NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Hari Pertama Tugas dan Ujian Kesabaran Sang Pengawal

Ya, begitulah sedikit kilas balik cerita awal bagaimana takdir hidup membawaku hingga akhirnya resmi menyandang status sebagai supir pribadi sekaligus pengawal khusus untuk Clara Adelin. Sebuah peran baru yang sama sekali tidak pernah terlintas di dalam benakku sebelumnya, namun kini harus kujalani dengan penuh profesionalisme.

Pagi yang cerah menyambut babak baru dalam hidupku.

Matahari baru saja memancarkan sinar hangatnya menyapu pelataran megah kediaman keluarga Sanjaya. Dengan mengenakan stel jas hitam eksklusif, kemeja putih yang pas di badan, serta sepatu kulit mengilap hasil pilihan Egi kemarin, aku berdiri tegap di samping pintu penumpang belakang mobil sedan mewah yang sudah bersih mengilap.

Tak berapa lama kemudian, sosok sang nona muda melangkah keluar dari pintu utama rumah. Clara tampak anggun mengenakan seragam sekolahnya, rambut panjangnya terurai rapi, namun raut wajah cantiknya sudah terpasang ekspresi angkuh yang sangat familiar.

Aku menyunggingkan senyum formal, menundukkan kepala

sedikit dengan sikap sempurna saat ia mendekat.

"Selamat pagi, Nona Clara," ucapku menyapa dengan nada suara yang teramat halus, tenang, dan sangat sopan. "Hari ini adalah hari pertama saya resmi bertugas sebagai supir pribadi sekaligus pengawal khusus untuk Anda."

Clara menghentikan langkahnya sejenak, melipat kedua tangannya di dada seraya menatapku dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan pandangan menilai yang dingin. Bibirnya menyunggingkan senyuman sinis yang jelas-jelas berniat meremehkan.

"Duh... enggak perlu terlalu banyak bicara dan basa-basi deh!" semprot Clara dengan nada bicara tinggi yang mulai memerintah sesuka hatinya. "Cepat antar aku ke sekolah sekarang juga! Aku enggak mau ya sampai terlambat gara-gara kamu lambat! Oh iya, satu lagi... nanti sebelum ke sekolah, kita mampir dulu ke rumah Diana. Kita mau jemput dia buat berangkat bareng."

Aku membalas tatapan matanya dengan tetap mempertahankan raut wajah yang datar dan profesional.

"Baik, siap Nona Clara," jawabku singkat.

Clara melangkah lebih dekat ke pintu mobil, lalu menepuk-nepuk kaca jendela dengan ujung kuku jarinya seraya menaikkan dagunya tinggi-tinggi.

"Tunggu apa lagi? Buka pintunya, Supir!" seru Clara sengaja menekankan kata 'supir' dengan intonasi mengejek yang amat jelas.

Aduh, si gadis bodoh satu ini... gerutuku di dalam hati seraya membukakan pintu mobil untuknya. Kelihatannya dia sudah mulai menyusun rencana buat mengerjai dan menguji kesabaranku sejak detik pertama aku bekerja.

Setelah Clara duduk manis di dalam kabin belakang yang sejuk, aku menutup pintu dengan lembut, lalu bergegas masuk ke kursi kemudi dan mulai melajukan mobil sedan hitam itu membelah jalanan pagi.

Namun, dugaan batinku ternyata seratus persen benar.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Diana, suasana di dalam mobil jauh dari kata tenang. Clara seolah tidak pernah kehabisan bahan untuk mencari-cari kesalahanku.

"Heh, Arkan! Bisa bawa mobilnya yang benar enggak sih?!" sergah Clara tiba-tiba dari kursi belakang saat mobil berjalan santai. "Ini terlalu lambat tahu enggak! Kamu mau bikin aku terlambat sampai sekolah?!"

"Baik, Nona. Saya percepat sedikit," balasku tenang seraya menambah injakan pedal gas.

Namun, tidak sampai dua menit kemudian, Clara kembali berteriak.

"Aduh, Arkan! Kamu mau ngajak aku mati muda ya?! Kenapa ngebut-ngebut begitu?! Remnya halusan dikit napa!" omelnya lagi dengan raut wajah gusar.

Aku menghela napas pelan, menetralkan kecepatan. "Baik, Nona. Saya sesuaikan kecepatannya."

Tapi penderitaanku belum berakhir di situ. Saat aku menekan klakson dua kali untuk memberi tanda pada pengendara motor yang tiba-tiba memotong jalur di depan kami, Clara kembali bersuara nyaring.

"Bisa enggak sih tangannya enggak gatal pencet-pencet klakson terus?! Bikin telinga aku sakit tahu enggak!" protesnya tiada henti.

Intinya, di mata sang nona muda satu ini, apa pun yang aku lakukan di belakang kemudi semuanya serba salah. Niatnya sangat jelas: ingin memancing emosiku agar aku terpancing marah di hari pertama bekerja. Namun, aku memilih untuk tidak terlalu mempedulikan ocehan kekanak-kanakannya itu dan tetap fokus mengemudi dengan tenang.

Beberapa menit kemudian, mobil meluncur masuk ke kawasan perumahan tempat tinggal Diana. Tampak sahabat karib Clara itu sudah berdiri menunggu di depan pagar rumahnya dengan tas sekolah di pundak.

Aku memarkirkan mobil dengan sangat presisi tepat di depan pagar rumah Diana. Aku segera melangkah keluar untuk membukakan pintu belakang agar Diana bisa masuk dan duduk berdampingan dengan Clara.

Setelah Diana duduk di dalam dan aku kembali ke kursi kemudi, aku menggeleng-gelengkan kepala pelan seraya membatin, Aduh... kalau satu gadis bodoh saja sudah bikin pusing, sekarang tambah satu lagi jadi dua deh gadis bodoh di dalam mobil ini.

Tanpa sadar, sebuah senyuman tipis bercampur geli mengukir di bibirku saat membayangkan betapa ramainya hariku ke depan.

Clara yang secara tak sengaja memperhatikan raut wajahku dari kaca spion tengah langsung memicingkan matanya penuh curiga.

"Kenapa kamu senyum-senyum begitu?!" tanya Clara dengan nada suara yang agak kesal dan sewot. "Ada yang lucu, hah?!"

Aku meliriknya santai lewat kaca spion, membalas pertanyaannya dengan nada bicara yang ramah namun menohok. "Memangnya ada peraturan tertulis atau undang-undang yang melarang seorang pengawal untuk tersenyum, Nona Clara?"

"Ih! Menjawab terus ya kalau dikasih tahu!" dengus Clara kesal seraya membuang mukanya ke luar jendela.

Mobil pun kembali melaju menyusuri jalanan kota menuju SMA Tiara Nusa. Sementara itu, Diana yang duduk di samping Clara mulai memperhatikan diriku dari belakang, lalu berbisik-bisik pada Clara dengan nada provokatif yang sengaja diperkeras agar bisa kudengar.

"Ra..." bisik Diana seraya menyenggol lengan Clara. "Kamu beneran enggak takut apa, satu mobil terus tiap hari sama orang jahat kayak dia?"

Clara menoleh ke arah Diana dengan alis terangkat. "Takut? Apaan yang harus ditakuti dari dia, Di?"

Diana melirik sinis ke arah belakang kepalaku, lalu melanjutkan kalimat provokasinya dengan nada sok cemas. "Ya takut lah! Kamu kan cewek cantik, terus dia cowok... Awas loh ya, nanti kalau kamu tiba-tiba dilecehkan atau diapa-apain sama dia di jalan, gimana?!"

Mendengar tuduhan liar dan provokasi murahan yang dilontarkan Diana, kesabaranku yang tadinya setebal baja mendadak tersenggol. Aku menyunggingkan senyum dingin di balik kemudi, lalu berdeham pelan memotong pembicaraan mereka dengan suara tegas yang bergema di seluruh kabin mobil.

"Mohon maaf ya, Nona Diana..." potongku cepat dengan nada bicara yang teratur dan menusuk. "Saya ini juga punya standar dan selera yang sangat tinggi kalau memang berniat ingin melecehkan seseorang. Dan jujur saja... Nona Clara maupun Anda sama sekali tidak termasuk dalam kategori selera saya. Bahkan rasanya sangat, sangat jauh dari standar saya."

JLEB!

Seketika itu juga, suasana di dalam mobil mendadak membeku total! Kalimat balasan dari mulutku menghantam telak gengsi mereka berdua!

Diana langsung melotot lebar dengan mulut ternganga tak percaya, sementara Clara membatu di tempatnya dengan raut wajah yang seketika berubah merah padam campuran antara syok, malu, dan kesal setengah mati! Keduanya seketika bungkam seribu bahasa, tidak berani lagi mengeluarkan sepatah kata pun hingga mobil tiba di halaman sekolah.

Tetap tinggalkan komentar ya gan,suka tidak suka tetap berkomentar

Terimakasih saudara ku

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!