sulaman teratai emas yang sama seperti Tetua Lotus, tapi gaunnya terlihat jauh lebih mewah dan lebih indah. Rambutnya hitam panjang digelung dengan hiasan teratai giok, wajahnya oval sempurna dengan kulit putih bersih, matanya besar dan berbinar seperti bintang, bibirnya merah muda alami. Usianya terlihat sekitar delapan belas tahun, tapi aura di sekitarnya sudah mencapai Alam Jiwa Kesatria tingkat delapan, jauh di atas Kezia.
Dia bukan murid biasa. Jelas dia adalah seseorang yang memiliki status sangat tinggi di Istana Teratai Suci.
Gadis itu tidak terkejut melihat Arya tiba tiba muncul di depannya seperti hantu. Dia justru tersenyum manis, senyum yang indah seperti bunga teratai yang mekar di tengah malam.
"Kamu Arya Langit ya? Hebat juga, bisa menemukan keberadaanku. Padahal aku sudah memakai Mantel Bayangan Teratai milikku yang bisa menyembunyikan aura sampai Alam Raja Langit pun tidak bisa menemukannya," kata gadis itu dengan suara yang merdu dan sedikit manja, tidak ada rasa permusuhan sama sekali.
"Siapa kamu? Apa tujuanmu datang ke Puncak Embun di tengah malam seperti ini? Ini adalah area terlarang Puncak Embun, murid luar tidak boleh masuk tanpa izin," tanya Arya dengan waspada, tangannya sudah bersiap di gagang pedang es yang dia bentuk dari energinya.
Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya, menatap Arya dari atas sampai bawah dengan tatapan yang penuh minat, seperti sedang menilai sebuah harta karun yang menarik.
"Namaku Luna Maheswari," jawab gadis itu dengan bangga. "Aku adalah Putri Suci dari Istana Teratai Suci. Dan aku datang ke sini bukan untuk bertengkar seperti Tetua Lotus yang bodoh itu. Aku datang ke sini karena aku tertarik padamu, Arya Langit."
Luna Maheswari!
Nama itu membuat mata Arya sedikit membelalak.
Putri Suci dari Istana Teratai Suci! Itu adalah posisi yang jauh lebih tinggi dari sekedar murid inti seperti Kezia. Putri Suci adalah calon Pemimpin Istana Teratai Suci di masa depan, wanita paling berbakat dan paling cantik di seluruh Istana Teratai Suci. Statusnya bahkan setara dengan Pemimpin Perguruan Langit Biru!
Kenapa Putri Suci yang begitu mulia datang mencarinya di tengah malam?
Dan yang lebih penting lagi, saat nama Luna Maheswari itu disebutkan, layar sistem di depan mata Arya yang tadinya hanya menampilkan status Sekar Embun tiba tiba berbunyi dengan sangat keras dan menampilkan tulisan berwarna merah darah yang sangat besar.
[DING! PERINGATAN! TERDETEKSI TARGET TAKDIR KAISAR TINGKAT LEGENDARIS!]
[Nama: Luna Maheswari]
[Identitas: Putri Suci Istana Teratai Suci, memiliki Tubuh Teratai Suci Pemurnian Jiwa yang legendaris]
[Takdir Tragis: Dalam 1 bulan, saat ritual Pemurnian Jiwa Teratai Suci, akan dikhianati oleh Kezia Adinegara dan Tetua Lotus yang iri, Tubuh Teratai Suci akan dinodai oleh racun Iblis Hati, menjadi tungku kultivasi bagi Tetua Iblis dari Sekte Darah Hitam, dan mati dengan sangat mengenaskan setelah kultivasinya diserap habis.]
[Tingkat Penyelamatan: Sangat sulit! Membutuhkan Poin Takdir 1000 dan hati yang tulus! Jika berhasil menjadi istri, akan membangkitkan Tubuh Teratai Dewi Suci yang bisa memurnikan semua racun dan iblis di dunia!]
Jantung Arya berdegup kencang seperti genderang perang.
Target harem kedua! Dan takdir tragisnya bahkan lebih mengerikan dan lebih cepat dari Sekar Embun! Hanya satu bulan lagi!
Luna Maheswari melihat Arya yang tiba tiba diam dan menatapnya dengan tatapan aneh, mengira Arya terpesona oleh kecantikannya. Dia tersenyum dengan sedikit bangga dan berjalan mendekat selangkah, hingga jarak mereka hanya tinggal satu meter. Aroma harum bunga teratai yang lembut dan menenangkan tercium dari tubuhnya.
"Bagaimana? Apakah kamu terpesona oleh kecantikanku?" goda Luna dengan suara manja.
Arya menarik napas dalam dalam untuk menenangkan jantungnya yang berdebar kencang karena melihat takdir tragis gadis di depannya itu, bukan karena pesonanya.
"Putri Suci Luna datang jauh ke Puncak Embun di tengah malam hanya untuk menanyakan apakah saya terpesona? Jika itu tujuannya, maka saya jawab, Putri Suci memang sangat cantik, tapi saya sudah memiliki guru yang jauh lebih cantik," jawab Arya dengan tenang sambil menatap ke arah pondok bambu di mana Sekar Embun berada.
Mendengar jawaban itu, Luna Maheswari sedikit tertegun, lalu dia tertawa kecil. Tawa itu merdu seperti lonceng perak.
"Menarik... sangat menarik... Sudah lama tidak ada pria yang berani menolak pesonaku dan bahkan membandingkanku dengan wanita lain di depanku... Kamu benar benar berbeda dari yang diceritakan Kezia yang bilang kamu sampah yang tidak berguna..."
Luna melangkah maju lagi, kini jarak mereka hanya tinggal setengah meter. Dia mengulurkan tangannya yang putih bersih dan menyentuh dada Arya dengan ujung jarinya.
"Aku datang ke sini untuk memberimu sebuah penawaran, Arya Langit. Tinggalkan Perguruan Langit Biru yang kecil ini dan jadilah pengikut pribadiku di Istana Teratai Suci. Aku akan memberimu sumber daya kultivasi sepuluh kali lipat lebih banyak dari yang bisa diberikan Puncak Embun ini, aku akan membuat Kezia Adinegara berlutut dan meminta maaf padamu, dan..."
Luna mendekatkan wajahnya yang cantik itu ke telinga Arya, berbisik dengan suara yang sangat menggoda.
"Dan aku bisa mempertimbangkan untuk menjadi tunanganmu yang sebenarnya, bukan seperti Kezia yang palsu itu... Bagaimana? Penawaran yang sangat menguntungkan, bukan?"
Di dalam pondok bambu, melalui celah pintu yang sedikit terbuka, Sekar Embun yang tadinya berbaring dan mencoba tidur, kini berdiri dengan wajah dingin seperti es abadi yang akan meledak kapan saja, menatap pemandangan di gerbang Puncak Embun di mana murid kesayangannya sedang digoda oleh Putri Suci dari Istana Teratai Suci yang terkenal paling menggoda itu.
Tangan Sekar Embun yang memegang kusen pintu sedikit bergetar, bukan karena dingin, tapi karena rasa cemburu yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.