NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Jangan Terlalu Dingin

Kelvin melangkah lagi.

Naomi berdiri kaku di sisi ranjang, baju setengah terlipat masih tergenggam di kedua tangan. Ia tidak tahu harus mundur atau menaruh baju itu kembali ke koper. Napasnya terlalu pendek, dan suara hujan di luar seperti semakin dekat ke kaca.

Kelvin berhenti tepat di depannya.

Ia tidak menyentuh Naomi.

Ia hanya menunduk, melihat baju yang diremas Naomi sampai lipatannya rusak.

Naomi menelan ludah. "Kelvin..."

Kelvin tidak menjawab.

Tangannya bergerak pelan, mengambil baju itu dari genggaman Naomi.

Tidak merebut.

Tidak memaksa.

Hanya mengambil saat jari Naomi melemah sendiri.

Lalu Kelvin berbalik ke lemari.

Naomi menatap punggungnya.

Ia membuka pintu lemari yang tadi belum tertutup sempurna, merapikan hanger kosong, lalu menggantung baju itu kembali ke tempat semula.

Satu gerakan.

Diam.

Sangat biasa.

Tapi Naomi merasa seperti baru mendengar kalimat paling jelas yang pernah Kelvin ucapkan.

Jangan pergi.

Kelvin kembali ke koper.

Ia berjongkok, mengambil kaus putih yang sudah Naomi letakkan paling bawah. Kaus itu terlipat tidak rapi. Kelvin membukanya, melipat ulang dengan cara yang tidak terlalu sempurna, tetapi jauh lebih hati-hati daripada yang Naomi bayangkan dari seorang laki-laki seperti dia.

Setelah itu, ia menaruhnya ke rak lemari.

Naomi masih tidak bergerak.

Matanya mulai panas.

"Aku..." Suaranya pecah.

Kelvin tetap diam.

Ia mengambil celana panjang dari koper.

Lalu sweter tipis.

Lalu baju tidur yang membuat Naomi mendadak malu karena benda itu terlalu pribadi untuk disentuh Kelvin, tetapi Kelvin memegangnya dengan ekspresi tenang, hanya melipat ujungnya dan meletakkannya di laci tanpa komentar apa pun.

Tidak ada godaan.

Tidak ada senyum malas.

Tidak ada Baby yang diucapkan untuk membuatnya kehilangan arah.

Hanya satu demi satu barang kembali ke tempat yang selama dua bulan terakhir mulai terasa seperti milik Naomi.

Ruang kecil di lemari yang dulu kosong.

Laci kedua yang Kelvin biarkan untuk pakaian rumahnya.

Sudut meja untuk buku Jerman.

Gantungan kecil di balik pintu untuk tas kuliahnya.

Semua itu pernah ia kira sementara.

Ternyata Kelvin tidak menganggapnya begitu.

Naomi menutup mulut dengan punggung tangan.

Air matanya jatuh juga.

Kelvin mengambil kamus kecil Jerman dari koper. Ia berhenti sesaat ketika melihat halaman yang diselipkan pembatas kertas. Jarinya menyentuh sampulnya, lalu ia menaruh kamus itu kembali ke meja, tepat di samping pulpen yang pernah ia belikan.

Setelah itu, ia kembali ke koper.

Sisa barang tinggal charger, satu pouch kecil berisi obat, dan beberapa lembar fotokopi materi kuliah.

Kelvin mengambil pouch obat lebih hati-hati daripada baju-baju tadi. Ia membuka laci meja, meletakkannya di bagian paling depan, mudah dijangkau. Seolah bahkan di tengah marah atau cemburu pada koper, ia tetap ingat obat tidak boleh disimpan sembarangan.

Gerakan kecil itu membuat tangis Naomi makin pecah.

Ia menunduk, menggenggam ujung ranjang.

Jangan terlalu dingin, begitu Danny pernah menggoda Kelvin di suatu malam.

Atau mungkin semua orang memang salah melihat Kelvin.

Kelvin bukan tidak punya perasaan.

Ia hanya terlalu terbiasa menyembunyikannya di balik kalimat pendek, wajah datar, dan cara memerintah yang membuat orang tidak berani bertanya.

Tapi di depan koper kecil ini, image dinginnya runtuh tanpa suara.

Laki-laki yang dulu Naomi pikir hanya tahu membeli es kola, menatap orang dengan malas, dan membuat semua orang kampus berbisik, sekarang berjongkok di lantai kamar tamu, memindahkan pakaian perempuan yang bahkan belum berani berkata ingin tinggal.

Satu demi satu.

Seperti sedang mengembalikan bagian-bagian hidup Naomi ke tempat yang ia yakini seharusnya.

Di sini.

Di apartemen ini.

Di dekatnya.

Kelvin mengambil lembar fotokopi terakhir dan meletakkannya di atas buku. Kemudian ia menatap koper.

Kosong.

Benar-benar kosong.

Naomi juga menatapnya.

Koper itu terbuka di lantai, mulutnya menganga tanpa isi. Beberapa menit lalu, benda itu tampak siap membawa seluruh hidup Naomi keluar dari apartemen. Sekarang ia terlihat bodoh dan tidak berdaya, seperti ide buruk yang terlambat disesali.

Kelvin berdiri.

Naomi refleks mengangkat wajah.

Ia menunggu Kelvin mengatakan sesuatu.

Mengomelinya.

Menertawakannya.

Mungkin memanggilnya Baby dengan nada menyebalkan dan berkata hutangnya bertambah karena berani kabur.

Namun Kelvin hanya menutup koper itu.

Klik kecil dari resleting yang dirapikan terdengar terlalu keras.

Ia mengangkat koper kosong itu, meletakkannya kembali ke bagian bawah lemari, lalu menutup pintu lemari.

Naomi memandang pintu lemari itu seolah baru saja melihat jawaban dari pertanyaan yang sejak tadi tidak berani ia ucapkan.

Boleh aku tinggal?

Kelvin tidak mengatakan boleh.

Ia hanya membuat semua barangnya kembali ke tempat semula.

Naomi menekan bibir, tetapi tangisnya tetap keluar.

Dadanya penuh.

Terlalu penuh sampai terasa hampir sakit.

Ini bukan pengakuan seperti di novel yang pernah dibaca Sinta sambil menjerit di kos. Tidak ada bunga. Tidak ada musik. Tidak ada kalimat panjang yang dihafal. Tidak ada janji dramatis di bawah hujan.

Hujan memang ada.

Tapi Kelvin tidak memakainya untuk membuat adegan indah.

Ia hanya membongkar koper.

Dan bagi Naomi, itu jauh lebih kejam bagi pertahanannya.

Karena jika Kelvin berkata jangan pergi, ia masih bisa bertanya kenapa. Jika Kelvin berkata aku suka kamu, ia mungkin akan panik, menyangkal, atau bersembunyi di balik luka lama.

Namun Kelvin mengembalikan baju-bajunya satu per satu.

Bagaimana cara menyangkal tindakan sesederhana itu?

Bagaimana cara berkata ini cuma akting ketika tidak ada penonton selain lemari, ranjang, dan hujan?

Kelvin akhirnya menoleh padanya.

Mata mereka bertemu.

Naomi ingin berkata sesuatu. Terima kasih tidak cukup. Maaf terlalu kecil. Aku tidak mau pergi terlalu jujur untuk dikeluarkan.

Jadi ia hanya berdiri dengan mata basah.

Kelvin melihatnya beberapa detik.

Lalu, tanpa berkata apa pun, ia berjalan keluar dari kamar.

Naomi tersentak kecil.

Ia hampir memanggilnya, tetapi suara itu berhenti di tenggorokan.

Langkah Kelvin menjauh ke ruang tengah.

Naomi berdiri sendirian di kamar yang kembali utuh.

Lemari tertutup.

Meja rapi.

Obat di laci depan.

Kamus di samping pulpen.

Koper kosong di tempat asalnya.

Dan hatinya, yang beberapa menit lalu terasa seperti ditarik keluar paksa, sekarang penuh sampai ia tidak tahu harus meletakkannya di mana.

Ia menyeka pipi, tetapi air mata baru muncul lagi.

Kali ini, bukan hanya karena takut.

Naomi berjalan pelan ke pintu kamar.

Di ruang tengah, televisi masih menyala dengan suara rendah. Cahaya layarnya bergerak di dinding.

Kelvin duduk di sofa, punggungnya menghadap Naomi.

Ia tidak menoleh.

Tidak memanggil.

Tidak mendesak.

Ia hanya duduk di sana, diam, seolah seluruh aksinya tadi belum cukup untuk membuat Naomi mengerti.

Tapi Naomi mengerti.

Koper itu kosong.

Dan Kelvin sedang menunggu ia keluar.

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!