"Bukan Laknat, namaku Rahmat."
Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."
15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.
Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.
Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.
Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?
"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Tahi Lalat & Lagu
Lalu sekarang apa sebenarnya untuk mereka?
Pertanyaan itu mengikuti Wenny sampai hari keempat di Bandung.
Ia tidak menanyakannya pada REYN. Belum. Setiap kali kesempatan muncul, selalu ada kamera, ada Koko, ada Kevin yang tiba-tiba lewat dengan komentar tidak penting, atau ada keberanian Wenny yang mendadak hilang sebelum kalimat pertama selesai.
Siang itu, peserta mendapat waktu bebas yang tetap diawasi kamera. Koko menyebutnya `rekaman natural`, istilah yang membuat semua orang tahu bahwa tidak ada yang benar-benar natural jika mikrofon masih menempel di pakaian.
Wenny duduk di ruang musik kecil vila, pura-pura memilih playlist untuk acara malam. REYN berdiri di depan rak gitar, membaca daftar lagu yang ditempel kru.
"Kamu mau lagu apa?" tanya Wenny.
"Kamu pilih."
"Itu bukan jawaban."
"Kalau kamu yang pilih, aku akan dengar."
Wenny menunduk pada tablet playlist. "Kamu membuat semua kalimat terdengar berbahaya."
REYN menoleh, seperti hendak menjawab. Saat itu rambutnya yang sedikit panjang tersibak, memperlihatkan sisi belakang telinganya.
Wenny berhenti bernapas.
Ada tahi lalat kecil di belakang telinga kiri REYN.
Tidak besar. Tidak mencolok. Hanya titik gelap kecil yang mungkin tidak akan diperhatikan orang lain. Tetapi mata Wenny terkunci di sana seolah seseorang baru saja membuka laci lama di kepalanya.
Rumah sakit.
Pintu kamar yang terbuka sedikit.
Seorang anak laki-laki kurus yang berlari keluar saat dipanggil kasar dari lorong.
Sisi wajah yang menoleh.
Titik kecil di belakang telinga.
Ingatan itu datang terlalu cepat dan terlalu buram. Seperti foto lama yang terkena air. Wenny tidak bisa menangkap seluruh gambar, hanya perasaan bahwa ia pernah melihat tanda itu pada seseorang yang jauh, sangat jauh, dari masa kecilnya.
"Wenny?"
Suara REYN menariknya kembali.
Ia sadar dirinya menatap terlalu lama.
"Ada apa?"
"Tidak." Wenny cepat menunduk. "Aku cuma... rambutmu berantakan."
REYN menyentuh bagian belakang telinganya.
Gerakan itu justru membuat jantung Wenny semakin tidak tenang.
"Boleh dirapikan?" tanyanya.
"Apa?"
"Rambutku."
Wenny menatapnya, curiga ia sedang sengaja menggodanya. REYN hanya berdiri di sana, terlalu tenang.
"Rapi sendiri," jawab Wenny.
Sudut bibir REYN naik. "Baik."
Namun sejak saat itu, Wenny tidak benar-benar mendengar lagu apa pun.
Malamnya, setelah sesi ringan selesai, REYN menghampirinya di teras vila. Udara Bandung dingin, membuat peserta lain cepat masuk ke dalam setelah makan malam. Kamera masih ada, tetapi jaraknya tidak terlalu dekat.
REYN membawa sebuah amplop hitam.
"Untukmu."
Wenny menerimanya dengan hati-hati. "Apa ini?"
"Tiket."
Di dalam amplop ada satu tiket VIP konser REYN yang akan diadakan setelah rangkaian rekaman selesai. Desainnya hitam perak, dengan nama REYN tercetak tajam di tengah.
Wenny menatap tiket itu terlalu lama.
Sebagai @bunga.pagi, ia pernah gagal mendapatkan tiket sekelas ini karena sold out dalam hitungan menit.
Sebagai Wenny Santoso, ia sekarang mendapatkannya langsung dari orangnya.
Hidup benar-benar tidak masuk akal.
"Kenapa memberiku ini?"
"Aku ingin kamu datang."
"Kamu bisa mengundang lewat tim."
"Aku ingin mengundang sendiri."
Wenny menggenggam amplop itu. "Kalau aku datang, nanti orang bilang macam-macam."
"Mereka sudah bilang macam-macam."
"Kamu tidak keberatan?"
"Tidak."
"Aku mungkin keberatan."
REYN menatapnya, lalu mengangguk. "Kalau begitu aku tukar dengan satu janji."
"Janji apa?"
"Kalau suatu hari kamu merasa ada yang tidak masuk akal tentang aku, jangan langsung pergi. Tanya dulu."
Wenny memegang tiket lebih erat.
Kalimat itu terlalu dekat dengan isi kepalanya.
"Kenapa kamu bicara seperti punya banyak hal tidak masuk akal?"
"Karena memang ada."
"REYN."
"Janji saja dulu."
Wenny melihat wajahnya. Di bawah lampu teras, mata REYN tampak lebih gelap, tetapi tidak menghindar. Ia tidak memaksa. Hanya menunggu.
"Baik," kata Wenny akhirnya. "Aku tanya dulu."
REYN tersenyum, lega dengan cara yang nyaris tidak terlihat.
Malam itu, Wenny kembali ke kamar dengan amplop hitam, tiket VIP, dan tahi lalat kecil yang terus muncul di pikirannya.
Ia meletakkan tiket itu di samping laptop, tepat di bawah lampu meja. Nama REYN di permukaannya tampak seperti undangan sekaligus peringatan: tanya dulu, jangan pergi.
Ia membuka laptop.
Pertama, ia mencari `REYN sebelum debut`.
Hasilnya hampir semua artikel promosi setelah 2020. Profil resmi. Foto panggung. Wawancara pendek. Tidak ada masa kecil. Tidak ada keluarga. Tidak ada sekolah. Tidak ada rekaman trainee awal selain beberapa potongan yang sudah dipoles perusahaan.
Ia mencari nama asli.
Tidak ada.
Ia mencari artikel lama Polar Star Entertainment.
Tetap tidak ada.
Seolah seseorang dengan sengaja menyapu bersih semua jejak sebelum nama REYN muncul.
Yang tersedia hanya narasi rapi: trainee Korea enam tahun, debut 2020, vokal kuat, visual dingin, minim skandal. Semua artikel memakai kalimat yang mirip, seolah ditulis dari satu sumber yang sama. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada sekolah lama. Tidak ada kota asal. Bahkan forum fans lama hanya punya teori, bukan bukti.
Wenny mencoba mencari dengan kata kunci lain.
`REYN nama asli`
`REYN masa kecil`
`REYN sebelum Polar Star`
Hasilnya tetap buntu.
Sebagai aktris, Wenny tahu agensi bisa merapikan masa lalu artis. Tapi serapi ini terasa tidak wajar. Seolah bukan hanya menyusun citra, melainkan menghapus seseorang sebelum orang itu sempat dikenal.
Wenny bersandar di kursi.
"Kamu sebenarnya siapa?" bisiknya, kali ini tanpa berani menjawab sendiri.
Matanya jatuh pada playlist di laptop.
`Lesung Pipi`.
Lagu debut REYN.
Lagu yang pertama kali membuat @bunga.pagi lahir.
Ia membuka folder lama di laptop, tempat ia menyimpan catatan ulasan lagu untuk akun rahasianya. Ada file berjudul `Lesung Pipi - draft`. Tanggalnya empat tahun lalu. Saat itu ia menulis bahwa lagu ini terdengar seperti surat untuk seseorang yang hilang, bukan sekadar lagu cinta. Ia bahkan pernah menandai beberapa baris dengan komentar kecil: `terlalu spesifik, mungkin ada cerita asli`.
Dulu ia menertawakan analisisnya sendiri.
Malam ini, komentar itu tidak lucu lagi.
Wenny membuka halaman liriknya.
Ia pernah membaca lirik itu berkali-kali sebagai penggemar. Dulu ia hanya menganggapnya romantis, sedikit melankolis, dan terlalu indah untuk lagu debut seorang penyanyi baru.
Malam ini, ia membacanya sebagai seseorang yang sedang mencari bukti.
Baris pertama muncul di layar.
Wenny membaca pelan.
Satu baris.
Lalu baris berikutnya.
Kotak bekal.
Tangan kecil.
Senyum dengan dua lesung pipi.
Jalan pulang yang dicari bertahun-tahun.
Jantung Wenny mulai berdetak lebih cepat.
"Tahi lalat itu..." bisiknya, menatap layar dengan mata melebar. "Aku seperti pernah melihatnya."
Ia menggulir lirik itu lebih jauh.
Semakin ia membaca, semakin sulit baginya bernapas dengan tenang malam itu, sendirian di kamar.