"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis
Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan
Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
happy reading guys
------------------------------
Bab 33: Bukan Darah Mahendra
Pendaran lampu indikator medis di dalam ruang isolasi steril itu mendadak berganti ritme.
Bunyi ketukan konstan yang semula tenang, kini berubah menjadi derit pendek yang terputus-putus seiring dengan melonjaknya grafik aktivitas saraf pada layar monitor darurat.
Pip... Pip... Pip-pip-pip!
Anastasia Wijaya dengan cepat menyembunyikan gawai pintar milik Devan ke balik saku blazer hitamnya.
Gerakan tangannya yang terburu-buru sempat memicu kecurigaan di sepasang netra elang Alta yang sejak tadi mengawasi dari sudut sofa.
Namun, sebelum Anastasia sempat berbalik untuk menenangkan putra sulungnya, sebuah lenguhan parau dan berat terdengar dari atas ranjang perawatan.
"An... ya..."
Devan Mahendra memaksakan sepasang kelopak matanya untuk terbuka seutuhnya, menembus sisa-sisa pengaruh dosis obat penenang pasca-operasi besar ketiganya.
Netra elangnya yang legam tampak begitu sayu dan kemerahan, namun langsung bergerak mengunci visual Anastasia yang berdiri kaku di samping ranjangnya.
Rasa nyeri yang membakar dari bekas jahitan di perut kirinya membuat napas pria itu memburu kasar di balik selang oksigen.
"Devan, jangan banyak bergerak dahulu. Alat pacu jantungmu baru saja dipasang secara permanen,"
Anastasia berbisik dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, menyembunyikan getaran ketakutan atas isi pesan singkat Martha Mahendra yang baru saja ia baca beberapa detik lalu.
Devan tidak memedulikan peringatan medis tersebut.
Sebagai seorang pimpinan tertinggi yang terbiasa membaca gelagat manusia, ia menangkap riak kepanikan yang teramat pekat di wajah pias Anastasia.
Sembari menahan denyut perih yang mencengkeram ulu hatinya, Devan menggerakkan pergelangan tangan kanannya yang kaku, meremas pelan jemari Anastasia.
"Rian... tidak mungkin masuk ke ruangan ini dengan wajah setegang itu jika hanya untuk melaporkan kondisi fisik saya, Anya..."
suara bariton Devan terdengar begitu serak, parau, namun sarat akan otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah.
Pria itu melirik ke arah Rian yang berdiri mematung di dekat pintu kaca dengan kepala tertunduk.
"Katakan pada saya... pesan apa yang baru saja dikirimkan ke gawai pribadi saya?"
Anastasia terdiam sejenak, seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku laksana membeku.
Ia melirik ke arah Sekretaris Hendra, seolah sedang menimbang risiko taktis jika ia membongkar kebenaran silsilah darah ini di depan Devan yang baru saja lolos dari gerbang kematian.
"Tuan Besar..."
Rian melangkah maju dua langkah secara kronologis, air matanya perlahan luruh membasahi pipinya yang keriput.
"Ini... ini mengenai Nyonya Tua Martha Mahendra. Beliau baru saja mengirimkan draf gugatan hukum berskala internasional dari kejaksaan pusat."
"Rian! Cukup!"
potong Anastasia dengan sentakan tajam, berusaha melindungi mental Devan yang ia tahu akan hancur jika mendengar kebohongan hidupnya selama tiga puluh tahun ini.
Namun, Devan justru menyunggingkan senyum tipis yang teramat getir dari balik selang oksigennya.
Sembari mencengkeram erat seprai ranjangnya, ia menatap Anastasia dengan pandangan mata yang dipenuhi ketetapan hati yang teramat jujur.
"Anya... bacakan pesan itu untuk saya. Saya mohon... seumur hidup saya, saya tidak ingin hidup di bawah bayang-bayang ketidaktahuan lagi."
Melihat kejujuran dan permohonan yang begitu pekat di netra mantan suaminya, Anastasia akhirnya menghela napas panjang dengan berat.
Dengan jemari yang gemetar, ia mengeluarkan gawai Devan dari sakunya, lalu membacakan untaian kalimat kejam yang dikirimkan oleh Martha Mahendra mengenai eksistensi "Arthur Mahendra" sebagai putra kandung asli yang sah secara silsilah genetika.
Deg!
Ruangan isolasi steril itu seketika diliputi oleh keheningan yang teramat mencekam setelah kata terakhir selesai dibacakan oleh Anastasia.
Tidak ada raungan amarah atau ledakan emosi histeris dari sosok Devan Mahendra.
Pria itu justru mematung seutuhnya di atas ranjang perawatan, sepasang netra elangnya menatap kosong ke arah langit-langit ruangan dengan pendaran yang perlahan meredup.
Seluruh hargadirinya sebagai seorang pria, pimpinan tertinggi korporasi raksasa, dan anak tunggal yang selama tiga puluh tahun ini mengabdi demi kejayaan Mahendra Group, mendadak runtuh tanpa menyisakan sepeser pun pondasi hukum.
Ia bukan darah kandung Mahendra. Ia hanyalah seonggok anak adopsi haram yang diambil dari rahim wanita terbuang bernama Saraswati, sengaja diperalat oleh mendiang ayahnya demi menutupi kemandulan pernikahan sah mereka seumur hidup.
"Jadi... selama ini... saya hanyalah sebuah bidak catur pemuas ego mereka...?"
suara bariton Devan terdengar begitu lirih, hambar, dan tanpa warna, laksana bisikan angin malam yang dingin memeluk jiwanya yang sekarat.
Setitik air mata bening mengalir keluar dari sudut matanya, membasahi bantal putih rumah sakit.
Rian langsung menjatuhkan lututnya ke atas lantai marmer, menangis sejadi-jadinya penuh penyesalan.
"Tuan Besar! Bagi saya... Anda adalah satu-satunya penguasa sah Mahendra Group! Tidak peduli darah siapa yang mengalir di tubuh Anda, Anda yang telah menyelamatkan ribuan nyawa karyawan di perusahaan ini!"
Anastasia menggenggam erat telapak tangan Devan yang mendadak terasa sedingin es kutub.
"Devan, dengar saya seumur hidupmu! Arthur Mahendra mungkin memiliki keunggulan silsilah darah di atas kertas, namun seluruh draf dana perwalian (Trust Fund) Alta dan Arka telah sah secara yurisdiksi diplomatik Keluarga Wijaya subuh tadi! Kita tidak akan membiarkan Martha merebut kembali apa yang sudah kamu berikan untuk anak-anak!"
Tepat di tengah pergolakan batin yang menguras emosi tersebut, Alta yang sejak tadi menyimak dengan diam di sudut sofa perlahan bangkit berdiri.
Bocah berusia empat tahun itu melangkah tegap secara kronologis mendekati tepi ranjang kanan Devan, menepis barikade lengan perawat yang berjaga.
Sepasang netra elang Alta yang tajam menatap langsung ke dalam manik mata Devan yang sedang meredup kehilangan harapan hidup.
"Jika Anda bukan darah kandung Mahendra, itu adalah sebuah keuntungan besar, Tuan Devan Mahendra,"
ucap Alta, suaranya yang cempreng mendadak terdengar begitu lantang, jelas, dan sarat akan wibawa taktis yang melampaui usianya.
Alta perlahan meletakkan telapak tangan kecilnya di atas punggung tangan Devan yang dingin.
"Dengan begitu... Anda murni terlepas dari silsilah keluarga jahat yang telah membuang Mami lima tahun lalu. Anda tidak lagi memiliki utang budi pada nama Mahendra. Mulai hari ini... Anda murni menjadi milik kami seutuhnya. Bangun, Ayah. Jangan biarkan Arthur mengira dia bisa menang hanya karena selembar kertas tes DNA kuno."
Plakkk!
Panggilan kata "Ayah" yang pertama kali keluar dari bibir mungil Alta dalam kondisi sadar seutuhnya, seketika laksana sengatan listrik darurat yang menghantam telak jantung Devan Mahendra.
Singa bisnis itu tersentak sempurna, netra elangnya kembali berkilat memancarkan pendaran ketajaman yang luar biasa pekat seumur hidupnya.
Kalimat Alta telah membangkitkan kembali seluruh ego dan kekuatan ksatria di dalam jiwanya yang sempat mati suri.
Namun, tepat di detik yang paling krusial setelah kebangkitan batin Devan tersebut, Sekretaris Hendra yang sejak tadi memantau pergerakan pintu luar menggunakan komputer tabletnya mendadak menegakkan tubuhnya dengan raut wajah yang kembali dipenuhi horor yang nyata.
"Nona Anastasia, Tuan Devan! Sinyal darurat dari pos penjagaan lobi bawah rumah sakit baru saja terputus secara sepihak!"
Hendra berseru dengan nada suara yang bergetar menahan panik, jemarinya bergerak kilat mengunci pintu elektronik ruang isolasi dari dalam.
"Tiga menit lalu... iring-iringan mobil sedan hitam berpelat nomor korporasi negara telah resmi memasuki pelataran parkir khusus VIP! Arthur Mahendra... bersama Nyonya Tua Martha Mahendra dan sepasang pengacara papan atas kejaksaan agung telah berhasil mendarat di lantai ini menggunakan lift darurat logistik! Mereka sedang melangkah lebar menuju pintu kamar ini untuk melakukan eksekusi pengusiran paksa terhadap Tuan Devan!"
------------------------------
Bersambung.....