NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Gala Dinner

Senja meminum wedang jahe itu di foyer, di bawah tatapan Rayhan yang sama sekali tidak merasa dirinya berlebihan.

Gula aren membuat rasa pedas jahe lebih lembut. Serai meninggalkan aroma segar di hidung. Suhunya benar-benar pas, seolah seseorang sudah menunggu cukup lama sebelum menyerahkannya.

Rayhan melihat gelasnya. "Habis?"

Senja menurunkan gelas. Masih tersisa sedikit di dasar. "Hampir."

"Hampir bukan habis."

Pak Hadi menunduk di belakang, jelas berusaha tidak tersenyum.

Senja menatap Rayhan. "Kamu tahu kamu seperti guru piket?"

"Kalau guru piket membuatmu tidak batuk di acara sosial, anggap saja begitu."

Senja tidak bisa menahan senyum kecil. Dia menghabiskan sisa wedang jahe, lalu menyerahkan gelas kosong kepada Pak Hadi.

"Puas?"

"Cukup."

Rayhan mengambil ponsel dan melirik pesan masuk. Dunia bisnis kembali menarik wajahnya menjadi dingin. Namun sebelum dia berjalan ke mobilnya sendiri, dia berkata, "Kalau Serena memancingmu, jangan bereaksi di meja."

"Aku tahu."

"Tahu tidak selalu berarti melakukan."

"Rayhan."

Dia menatapnya.

Senja menggenggam clutch hijau tua yang senada dengan gaunnya. "Aku akan coba menjaga diri. Tapi kalau dia menghina tari atau Lara, mungkin aku akan menjawab."

Rayhan diam sebentar.

Senja sudah siap mendengar larangan.

Namun Rayhan hanya berkata, "Jawab dengan kalimat yang membuat dia terlihat bodoh, bukan kamu terlihat marah."

Senja berkedip.

Pak Hadi benar-benar batuk kecil kali ini.

"Itu nasihat sosial?" tanya Senja.

"Itu strategi."

"Kamu memberi strategi untuk menghadapi Serena?"

"Aku memberi strategi untuk semua lawan yang lemah tapi berisik."

Entah karena wedang jahe, entah karena kalimat itu, dada Senja terasa hangat saat masuk ke mobil.

Charity luncheon diadakan di sebuah hotel dekat Bundaran HI. Acara itu tidak sebesar gala dinner keluarga konglomerat, tetapi cukup formal untuk membuat setiap tas, warna lipstik, dan posisi duduk punya makna. Tema acaranya penggalangan dana untuk klinik anak. Ironis, pikir Senja, mengingat Rina dan anaknya beberapa hari lalu.

Pak Hadi mengantar sampai lobby. "Saya menunggu di lounge samping, Nyonya."

"Tidak perlu terlalu dekat."

"Tuan muda meminta saya ada di gedung."

Senja menghela napas kecil, tetapi tidak membantah.

Di ballroom kecil, Serena sudah datang. Gaunnya merah muda pucat, wajahnya tenang, seolah video Senopati tidak pernah ada. Beberapa perempuan menyambutnya tetap manis, tetapi Senja bisa melihat jarak kecil yang sebelumnya tidak ada. Orang-orang kaya mungkin tersenyum pada skandal, tapi mereka juga menghitung risikonya.

Serena melihat Senja, lalu matanya turun ke gaun hijau.

"Jadi kamu benar-benar memakai itu."

Senja mengingat kata Rayhan.

Buat dia terlihat bodoh, bukan kamu terlihat marah.

Dia tersenyum tipis. "Iya. Aku suka."

"Berani sekali."

"Memilih warna sendiri tidak terlalu berbahaya."

Salah satu perempuan di dekat meja tertawa pelan. Serena menatapnya sekilas, tawa itu langsung berhenti.

Senja duduk di kursi yang sudah ditentukan. Kartu namanya tertulis Nyonya Senja Wijaya. Melihat nama itu masih membuatnya merasa seperti membaca karakter orang lain, tetapi hari ini, setidaknya, gaun yang dipakainya adalah pilihannya sendiri.

Acara dimulai dengan sambutan, lelang amal, dan makan siang. Senja menyimak presentasi tentang klinik anak lebih serius daripada kebanyakan tamu. Ketika pembawa acara menyebut biaya perawatan dasar untuk anak demam berkepanjangan, Senja teringat Rina lagi.

Dia mengangkat tangan saat sesi donasi tambahan dibuka.

"Atas nama pribadi," katanya kepada staf yang mendekat, "saya ingin berdonasi untuk paket pemeriksaan anak."

Staf itu tampak terkejut melihat jumlah yang Senja tulis, tidak terlalu besar bagi ukuran konglomerat, tetapi jelas bukan sekadar formalitas meja.

Serena melirik formulir itu. "Atas nama pribadi? Bukan Wijaya?"

"Iya."

"Uangmu sendiri?"

Senja menatapnya. "Aku masih punya tabungan dari menari."

Nada meja berubah. Beberapa perempuan yang sebelumnya memandangnya sebagai istri pajangan mulai melihat dengan cara berbeda.

Serena tersenyum kaku. "Manis sekali."

"Klinik anak memang butuh dukungan," jawab Senja. "Bukan sekadar foto untuk Instagram."

Kali ini Serena benar-benar kehilangan senyum selama dua detik.

Di meja lain, seseorang berbisik, tetapi kali ini bukan untuk menertawakan Senja.

Setelah acara selesai, seorang panitia menghampiri Senja untuk berterima kasih. Mereka berbicara sebentar tentang program klinik. Senja bertanya hal-hal praktis: jadwal layanan, wilayah penerima, apakah bisa membantu anak staf rumah tangga yang tidak punya asuransi. Pembicaraan itu membuatnya lupa bahwa Serena masih mengawasi.

Ketika Senja keluar ballroom, hujan turun tipis di luar kaca lobby. Pendingin hotel membuat kulit lengannya dingin.

Pak Hadi sudah berdiri, tetapi bukan hanya dia yang menunggu.

Rayhan ada di dekat pintu lobby, berbicara dengan seorang pria bersetelan navy. Begitu melihat Senja, dia menyudahi percakapan dengan satu anggukan.

Senja berjalan mendekat, sedikit terkejut. "Kamu di sini?"

"Rapat di gedung sebelah selesai lebih awal."

Pak Hadi menunduk dengan wajah terlalu tenang.

Senja mulai tidak mudah percaya pada alasan rapat dekat sini.

Rayhan melihat lengannya yang terbuka. Tanpa banyak bicara, dia melepas jas abu-abu gelapnya dan menyampirkannya di bahu Senja.

Aroma kayu cendana langsung mengelilinginya.

Gerakan itu cepat, alami, seolah tidak perlu dipikirkan.

Namun lobby hotel punya banyak mata.

Bisik-bisik kecil bergerak di belakang mereka. Serena yang baru keluar dari ballroom berhenti beberapa langkah dari pintu, menatap jas itu di bahu Senja.

Senja menyentuh ujung jas, suaranya lebih pelan. "Aku tidak terlalu dingin."

"Aku tidak bertanya."

Kalimatnya tetap menyebalkan.

Tetapi Senja tidak melepas jas itu.

Rayhan melirik kartu donasi yang masih di tangan Senja. "Kamu berdonasi?"

"Atas nama pribadi."

"Bagus."

Satu kata yang sama seperti saat dia melihat gaun hijau.

Namun kali ini, karena didengar beberapa orang di sekitar mereka, kata itu terasa seperti tangan yang diletakkan di punggungnya, tidak mendorong, hanya memastikan dia tidak berdiri sendirian.

Serena berjalan melewati mereka dengan wajah manis yang terlalu dipaksa.

"Pak Rayhan, kebetulan sekali."

Rayhan menatapnya. "Tidak terlalu."

Serena terdiam.

Rayhan mengalihkan pandangan kembali kepada Senja. "Pulang?"

Senja mengangguk.

Di belakang mereka, perempuan berkalung mutiara yang dulu ikut menertawakan Senja di arisan mendekati Serena dan berkata cukup pelan, tetapi masih terdengar, "Sepertinya Rayhan benar-benar memperhatikan istrinya."

Wajah Serena menegang.

"Kalian terlalu mudah percaya sandiwara," gumamnya.

Namun tidak ada yang langsung menimpali.

Ketiadaan tawa itu kecil, tetapi Senja mendengarnya dengan sangat jelas. Di dunia Serena, kehilangan satu tawa pendukung saja sudah seperti kehilangan pijakan.

Saat mereka berjalan keluar bersama, jas Rayhan masih menutupi bahunya, dan untuk pertama kalinya, bisik-bisik di belakang Senja tidak terasa seperti pisau.

Rasanya lebih seperti angin yang tidak bisa lagi menembus kain tebal hangat di punggungnya.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!