NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17 Jeritan di Gedung Wayang

Anggraini tidak langsung menjawab.

Ia berlutut di lantai pendopo Puri Timur, wajahnya basah oleh air mata yang kali ini tidak lagi rapi. Di depannya, botol minyak kenanga diletakkan di atas nampan perak. Di sampingnya, dayangnya gemetar sambil menunduk sampai dahi menyentuh lantai.

Arjuna duduk di kursi utama. Garuda berdiri di belakang Anggraini seperti bayangan gelap. Adi menahan amarah di sisi kiri. Dari balik tirai, Wulan mendengar semuanya untuk Anindya yang masih terbaring di kamar.

"Siapa yang menyuruhmu?" ulang Arjuna.

Anggraini menggeleng cepat. "Tidak ada, Yang Mulia. Hamba hanya... hamba hanya cemburu."

"Cemburu tidak mengajarimu memasang paku di jembatan."

Dayang Anggraini tersedu. "Ampun, Yang Mulia. Hamba hanya diminta menaruh minyak di pagar. Hamba tidak tahu Gusti Putri akan melompat."

Anggraini menoleh tajam. "Diam!"

Satu kata itu keluar terlalu kasar. Topeng lembutnya retak di depan semua orang.

Arjuna memandangnya. "Lanjutkan."

Dayang itu gemetar. "Raden Ayu berkata hanya ingin membuat Nimas Ayu Puspa jatuh sedikit. Biar Puri Timur kacau. Biar orang menyalahkan Gusti Putri karena mengundang tamu saat tubuhnya belum kuat."

"Siapa yang memberi gagasan itu?"

Dayang itu melirik Anggraini, lalu menangis lebih keras.

Garuda mendekat satu langkah. "Jawab."

"Ada pesan dari luar," bisiknya. "Dari seorang pelayan Puri Baskara. Ia berkata Raden Ayu Sinta juga akan membantu menyebarkan kabar."

Nama Sinta jatuh seperti batu.

Anggraini langsung berteriak, "Tidak! Itu bukan rencanaku sendiri. Sinta yang membenci Putri Mahkota. Dia yang berkata semua orang akan percaya kalau Puri Timur sial setelah wanita itu masuk."

Adi menatapnya jijik. "Kau hampir membunuh orang, lalu masih menunjuk orang lain?"

"Aku tidak ingin membunuh siapa pun!" Anggraini menatap Arjuna dengan mata liar. "Aku hanya ingin Yang Mulia melihat bahwa wanita itu membawa masalah. Aku lebih cocok berdiri di sisi Yang Mulia. Aku lebih..."

"Cukup."

Suara Arjuna memotongnya tanpa perlu keras.

Anggraini membeku.

Seorang anggota Pasukan Garuda masuk cepat dan berlutut. "Yang Mulia, Raden Ayu Sinta meninggalkan rumahnya dengan kereta pribadi. Tujuannya Gedung Wayang Enam."

Arjuna berdiri.

"Mengapa?"

"Orang kami mendengar ia menerima pesan bahwa ada bukti Putri Mahkota sengaja mencelakai Puspa. Pengirimnya memakai tanda Puri Baskara."

Anggraini tertawa pendek, hampir putus asa. "Dia bodoh. Dia benar-benar percaya."

Arjuna menatapnya. "Dan kau tahu pesan itu akan dikirim."

Anggraini menutup mulutnya.

Jawaban sudah jelas.

Arjuna menoleh pada Adi. "Jaga Anindya. Tidak ada seorang pun masuk ke kamar."

"Yang Mulia akan pergi?"

"Jika Sinta mati di Gedung Wayang Enam, Ratu Ayu tidak akan berhenti sampai mendapat darah. Aku harus tahu siapa yang mendorongnya ke sana."

Ia pergi sebelum Adi sempat menjawab.

***

Gedung Wayang Enam malam itu lebih ramai daripada biasanya.

Pertunjukan belum dimulai, tetapi gamelan sudah dipukul pelan. Lentera merah bergoyang di bawah angin lembap. Para tamu masuk dengan wajah tertutup kipas atau kain, mencari hiburan, rahasia, atau dosa kecil yang bisa dibeli dengan emas.

Sinta datang tanpa rombongan besar. Hanya satu dayang yang tertinggal di kereta. Ia masuk dari pintu samping, wajahnya tertutup selendang, tetapi cara ia berjalan tetap menunjukkan siapa dirinya. Dagu terangkat. Langkah cepat. Amarah lebih terang daripada lentera.

Parman menunggunya di lorong belakang.

"Raden Ayu," katanya sambil menunduk. "Tuan kami menunggu di ruang atas."

"Tuanmu siapa?"

"Orang yang bisa memberi Raden Ayu bukti bahwa Putri Mahkota tidak sebaik yang semua orang kira."

Sinta mencengkeram selendangnya. "Kalau ini bohong, aku akan membuatmu dicambuk."

"Hamba tidak berani bermain dengan nama Raden Ayu."

Kebohongan itu halus. Sinta terlalu marah untuk mendengarnya.

Di luar gedung, Arjuna tiba bersama Garuda. Mereka tidak masuk dari depan. Garuda sudah menempatkan dua orang di belakang panggung, satu di dekat kandang kuda, satu di dekat sumur tua tempat pintu rahasia ditemukan.

"Parman terlihat?" tanya Arjuna.

"Masuk bersama Sinta ke lantai atas."

Arjuna menatap bangunan kayu itu. Dalam kehidupan lalu, Sinta mati sebagai kecelakaan yang cepat dilupakan. Ia hanya mendengar kabarnya setelah pemakaman. Saat itu, ia tidak peduli cukup dalam untuk bertanya mengapa putri manja itu bisa berada di Gedung Wayang Enam tengah malam.

Malam ini ia tahu.

Baskara sedang membersihkan bidak yang terlalu berisik.

"Jangan biarkan Parman keluar," kata Arjuna.

Garuda menunduk. "Siap."

Mereka bergerak lewat lorong samping. Dari celah papan, Arjuna melihat para tamu masih tertawa, tidak menyadari gedung itu mulai berubah menjadi perangkap. Bau minyak lampu terlalu pekat. Di beberapa sudut, penjaga gedung berdiri bukan menghadap panggung, melainkan menghadap pintu keluar. Mereka menunggu sesuatu.

Seorang pelayan tiba-tiba menjatuhkan nampan di depan lorong, menghalangi jalan dengan pecahan gelas dan wedang panas. Garuda menarik pria itu ke samping. Pelayan itu meronta terlalu kuat untuk orang yang sekadar ceroboh.

"Tahan dia," kata Arjuna.

Keterlambatan beberapa napas itu cukup untuk membuat suara Sinta terdengar dari atas.

Di ruang atas, Sinta menunggu dengan gelisah. Di bawah, bayangan wayang mulai bergerak di kelir. Cerita malam itu tentang Sinta dalam epos lama, perempuan yang diperebutkan banyak pria. Sinta kerajaan mendengar namanya sendiri disebut oleh dalang dan merasa itu tanda bahwa dunia memang seharusnya berpusat padanya.

Namun ruangan itu terlalu sepi.

Tidak ada minuman kehormatan untuk tamu bangsawan. Tidak ada dayang perempuan. Hanya meja rendah, lampu minyak, dan tirai bambu yang menutup jendela. Sinta mulai merasa sesuatu tidak benar, tetapi harga dirinya menolak mundur. Ia sudah terlanjur meninggalkan rumah tanpa izin ibunya. Ia sudah terlanjur percaya bahwa malam ini ia akan mendapat senjata untuk menjatuhkan Anindya.

Di atas meja ada kotak kecil. Sinta membukanya. Di dalamnya terdapat selembar kain yang konon berasal dari Puri Timur, terkena noda minyak kenanga, serta catatan pendek tanpa nama: Putri Mahkota tidak selemah yang terlihat. Jika Raden Ayu ingin tempatnya, datanglah sendiri.

Sinta meremas catatan itu. Untuk pertama kalinya malam itu, suara ibunya teringat di kepalanya. Ratu Ayu pernah berkata, orang yang terlalu mudah tersinggung akan mudah ditarik hidungnya.

Ia dulu menganggap itu omelan wanita tua.

Pintu terbuka.

Namun yang masuk bukan Pangeran Baskara, bukan pula orang penting. Hanya Parman dengan wajah datar dan seorang pelayan membawa kotak kecil.

"Di mana orang yang memanggilku?" tanya Sinta.

"Raden Ayu terlalu keras bersuara belakangan ini," jawab Parman.

Sinta tertegun. "Apa maksudmu?"

"Tuan kami tidak suka orang yang memakai namanya untuk mengancam Puri Timur, lalu gagal."

Wajah Sinta memucat, lalu memerah karena marah. "Aku keluarga kerajaan. Berani sekali kau bicara seperti itu."

"Justru karena Raden Ayu keluarga kerajaan, kematian Raden Ayu harus terlihat seperti kecelakaan."

Sinta mundur satu langkah.

Di luar ruangan, salah satu anggota Garuda mendengar kalimat itu dan segera bergerak. Namun lantai atas penuh lorong sempit. Saat ia mendekat, dua penjaga gedung menghadangnya.

Di dalam, Sinta melempar kotak kecil ke arah Parman. "Aku akan mengatakan pada ibuku. Aku akan membuat Pangeran Baskara menyesal."

Parman tersenyum tipis. "Itulah masalahnya."

Sinta berlari ke pintu lain, bukan pintu yang tadi ia masuki. Pintu itu mengarah ke balkon kayu di atas panggung belakang. Di bawah, para penonton tertawa mengikuti adegan lucu, tidak tahu ada perempuan ketakutan berlari di atas kepala mereka.

Arjuna masuk ke lorong bawah tepat saat suara ribut terdengar dari atas.

"Sinta!" seru seseorang.

Sinta muncul di balkon, selendangnya tersangkut paku dekorasi. Ia mencoba melepaskannya sambil menoleh ke belakang. Parman tidak menyentuhnya. Ia hanya berdiri di ambang pintu, cukup dekat untuk membuatnya panik.

Di bawah cahaya lampu, Sinta tampak sangat muda. Semua kesombongan yang biasa ia pakai seperti perhiasan hilang bersama warna di wajahnya. Ia mencari jalan turun, mencari seseorang yang berpihak padanya, tetapi yang ia lihat hanya penonton terkejut dan para penjaga gedung yang mendadak tidak bergerak.

Arjuna melihat Parman mundur setengah langkah ke bayangan. Gerakan itu kecil, tetapi jelas. Parman tidak ingin mendorong Sinta dengan tangan sendiri. Ia hanya perlu membuatnya mundur ke tempat yang sudah disiapkan.

"Jangan mendekat!" teriak Sinta.

Penonton di bawah mulai mendongak.

Dalang Surya berhenti memainkan wayang.

Arjuna melihat pagar balkon itu. Salah satu penyangganya sudah dipotong setengah. Bukan oleh kepanikan Sinta. Sudah disiapkan.

"Turun dari sana!" perintah Arjuna.

Sinta menoleh ke arahnya. Untuk pertama kalinya, wajah sombongnya hilang. Yang tersisa hanya ketakutan seorang gadis muda yang akhirnya mengerti ia bukan pemain utama dalam permainan ini.

"Yang Mulia..."

Pagar balkon patah.

Semua terjadi dalam satu tarikan napas.

Sinta jatuh.

Gamelan berhenti. Penonton menjerit. Garuda melompat ke arah panggung, tetapi jaraknya terlalu jauh. Arjuna berlari, namun tubuh Sinta sudah menghantam lantai kayu di sisi panggung belakang dengan bunyi tumpul yang membuat seluruh ruangan diam.

Parman menghilang lewat pintu atas.

"Kejar dia!" perintah Arjuna.

Garuda langsung bergerak, tetapi dari belakang panggung muncul dua pria bersenjata pendek. Mereka menahan jalur cukup lama untuk memberi Parman waktu masuk ke lorong rahasia.

Arjuna berlutut di samping Sinta.

Sinta masih bernapas, tetapi sangat lemah. Matanya terbuka, menatap langit-langit yang dipenuhi asap lampu. Bibirnya bergerak.

"Ibu..."

Lalu napas itu hilang.

Di Gedung Wayang Enam yang beberapa saat lalu penuh tawa, tidak ada suara selain jeritan dayang Sinta dari pintu samping.

Raden Ayu Sinta tidak bergerak lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!