NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 20

Mengejek? Asia sempat terkejut di dalam hati. Namun, keterkejutan itu dengan cepat berubah menjadi rasa geli. Dia pasti insecure, batin Asia menyimpulkan. Hanya orang yang tidak percaya diri yang akan merasa terhina oleh senyuman tulus seorang anak TK.

Ibu Guru yang merasa situasi semakin tidak kondusif segera angkat bicara. "Maaf, Bu Ratna. Saya tahu Nero ini memang sempat jarang masuk sekolah, tapi bukan berarti dia anak yang nakal. Enggak mungkin dia mengejek Bu Ratna," bela Ibu Guru dengan nada sehalus mungkin, berusaha meredam ketegangan.

"Bukan anak kecil ini yang saya maksud, tapi Mbak ini!" sentak Bu Ratna, langsung mengarahkan telunjuknya tepat ke wajah Asia.

Asia mengerjap. Ih, nih orang, umpat Asia dalam hati. Dia mulai jengah dengan drama tidak penting pagi-pagi begini.

Ibu Guru yang melihat jari Bu Ratna menunjuk Asia langsung tampak tidak enak hati. Beliau kemudian menunduk, menatap Nero yang masih memegang tangannya. "Nero, apa yang dikatakan sama ibu, emm... Mama kamu?" tanya Ibu Guru lembut. Beliau ternyata sudah tahu dari data administrasi sekolah kalau Asia adalah istri baru Kapten Hugo.

"Dia mamanya? Istri Kapten Hugo?" tanya Bu Ratna. Nada terkejut sempat meluncur dari suaranya, namun dengan cepat ia menguasai diri. Tak ada guratan malu atau bersalah di wajahnya. Bagi wanita sekaya dan seangkuh dirinya, salah tebak bukanlah dosa besar yang bisa meruntuhkan harga dirinya.

"Di data sekolah kami, nama Ibu Asia memang sudah terdaftar sebagai istri sah dari Pak Hugo, Bu Ratna," sahut Ibu Guru memperjelas situasi.

Bu Ratna hanya menaikkan sebelah alisnya, lalu melipat tangan di dada dengan gerakan yang sangat santai. Tatapannya pada Asia tidak melembut sama sekali, justru semakin sinis.

"Oh, jadi kamu istri barunya Hugo?" ucap Bu Ratna dengan nada meremehkan yang masih kental. "Lain kali pakai baju yang resmi. Bukan begini. Makanya saya bilang kamu pengasuh Nero." Wanita ini tidak peduli kata-katanya pantas atau tidak.

Ia mendengus remeh, lalu berbalik begitu saja menghampiri kelompok ibu-ibu Persit yang lain. Mengibaskan tangannya seolah-olah Asia hanyalah gangguan kecil yang tidak penting untuk diladeni lebih lama. Gengsinya tetap berdiri tegak, tak tergoyahkan oleh koreksi dari Ibu Guru.

Melihat tingkah ajaib itu, Asia hanya bisa membatin. Bintang satu memang terlalu bagus buat orang ini. Minus bintang lima sekalian.

Ibu Guru yang merasa atmosfer masih agak tegang segera mengalihkan perhatian. "Kalau begitu, kami tinggal dulu ya, Ibu-ibu. Anak-anak yang lain sudah menunggu saya di dalam kelas. Ayo Nero ... dan mamanya," ajak Ibu Guru dengan sikap yang sangat menghormati Asia.

"Mari, Bu," pamit Asia pada ibu-ibu itu. Ia memberikan senyuman. Sebagai bentuk keramahan formal. Asia kemudian melangkah menemani Nero masuk ke dalam gedung sekolah. Membiarkan gerombolan di parkiran itu tenggelam dalam obrolan mereka sendiri.

****

Sekolah selalu bising di jam istirahat. Bagi Jenny koridor sekolah adalah area tempur yang harus ia lewati dengan dagu tegak. Ia berjalan dengan langkah tenang menuju lokernya. Memeluk beberapa buku pelajaran di dada.

Tepat saat ia membuka pintu loker, tiga siswi yang sejak lama tidak menyukainya sudah berdiri bersandar di deretan loker sebelah. Salah satunya adalah Tasya, anak seorang pengusaha yang selalu merasa tersaingi oleh nilai-nilai akademik Jenny.

"Eh, lihat deh. Si anak piatu yang sombong sudah datang," cibir Tasya. Gadis itu sengaja mengeraskan suara agar didengar oleh siswa-siswi lain yang berlalu-lalang.

"Percuma ya juara kelas terus, tapi di rumah penampilannya menyedihkan. Udah enggak punya ibu, eh, sekarang papanya lumpuh lagi. Naik kursi roda kan? Pasti repot banget ya hidup kamu. Harus urus papa yang cacat dan adik yang aneh itu," lanjut Tasya sembari melangkah mendekat dengan senyum meremehkan.

Gerakan tangan Jenny terhenti di dalam loker. Jemarinya mencengkeram pinggiran besi loker. Kata "lumpuh" dan "cacat" yang disematkan pada papa yang sangat ia hormati, membuat darahnya mendidih.

Tapi Jenny menolak untuk menangis. Ia menolak terlihat lemah di depan orang-orang ini.

Brak!

Jenny menutup pintu lokernya dengan sekali sentakan keras. Suara dentuman besi itu membuat Tasya dan dua temannya tersentak mundur karena terkejut.

Jenny memutar tubuhnya perlahan. Ia berdiri tegap, menatap Tasya lurus-lurus tepat di manik matanya. Tidak ada air mata di sudut matanya. Yang ada hanyalah sorot dingin yang tajam dan menusuk. Warisan dari tatapan militer papanya.

"Jaga mulutmu, Tasya," ucap Jenny. Suaranya rendah dan datar.

Tasya mencoba menutupi kegugupannya dengan tertawa sinis. "Kenapa? Tersinggung? Kan emang kenyataan. Papa kamu itu lumpuh."

"Papaku adalah seorang perwira yang terluka demi melindungi negara ini. Dia jauh lebih terhormat daripada siapapun di ruangan ini," potong Jenny dengan intonasi yang begitu tegas dan penuh penekanan di setiap kata.

Ia melangkah satu kali ke depan membuat Tasya refleks mundur setapak. "Dan urusan keluargaku, sama sekali bukan urusan otakmu yang dangkal itu."

Suasana koridor mendadak hening. Beberapa siswa yang menonton mulai berbisik-bisik, kagum dengan mental baja Jenny yang tidak goyah sedikit pun meski diserang secara personal.

"Kamu ... Kamu kok nyolot sih?!" gagap Tasya, wajahnya memerah karena malu rahasia kekejamannya justru dibalikkan oleh ketegasan Jenny.

"Si playing victim," balas Jenny dingin.

Tanpa menunggu balasan lagi Jenny menyampirkan tasnya di bahu. Memutar tubuh dan berjalan melewati mereka dengan langkah mantap. Punggungnya tegak lurus, kepalanya terangkat tinggi.

Begitu ia berbelok ke koridor sepi menuju laboratorium yang jarang dilewati orang, Jenny menghentikan langkahnya. Ia bersandar pada dinding semen yang dingin. Napasnya memburu, dan cengkeraman tangannya pada tali tas semakin erat.

Benteng pertahanannya begitu kokoh di luar, tapi di dalam hati kata-kata tentang ibunya yang telah tiada dan kondisi fisik papanya tetap meninggalkan luka goresan yang perih. Jenny memejamkan mata rapat-rapat. menelan bulat-bulat.

"Sialan. Padahal aku enggak ganggu mereka."

Rasa sesak di dadanya, lalu kembali membuka mata dengan tatapan yang kembali mengeras. Dia adalah anak Kapten Hugo, dan dia tidak akan membiarkan siapa pun melihatnya hancur.

Trek!

Suara pintu laboratorium yang terbuka di belakangnya memecah keheningan. Jenny tersentak, langsung membuka mata dan menoleh dengan waspada.

Ternyata itu Kevin. Murid yang dikenal sebagai berandal sekolah karena seragamnya yang sering keluar dan hobi membolos, namun memiliki pembawaan yang selalu tenang dan cool. Melihat posisi Kevin yang baru keluar dari ruangan, Jenny yakin cowok itu sempat melihat detik-detik dirinya yang tampak rapuh dan kacau barusan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!