NovelToon NovelToon
SANG UTUSAN

SANG UTUSAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: Alenda

Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memberi Pertolongan

Wira dalam posisi dilema, jika dia menolong wanita yang meminta pertolongan tersebut, dia harus meninggalkan Sinta sendirian. Tapi jika tidak ditolong, bisa saja nasib wanita itu dalam bahaya.

"Pergilah... tolong wanita itu!" ucap Sinta setelah melihat kebingungan Wira.

"Lalu kau bagaimana?"

"Aku akan menunggumu di tempat makan itu sampai kau kembali." jawab Sinta. Tangannya menunjuk sebuah tempat makan yang terlihat masih sepi.

Wira mengangguk. Setelah itu dia berlari memasuki gang yang sempit dan sepi tersebut. Setelah sampai di sebuah pertigaan, pemuda itu kebingungan karena suara minta tolong itu sudah tidak terdengar lagi.

Penyesalan muncul di dalam benak Wira. Andai dia langsung bergerak, mungkin nasib wanita tersebut masih bisa tertolong. Pemuda itu akhirnya memutuskan untuk kembali menemui Sinta di tempat makan.

Belum 5 langkah dia berjalan, suara wanita itu minta tolong itu terdengan berulang kali. Tanpa pikir panjang Wira berlari mengikuti arah sumber suara.

Kebingungan kembali dialami pemuda itu. Suara yang diikutinya tersebut kembali menghilang sebelum dia menemukannya. Dia akhirnya berhenti di sebuah rumah yang sepertinya sudah tidak berpenghuni.

Pandangan matanya menatap bagian pintu rumah tua yang tertutup sarang laba-laba. Rasa curiga yang tadi sempat dirasakannya langsung menghilang.

"Jika wanita tersebut dibawa ke dalam rumah itu, sarang laba-laba yang menutup pintu pasti rusak," gumamnya dalam hati.

Wira melangkah pelan sambil memasang tajam telinga. Baru 10 meter dia berjalan, terdengar suara tawa beberapa orang laki-laki dari dalam rumah tua tersebut. Sesaat berikutnya, suara tangisan wanita juga ikut terdengar.

Setelah merasa yakin jika di dalam rumah tua itu korban disekap, Wira berlari cepat ke bagian pintu belakang rumah tua tersebut.

Braaak!

Pintu kayu tersebut seketika roboh tak kuat menahan tendangan yang dilepaskan Wira.

3 orang lelaki dan seorang gadis muda yang berada di dalam rumah tua tersebut langsung menolehkan kepalanya ke arah pintu.

Tatapan penuh emosi jelas terlihat di mata tiga lelaki yang belum sempat menyalurkan hasratnya tersebut

"Biadab!" Wira mengumpat dengan begitu keras. Dia melihat pakaian gadis tersebut sudah terkoyak di beberapa bagian dan ketiga orang lelaki itu juga sudah bertelanjang dada. Mereka hendak memperkosa gadis tersebut.

"Kau siapa berani mengganggu kesenangan kami!?" bentak seorang dari mereka.

"Aku adalah pengadilan Dewata di bumi ini. Jika ada kejahatan di depan mataku, akan langsung kuadili saat itu juga!"

Seorang laki-laki berbisik pelan kepada temannya begitu sadar siapa pemuda yang ada di depan mereka. "Habislah kita! Pemuda itu yang ikut dalam turnamen di alon-alon. Dan kemarin dia menang di babak awal."

"Benarkah?!" Teman lelaki itu terkejut. Dia langsung menelan ludahnya berkali-kali.

"Tidak salah lagi. Yang aku lihat kemarin, dia bisa mengalahkan andalan dari perguruan Macan Putih dengan mudah."

"Apa sudah selesai kalian berbicara?! Aku tidak punya waktu banyak untuk mengurus cecunguk- cecunguk seperti kalian!" bentak Wira.

Tanpa menunggu mereka bereaksi, Wira langsung bergerak maju menyerang ketiga lelaki berpikiran kotor itu. Dia kepikiran Sinta yang sendirian di tempat makan menunggunya.

Pukulan dan tendangan yang dilepaskan Wira tidak bisa dicegah mereka bertiga sekalipun. Dalam waktu sangat singkat, ketiga lelaki itu sudah babak belur dihajar Wira.

"Aku sangat benci dengan lelaki yang tidak bisa menghargai wanita!" Wira kembali menendang tiga orang lelaki yang sudah tergeletak di lantai.

"Ampun, Pendekar. Kami berjanji tidak akan melakukannya lagi," rengek seorang lelaki yang wajahnya sudah berlumuran darah segar.

"Hari ini kalian aku maafkan. Tapi jika aku melihat kalian melakukan apapun bentuk kejahatan, aku pastikan kalian mati saat itu juga." Pemuda itu kemudian mengambil pakaian salah seorang lelaki yang tergeletak di dekatnya, lalu memberikannya pada gadis tersebut.

"Pakailah! Ayo kita keluar dari sini."

Gadis itu meraih pakaian yang diberikan Wira dan langsung memakainya.

"Lihat baik-baik wajahku... jika kalian tidak terima dan ingin balas dendam, cari aku di rumah bangsawan Lesmana!"

Tiga orang lelaki itu menundukkan kepalanya ketakutan. Mereka tidak berpikiran untuk membalas dendam kepada pemuda itu.

Selepas berbicara, Wira dan gadis tersebut berjalan keluar dari rumah tua tersebut.

"Rumahmu di mana? Bagaimana bisa kau dibawa mereka ke dalam rumah tua itu?"

" Rumahku berada di dekat istana, Tuan. Aku tadi hendak mengantar makanan ke rumah kakek, tapi tiba-tiba saja mereka muncul dan menyeretku," jawab gadis itu.

Tak lama, mereka pun akhirnya sudah sampai di jalan utama.

"Kau berani pulang sendiri?"

Gadis itu mengangguk pelan.

"Baiklah. Maaf aku tidak bisa mengantarmu. Aku masih ada keperluan lainnya."

"Terima kasih, Tuan. Jika tidak ada Tuan yang menyelamatkanku..."

"Sudah, tidak usah dipikir lagi tentang itu. Yang penting sekarang kau sudah selamat dari mereka." sela Wira.

Pemuda itu kemudian berjalan menuju tempat makan untuk menjemput Sinta.

Sementara itu di tempat makan yang mulai ramai oleh pengunjung, Sinta yang duduk sendirian di dekat pintu, menjadi magnet tatapan mata semua pengunjung. Baik yang baru datang atau sudah memesan makanan.

Kecantikan wajahnya yang di atas rata-rata wanita pada umumnya, tentu tidak akan mereka sia-siakan. Pikiran kotor tentang kemolekan tubuh gadis cantik tersebut langsung terlintas di benak mereka. Tidak terkecuali 5 orang lelaki yang sedari tadi memandangnya.

Dilihat dari seragamnya pakaian yang mereka kenakan, bisa dipastikan kelima orang itu berasal dari sebuah perguruan.

Dua orang dari mereka yang sudah tidak tahan hanya memandang saja, akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Sinta.

"Kenapa gadis secantik kamu duduk sendirian saja? Boleh kami menemanimu duduk di sini?" ucap seorang dari keduanya tiba-tiba. Tatapan matanya menyiratkan hasrat untuk menikmati tubuh gadis cantik tersebut.

Sinta melengos dan tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan lelaki itu.

"Kau jangan sombong begitu, Gadis cantik... Kami tidak akan berbuat jahat kepadamu, bahkan akan memberikan kenikmatan dunia kepadamu."

"Jangan menggangguku! Aku sedang menunggu seseorang. Dia sebentar lagi akan sampai," jawab Sinta dengan ketus.

"Hahaha... gadis seperti dia pasti akan sangat liar di atas ranjang, Teman. Dan aku sangat suka jika bisa merasakan keliarannya!"

Sinta mendelik memandang lelaki itu, "Apa kau kira aku seorang wanita pemuas nafsu?" bentaknya. Suaranya yang keras tak ayal membuat semua mata pengunjung teralih kepadanya. Namun tidak ada satupun dari mereka yang berani untuk membelanya.

Mereka tahu betul jika kedua orang itu dari perguruan Singa Merah yang memiliki anggota begitu banyak.

Pemilik tempat makan itu itu hanya bisa ketar-ketir melihat kejadian itu. Jika dia melarang kedua lelaki itu untuk menggoda Sinta, bisa saja tempat makannya akan diobrak abrik oleh mereka berlima.

"Aku tidak menuduhmu seperti itu. Tapi jika kau butuh uang, bisa kau sebutkan berapa harga tubuhmu itu?" Lelaki itu bertanya sambil menjilat bibirnya penuh nafsu.

"Bagaimana jika ditukar dengan kepalamu saja?" ucap Wira tiba-tiba. Pemuda tampan itu berdiri di pintu dengan tatapan tajam seolah hendak merobek mulut lelaki tersebut.

 

.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Gas🚬🗿
Vina Manis: belum🤣
total 3 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Bagus lagi kalau namanya BAHLILudin 👍🏻☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!