NovelToon NovelToon
Joni Fighter

Joni Fighter

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Game
Popularitas:960
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia telah berubah sejak terbukanya Arcane Nexus—sebuah celah dimensi misterius yang menghubungkan bumi dengan dunia monster yang ganas. Demi bertahan hidup, umat manusia mendirikan tiga akademi elit untuk melatih para petarung faksi (Brawler, Swordsman, Archer, dan Shaman) agar mampu menyelaraskan getaran energi Ki mereka, yang dikenal sebagai sistem RAN (Resonance of Arcane Nexus).
​Joni, seorang mahasiswa baru faksi Brawler di Kampus Sacred Gate, awalnya hanya ingin fokus berlatih demi meneruskan jejak mendiang ayahnya. Namun, ia justru terseret ke dalam pusaran konspirasi gelap yang melibatkan kekuatan korporasi raksasa, militer kampus saingan, hingga ambisi berbahaya yang mengancam kestabilan dinding dimensi. Di tengah ancaman duel hidup-mati melawan rivalnya yang menggunakan kekuatan terlarang, Joni harus menjalani penempaan ekstrem di kedalaman wilayah tak bertuan untuk membangkitkan resonansi murni tubuhnya dan mengungkap kebusukan yang terstruktur di puncak kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Setelah membersihkan sisa-sisa pertempuran dan memasang gear baru mereka, Joni, Gondrong, dan Laras berdiri tepat di depan portal vertikal berkerlip merah darah—gerbang menuju Zona Merah.

Joni menatap kedua tangannya. Lightning Iron Gauntlet yang baru didapatnya berderit halus, memercikkan kilatan listrik biru fajar yang kontras dengan kegelapan sekitar. Di sampingnya, Laras memakai Frost Spiritual Ring. Cincin itu memancarkan hawa sedingin es, membuat udara di sekitar tongkat Qigong-nya mengembun tipis.

"Jon, jujur aja jidat gue agak cenat-cenut habis nyundul semen bos tadi. Tapi ngelihat sarung tangan baru lo, rasa-rasanya gue siap nyundul apa aja di seberang sana," celetuk Gondrong, berusaha mencairkan ketegangan sambil membenarkan posisi ikat kepalanya.

Joni terkekeh rendah, tapi matanya tetap fokus pada pusaran portal. "Inget, instruktur atau pengawas kampus hampir gak pernah masuk ke dalam sini. Begitu kita ngelangkah lewat portal ini, kita bener-bener mandiri. Jangan ada yang lengah."

Laras mengangguk anggun, meski jemarinya menggenggam tongkat dengan sangat erat. "Aku bakal terus jaga jarak aman di belakang kalian, Kak."

"Oke. Dalam hitungan ketiga... Maju!"

SATU... DUA... TIGA!

Ketiganya melangkah masuk secara bersamaan. Tubuh mereka serasa tersedot oleh tekanan udara yang sangat pekat, sebelum akhirnya kaki mereka kembali memijak permukaan yang keras dan dingin.

WUUUTTT...

Aura dingin langsung menusuk tulang. Begitu pandangan mereka kembali jelas, pemandangan di hadapan mereka benar-benar membuat napas tertahan.

Mereka tidak lagi berada di lapangan tanah atau pinggiran hutan. Mereka berdiri di tengah-tengah persimpangan jalan aspal yang sudah retak-retak dan ditumbuhi lumut hitam. Di sekeliling mereka menjulang bangkai-bangkai gedung perkantoran, pertokoan, dan kawasan pabrik-pabrik tua yang jendelanya hancur berantakan. Mobil-mobil berkarat terguling di pinggir jalan, diselimuti kabut tipis berbau belerang dan besi berkarat.

Ini adalah Kota Mati—Zona Merah yang liar.

KREEEKKK... SREEEKKK...

Suara seretan kaki yang berat terdengar memantul dari lorong-lorong gelap di antara dinding pabrik kuno. Dari balik kabut, belasan pasang mata berwarna hijau menyala mulai bermunculan. Tubuh-tubuh kurus dengan pakaian compang-compang dan kulit yang mengelupas berjalan terseok-seok, memegang potongan besi tajam atau pipa berkarat.

> [SISTEM: ANDA TELAH MEMASUKI ZONA MERAH - DISTRIK KOTA MATI]

> Peringatan: Tingkat agresivitas monster meningkat 200%.

> Deteksi Monster: Factory Zombie (Level 32 - 35).

"Wadaww baru menapakkan kaki langsung disambut panitia komite zombie," bisik Gondrong, matanya menyapu sekitar. Jumlah mereka tidak lagi satuan, melainkan puluhan dan terus berdatangan dari kegelapan lorong pabrik.

Salah satu Factory Zombie setinggi dua meter yang memegang ranta besi besar tiba-tiba meraung nyaring, memecah kesunyian malam kota mati.

HUUUUUAAAAAGGGGHHH!

Mendengar raungan itu, puluhan zombie lainnya langsung mengubah gerakan lambat mereka menjadi lesatan lari yang sangat cepat dan brutal, menerjang lurus ke arah party Joni.

Joni mengambil satu langkah maju ke depan, memasang kuda-kuda kokoh sebagai tameng utama. Lightning Iron Gauntlet-nya bergetar hebat, memicu aliran petir biru yang mendadak menyelimuti seluruh lengan dan rompi kulit badak tanahnya.

"Gondrong, jaga sayap kanan! Laras, siapin buff es!" teriak Joni, matanya menatap tajam ke arah gelombang monster yang mendekat. "Ayo kita bersihin kota mati ini!"

"Tunggu, Ndrong! Tahan dulu!" Joni tiba-tiba mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar Gondrong tidak langsung menerjang gelombang Factory Zombie yang mulai mendekat.

"Kenapa, Jon? Keburu dikepung kita!" sahut Gondrong, kaki kanannya sudah setengah siap untuk mengeksekusi Ankle Crush.

Joni tidak langsung menjawab. Ia menarik tubuh Gondrong dan Laras mundur, berlindung di balik bangkai bus kota yang terguling dan berkarat di pinggir jalan. Dari balik celah jendela bus yang pecah, Joni menunjuk ke arah papan penunjuk jalan usang yang tertutup lumut hitam di atas mereka. Di papan itu, samar-samar tertulis sebuah nama wilayah: Sacred Gate Hole.

"Gue baru inget peringatan dari Paman Remon semalam," bisik Joni, suaranya ditekan serendah mungkin. "Ini bukan cuma sekadar Zona Merah biasa. Tempat ini punya nama resmi Sacred Gate Hole, dan di sinilah hukum rimba yang sesungguhnya berlaku."

Laras menyipitkan matanya, wajahnya tampak lebih tegang dari biasanya. "Maksud Kak Joni... area PK (Player Killing)?"

"Tepat," Joni mengangguk serius. "Di Hole, sistem pembatas antar-kampus dilepas total. Bukan cuma mahasiswa Sacred Gate yang ada di sini, tapi anak-anak dari Mythic Peak dan Phoenix juga berburu di distrik kota mati ini. Dan parahnya, semua orang bisa saling serang tanpa terkena penalti dari akademi."

Atmosphere di sekitar mereka mendadak terasa jauh lebih mencekam daripada sekadar menghadapi rongsokan zombie.

"Dengerin gue baik-baik," lanjut Joni, menatap Gondrong dan Laras bergantian dengan sangat serius. "Kalau kita ketemu monster, kita masih bisa ukur kekuatan. Tapi kalau kita apes ketemu mahasiswa senior level 100 ke atas dari kampus saingan... dijamin modar dalam sekali kedip."

"Hmhh... kalau mati di sini, konsekuensinya apaan, Jon?" tanya Gondrong, jakunnya naik-turun menelan ludah.

"Ngeri, Ndrong. Sistem bakal nge-respawn tubuh kita balik ke lobi kampus masing-masing dalam keadaan kosong. Barang-barang berharga kaya Lightning Gauntlet gue atau cincin es Laras bisa drop dan dicuri sama orang yang membunuh kita. Dan yang paling mengenaskan... EXP kita bakal dipotong drastis sama sistem sampai anjlok 10 Level!"

"Gila! Turun 10 level mah sama aja bikin kita balik jadi remah-remah rempeyek lagi!" Gondrong langsung memegangi jidatnya, membayangkan perjuangan mereka memeras Bruise Jr. siang tadi jadi sia-sia.

Laras menggenggam erat tongkatnya. "Berarti, musuh terbesar kita di sini bukan cuma zombie pabrik itu, tapi manusia lain."

"Bener, Ras. Makanya sebelum kita mulai hunting, kita harus lihat sikon (situasi dan kondisi) dulu. Jangan asal tabrak," ucap Joni waspada.

Joni perlahan mengintip kembali dari balik bangkai bus. Di ujung jalan raya kota mati, belasan Factory Zombie masih berkeliaran tanpa arah. Namun, indra pendengaran Joni yang tajam sebagai seorang Brawler menangkap sesuatu yang lain—suara dentingan besi dan ledakan sihir elemental dari arah blok pabrik sebelah barat.

Ada party lain yang sedang bertarung tidak jauh dari posisi mereka.

"Ada pertempuran di blok sebelah," bisik Joni sambil menoleh ke arah teman-temannya. "Kita mengendap-endap ke sana. Kita cari tahu dulu itu anak kampus mana, dan berapa level mereka. Kalau mereka terlalu kuat, kita cari jalur memutar."

Dengan langkah yang sangat hati-hati dan memanfaatkan bayangan bangkai-bangkai kendaraan, ketiga mahasiswa Level 30 itu mulai bergerak merayap di antara puing-puing Sacred Gate Hole, menyadari sepenuhnya bahwa satu kecerobohan kecil bisa menghancurkan seluruh aset dan masa depan yang baru saja mereka rintis.

1
Semoli Ginon
eh asa bruise jr. 👍
Semoli Ginon
wkwkwkw keluarga koplak🤣
Semoli Ginon
wahahah. ngenes amat nasib lo jon😄
Semoli Ginon
oke seru juga lanjut👍
Semoli Ginon
uhuyy 😄
Semoli Ginon
ini kan faksi2 di game ran online jadul ya?
Semoli Ginon
🤭🤭🤭
Semoli Ginon
adub baru mulai udah mirip gua 🤭
Boqin Changing
jelek. masa MC nya namnya , joni
👁Zigur👁: lah ya suka2 ku lah..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!