NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Hujan di Depan Pintu

Untuk pertama kalinya, ia takut kalimat itu benar-benar menjadi doa yang salah.

Rayhan selamat.

Dokter keluar menjelang pagi dengan wajah lelah dan berkata kondisi pasien sudah stabil, meski tubuhnya masih sangat lemah. Keira tidak menangis. Ia hanya duduk di kursi koridor rumah sakit, kedua tangan saling menggenggam begitu kuat sampai kukunya meninggalkan bekas di kulit.

Kevin menunjukkan rekaman CCTV garasi kepadanya.

Di layar, Bu Fenny jelas memasukkan sesuatu ke saku Rayhan. Keira menonton tanpa berkedip. Setelah itu, ia memutar rekaman dapur. Rayhan tampak panik saat serbuk jatuh ke cangkir kopi, lalu langsung membuang kopi itu.

Tidak ada ruang lagi untuk menyangkal.

Rayhan tidak meracuninya.

Ia menyelamatkannya.

Keira mengembalikan ponsel Kevin. "Jangan bilang padanya aku sudah lihat."

Kevin menatapnya. "Kei."

"Aku belum siap."

Itu kalimat paling jujur yang bisa ia ucapkan.

Dua hari kemudian, Rayhan dipulangkan ke Villa Teluk dengan instruksi ketat. Istirahat, makanan lunak, tidak boleh kerja berat, dan pemantauan tekanan darah. Keira mendengar semuanya, lalu tetap menyuruh pelayan menyiapkan kamar pelayan di lantai bawah.

Rayhan tidak protes.

Ia berjalan pelan, satu tangan menahan dinding, wajahnya masih pucat. Ketika melewati Keira, ia menunduk.

"Terima kasih sudah membawa saya ke rumah sakit, Bu Keira."

Keira tidak melihatnya. "Aku tidak mau ada orang mati di rumahku."

"Baik."

Malamnya hujan turun.

Villa Teluk terasa lebih dingin dari biasanya. Keira duduk di ruang tengah dengan tablet di pangkuan, tetapi ia tidak membaca satu pun laporan. Di layar ponselnya ada kabar lain dari jaringan Kevin.

Anya Mulyadi dipindahkan dari rutan untuk pemeriksaan tambahan.

Dalam perjalanan, mobil tahanan diserang.

Anya hilang.

Berita itu belum masuk media. Polisi menutupinya sementara. Namun bagi Keira, satu kalimat cukup membuat darahnya kembali dingin.

Anya kabur.

Rayhan masuk membawa selimut tipis yang baru selesai dilipat. Langkahnya lebih lambat daripada biasa.

Keira mengangkat wajah.

"Dia sudah diurus?"

Rayhan berhenti.

Ia tidak tahu siapa "dia" yang Keira maksud.

Dalam kepalanya, yang pertama muncul adalah Bu Fenny. Setelah CCTV terlihat oleh Kevin, Rayhan mengira Keira bertanya apakah ia sudah memastikan ibunya tidak mendekati Villa Teluk lagi. Sore tadi, ia memang sudah mengirim peringatan kepada keamanan dan memblokir akses Bu Fenny.

"Sudah diurus," jawabnya.

Keira menatapnya lama.

"Olehmu?"

"Iya."

Udara di ruang tengah berubah.

Rayhan baru menyadari ada sesuatu yang salah ketika mata Keira menjadi sangat tenang.

"Kau cepat sekali," ucap Keira.

"Aku hanya tidak ingin kejadian kemarin terulang."

Di telinga Keira, kalimat itu berarti lain.

Tidak ingin kejadian Anya tertangkap terulang.

Jadi benar. Rayhan membantu perempuan itu keluar lagi. Setelah semua bukti, setelah semua darah, setelah semua permintaan maaf, ia tetap memilih Anya saat nama itu muncul.

Keira berdiri.

"Keluar."

Rayhan mengerutkan kening. "Apa?"

"Berdiri di luar sampai aku menyuruhmu masuk."

Hujan di luar terdengar makin deras.

Rayhan menatap jendela, lalu Keira. "Bu Keira, tubuh saya..."

"Kau baru ingat tubuhmu sekarang?"

Rayhan terdiam.

"Keluar."

Ia tidak bertanya lagi.

Rayhan berjalan ke teras depan. Angin laut membawa hujan masuk miring. Dalam beberapa menit, kemejanya basah. Tubuh yang baru keluar dari rumah sakit langsung menggigil, tetapi ia berdiri tegak di depan pintu.

Keira menutup pintu kaca.

Ia berdiri di baliknya, melihat Rayhan dari dalam rumah yang hangat.

Marah membuatnya bertahan selama sepuluh menit pertama.

Luka lama membuatnya bertahan selama satu jam.

Namun saat Rayhan mulai batuk, jari Keira mencengkeram tirai.

Jangan peduli.

Ia mengulang kalimat itu lagi.

Pria itu memilih Anya.

Pria itu selalu memilih Anya.

Pukul dua dini hari, Rayhan masih berdiri.

Wajahnya pucat, bibirnya hampir kebiruan. Beberapa kali ia harus memegang pilar teras agar tidak jatuh. Namun setiap kali tubuhnya miring, ia memaksa kembali berdiri.

Pelayan Liem dua kali mendekati Keira.

"Nona, dokter bilang Tuan Rayhan belum boleh kena dingin."

Keira tidak menoleh. "Dia bukan tuan di rumah ini."

"Tapi kalau kondisinya turun lagi..."

"Aku tahu."

Dua kata itu keluar terlalu cepat.

Keira tahu. Ia tahu suhu tubuh Rayhan baru stabil, tahu 023 belum hilang dari sistemnya, tahu obat kemarin membuat lambungnya luka. Ia tahu semuanya, dan justru pengetahuan itu membuat dadanya seperti dipenuhi duri.

Di meja ruang tengah, rekaman CCTV garasi masih terbuka di ponsel Kevin yang tertinggal. Tangan Bu Fenny terlihat jelas memasukkan bungkusan ke saku Rayhan.

Keira mematikan layar.

Kalau ia melihatnya lebih lama, hukuman itu akan runtuh.

Keira akhirnya membuka pintu.

Hujan langsung memukul wajahnya.

"Masuk."

Rayhan menoleh pelan. "Hukuman saya selesai?"

Keira menatapnya. "Tidak. Kontrakmu selesai."

Rayhan membeku.

Keira mengeluarkan map dari balik pintu. Perjanjian Pelayan yang dulu ia tanda tangani kini basah di ujungnya karena hujan.

"Aku akan mengakhiri perjanjian ini. Kau bebas pergi. Kembali ke keluargamu. Kembali ke siapa pun yang selalu kau lindungi."

Rayhan menatap dokumen itu.

Hujan mengalir dari rambut ke rahangnya.

Jari-jarinya sudah kaku. Ia bahkan perlu dua kali mencoba sebelum bisa menggenggam ujung map. Jika Keira memintanya menandatangani, mungkin tubuhnya akan menuruti karena terlalu lelah. Namun matanya masih sadar, dan justru kesadaran itu membuat Keira makin marah.

Ia ingin mengakhiri perjanjian bukan karena kasihan, katanya pada diri sendiri. Ia hanya tidak mau Rayhan mati di depan pintunya dan meninggalkan utang emosi yang lebih kotor.

"Tidak."

"Ini bukan pilihan."

Rayhan mengambil dokumen itu dari tangan Keira.

Untuk sesaat, Keira mengira ia akan menandatangani formulir pengakhiran.

Namun Rayhan justru merobeknya.

Sobekan kertas jatuh ke lantai teras yang basah.

"Aku tidak pergi," katanya, suara serak karena dingin. "Yang aku cintai selalu hanya kau, Keira."

Keira menatapnya seperti baru saja mendengar bahasa asing.

Rayhan berlutut di bawah hujan.

Tubuhnya gemetar, tetapi matanya tidak menghindar.

Air hujan menggenang pelan di sekitar lututnya, dingin seperti hukuman lama yang kembali.

"Aku tahu aku terlambat. Aku tahu kau tidak harus percaya. Tapi aku tidak akan memakai Anya, keluargaku, atau alasan apa pun lagi untuk lari. Aku mencintaimu. Dan kali ini, aku akan tetap di sini bahkan kalau yang tersisa darimu untukku hanya hukuman."

Hujan menelan suara terakhirnya.

Keira berdiri di ambang pintu, tangan menggenggam kusen sampai buku jarinya memutih.

Di belakangnya, rumah hangat.

Di depannya, pria yang dulu ia cintai berlutut di bawah hujan, menolak kesempatan untuk pergi.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Keira tidak tahu bagian mana dari dirinya yang lebih sakit.

1
Diah Susanti
ini salah satu keahlian orang Indonesia, bisa mengetahui kehadiran seseorang yang dikenal dari suara kendaraannya. bahkan dari langkah kaki juga batuk/dehemannya😄😄😄
Tri Septi
pembalasan ya.....maaf aku kurang sreg😔🙏
Tri Septi
ayo nyalakan apinya 🔥🔥🔥🔥🔥 semangat 💪💪💪
Tri Septi
satu per satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan 😇
Tri Septi
semoga keira selamat😯
Tri Septi
sudah terlambat ray🔥🔥🔥
Tri Septi
wah, keira 👍 lanjutkan Thor, makasih 🙏🙏
Tri Septi
taktik Rayhan setelah tahu keira siapa .... telat bro! 🔥
Tri Septi
ini baru permulaan 😆😆😆
Tri Septi
ternyata jago beladiri😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....orang kaya mah bebas ya, lanjut thor👍
Tri Septi
en in en......gimana kelanjutannya, tunggu episode berikut....😁🤣🤣🤣
Tri Septi
ayo mulai babak baru 👍😍
Tri Septi
lanjut Thor 👍 suka' 😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....teh hijau sudah muncul🤔
Tri Septi
selamat datang kembali menuju kehidupan baru keira 😍😍😍
Tri Septi
aku mampir thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!