**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.
Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!
Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.
Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3 pindah ke rumah mewah
Keheningan di dalam kamar kos sempit itu terasa begitu tebal hingga detak jarum jam dinding murah milik Alya terdengar seperti dentuman keras.
Devan Dirgantara masih berdiri mematung. Matanya yang tajam bergantian menatap antara wajah Alya yang tampak tenang dan perutnya yang masih rata. Sebagai seorang pria berpendidikan tinggi yang mengandalkan logika dan data konkret, situasi saat ini benar-benar menghancurkan seluruh logika yang ia pelajari seumur hidup.
"Yudha," panggil Devan tiba-tiba dengan suara berat.
Asisten pribadinya langsung melangkah masuk, membungkuk hormat. "Ya, Tuan Muda Devan?"
"Bawa wanita ini ke rumah sakit utama Dirgantara. Lakukan tes kehamilan instan dan tes DNA pralahir yang paling akurat. Sekarang." Devan mengancingkan kembali jas hitamnya, mencoba memulihkan wibawanya yang sempat runtuh. "Jika terbukti dia berbohong... aku sendiri yang akan memastikan dia mendekam di balik jeruji besi."
> *[Hmph. Silakan saja melakukan tes medis apa pun, Ayah. Tapi kuharap kau menyiapkan mentalmu untuk memesan kamar perawatan terbaik untuk Ibuku setelah hasilnya keluar.]*
Suara batin Baby El kembali berdengung di kepala Devan, membuat sang CEO refleks memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Ia menatap Alya dengan pandangan gusar sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar dari kos-kosan sempit itu dengan langkah lebar.
---
Tiga jam kemudian, Alya duduk di sofa kulit yang sangat empuk di dalam ruang VIP Rumah Sakit Medika Dirgantara.
Di tangannya terdapat laporan medis resmi berstempel emas. Hasilnya mutlak: Alya positif hamil dengan usia kandungan sekitar empat minggu. Yang lebih mengejutkan lagi, hasil analisis kecocokan genetik awal—yang dipercepat menggunakan teknologi laboratorium tercanggih milik keluarga Dirgantara—menunjukkan kecocokan 99,99% dengan Devan Dirgantara.
Devan berdiri di dekat jendela besar, menatap lembaran kertas yang sama di tangannya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Bagaimana mungkin..." gumam Devan. Pria itu menatap Alya yang sedang asyik memakan apel kupas yang disediakan oleh rumah sakit. Gadis itu tampak sama sekali tidak terbeban, bahkan terlihat sangat menikmati fasilitas VIP tersebut.
> *[Ibu, kunyah apelnya pelan-pelan. Nutrisinya sangat baik untuk pembentukan sel otakku. Dan hei, lihatlah ekspresi pria dingin itu. Dia terlihat seperti baru saja melihat hantu terkaya di dunia.]*
Alya hampir saja tersedak. Ia buru-buru menelan apelnya dan menatap Devan dengan senyum polos. "Tuan Devan, karena hasilnya sudah keluar, jadi... bagaimana dengan kontrak pernikahan yang diusulkan oleh anakmu?"
Devan menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan emosinya. Ia memberi isyarat kepada Yudha yang berdiri di dekat pintu.
"Yudha, batalkan semua agenda malam ini. Suruh tim hukum menyiapkan kontrak pernikahan satu tahun antara aku dan Alya Putri. Masukkan klausul kerahasiaan tingkat tinggi," perintah Devan dengan dingin.
Yudha tampak terkejut, namun sebagai asisten profesional, ia hanya mengangguk patuh. "Baik, Tuan Muda. Lalu, mengenai tempat tinggal Nona Alya?"
Devan melirik Alya dari atas ke bawah. Pakaian gadis itu sangat sederhana—hanya kaos putih polos yang agak longgar dan celana jeans yang warnanya sudah mulai pudar. Penampilan seperti itu jelas sangat kontras dengan standar lingkungan keluarga Dirgantara.
"Dia tidak bisa kembali ke kos-kosan kumuh itu lagi. Mulai malam ini, dia akan tinggal di Penthouse Lavender," ujar Devan dingin.
Mata Alya langsung berbinar-binar. "Penthouse? Itu... apartemen mewah yang ada kolam renang pribadinya di lantai atas itu, kan?!"
> *[Wah, tidak buruk juga taktik awal kita, Ibu. Penthouse Lavender adalah salah satu properti termahal di pusat kota dengan sistem keamanan berlapis baja. Setidaknya, ibu tiri dan adik tirimu yang menyebalkan itu tidak akan pernah bisa mendekat dalam radius satu kilometer dari tempat itu.]*
"Benar," jawab Devan pendek tanpa ekspresi. "Kemasi barang-barangmu yang penting saja. Sisanya akan dibuang. Aku tidak ingin ada barang-barang murah berdebu yang masuk ke dalam propertiku."
Alya mendengus pelan mendengar ucapan ketus Devan. Namun, di dalam hatinya, ia merasa sangat lega. Setidaknya, malam ini ia tidak perlu khawatir tentang tagihan kos yang menunggak atau ancaman dari ibu tirinya lagi.
---
Pukul sembilan malam, mobil Rolls-Royce hitam yang membawa Alya akhirnya berhenti di lobi privat Penthouse Lavender.
Saat pintu lift khusus terbuka langsung di dalam ruang tamu penthouse, Alya benar-benar terpana hingga mulutnya sedikit terbuka. Ruangan itu sangat luas dengan langit-langit yang tinggi. Dindingnya didominasi oleh kaca besar yang memperlihatkan pemandangan gemerlap lampu kota Jakarta dari ketinggian lantai 45.
Lantainya terbuat dari marmer Italia kualitas terbaik yang sangat mengilat hingga Alya bisa melihat bayangan dirinya sendiri di sana. Furnitur di dalamnya terlihat sangat elegan, didominasi warna abu-abu, putih, dan sentuhan emas yang mewah namun minimalis.
"Nona Alya, ini adalah tempat tinggal Anda mulai sekarang," ucap Yudha dengan sopan sambil membimbingnya masuk. "Semua kebutuhan Anda, mulai dari pakaian, makanan organik, hingga pelayan pribadi, sudah disiapkan oleh Tuan Muda Devan."
Seorang wanita paruh baya dengan seragam rapi melangkah maju dan membungkuk hormat. "Selamat malam, Nona Alya. Saya Bibi Nunung, kepala pelayan di sini. Jika Nona membutuhkan sesuatu, silakan beri tahu saya."
"Ah... i-iya, halo Bibi. Panggil Alya saja," jawab Alya canggung, merasa sangat asing dengan semua kemewahan dan formalitas ini.
> *[Ibu, biasakan dirimu dengan semua ini. Mulai sekarang, kita adalah penguasa tempat ini. Dan oh, lihatlah tempat tidur di kamar utama itu! Sangat luas dan empuk. Aku tidak sabar untuk merasakan bagaimana rasanya tidur di atas kasur seharga ratusan juta rupiah.]*
Mendengar bisikan bayinya, Alya melangkah menuju kamar utama yang ditunjukkan oleh Bibi Nunung. Kamar itu berukuran tiga kali lipat dari seluruh luas kamar kosnya yang lama. Tempat tidurnya bertipe *King Size* dengan sprei sutra yang sangat lembut. Di sudut kamar, terdapat pintu kaca besar yang langsung terhubung ke kolam renang privat luar ruangan yang airnya tampak berkilau biru di bawah cahaya lampu malam.
Alya langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur empuk tersebut. "Aaaah... nyaman sekali!" serunya gembira, berguling ke kanan dan ke kiri seperti anak kecil.
"Jangan terlalu senang dulu," sebuah suara dingin tiba-tiba terdengar dari arah pintu kamar.
Alya tersentak dan langsung terduduk tegak. Devan berdiri di sana dengan jas yang sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan lengan tangannya yang kokoh.
"T-Tuan Devan? Kenapa Anda di sini? Bukankah Anda tinggal di rumah utama?" tanya Alya gugup.
Devan melangkah masuk dengan santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan hitamnya. "Ini adalah propertiku. Dan demi memastikan bayi di dalam kandunganmu aman dari segala gangguan—serta untuk mengawasi keanehan yang ada pada dirimu—aku juga akan tinggal di sini."
Alya menelan ludah. *Tinggal bersama CEO dingin ini?!*
> *[Menarik. Ayah dingin ini sepertinya mulai protektif, meskipun dia membungkusnya dengan alasan 'mengawasi'. Ibu, biarkan saja dia tinggal di sini. Dengan begitu, kita bisa menguras dompetnya lebih mudah untuk membeli makanan-makanan lezat setiap hari.]*
Alya mencoba menyembunyikan senyumnya. Ia menatap Devan dengan tatapan menantang yang manis. "Baiklah, Tuan Devan. Tapi ingat kontrak kita ya. Kita hanya tinggal bersama demi bayi ini. Jangan harap Anda bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan!"
Devan mendengus dingin, meski matanya sempat terpaku sesaat pada wajah Alya yang tampak sangat segar dan menggemaskan di bawah pencahayaan kamar yang hangat.
"Mengambil kesempatan darimu? Jangan terlalu percaya diri, Alya Putri. Seleraku tidak se-rendah itu," jawab Devan sarkastis sebelum berbalik pergi menuju kamarnya sendiri yang berada di sayap kiri penthouse.
Alya menjulurkan lidahnya ke arah punggung Devan yang menjauh. Namun, sesaat setelah Devan pergi, rasa hangat kembali menjalar di perutnya, diiringi suara tawa kecil yang menggemaskan di kepalanya.
> *[Hahaha! Ibu, tenang saja. Kita lihat saja seberapa lama pria gengsi tinggi itu bisa bertahan dari pesonamu. Selamat tidur, Ibu kandungku yang hebat. Babak baru kehidupan kita baru saja dimulai!]*